
" Kenapa sayang...?"
Mama Neela mengusap kepala Ara yang ada di pangkuan nya.
" Kak Rangga nggak pakai lagi mah.., dia selalu lupa" Lirihnya dengan menyembunyikan wajahnya di perut mamanya.
Mama Neela tersenyum geli. Dia sangat tahu Rangga bagaimana, dari kecil sudah sangat terlihat bibit mesumnya, sangat mirip seperti daddynya.
Hen....
Mama Neela menggelegangkan kepadanya, merontokkan ingatan masa lalu bersama Hendrawan Wijaya.
" Lili masih minum vitamin yang mama berikan kan sayang?" Tanyanya pada putri satu-satunya itu.
" Masih..."
" Ya sudahlah, bagus itu, jadi tidak usah takut sayang...jangan terlalu stress, itu akan mempengaruhi menstruasi mu.." Ucap mama.
" Mens satu hari dalam sebulan itu nggak apa-apa, itu karena pengaruh mengkonsumsi vitamin itu sih..." Lanjutnya.
" Rangga sayang dan menjagamu dengan baik itu sudah cukup bagus, apa kamu tahu sayang, setelah menikah denganmu dia tidak mau menerima satu rupiahpun dari daddynya.." Ucap mama Neela.
"Hah...." Ara menganga tak percaya.
" Suamimu itu diam-diam seorang youtuber dan blogger edukasi yang memiliki ribuan follower.
Papa mengetahuinya dari Bagas beberapa hari lalu...." Terang mama Neela.
" Dan apa kau tahu nama channel youtube dan blogger nya?" Tanya mama Neela.
Ara menggeleng tidak tahu, bahkan saat bersamanya beberapa minggu ini, Ara tak pernah mendapati Rangga duduk di depan laptop ataupun main ponsel.
Yang ada selalu mainin Ara tiap ada kesempatan.
" Nama chanelnya 'LiAga' gabungan dari nama kalian" Mama tersenyum manis dan menciumi wajah Ara.
" Kamu beruntung sayang, mencintai orang yang juga mencintaimu..." Ucap mama Neela dengan mengelus rambut Ara yang panjang dan hitam lebat.
"Mama...." Ara memeluk mamanya erat. Ada kegelisahan dalam raut wajahnya.
" Ma...Lili takut ikut kak Rangga ke Boston...,kak Rangga itu..., dia itu...,dia..lihat ini ma.."Lanjut Ara gagap menunjukkan tatto buatan Rangga yang tersebar di seluruh tubuhnya.
" Hemmm dasar mesum hi..hi.hi..." Mama Neela malah tertawa dan menggelengkan kepalanya gemas.
" Tidak ada orang yang bisa menolak pesonamu sayang, apalagi itu suamimu sendiri.
Kamu harus banyak-banyak minum jamu ha..ha.." Mama Neela malah semakin mentertawakan putrinya yang saat ini sedang resah.
" Mama ih...kok gitu sih..., bantu Lili gitu biar kak Rangga nggak begitu, maunya Lili tuh suami yang seperti papa..., baik dan nggak mesum..." Ucap Ara geram melihat mamanya seolah bahagia diatas deritanya.
Hahh dan itu terkabul sayang..., Rangga itu mirip banget papamu.
Siapa bilang papamu nggak mesum sayang..
Kalau nggak mesumnya kelewatan nggak mungkin ada kalian...
"""
" Sayang, baju-baju yang dibawa kemping udah beres semua kan?" Tanya Rangga.
" Sudah, yang kakak tas itu, yang Lili tas itu" Jawab Ara yang sedang mengecek gitarnya untuk dibawa serta, tanganya menunjuk dua tas yang berada di atas sofa.
"Tinggal keperluan harian yang belum belanja, snack juga belum" Lanjut Ara.
" Malam aja kita belanja ke market gimana?" Rangga meletakkan kepalanya di pundak Ara.
" Kamu belajar gitar sejak kapan sayang?" Rangga memilin-milin rambut Ara dengan jarinya. Aroma wangi pada rambut Ara membuatnya terpejam
" Aa Bagas yang ajarin, dulu Lili sering nangis cari kamu, tapi langsung lupa kalo dengerin aa main gitar..." Ara mengingat masa sulitnya saat terpisah dengan Aga kecil.
Rangga mengangguk kecil, ternyata tak hanya dia yang terluka karena perpisahan mereka dulu, Arapun juga sama terlukanya.
Rangga mengambil alih gitar yang berada di tangan Ara. Dan memetiknya lembut.
__ADS_1
" Kakak bisa?" Tanya Ara
" Kakak bisa tapi tidak sehebat kamu, cuma kakak saat ini ingin kamu tahu, kakak SAYANG sama kamu..., coba dengar isi hati kakak babe...." Ucapnya dengan lembut, disertai kerlingan nakal dari matanya.
Jarinya pun mulai lentik memetik senar gitar dengan syahdu.
Lagu cinta yang merdu dinyanyikan dengan tulus.
Ara memeluk Rangga dari samping, dagunya diletakkan di bahu Rangga.
" Lili juga sayang kakak dari dulu sampai sekarang...love you mas Aga, my first love, my hubby, my crying boy, my everything...." Ara nakal mengigit kecil telinga Rangga seperti yang biasa Rangga lakukan.
Dag..dug..dag...dug...
Jantung Rangga terpacu dengan kencang, dengan cepat Rangga meletakkan gitarnya, dan menoleh kesamping.
" Sayang kamu jangan mancing-mancing deh.., giliran diseriusin nangis-nangis pula nanti." Desah Rangga berat.
Mata yang telah penuh akan keinginan itu menatap mata Ara lekat.
Ara beringsut menjauh, dadanya bergetar hebat saat melihat kilatan mengerikan di mata Rangga.
" Ihhh...kakak nggak seru, dipegang dikit aja pasti kayak gitu..." Ucap Ara dengan bergegas mundur, gadis itu bergidik ngeri setiap melihat mata Rangga penuh kilatan nafsu saat menatapnya.
" Sini sayang..." Panggil Rangga saat Ara mundur sampai ke pintu kamar mandi.
" Nggak mau, Lili takut..."
Ya, Ara terlihat takut. Rangga selalu tanpa ampun membantainya, bahkan bekas tatto nya saja tidak hilang dalam sehari.
" Takut apa?, sini..." Rangga melangkah maju.
" Nggak mau kakak pasti mau ngapa-ngapain Lili, tuh matanya aja ngeri kaya gitu, kenapa ihh begitu.." Ara tetap merapat ke pintu.
" You ask me why babe???, Cause, I'M ADDICTED TO you babe..." Ucap Rangga dengan memainkan lidahnya dengan sensual di bibirnya seraya menuju pintu.
"Akhhhh..mama tolong!!" Teriak Ara saat Rangga maju mendekat dengan senyum iblisnya.
Tapi Ara justru meraih handle pintu kamar mandi, dengan gerakan cepat Ara membuka pintu, lalu menutupnya dengan buru-buru dan menguncinya.
Rangga tertawa terbahak-bahak melihatnya.
" Ya ampun gadis itu bikin gue gila!!!, udah beberapa kali making love masih juga malu-malu dan takut kayak gitu, gila!!! dia bikin gue kecanduan!!!".
Ceklek....Brak!
Mendengar suara pintu kamar yang terbuka dan tertutup, Ara segera membuka pintu. Memindai sekeliling, dan tak mendapati keberadaan Rangga, gadis itupun segera keluar sambil mengusap dadanya.
" Huuuufftt lega akh--- Akhhhh!!" Teriak Ara saat dia merasa tubuhnya melayang.
Brugh!!
Rangga membanting tubuh Ara di kasur. dan dengan cepat menindihnya. Rangga sebenarnya hanya bersembunyi di balik tirai.
" Mau lari kemana kamu sekarang sayang..." Rangga mengangkat kedua tangan Ara keatas bantal dan mengenggam nya kuat.
" Ampun..jangan ruda paksa saya tuan, saya sudah bersuami..." Ucap Ara dengan berpura-pura menendang kecil Rangga, suara tawa kecilnya memenuhi ruangan.
" Dasar kamu!!!" Rangga melepas kaos nya dan mengikatnya pada kedua tangan Ara.
" Jangan tolong..jangan paksa saya tuan ampun..ha..ha..ha..." Ucap Ara dengan tawanya yang imut.
Rangga semakin gemas dibuatnya, tawanya pecah melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.
Kini dadanya yang polos telah terpampang di depan Ara.
" Kak, kok kalungnya jarang dipakai" Tanya Ara saat tak mendapati kalung Naruto hijau di leher Rangga
" Talinya sudah terlalu pendek dan sering terkena air, dua kali putus disekolah, untung liontinnya nggak hilang.." Ucap Rangga mendekati Ara.
"Lagian liontin kita juga udah ketemu jodohnya, seperti kita.." Rangga mendekatkan wajahnya pada wajah Ara, bahkan hembusan nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing.
__ADS_1
" Cium kakak sayang..., ciumanmu membuat kakak ketagihan..." desah Rangga memejamkan matanya.
Ara merasa dadanya berdebar tak karuan, melihat wajah tampan itu terpejam didepan matanya.
Dasar Rangga nggak bisa disenggol. Disenggol dikit aja langsung on, tapi tentu tidak sembarang orang yang menyenggol dong.
Dan hanya satu yang selalu membuatnya begitu, dan dia hanya Lailia Nafeesa Anara.
Maka terjadilah hal yang dirindukan Rangga setelah berpuasa dua minggu lamanya.
***
Mengantarkan Ara belanja malam ini sungguh membuat Rangga bahagia. Karena dia sudah mendapatkan upahnya dobel sekaligus.
Apalagi tingkah Ara sebelum berangkat saja manjanya luar biasa, dan Rangga sangat suka.
Ada-ada saja tingkah menggemaskan Ara. Yang minta di keramaskan rambutnya lah, minta digendong saat turun dari kamar mandi ke kasur lah. Minta di pakaikan baju lah. Minta digendong dari kamar atas sampai bawahlah.
Minta duduk dipangkuan nya saat nyetir menuju ke mall ini juga.
Bahkan Ara juga terus menciuminya selama di perjalanan.
Rangga mengikuti kemanapun langkah Ara.
" Ini suka nggak?" Tanya Ara pada sebuah bungkus mie instant kemasan tinggal seduh.
" Bolehlah.., enak tuh dimakan dingin-dingin saat kemping..." Jawab Rangga.
" Masa lebih enak mie instan???, kalau dingin bukanya enaknya tuh pelukan sama aku ya??" Ara iseng menggoda Rangga.
" Kamu ini udah mulai berani ya sayang.... " Ucap Rangga,pemuda ini gemas bukan main pada istrinya hari ini, karena sungguh beda dari biasanya.
Cup..cup..
Rangga tak kuasa menahan diri, dikecupnya singkat bibir Ara dengan gemas.
Sepasang mata merah manatap mereka dengan tatapan penuh kemarahan. Posisinya di belakang mereka membuatnya jelas melihat apa yang terjadi.
" Ara!!!"
Rangga dan Ara kompak menoleh.
Nampak Hanan meremas pegangan troli dengan geram.
" Adab harus diutamakan dimanapun berada kan Ra?" Tanya Hanan lirih, matanya menatap lurus pada manik mata Ara.
Ara sangat paham apa yang menjadi topik bicara Hanan saat ini.
" Ingat identitas mu, pacaran kalian sudah tidak sehat!, dan sudah masuk pada Zina.." Lanjut Hanan.
" Tidak ada yang Zina disini, dia istriku" Timpal Rangga dengan cepat menarik Ara kebelakang tubuhnya yang tinggi dan kokoh.
" Apa???" Suara Hanan terdengar bergetar dan penuh keterkejutan.
" Kami sudah menikah" Ucap Rangga dengan mengacungkan jari bercincinya.
" Ara...benarkah?" Tanya Hanan berusaha menatap Ara yang disembunyikan dibelakang tubuh Rangga.
" Iya kak...." Jawa Ara lirih.
Ara tentu tau perasaan Hanan, karena Hana dan Hanum sering mengatakannya tapi dia bisa apa.
Seluruh hatinya hanya ada nama Rangga.
Bahkan tak ada satu sudut kecilpun untuk dibagi kepada yang lainya.
Hatinya penuh sesak dengan satu nama.
Yaitu 'Mas Aga'
" Astaghfirullahhaladzim..., sakitnya" Desis Hanan dengan meremas dadanya yang nyesek luar biasa. Rasa rematan-rematan gaib menyiksa jantungnya.
__ADS_1