Childhood Love Story

Childhood Love Story
Kapan go publik


__ADS_3

"Sayang hari Sabtu depan ikut kakak ya.."Rangga sedang memakai seragam nya saat Ara masuk ke kamar membawa dua gelas susu di atas nampan.


Gadis itu meletakkan nampan ke atas meja sofa, tanganya memunguti handuk dan jubah mandi yang terserak karena ulah Rangga.


" Ini kalo habis dipakai mbok ya taruh lagi ke kamar mandi dong, nih baju kotornya juga ditaruh di keranjang itu, masa disini sih dan ini juga jaketnya taruh sini sayang..., biar rapi kamarnya.." Bukannya menjawab Ara justru ngomel.


Rangga tersenyum dengan bersedekap melihat Ara yg cerewet. Tingkah Ara yg gesit dalam bertindak membuatnya kagum.


" Emang bener ya..." Gumamnya.


" Bener apaan?" Tanya Ara, kepalanya menoleh menatap Rangga, setelah menggantung jaket Rangga pada balik pintu.


Sedangkan baju kotor Rangga dilemparkan nya ke keranjang,dan handuk masih berada di tanganya.


" Kamu cerewet kalo lagi datang bulan" Rangga tertawa melihat Ara yg melotot mendengar ucapanya.


Ara masuk kamar mandi dan meletakkan handuk lalu keluar lagi.


" Lili tu nggak cerewet, kalau kakak nggak belajar rapi dari sekarang, nanti gimana dong kalau kakak hidup sendiri tanpa Lili"


Rangga langsung menolehkan kepalanya, bahkan sisir yang ada di tanganya menggantung di udara.


" Kok ngomong gitu, ngapain kakak harus hidup tanpa kamu?"


" Ya nggak ngapa-ngapain, barangkali aja.." Ara meraih sisir di tangan Rangga dan menyisir rambut gondrong suaminya itu dengan lembut.


" Apa nggak gerah kayak gini rambutnya?, nggak dikuncit aja kayak gini?" Ara mencoba menguncit rambut Rangga, tapi setengah melihatnya dicermin mata nya terpaku sesaat. Dan dengan cepat dia segera membuka ikatan karetnya.


" Loh..kok dibuka?" Tanya Rangga heran, padahal dia baru merasa nyaman dan ringan dengan rambutnya yg terkuncit.


Ara diam saja dan mukanya terlihat memerah.


"Jangan deh..., dirumah aja dikuncitnya..." Gumam Ara pelan.


Rangga melihat sesuatu yang tidak beres dengan gelagat Ara, terlihat salah tingkah dan canggung.


Rangga memutar tubuhnya dan kini mereka berhadapan. Mata mereka saling menatap.


"Kenapa nggak boleh dikuncit diluar hemmm?" Rangga memeluk pinggang Ara dan meletakkan dagunya diperut gadis itu.


" Kakak makin cakep kalau dikuncit gitu.." Gumam Ara lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


Tapi sayang kuping Rangga sangat tajam dan dia sangat jelas mendengarkan gumaman Ara.


Jantung Rangga berdetak tak karuan, matanya melotot tak percaya. Ada ribuan kupu-kupu serasa mengepak di dadanya, geli dan bahagia dia mendengar kata-kata Ara.


Cakep???, Jadi dia nggak mau gue kelihatan cakep diluar.


Maksudnya dia cemburu gitu?


Lili?, cemburu sama gue??


Dam it!!! Dam it!!! Dam it!!!


Sial gue seneng banget sumpah!!


Rangga mengulum senyumnya, menatap wajah Ara yg tepat diatasnya.

__ADS_1


" Kakak denger lo tadi..., coba ulangi..." Ucap Rangga.


" Apaan?" Tanya Ara yang saat ini sedang menuangkan handbody ke telapak tangannya.


" Cakep tadi, kayaknya kakak denger ada yang bilang kakak cakep deh..." Rangga mengerlingkan matanya.


" Ishh..." Dengan wajah yang memerah karena malu Ara segera melepas pelukan Rangga dan segera meraih seragamnya yang tergantung di pintu lemari.


Grepp!!!


Dipeluknya Ara dari belakang,dengan tangan Rangga yang sibuk mengangkat kaos Ara.


" Kak...." Bentak Ara risih.


" Kakak bantuin ganti seragam sayang.." Jawab Rangga tak mengindahkan bentakan Ara.


" Nggak mau!!, pasti bikin tatto deh, tau aku tuh!!" Ara berusaha melepaskan diri.


" Dikit aja sayang..., tujuh eh sepuluh aja..." Ucap Rangga dengan bibir yang sudah mulai mengecupi leher bagian belakang Ara.


"Kakak please.., Ara hari ini tuh olahraga, ganti bajunya barengan sama teman lain, nanti kalo ada yg liat tattonya aku gimana?" Rengek Ara udah mau nangis aja rasanya, Rangga kalau udah mode mesum begitu nggak akan bisa di berentikan.


" Ya udah deh bikinya disini aja" Rangga kok dilawan, nggak akan pernah bisa. Kalo nggak bisa bikin tatto di tempat terbuka ya dia bisalah bikin di tempat tertutup. Sekarang aja bahkan perut dan dada Ara penuh dengan cupangan Rangga.


"Li....astaghfirullah kalian ini!!!!" Teriak Hana saat melongokkan wajah ke dalam kamar Ara.


Sedangkan Ara segera mendorong kepala Rangga dari dadanya.


" Apaan sih Han, ngganggu orang aja!" Sewot Rangga.


Haduh gagal deh enak-enak pagi hari.


**


"Sayang jadi ikut apa enggak?, tadi belum jawab deh" Tanya Rangga saat menurunkan Ara dari motornya di depan gang samping sekolah, tempatnya lumayan sepi.


" Kemana?" Tanya Ara .


" Ke Singapura, ada undangan reuni teman-teman Olim.." Jawabnya.


" Oh undangan yg dititip mommy sama Hana semalam itu, Akkhhhh...." Ara menjerit saat kini Rangga mengangkat dan menaikan lagi ke motornya.


" Ikut ya..." Rangga meremas kedua jemari Ara.


" Nggak mau ah.., disana pasti yang ngumpul orang-orang pinter..., Lili nanti nggak bisa ngobrol akrab gimana?" Ara meletakkan kepalanya di pundak Rangga.


" Yaelah..lagian siapa suruh kamu ngobrol sama yang lain, apalagi sama cowok, emang nggak ngasih aku..." Ucap Rangga yang masih saja mencuri-curi kecupan, apa nggak cukup yang tadi pagi.


" Halah...trus kamu boleh-boleh aja ngobrol sama cewek gitu, enak di elo nggak enak di gue bang...ha..ha.." Ara tertawa karena tiba- tiba Rangga menggigiti pundaknya.


" Ya udah sana masuk, nanti ada yang lihat kita pacaran gini ada yang sirik" Ucap Ara lagi dengan meloncat turun dari motor Rangga.


" Bye kak...lufyu.." Ara mengecup pipi Rangga.


" Idih dasar rubah licik!!, kalau di tempat umum gini aja suka nyosor, kan jadinya kakak gak bisa balas!. Giliran di kamar aja malu-malu" Geram Rangga dan mengacak geram jilbab Ara.


Ara tertawa dan segera berlari ke dalam gang, disana ada tembusan pintu kantin. Jadi Ara akan melintasi kantin dulu baru ke area lapangan trus ke kelasnya.

__ADS_1


" Lailia...." Teriak Chandra memanggilnya dari arah ruang guru.


" Assalamu'alaikum Chand, udah beres kan surprise nya?, maaf aku nggak bisa bantu.." Ucap Ara dengan memelas.


" Waalaikumsalam, ya nggak papa lah, gue dibantu sama yang lain kok, ready semua..dan aman.." Chandra mengacungkan jempolnya pada Ara.


Rangga yg muncul dari arah parkiran melihat Ara dan Chandra yang asyik ngobrol merasa jengkel.


" Kapan kami bisa go publik, cape gue tuh kaya gini" Ucapnya pada Vino dan Rayya yang ada disampingnya.


" Jangan gegabah dulu.., tenang aja, udah halal ini..." Ucap Rayya.


" Iya bener lo Ray, btw guys gue udah nervous banget nih, belum juga melangkah ke rumah gue, rasanya perut gue mules mulu tiap inget mau menghadap bokap gue..." Vino terlihat pucat dan cemas.


" Lo tenang aja dulu Vin, Bismillah aja dulu, nanti malam lo harus siap lahir batin dengan segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun.." Rangga menepuk-nepuk pundak Vino.


" Dan lo harus selalu yakin dan percaya bahwa kami akan berada di samping lo, ingat itu" Tiba-tiba Denis sudah merangkul mereka dan mengucapkan kata-kata yang membuat Vino merasa tenang.


" Terimakasih guy's..., love you all"


" Hoek..hoekk.cuihh..cuuih...mau muntah gue!!!" Ucap Denis dengan pura-pura muntah.


Membuat mereka berempat saling dorong dengan tawa mereka yang menggelegar sepanjang lorong.


Ara dan Chandra yang ada di depan mereka menoleh, dengan santainya Rangga malah menyodorkan finger heart pada Ara, membuat mata penduduk SMU Bhakti yang berlalu lalang dikoridor melotot tak percaya.


Ara yang takut sesuatu yang buruk akan terjadipun segera membalik badan dan berlari begitu saja ke arah kelasnya.


" Ye...gagal go publik lagi deh..." Gumamnya.


" Lo liat tadi kak Rangga kasih finger heart pada Ara.." Tanya seorang murid pada temanya.


" Iya, gue sih setuju, Rangga cakep si Ara juga cantik banget, tapi Ara takut kayanya ya..ha.."


" Tuh mata Rangga aja masih liatin si Ara sampai masuk kelas tuh.."


" Eh iya cuy..." Ucap gadis itu sambil mengikuti arah pandang Rangga.


" Gue denger Hanan dan Chandra juga naksir si Ara loh.." Satu lagi cewek datang ikut ngerumpi.


" Nggak cuma itu, si Lenox kayanya juga nyesel percaya ma omongan Jessi yang bilang Ara tu cewek panggilan, jadinya dia berbuat keji waktu itu, karena awalnya dia juga suka ma si Ara..."


" Wah..wah..bakalan jadi cinta segi banyak nih..., gue jadi penonton yang ngawal aja lah..., kira-kira dengan siapa kapal Ara berlabuh..."


" Gue sih maunya dia ma kak Rangga aja.., pasti anaknya jadi bibit unggul"


" Kalo gue pengen banget jadi Ara......"


" Ayyooook lah cus kita berangkat ke Korsel..!!!"


" Ngapain?"


" Ya operasi plastik muke lo tuh!!!, muka kaya kentang aja minta jadi Ara..ha...ha..."


" Anjiiir...lo!!!"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2