
---Happy Reading---
"Abang! Abang! Abang Aksa!" Panggil luna didepan kamar Aksa sembari tangannya mengetuk. Dan tangan satunya sedang memegang kertas. Aksa yang baru saja kelar mandi berdecak sebal kepada adik satunya ini buru buru ia memakai boxer seadanya dan kaos yang tadi ia pakai.
Ia buka pintunya dan luna langsung menyelonong begitu saja melewati abangnya yang masih menatapnya sebal. "Ada apa?"
"Sini duduk." ujar luna sambil menepuk sofa disampingnya. Mau tak mau ia harus menurut lalu duduk disamping adiknya. "Abang bisa jelaskan dari foto ini?" tanyanya dengan serius sambil menunjukkan kertas yang sedari tadi ada ditangannya. Foto itu menunjukkan dirinya yang berdiri ditengah tengah antara abangnya dan teman lama abangnya yang tadi ia tunjukkan.
Aksa mematung, seperti seluruh udara telah diserap oleh keberadaan foto itu yang berada di tangan aluna. "Kamu nemu ini dimana?" Aluna menggelengkan kepala, "Abang gak perlu tau luna nemu dimana sekarang waktunya abang jawab, apa yang dimaksud dari tulisan ini dan foto itu?"
Aksa menghela nafas, ingin mencari alibi namun.. "Aluna sering mimpiin teman lama abang ini, jadi bisakah abang jelaskan. Apa benar aluna lupa ingatan akibat kecelakaan 12 tahun yang lalu?" tanyanya dengan serius. Aksa semakin tidak bisa berbuat apa apa lagi selain mengangguk. Aluna menganga saking terkejutnya.
Aksa mengucapkan maaf kepada mama dan papa karena mengingkari perjanjian itu. "Dulu, kita bertiga selalu main bersama awalnya abang gak mau main sama dia karena kamu selalu menempel kepadanya dan itu membuat abang iri. Tapi lama kelamaan kamu mulai berubah, bukan berubah kepada abang melainkan kepada dia. Kamu juga mengucapkan janji bahwa kamu akan menjadi pasangan hidup untuknya sampai sekarang ia masih berharap kepadamu walaupun kamu lupa ingatan tentangnya."
Aluna menggelengkan kepalanya seakan akan mengusir apa yang sedang menghampiri kepada kepalanya. Ia mengejamkan kedua matanya dengan sedikit kernyittan didahinya, lalu ia bisa melihat abangnya seperti memanggil dirinya namun dia tidak mendengar melainkan suara seseorang yang ia dengar.
Lunapun pingsan, Aksa panik lalu membawa luna kedalam kamar adiknya sendiri lalu menelpon dokter seperti permintaan mama dan papa. Dokter datang langsung memeriksa adiknya bahwa adiknya tidak apa apa hanya saja sedikit syok. Mama dan papa bingung lalu menatap putra sulungnya dengan tatapan bertanya lalu aksa menjelaskannya dengan detail lalu meminta maaf karena sudah ingkar janji. Mama dan papa tidak bisa berbuat apapun karena putri mereka sudah mengetahui fakta sebenarnya.
'Luna, kamu harus janji kepada bunda untuk menjaga semua rahasia ini. Dan bunda harap kamu selalu ada disamping Adam, putra bunda satu satunya ya sayangnya bunda.'
'Ka adam, luna sayang kaka dan cinta kaka. Maukah kaka menjadi suami luna dimasa depan?' tanya luna kecil dan orang dewasa yang berada disitu langsung tersedak mendengar permintaan luna begitupun dengan aksa yang langsung menatap tajam adam. Kemudian semua orang tertawa dan berbahagia.
'Luna, ka adam sayang kamu. Dan akan mencintaimu selamanya.'
"Luna, jangan pergi meninggalkanku seperti ayah yang meninggalkan bunda.." ucap bocah itu dengan isakkan nangis. "Maksud kaka apa? Siapa yang ninggalin siapa?"
__ADS_1
"Ayah akan berpisah dengan bunda dan akan meninggalkanku sendirian lagi. Adam tidak mau seperti itu, jadi bisakah luna berjanji agar tidak meninggalkanku sendirian?"
"Luna berjanji, akan selalu berada disisi ka adam. Jadi luna mohon ka adam jangan menangis lagi masa lelaki masa depan luna cengeng? Gak bisa lindungin luna dong nanti kalau cengeng gitu."
Adam, bocah kecil itu langsung menghapus air matanya yang sedari tadi jatuh kepipi tembamnya. "Ka adam sayang luna." ujarnya sambil memeluk tubuh mungil luna dengan erat begitu pun dengan luna kecil memeluknya dengan sayang. "Luna juga sayang sama ka adam."
Luna mengerjapkan kedua matanya dan merasakan tangan kiri dan kanannya terasa berat. Saat ia melihat sisi kiri ternyata mamanya tidur disampingnya lalu disisi kanan ia melihat tangannya digenggam oleh abangnya dengan erat.
Sedangkan papanya ia bisa melihat bahwa papanya sedang menelpon seseorang dibalkon kamarnya, mungkin karena papanya merasakan ada yang menatapnya langsung menoleh kekanan dan menatap balik luna dengan khawatir.
Papanya berjalan menghampirinya lalu duduk dipinggir kasur sembari mengelus kepala putrinya dengan lembut namun gerakkannya itu membangunkan abang Aksa yang tidak sengaja tertidur sembari menggenggam tangan luna. "Sudah bangun lun?" tanya abang dengan lembut.
"Apa ada yang sakit sayang? Mengapa luna menangis?" tanya khawatir papa dengan lembut papa menghapus air mata luna yang membasahi pipinya. Luna berbicara dengan suara serak. "Luna ingat, ingat semuanya. Dan tau apa yang kalian maksud dari sifat posesif kalian ke luna, maafin luna sudah nakal papa, abang.."
Papa mengangguk. "Luna tidak perlu meminta maaf kepada kita semua sayang. Yang penting ini adalah berita bahagia karena putri kesayangan mama dan papa sudah mengingat semuanya. Maafkan kami semua yang sudah menutup fakta darimu, nak." Aluna mengangguk. "Luna mau minum?" tanya Aksa sambil memberi segelas air kehadapan adiknya. Adiknya pun menerimanya dengan tangan lemas.
Aluna mendengar ucapan abangnya dengan senyuman dimulut yang penuh dengan makanan malam yang dibuat oleh abang dan papanya karena ia baru bangun dari tidur 3 hari 2 malam dan itu cukup membuatnya sangat kelaparan.
"Jadi aluna kecelakaan karena menyelamatkan ka adam, karena hari itu juga adalah hari dia pergi meninggalkan luna. Ternyata dia duluan yang mengingkari janjinya, tapi luna tidak apa karena luna tau alasan mereka pergi meninggalkan kita."
Abang dan papa mengernyit bingung menatap luna. Luna sadar akan raut wajah mereka seakan minta penjelasan luna pun menggeleng. "Bukan hak luna untuk menjelaskan itu, tunggu saja ka Adam pulang pasti kalian akan terkejut dan marah dengan seseorang." jelas luna lalu ia berdiri berjalan kearah kasurnya.
"Luna lanjut tidurnya ya, udah malam. Selamat malam papa dan abang, terima kasih makan malamnya."
❣❣
__ADS_1
Di pagi hari seorang pria langsung mendapatkan pesan dari orang sebrang sana dan ia tersenyum sangat manis yang membuat siapapun yang melihatnya ingin terus menerus menatap senyuman itu. Lalu ia mengetik sesuatu di benda pipihnya lalu berjalan melangkah masuk kedalam kamar mandi dengan handuk digenggamannya.
Saat sarapanpun ia tetap menebarkan senyuman itu sampai membuat seseornag terheran akan tingkahnya. "Kamu kenapa nak? Mengapa senyum seperti itu seakan ada berita bagus saja."
Pria itu mengangguk. "Memang ada berita bagus kek hari ini. Tadi aku mendapatkan pesan dari Aksa dan isi pesannya itu adalah hal yang membuatku bahagia." ucapnya dengan senyuman sampai pipinya memerah saat mengingat masa kecilnya menangis didepan gadis kecil yang ia sukai dan diajak nikah oleh gadis itu membuatnya ingin tertawa.
"Adam, beritahu kakek lah mengapa kamu menjadi seperti ini." ucap kakek yang gemas dengan cucu satu satunya karena rahasia dimasa lalu yang ia belum tau jelas.
"Singkat aja ya adam kasih tau." Kakek mengangguk. "Gadis kecil yang adam cintai sampai sekarang yang dulu nyelamatin Adam dari kecelakaan kan koma dan bangun bangun lupa ingatan. Dan hari ini kata aksa sudah tiga hari gadis itu tidak sadarkan diri dan bangun bangun ia mengingat semua hal tentang masa lalu." jelas Adam kepada kakeknya yang sudah mengangguk paham atas cerita singkat cucunya.
"Jadi kamu senangnya karena gadis itu sudah mengingatmu kembali?"
"Tentu Adam sangat bahagia hanya karenanya. Dan kakek harus tau bahwa waktu kecil dia lebih dulu yang mengajakku untuk menikah dan aku juga pertama kali menangis didepan gadis kecil itu karena aku baru mengerti apa yang bunda katakan bahwa mereka akan berpisah secepatnya. Dan saat itulah Adam sudah membenci ayah sejak saat itu."
"Karena ayah secara tidak langsung sudah membuangku dan bunda untuk keluar dari rumah itu. Karena aku juga pernah melihat ayah berciuman dengan wanita lain yang adam lihat itu bukan bunda. Karena Adam sudah dewasa sekarang, adam mengerti arti ayah meninggalkan bunda karena ia sudah berselingkuh dengan wanita lain yang tak lain adalah anak yang kakek angkat dari jalanan itu." ujarnya dengan kesal sambil menahan amarah.
Kakek menghela nafas. "Maafkan kakek karena sudah mengangkatnya namun dengan tidak tau dirinya ia merebut dan menggoda ayahmu hanya karena dia ingin semua yang dimiliki bundamu beralih ketangannya. Kakek tau kalau kakek salah karena membiarkannya mengambil apa yang ia inginkan. Dan membiarkan kelakuannya melukai putri kesayangan kakek sampai merengut nyawanya."
Adam mengepalkan kedua tangannya dan ingin sekali membunuh orang karena mereka bundanya meninggal didepan matanya. "Karena wanita itu, aku tidak bahagia. Wanita itu harus hancur sehancur hancurnya." ujar Adam lalu berdiri dan meninggalkan sang kakek yang kaget atas gebrakkan akibat cucunya.
"ADAM! Mau kemana kamu, nak!"
'Aku akan menghancurkan kalian! Tunggu tanggal mainnya.' Batin adam yang sedang mengendarai mobilnya dengan kencang.
---Bersambung---
__ADS_1
Jangan lupa like ceritaku.
Terima kasih.