Childhood Love Story

Childhood Love Story
Date 1


__ADS_3

" Cie..cie yang mau pacaran..." Olok Brian saat melihat Ara berdiri disamping gerbang menunggu Rangga.


Ara tersenyum malu-malu, dan Brian sungguh gemas melihat nya.


Dengan cepat ditariknya kedua pipi sepupunya itu sampai memerah.


" Akh...sakit brothy, KDRT mulu ih..."


Sedangkan Brian segera berlari kedalam rumah guna menghindari amukan singa betina.


Beberapa saat lalu mereka semua meninggalkan hotel setelah sarapan pagi. Tentu saja satu pasangan masih tertinggal disana dan itu adalah Adnan dan Hana.


Hari telah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan seperti janjinya Rangga datang menjemput Ara.


Mama Neela menghampiri calon menantunya itu sambil tersenyum. Bianca dalam gendongannya tersenyum saat melihat Rangga datang.


" Om...ini Bianta cudah ciap..let to...kita blangkat..."


Rangga terkejut tak percaya.


Gue pamitnya bener mo ngajak Ara kan, apa gue salah ketik ya semalam????


Jangan - jangan karena saking ngantuknya gue salah tulis nama Ara jadi Bianca deh pas WA om Syakieb....Haduh!!!


Rangga masih sibuk dengan pemikiran nya sendiri saat Ara muncul di samping mamanya.


Saat Ara melihat Rangga datang memakai motor, Ara segera bergegas masuk lagi untuk mengambil jaket untuk Bianca.


" Nah Bian..., ayo pake jaketnya, om Rangga sudah ada nih...." Ucap Ara sambil memasangkan satu persatu lengan jaket Bian yg masih dalam gendongannya mama.


Hah!!!! What!!!!, Bianca ikut!!!


Yahh...gagal deh mau romantisan....batin Rangga.


" Nah Bianca sudah beres, kalian mau kemana?" Tanya mama Neela.


Rencana sih mau ke Bandung, tapi...


"Keliling-keliling saja lah tante...," Ucap Rangga sambil matanya melirik Ara yg terlihat sangat cantik.



"Bianta mau ke snowot nty..." Ucap Bianca antusias.


" Snow world????" Tanya mama, dan Bianca mengangguk cepat.


" Itu harus ke Bandung, jauh Bian..., nanti aja kalo popo dan momo udah pulang dari Dubai ya...., momo janji.." Ucap mama Neela sambil menyodorkan jari kelingking pada Bianca.


Dan Bianca menyambutnya.


" Om Langga diajak dak ke snowot mo?" Tanya Bianca lagi, dan mama Neela mengangguk.


Mereka kini telah ada di atas motor yg berkecepatan sedang.


" Kita mau kemana kak...?" Tanya Ara dengan mencondongkan kepalanya disamping helm Rangga agar suaranya terdengar.


" Maunya ke mana sayang???, ke ujung duniapun abang antar..." Jawab Rangga alay.


" Ke taman bunga samping Perpustakaan yuk kak...." Ucap Ara agak memgeraskan suaranya.


" Oke siap sayang!!!!, tarik siis....." Teriak Rangga dengan menambah kecepatan motornya....


" Cemongko....." Balas Bianca tak kalah heboh.


Taman bunga di samping perpustakaan kota hari ini tidak seramai biasanya.


Hanya terdapat beberapa orang yg duduk-duduk berdua dan bergerombol, itupun dengan jarak yg terlihat jauh satu sama lain.


Mereka berjalan menyusuri taman yang rindang dan asri. Bianca berada dalam gendongan Rangga tampak menoleh ke kiri dan ke kanan melihat indahnya bunga-bunga yg sedang bermekaran.

__ADS_1


" Bian mo tuyun om..." Bianca merosot minta turun. Gadis itu berlari-lari kesana kemari mengejar kupu-kupu.


Mereka berdua duduk di rerumputan di bawah pohon yang rindang.


Rangga menoleh ke wajah Ara, dia menatap Ara dengan tatapan yg dalam.


Ara merasa malu dan canggung ditatap seperti itu.


Rangga merasa tak ingin pergi besok hari, entah mengapa dia merasa akan kehilangan Ara untuk selamanya.


Ditatapnya mata itu dalam, seolah-olah ingin membingkainya dan disimpan dan memori nya.


Tangan Rangga terjulur untuk mengelus pucuk kepala Ara.


" Kau mau berjanji padaku?" Tanya Rangga ragu-ragu.


" Apa itu...?"


" Jangan deket-deket cowok lain selama aku nggak ada..." Ucap Rangga.


Ara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Aku sangat ingin segera menikahimu Ra..., tapi syarat Ardi...." Rangga menjeda ucapanya.


" Ceritakan padaku apa yg tidak aku ketahui tentangmu..." Rangga meraih jemari Ara dan menguncinya dalam genggaman nya.


" Apa syarat bang Ardi?" Tanya Ara pura-pura tidak tahu.


" Aku harus mengenalimu..., katakan padaku siapa dirimu Ra...?" Tanya Rangga sambil mengecup jari Ara.


" Ara juga setuju dengan syarat itu, Arapun berharap kakak mengingat siapa Ara..." Suara lirih Ara membuat Rangga semakin berfikir keras. Pemuda itu berusaha memeras otaknya, mengumpulkan berbagai memori yg terserak.


" Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tatapan Rangga semakin menelisik, mencari ingatan yang barangkali terselip.


" Apa kakak tak merasakan apa-apa...?"


Tanya Ara dengan tatapan sendu.


Ntah bagaimana cara Bianca menangkap serangga bersayap cantik itu, kini ditanganya sudah terdapat seekor kupu-kupu.


Bianca duduk di pangkuan Rangga yang duduk bersila. Ara membuka tas punggung nya dan mengeluarkan botol susu.


" Ayo Bian, minum susu dulu..."


Bianca membaringkan badanya dengan nyaman di pangkuan Rangga.


Rangga mengambil botol susu dari tangan Ara dan memasukkan dotnya pada mulut Bianca.


Dengan gerakan pelan Bianca menghisap susunya, lama kelamaan matanya terpejam.


Bersamaan dengan tandasnya susu di botol, maka Bianca pun tertidur pulas.


Ara melepas jaketnya dan menggulung nya hingga berbentuk bantal.


Tanganya menepuk-nepuk rumput demi mengusir serangga yg ada.


" Di baringkan disini saja kak, kalo dipangku begitu, cuma sebentar tidurnya.."


Dengan pelan Rangga menurunkan Bianca.


Ara terlihat menguap dan sesekali mengucek matanya.


"Ngantuk sayang..?" Tanya Rangga lembut.


Ara tersenyum dan mengangguk, acara pernikahan Adnan dan Hana menguras waktu dan tenaganya.


Rangga melepaskan jaket nya dan menggelarnya disamping Bianca.


" Tidurlah, Kakak akan menjaga kalian..."

__ADS_1


Dengan perlahan-lahan Ara beringsut membaringkan tubuhnya. Rangga mengusap- usap pucuk kepala Ara.


Perlahan mata itupun terpejam.


Rangga menatap wajah cantik yg terlihat teduh dalam tidur. Dadanya bergetar hebat.


Jarinya bergerak maju, jari itu terulur ke arah wajah lelap Ara.


Jari itu kini dengan lembut mengikuti setiap garis wajah Ara.


Dari kedua alisnya, kedua mata, lalu turun kehidung dan berhenti di bibir Ara.


Perlahan Rangga mengusap bibir itu dengan jempolnya, rasa berdesir menyebar ke seluruh sel-sel dalam tubuhnya.


Rangga melirik jam tanganya. Pemuda itu mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Rangga mengambil foto Ara sebanyak-banyaknya. Sepuluh hari kedepan dipastikan dia akan merasakan yang namanya sakit merindu.


Tak lama seorang pria dengan jaket hijau menemuinya. Pria itu menyerah kan beberapa papper bag padanya.


Rangga ikut membaringkan badanya disamping Ara. Pemuda itu menopang kepalanya dengan tangannya.


Tidak ada rasa bosan bagiku memandang wajah indahmu..


Tidak ada puas-puasnya mata ini mengagumi kecantikanmu...


Lailia Nafeesa Anara...I love you so much


Rangga memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada wajah Ara.


Cup.


Kecupan di kening Ara membuat mata cantik itu bergerak-gerak.


"Sshhh....sshhhh..., maaf tidurlah lagi..." Ucap Rangga dengan cepat mengusap kepala Ara lagi.


Tapi Ara malah bangkit dan duduk. Ara melirik jam tanganya.


" Sudah masuk dhuhur dari tadi.." Gumamnya.


Merekapun sholat disitu setelah bergantian menjaga Bianca saat salah satunya wudhu di kran terdekat.


" Kak..." Panggil Ara lembut saat mereka selesai sholat berjamaah.


" Hemmmm, apa sayang..??"


Ara ragu-ragu untuk mengucapkan sesuatu.


Rangga yg tau bahwa ada sesuatu yang diinginkan Arapun bertanya lagi.


" Apa..., hemmm...?


" Boleh minta tangan kakak..."


Rangga mematung ditempatnya. Berusaha meyakini apa yg kini didengarnya, nyata ataukah halusinasi semata.


Pemuda itu menyodorkan tanganya, Ara menyambutnya dan mengecup punggung tangan putih berotot itu.


Rangga tak tahan lagi, diraihnya tubuh mungil itu dan ditenggelamkan nya dalam pelukanya. Tubuh wangi dan hangat Ara membuatnya terlena dan memejamkan mata.


Jika ingin egois maka Rangga berharap waktu berhenti saat ini juga.


" I love you, now and forever..." Bisiknya pada telinga Ara.


" Om Langga napa peluk-peluk nty Ala? Ntal Bianta aduin om Aldi bial ditindu..."


Dua anak manusia yang tadinya rapat berpelukan itupun kini saling melepaskan. Rangga mengulum senyumnya, tanganya menggaruk lehernya kikuk.


Sedangkan Ara berdeham membersihkan tenggorokan nya.


Saat tatapan mereka berdua bertemu, mereka saling senyum. Sungguh manis.

__ADS_1


Bianca geleng-geleng kepala melihat kelakuan om dan tantenya itu.


" Napa diem om?, nty?, Bianta lapal...."


__ADS_2