Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ikut Ardi ke pesta.


__ADS_3

Janu menatap Ara yang sedang memasak sarapan paginya.


Pemuda itu duduk didepan meja batu, dekat Ara memasak.


" Ra..."


" Hemmm "


" Hana itu tinggal di rumah kamu ya?"


Ara menoleh dan menghentikan sebentar kegiatan memasaknya.


" Iya kak, kadang-kadang. Seringannya ya dirumahnya sendiri lah." Jawab Ara jujur.


" Rumahnya dimana?"


Ara terkejut dan menatap Janu heran, tapi tidak ada curiga sama sekali dari tatapannya.


" Di komplek Permata Angsana cluster Angsana Blok D15.." Jawab Ara jelas dan lugas.


Janu menyimpan alamat tersebut dalam memory otaknya.


" Emmmm, gitu. Trus kalau cewek yang pakai cadar dirumahmu itu istri kakakmu yang mana Ra?"


" Bukan, namanya Azura. Dia cucu angkat kakek. Kalau Bianca itu anak adopsi abangku.."


"Emmm gitu... Trus apa hubungan om Wijaya dan keluarga mu Ra?, kok kelihatan akrab banget".


Ara menarik nafas dalam sebelum memulai ceritanya.


" Jadi dulu itu daddy bermasalah serius dengan kakek Wijaya, sampai-sampai daddy pergi dari rumah. Lalu sama papaku yang memang sahabatanya dari SD, dibawa ke rumahnya. Karena kakek pernah kehilangan paman Syahril saat masih kecil, maka kakek mengangkat daddy sebagai putranya, berharap anaknya yang hilang juga mendapatkan keluarga baru juga, begitu..." Ucap Ara dengan ringkas.


" Betul-betul-betul" Sahut daddy yang muncul dari pintu masuk dapur.


" Akkhhh...maaf dad, Lili jadi ghibahin daddy pagi-pagi gini ha..ha...ha.." Tawa kecil Ara menghangatkan suasana.


" Nggak papa sayang, setidaknya sudah mengobati rasa penasaran Janu, ya kan son?" Daddy Hen tersenyum sambil menatap Janu.


" Iya om..ha..ha.." Angguk Janu dengan diselingi tawanya.


" Masih mau kepo hal lain nggak?" Tanya Daddy Hen dengan mengulum senyumnya.


" Apa itu?" Tanya Janu penasaran.


" Kau akan kaget saat tau kenyataan ini. Kau tau mama Ara kan?" Daddy Hen mengambil posisi untuk duduk di samping Janu saat ini.


Janu mengangguk dalam, dan Ara hanya tersenyum menyodorkan teh madu dengan perasaan lemon di depan mertuanya.


" Dulu dia itu kekasih fenomenal om dari duduk di bangku SMP kelas 2 sampai kuliah semester 3..." Bisik daddy Hen.


Janu melotot tak percaya, bahkan saking terkejutnya pemuda itu sampai menyemburkan minuman yang baru masuk dari mulutnya.


" Dia dulu mirip Ara begini, menggemaskan.." Lanjut daddy.


" Apa sekarang mamanya Lili tidak menggemaskan dad??" Tanya Ara kepo.


" Tentu saja masih, dan itu akan sangat berarti dan nampak jelas dimata papa mu, kalau bagi daddy sekarang yang menggemaskan ya tetap mommy mu lah..." Ucap daddy Hen mantap.


Sementara tak jauh di belakangnya, mommy mengusap air matanya haru.


" Dad, nanti malam Ardi ajak Lili ke acara Coach nya. Apa boleh?"


Daddy Hen menatap menantunya ini lekat, ada rasa ingin melarang. Entahlah..


Rasanya daddy tidak ingin menantuanya ini keluar rumah.


" Iya sayang boleh, tapi jangan pulang terlalu malam.." Tapi bibirnya mengucapkan hal yang tak sama dengan isi hatinya.


" Baik dad.., terimakasih.."


...***...


" Beb, apa twins sudah bisa bergerak?, boleh aku pegang nggak?" Ardi yang beberapa waktu lalu menjemput Ara penasaran dengan perut buncit Ara yang disembunyikan di dalam sebuah jaket besar.


Semalam dia terkejut dan ingin marah mendengar kehamilan Ara ini. Tetapi dengan melihat kebahagiaan Ara yang meluap dia mengurungkan nya. Apalagi papa sudah berbicara padanya untuk tidak terlalu cemas. Beruntung ada bu Sasti yang sudah banyak membantu.


" Babby masih kecil, kalau ada pergerakan itu bukan twins yang gerak tapi mungkin otot perut Lili aja sih bang.." Sahut Ara.


" Coba sini, penasaran gue." Ardi mengulurkan tanganya untuk ditempel kan diperut Ara, sementara tangan satunya masih memegang setir.


Belum ada pergerakan berarti, karena memang masih kecil.

__ADS_1


"Duh gue nggak sabar, kemaren soalnya gue sempet pegang perut kak Dian dan langsung ditendang beb. Gue pengen anak lo juga begitu.." Ardi terlihat benar-benar tak sabar melihat perut Ara segera besar.


" Sabar bang, nanti juga besar. Nikmati dulu aja yang sekarang..."


" Jemput Azura dulu baru ambil baju buat kalian di butik mama..." Ucap Ardi dengan lihai memutar setir berbelok ke arah sekolah Azura.


" Bang...., boleh Lili nanya sesutu?"


" Apa?, tanya ya tanya aja?" Sahut Ardi santai.


" Lo udah moveon dari Hana belum?" Ara terlihat sedikit menyamarkan kata Hana.


" Nggak tau lah beb, tapi..." Ucapannya menggantung, Ardi menerawang jauh ke depan.


" Tapi apa bang?"


" Entahlah beb, sepertinya sudah ada ada yang sedikit mampu menggeser nya..." Ucap Ardi dengan tatapan kosong ke depan.


" Apakah dia Azura???"


Ciitttt!!!!


Ardi tiba-tiba menghentikan mobilnya begitu saja.


Membuat Ara terkejut dan langsung menabok lengan Ardi dengan keras.


"Apasih Anca!!, bikin sakit jantung aja!!"


" Maaf beb...." Ucap spontan Ardi dengan sikap yang tiba-tiba canggung pada adik kembaranya itu. Dengan tetap diam tanpa kata, Ardi kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Tak ada pembicaraan antara keduanya saat ini.


Ara yang sangat tahu arti kecanggungan Ardi sekarang ini.


Dan Ardi yang bingung harus berkata-kata apa. Karena dia tidak akan bisa berbohong pada gadis berbagi rahimnya ini.


Mobil terus melesat menuju SMU Buana.


Mobil menepi di depan pos satpam, nampak disana seorang gadis bercadar sedang berbincang akrab dengan seorang cowok.


" Lili turun dulu ya bang, mau menyapa Hyung Nathaniel sebentar " Pamit Ara.


Ardi hanya mengangguk, sementara matanya tetap tertuju pada Azura.


" Iya. Nggak papa Hyung, Ara juga sekalian mau ngucapin terimakasih karena sudah di bolehin membuat kerusuhan di cafe Hyung beberapa hari lalu.."


" Ha..ha..ha..Kamu ini ada-ada saja, apa kamu tahu Ra? kerusuhan yang kalian buat justru membawa keuntungan untuk cafe Hyung loh?"


Dan Nathaniel pun menceritakan bagaimana konsumen selalu ingin band Natasha cs tampil lagi di cafenya.


" Jadi kapan kalian perform lagi?" Tanya Nathaniel serius.


" Nunggu ini keluar dulu kali ha..ha..ha.." Ucap Ara sambil mengelus perutnya.


" Atau kalau nggak Chandra bisa gantiin posisi Ara kok.." Lanjut Ara.


" Beib...ayo!!!" Teriak Ardi dari mobil.


" Oh..., maaf Hyung. Ara harus segera pamit, mau langsung ke butik. Yuk Zu..." Ara menganggukan kepalanya ramah pada Nathaniel dan bergegas menarik tangan Azura masuk ke dalam mobil.


Mereka melambaikan tangannya pada Nathaniel sekilas.


...***...


Sementara itu digudang kosong.


" Mereka sudah keluar dari butik Jess" Ucap pria dengan tatto naga di lengan kanannya.


"............"


" Oke Jess kita ketemu di hotel Mahakam "


Pria yang sepertinya seorang pemimpin itu mengumpulkan anak buahnya dan memberikan briefing sejenak.


Mereka yang terlihat seperti preman itu, nampak sedang berdiskusi untuk merencanakan sesuatu yang serius.


...***...


Pukul 19.00 WIB


Ara dan Azura beserta Bianca kini sudah cantik dan bersiap menuju mobil Ardiansyah.

__ADS_1


" Sayang..." Panggil mama Neela.


Ara menghentikan langkahnya dan menoleh pada mama tercintanya yang terlihat berat melepaskannya dari tadi.


" Kamu sudah pamit Rangga kan?" Tanya mama.


Pertanyaan yang sama, bahkan pertanyaan ini sudah yang ke delapan kali.


" Sudah mah..., kak Rangga juga mengijinkan.." Ucap Ara.


Mama melepaskan mereka dengan perasaan berat yang luar biasa.


" Momo Bian cudah cantik tan?" Bianca menggoyangkan lengan mama Neela yang melamun.


" Ahh, iya sayang.., Bian cantik banget. Paling cantik pokoknya...Nggak punya saingan..." Ucap mama dengan tanpa sadar menitikkan air matanya.


Tes...


Mama mengusap setetes air mata yang jatuh tanpa sebab itu.


" Kami berangkat mah.., Assalamualaikum..." Pamit Ardi yang kini juga telah terlihat tampan dengan setelan jasnya.


Mereka berempat bergantian mencium tangan mama dan satu persatu memasuki mobil.


" Bye momo...." Seru Bianca sambil melambai-lambai kan tanganya saat mobil bergerak pelan meninggalkan pekarangan rumah Al Ghifari.


...**...


Ballroom hotel Mahakam malam ini di sulap menjadi ruangan pesta yang gemerlap.


Undangan di dominasi para pria-pria kekar berotot. Mereka rata-rata adalah para petinju dari berbagai klub yang memang berkumpul menjadi satu.


Ara dan Azura terus melangkah disamping Ardi yang nampak menjadi pusat perhatian malam ini. Sementara Ardi berjalan dengan santai sambil menggendong Bianca.


Boleh jadi umur Ardi baru masuk 17tahun beberapa hari lagi, tapi tinggi badan dan otot-otot nya sungguh sangat mengkhinati umurnya.


" Hai Ardiansyah..." Panggil beberapa gadis yang ada di sekitar Ardi.


Sementara Ardi hanya tersenyum dan mengangguk.


Ardi meraih jemari Ara dan di genggaman nya erat. Azura yang takut terlepas dari rombongan pun menarik sedikit ujung jas Ardi sebagai pemandunya.


Ardi meliriknya dengan senyum misterius mengembang tipis.


Ardi menyodorkan lengan atas nya yang terdapat Bianca ke depan Azura.


" Gandeng disini boleh kok..." Bisiknya.


Azura tersenyum dan menunduk malu. Kepalanya menggeleng imut. Membuat Ardi menggigit bibir bawahnya gemas.


Ara melirik mereka sembari menggosok hidungnya yang gatal karena ingin tertawa.


" Ardi, Ara... Disana kursi kalian.." Leon datang mendekati sahabatnya dan menunjuk kursi yang belum ada pemiliknya.


" Wah...terimakasih Yon..." Balas Ardi.


Mereka berempatpun menuju tempat yang ditunjuk oleh Leon.


Sepasang mata menatap tajam mereka dengan tangan mengepal.


Seorang pria bertatto dengan pakaian pelayan sedang mengamati Ara dari tempat persembunyiannya.


" Jess, gadis itu sudah ada disini. Tapi ada seorang lelaki yang terus bersamanya.." Bisik pria itu di ponselnya.


"..........................."


" Baik Jess, akan kakak lakukan.."


Acara berlangsung dengan meriah. Ara tidak bisa menahan rasa ingin nya untuk mencicipi kue-kue yang terlihat sangat lezat di meja.


Dengan tanpa malu-malu dan jaim, Ara segera mengeksekusi kue di depanya dengan santai.


Azura tertawa kecil melihat pipi Ara yang mengembung saat mengunyah kue-kue tersebut.


Suara tawa renyah itu membuat Ardi terdiam dan terus menatapnya.


Dan tanpa disadari oleh Ardi, bibirnya ikut tersungging, diapun ikut tertawa karena terbawa suasana.


" Om napa tawa-tawa liat mmy..." Pertanyaan Bianca membuat Ardi melebarkan matanya. Ardi bagai maling yang tertangkap basah. Dia tertangkap sedang memandangi mata Azura yang sanggat cantik saat tertawa.


Reflek Ardi meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.

__ADS_1


" Sssttt...., ini rahasia kita oke..."


" Oke ini rahasia " Balas Bianca dengan ikut meletakkan jari telunjuk ke bibir mungilnya.


__ADS_2