Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ardi dan Azura


__ADS_3

" Boleh kak Denis coba?"


" Coba aja tuh..." Natasya memajukan dagunya menunjuk pada kue yang ada dikasur.


Tapi wajah Denis justru semakin maju mendekat ke wajahnya, membuat Natasya menahan nafasnya yang sesak tiba-tiba.


Wajah Denis semakin dekat dan dekat, bahkan hembusan nafas Denis yang hangat kini menerpa wajah Natasya.


" Kk...kak..." Natasya bedebar tak karuan saat hidung mereka saat ini telah bersentuhan, dan tak lamapun bibir keduanya bertemu.


Cup...


Sebuah kecupan sekilas. Karena dengan cepat Denis menarik tubuhnya dan duduk kembali di lantai.


Sialan....kenapa dadaku rasanya mau meledak begini...


Ya Tuhan, bibir Natasya manis sekali..



" Nath, kalau selama ini orang menyebutku dengan sebutan playboy, itu sebenarnya nggak bener "


" Yang bener itu aku nggak bisa menyakiti hati cewek dengan terus menolak ajakan mereka untuk sekedar makan di cafe atau nongkrong.."


" Sumpah Nath, pacarku yang serius itu ya cuma kamu.., Rose itu hanya teman kecilku..tidak pernah ada perasaan lebih... "


" Ya, memang dia beberapa kali menciumku tapi sumpah Nath, aku tidak merasakan apa-apa, beda saat denganmu..."


" Nath......" Denis kembali mendekati Natasya dan kembali mendekatkan wajahnya.


" Boleh??" Ucap Denis dengan mata tajam menatap bibir Natasya.


Lama, Natasya tidak bereaksi. Karena dadanya pun seakan mau rontok


Tapi rupanya Denis sudah diambang batas rasa penasarannya.


Pelan jemarinya menyelusup pada tengkuk Natasya. Dan membawanya mendekat padanya.


Kedua bibir itu awalnya hanya saling menempel. Tapi entah bagaimana, keduanya seolah lupa tempat dan waktu.


Mereka terus saling decap, saling sesap bahkan tak menyadari seseorang saat ini gemetaran di depan pintu dengan joystick PS di tanganya.


Ardi, seseorang itu adalah Ardi. Yang diminta Rangga untuk memberikan Joystick Denis yang tertinggal di ruang keluarga beberapa saat lalu. Tapi sialnya dia harus melihat adegan yang membuatnya sangat ingin.


Dia bukan jomblo yang tidak punya kekasih, masalahnya status mereka masih tunangan. Jelas belum boleh begituan.


Ardi mundur dengan teratur, mundur dan mundur sampai..


Brugh!!!


" Awwww...."


Bianca yang ada dibelakang Ardi dari tadi jatuh karena terdorong oleh tubuh Ardi.


" Ehhh, sayang.. Kenapa di belakang om?"


Ardi mengangkat tubuh Bianca untuk dibantunya berdiri.


" Kenapa om jalan mundur?, Bian mau lihat ada apa di dalam.." Bianca ingin segera melongok ke dalam.


" Ehh, jangan sayang nggak boleh..." Ardi menarik baju Bianca.


" Ada apa mas?" Tanya Azura yang telah berdiri di belakang Ardi.


" Eh itu anu..." Ardi bingung. Dengan cepat diputarnya pundak Azura dan didorongnya untuk menjauhi kamar Denis, sementara tangan satunya menggandeng tangan Bianca.


" Apa sih mas..." Azura semakin


penasaran dan malah berhenti, lalu dengan cepat berbalik menuju pintu kamar Denis.


" Zu...jangan lihat!!!" Bentak Ardi dengan suara yang tertahan.


Azura menutup mulut melihat adegan di depan nya, Ardi mau tidak mau segera menyambar tangan Azura dan menggeretnya pergi. Sementara Bianca bingung nggak ngerti sebenarnya sedang ada apa.


Sepanjang lorong Azura hanya menunduk dan diam seperti patung.

__ADS_1


" Tuh kan kepikiran kan?, ngeyel sih!!" Sindir Ardi.


Azura hanya melirik Ardi sekilas lalu kembali menunduk.


" Mas..."


" Hemmmm"


" Maaf ya, masalah ustadz Zacky... Zu janji nggak akan ulangi lagi.."


" Iya.., mas taulah kamu kayak apa orangnya. Lemah kuping tiap dimintain tolong orang" Sahut Ardi pelan.


" Mas..."


" Hemmmm"


" Bulan depan boleh ya Zu ke Sidogiri.."


" Mau ngapain lagi?, bukanya pendidikanmu sudah selesai?"


" Nggak ada selesai untuk menuntut ilmu mas, hidup kita ini adalah tarbiyah, kita akan terus belajar seumur hidup kita.." Ucap Azura lagi.


" Terus?, kita bagaimana Zu..?, sudahlah lakukan apapun sesukamu lah.." Jawab Ardi kesal. Dan segera berbalik menuju tangga untuk turun kebawah yang tadi sempat terlewat.


" Mas.., jangan selalu lari mas. Mari kita bicara dengan tenang..." Azura manahan ujung kaos Ardi.


" Bian ke aunty Ara dulu ya..., mmy bicara dulu sama om..."


Bianca mengangguk dan segera turun ke bawah dengan berlari kecil.


Disinilah mereka sekarang, di balkon lantai dua. Keduanya sama-sama bersedekap menatap malam yang tidak berbintang.


" Jadi mau mas aku harus gimana?" Ucap Azura membuka suara.


Ardi hanya diam, sebenarnya Ardi sudah berjanji untuk membebaskan Azura untuk melakukan apa saja sesukanya.


Dulu setelah lulus SMU, Azura belajar tahfidz ke Sidogiri selama hampir setahun, trus ikut perlombaan tahfidz dapat beasiswa ke Madinah 2 tahun, lanjut ke Kairo 1 tahun. Dan sekarang??.


Rasa-rasanya Ardi seperti tidak punya pasangan. Calonya terus-menerus melanglang buana.


" Zura bingung mau ngapain kalau cuma dirumah..." Lanjut Azura.


" Kecuali Zura udah ada keluarga, ada kesibukan, masakin suami dan bebersih rum---"


" Uhukk..uhukkk..uhukk.." Ardi tersedak ludahnya sendiri. Jatungnya tiba-tiba melompat-lompat tak karuan.


" Ke..kenapa tiba-tiba arahnya kesana Zu?" Tanya Ardi dengan mengulum senyuman.


" Baper liat yang tadi ya..." Godanya lagi.


" Hiiihhh nggak lah..." Ucap Azura dengan membuang mukanya kesamping.


" Nggak kepingin emang?" Ardi semakin menjadi-jadi.


" Nggak " Ucap Azura tegas.


" Jujur ajalah, iya kan sayang?"


" Apa mas!!!, Jangan-jangan kamu yang baper!!" Giliran Azura yang nggak mau malu sendirian menuduh balik Ardi.


" Kalo aku jujur sih...iya!!" Sahut Ardi.


Jawaban Ardi justru membuat suasana menjadi kaku dan canggung. Untuk beberapa saat lama mereka hanya terdiam membisu dengan saling menatap pada mata masing-masing.


" Mas minta waktu sedikit lagi Zu, habis wisuda.... Mas langsung menghadap kakek.."


" Ini sedang proses skripsi tahap akhir. Dan usaha kuliner yang mas rintis bersama Leon juga sudah mulai menunjukan perkembangan yang baik. Minta doanya terus Zu... Ini semua juga untuk masa depan kita.."


Azura menganggukkan kepalanya patuh.


Ardi mengankat sebelah tanganya untuk sekedar mengusap kepala Azura.


" Nggak usah ke Sidogiri sayang, kalau mau mengajar. Ke Casablanca saja, bantuin Wari mengurus adik-adik panti.." Ucap Ardi pelan.


" Baiklah..."

__ADS_1


" Baiklahnya terpaksa nggak nih?" Tanya Ardi


" Nggak..." Jawab Azura dengan menurunkan tangan Ardi yang ada di kepalanya.


Tapi Ardi dengan cepat menggenggam tangan itu dan cup...


" Eittt!!!, mulai nakal!!" Azura melotot marah. Sementara Ardi justru tertawa puas.


Azura yang malu segera melangkah tapi Ardi mencekal tangannya lagi.


" Bantuin ngetik skripsi mau nggak biar cepet selesai...." Bisik Ardi di telinga Azura, dan Azura hanya bisa mengangguk.


" Terimakasih sayang..."


" Iya..sa...yang..." Jawab Azura pelan, hampir tak terdengar.


" Apa sayang, ulangi?" Ardi semakin mempererat genggamannya


" Ngga mau.." Ucap Azura malu-malu dan semakin mengeratkan cadarnya.



" Jadi nggak sayang sama aku?" Ardi nggak mau dibuat penasaran.


Selama ini bahasa cinta mereka hanya isyarat mata dan cringe-cringe yang nggak jelas.


" Sa...ya..ng..." Guman Azura yang terdengar seperti berkumur.


" Ulang dong sayang...yang jelas gitu loh biar afdhol..." Ardi sudah sangat geram.


"Iya..iya.Sayang ...Sayang..sayang" Bisik Azura di telinga Ardi.


Blushhh... Srrukkk...Brugh!!!


Ardi tiba-tiba merosot terduduk di lantai. Wajahnya memerah sampai ke kedua telinganya. Kedua tanganya menutupi wajahnya yang terlihat malu-malu.


" Mas!!, kamu kenapa??" Teriak Azura panik.


" Ya ampun sayang, kakiku lemes banget rasanya. Kamu menyerang jantungku terus-terusan. Mleyot dan merinding sampai kebadan-badan saat tahu kamu sayang aku...."


" Nih..., pegang!. Deg degan kan?. Nah ayo tanggungjawab!" Ardi meletakkan telapak tangan Azura didadanya.


" Lebay....!! geli aku tuh...ha..ha.." Azura tak mampu lagi menahan tawanya.


Mereka saling pandang dan tersenyum bersama.



" Nikah yuk...." Bisik Ardi.


" Ayok..." Jawab Azura santai.


" Sekarang yuk.."


" Cuzz....." Balas Azura lagi.


" Nyicil dulu boleh nggak yang..."


" Apanya?" Tanya Azura bingung.


" Yang kaya kak Denis dan Natasya tadi..." Bisik Ardi.


Tapi justru mendapatkan tabokan yang keras dari gadis bercadar di depanya itu.


Ardi tertawa terbahak-bahak karena serangan Azura terus berlangsung.


Dan diapun berlari-larian kesana sini.


" Hey Ardi sayang..., sudah malam ini nak..." suara kakek terdengar dari ujung tangga bersama papa yang memapahnya pelan.


" Ha..ha..., kek. Cucu angkat kakek minta cepet-cepet di kawinin nih..." Adu Ardi cepat.


" Ih apaan!!, kan mas yang ngajakin duluan?" Azura jelas malu dituduh-tuduh begitu.


" Iya sih, tapi kamu mau kan?"

__ADS_1


" Nggak!!, udah berubah fikiran " balas Azura marah karena merasa difitnah.


" Loh kok marah sih?, aku cuma bercanda loh Zu....Zu....." Ardi mengejar Azura yang turun tangga dengan cepat.


__ADS_2