Childhood Love Story

Childhood Love Story
Aluna Nada - Part 28


__ADS_3

---Happy Reading---


PLAK!!


“Citra!”


“Sayang!”


Aluna dan stefan meneriaki nama citra saat dirinya ditampar oleh tasya. Wajah tasya sudah memerah menahan amarah. “Bisa gak kau diam saja?!”bentak tasya yang sudah menjadi menggila karena masa lalunya dibongkar.


Citra menyeringai setelah tertawa. “Wah, wanita murahan mana yang berani denganku hah? Kau ingin melawanku seperti dulu?” tanya citra yang nadanya sedikit tajam.


Citra maju selangkah mendekat tempat berdirinya tasya lalu dibalasnya dengan keras sampai pipi halus tasya tergores dan berdarah karena cincin yang ia gunakan.


PLAK!


PLAK!


Dua kali tamparan kanan kiri untuk tasya seorang. “Kau tau, apa yang kau lakukan dulu terhadap sahabatku itu sangat meninggalkan luka. Dan karena kau hidupnya hancur.”ucapnya dengan pelan dan menatap mata tasya dengan tajam.


Citra memundurkan tubuhnya. “Kau dulu hanya seorang pembunuh, pembunuh mental untuk seseorang mengerti. Jadi mulai sekarang lebih baik kamu gak usah muncul dihadapan semua sahabatku, karena kau terlalu kotor untuk bertemu dan menyapa mereka.”ujar citra dengan sinis lalu menarik lengan suaminya dan mengajak luna untuk pergi dari lantai yang sama dengan wanita tersebut.


“Ayo lun, kita pergi dari tempat ini. Tempat ini sudah terkontaminasi olehnya.” sarkas citra meninggalkan tasya seorang diri dengan tangisan diwajahnya lalu tasya langsung pergi dari sana karena dirinya sudah dikomentari buruk oleh orang orang sekitar.


“Kalian sudah ingin pulangkan?” tanya citra saat sudah jauh dari tempat dimana mereka berantem. Aluna mengangguk lalu mengelus pelan pipi kanan sahabatnya itu. “Pipimu gak papa kan?”khawatir luna membuat citra tersenyum lalu mengangguk.


“Baik baik aja kok, kamu mau pulang kan? Udah malam juga hati hati dijalan.” ujar citra dengan sedikit serak suaranya. Aluna memeluk sahabatnya dengan lembut. “Aku tau kamu gak baik, bisakan kamu jujur aja dihadapanku dan rizka. Jangan membohongi diri kamu sendiri gak baik.”


Citra menangis setelah mendengar bisikkan dari sahabat tersayangnya ini. “Aku sakit lun, aku sakit liat sahabat aku sendiri mengakhiri hidupnya hanya karena wanita itu.”


“Tenang yaa, lagi hamil jangan banyak tekanan gak baik buat babynya.” bisik luna membuat citra langsung melepaskan pelukan itu dan menatap horor luna. “Bagaimana kau tau?”


Aluna tertawa, “bagaimana kau tau? kau tanya seperti itu, tanpa bertanya pun aku akan mengetahuinya saat diriku memeluk tubuh langsingmu ini. Seharusnya aku yang bertanya sekarang, bagaimana bisa kamu tidak memberitahuku tentang kehamilan dan berita baik seperti ini?”


“Hem, maafkan aku. Saat itu aku juga sudah ingin memberitahukan kepadamu tapi sayang kau tidak bisa dihubungi selama seminggu penuh.” balasnya membuat luna berpikir kembali seminggu penuh apa yang sedang ia lakukan sampai jauh dari ponselnya.


“Ah, saat aku pergi keluar negeri itu.” citra mengangguk kemudian menyeka air mata yang sudah mengering diujung mata.


“Jadi sudah berapa bulan?”


“Berjalan 2 bulan.” aluna menganga mendapati sahabatnya sedang mengandung 2 bulan dan selama itu ia tidak mengetahui berita tersebut.


“Akhirnya aku punya keponakan dari sahabatku yang manis ini. Stef, jaga istrimu ini jika sudah marah seperti tadi akan bahaya untuk bayimu.” peringat aluna dan stefanpun mengangguk setuju. “Ya, tenang saja aku akan menjaganya demi nyawaku.”

__ADS_1


"Harus! Jangan sampai tidak, karena yang kau jaga bukan satu nyawa melainkan dua nyawa atau tiga nyawa?" Citra tertawa.. "Doakan saja diriku mendapatkan bayi kembar dan sepasang seperti yang ku harapkan."


"Ya sudah, kalian pulang gih. Wanita hamil tidak boleh kelelahan, dadah~ Hati hati dijalan." lambai aluna kepada kedua sahabatnya. "Kau juga, dadah~ Ah iya, tadi aku berpapasan dengan karel. Dan sepertinya karel sudah mendapatkan cintanya." kata citra dan aluna mengangguk.


"Ya, tadi aku juga melihatnya. Bersama gadis yang kemarin dikelas bukan?" Citra mengangguk dan masuk kedalam mobil sedangkan aluna dan adam harus berjalan terlebih dahulu kearah mobil yang diparkirkan cukup jauh dari pintu masuk.


"Langsung pulang?" tanya luna saat mereka sudah berada didalam mobil dan adam sudah menjalankan mobilnya. Adam menatap wajah gadis yang terlihat manis dan cantik sepanjang saatnya. "Kamu mau kemana dulu?"


Luna berpikir sebentar lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ngga jadi deh, aku lupa kalau tokonya sudah tutup dari minggu yang lain."


"Memang toko apa?"


"Rental musik."


"Masih ada disini ternyata?" aluna mengangguk. "Dan ada piring hitam itu, tapi aku pikir lagi tokonya udah pindah jauh dari sini, kalau dipaksain kita bakal kemalaman pulangnya. Lebih baik gak usah."


"Memang kamu mau mencari musik apa?" tanya adam sembari mengelus rambut belakang luna dengan lembut.


"Ada satu lagu yang aku pengen beri kekamu, lagunya enak dan tenang untuk diri kita jika lagi banyak pikiran. Seperti saat ini kamu banyak pikiran tadi saat makan aja kamu kebanyakkan melamun." ujar luna dengan wajah senangnya.


"Nanti kita kesana ya, setelah aku pulang dari sana."


"Oke, aku tunggu kamu pulang."


Tidak perlu lama, luna sudah keluar dari kamar mandinya dengan baju piyama yang selalu menjadi baju rumahan sehari hari. DIbaringkan tubuh mungilnya yang merasa pegal seharian bermain dan berjalan namun ia tidak pernah sesenang ini, ia merasa sangat dua kali lipat bahagianya karena ia bisa sepuas puasnya bermain bersama pria kesayangannya.


Aluna mengambil tas selempangnya yang berada didekatnya lalu dikeluarkan tiga lembar yang berisi foto mereka dengan penuh gaya. Aluna sedikit tertawa membayangkan tadi saat dirinya menyuruh adam untuk berekspresi konyol seperti foto yang ia tatap saat ini.


"Lucu sekali wajahnya." gumam aluna dengan senyuman. "Bentar lagi kau akan pergi meninggalkanku disini selama dua tahun. Tolong jangan melupakan aku ya, aku menunggumu disini." lirihnya kemudian diciumnya foto adam yang sedang bergaya konyol itu.


"Love you."


Pagi pagi sekali, aluna yang baru saja membuka mata dari tidurnya karena mendengar suara ribut dari lantai bawah.


Ia langsung bangkit dari atas kasur empuknya dan berjalan menuju kamar mandi berniat menyuci wajahnya.


Setelah itu ia langsung berjalan keluar kamar dengan menggunakan baju santai, kemudian ia menuruni anak tangga. Suara ribut yang ia dengar dari kamarnya yang tak lain suara dari ruang keluarga.


Ada abangnya dan adam serta kakek alex yang sudah rapih dengan pakaiannya. Aluna segera melangkah mendekat kearah ketiga orang itu.


"Kalian sudah siap saja, jam berapa memangnya flight?" tanya aluna yang mengejutkan ketiga orang itu. "Astaga luna! Bisakah kamu menyapa terlebih dahulu?" tanya aksa yang dibalas gelengan olehnya.


Aluna duduk disamping adam yang hanya menatapnya dengan senyuman manis diwajahnya. Aluna pun dengan manja menyenderkan kepalanya dibahu kiri adam, adampun membalasnya dengan mengelus pucuk kepala luna.

__ADS_1


Aksa yang melihat kemesraan itu dipagi hari hanya bisa menghela nafas dan memutarkan bola mata malas, "bisakah kalian pagi pagi tidak bermesraan dihadapanku?" aluna merengut mendengar ucapan abangnya.


"Abang, kapan lagi aku bisa bermesraan dengannya? Hari ini adalah hari keberangkatannya dan akan meninggalkanku selama 2 tahun. Jadi mengertilah.." jelas aluna membuat aksa lebih memilih membuka ponselnya dan menghubungi gadisnya.


"Ya ya.. terserah kalian, lebih baik aku menghubungi dede rizka."


"Kalian ini, apa kalian lupa bahwa kakek masih berada dihadapan kalian?" omel kakek alex yang merasa diacuhkan oleh ketiga remaja tersebut.


Aluna menyerngir, "maafkan aku kakek, ah iya kek apa selama 2 tahun kakek akan pulang bersama adam? atau kakek pulangnya akan bersama kakek mika?" tanya aluna yang sudah membetulkan posisi duduknya.


"Kakek tidak tau, tapi kakek akan mengusahakannya untuk balik kesini bersama sama." aluna mengangguk, tak lama mamanya datang dari arah dapur.


"Oh ternyata putri manis mama sudah bangun, mau sarapan apa sayang?" tanya mama yang melangkah kearah mereka dengan membawa nampan yang berisi sarapan untuk tiga orang.


"Luna ambil sendiri aja ma, luna lagi mau sereal di hari yang sangat pagi ini." ujarnya sembari berdiri dari duduknya lalu melangkah kaki kearah dapur diikuti mamanya disampingnya.


Sedangkan diruang keluarga, ketiga pria itu langsung memakan sarapan mereka yang sudah disiapkan oleh anzel sejak tadi.


Aluna yang baru sampai kedapur melihat papanya yang sedang merapihkan kemejanya yang sedikit lecak, dan ia pun melirik kearah mamanya yang saat itu melihat tanda bercak merah dileher mamanya.


"Apa kalian melakukan olahraga ranjang didapur ini?" tanya luna yang langsung dipelototi oleh papanya sedangkan mamanya hanya sibuk dengan menyibukkan dirinya walaupun pipinya memerah.


"Jadi benar?! Wah,.. hebat sekali kalian. Pa, jika ingin melakukan ilahraga itu lebih baik dikamar kalian saja berbuat sesuka hati dibandingkan didapur ini untuk semua orang." omel luna yang sudah menuangkan susu dimangkuk serealnya.


"Kamu juga pasti akan merasakannya, lun. Belum waktunya saja."


Aluna mengangguk, "Ya tentu saja belum waktunya tapi jika aku sudah menikah aku tidak akan meminta adam untuk melakukan hal itu didapur milikku, karena aku tidak ingin mempermalukan diri dihadapan orang lain maupun anaknya sendiri." jawab luna dengan sindiran membuat papanya bungkam.


Sedangkan mamanya hanya mengulum senyuman dan menahan tawa didalam mulutnya, karena ia baru saja melihat perdebatan antara ayah dan putrinya sendiri dan sekarang suaminya itu kalah telak dengan jawaban putrinya.


"Iya, lainkali kami tidak akan pernah melakukannya lagi disini atau ditempat yang sering dikunjungi orang." jawab mama dengan senyuman membuat luna mengangguk lalu berjalan keluar dapur dan melangkah balik kearah ruang keluarga.


"Apakah diriku pernah kalah dari putri kecilku jika berdebat?" tanya papa samar samar kepada mama.


Mama menggeleng. "Tidak, kamu tidak pernah kalah dan sekarang kamu baru saja kalah sekali oleh putrimu sayang, dan jangan lupa dia sudah dewasa."


"Rasanya aku masih menganggapnya anak kecil." jawab papa membuat luna yang masih dekat dengan dapur tersenyum manis.


"Senangnya disayang dan dimanja oleh papa sendiri." gumam luna.


----Bersambung---


Jangan lupa like ceritaku dan mampir keceritaku yang lain.

__ADS_1


Terima kasih 💕


__ADS_2