
Lenox dan Ardi membawa keranjang bayi jinjing ditangan masing-masing. Jika Ardi hanya membawa keranjang jinjing berisikan Almaeera. Lenox lain lagi, tangan kanannya menjijing Almeer sedang tangan kirinya mendekap Shadow si kucing.
" Kami duluan Ga, semua udah kumpul soalnya..." Pamit Ardi pada Rangga, kepalanya mengangguk ramah pada Syeila dan menuju keluar.
Lenox yang masih didalam menatap Ara yang sedang mempersiapkan tas untuk kebutuhan putra-putrinya.
Tapi tingkahnya membuat Lenox terkikik sendiri.
Ara memasukkan beberapa diapers twin dengan kesal, bahkan dijejalkanya begitu saja tanpa di disusun rapi seperti biasanya.
Botol susu juga dilemparkan begitu saja. Hatinya panas saat ini, apalagi si tamu tak kunjung pamit pulang. Padahal harusnya dia tahu bahwa tuan rumah sedang bersiap pergi.
" Betah banget laki lo ngobrol sama janda bolong itu Ra..., teman kerja atau teman mana sih?" Tanya Lenox, jelas tujuan Lenox adalah manasin Ara.
" Nggak tahu!!" Sahut Ara jutek, jika dilihat dari samping, bibirnya mirip mulut bebek, karena menyebik kesal.
Lenox benar-benar tertawa dalam hati saat ini. Puassss....bisa menjahilin Ara.
" Gila loh ya cewek itu!!, seksi banget! Dih, lo liat nggak dadanya yang nimbul keatas, apa ngga takut tumpah itu susunya ..." Setan Lenox mulai beraksi, mengipas bara agar menjadi api.
" Lo lihat juga nggak rok span pendeknya, kalau dipakai duduk bisa-bisa seluruh pahanya terbuka tuh, dihhhh putih dan mulus lagi..."
" Gue juga putih mulus!!!" Sahut Ara kesal bukan main.
Kesal andaikan suaminya menikmati paha orang lain.
" Tapi dada lo kecil Ra, dia aja dua kali lip---"
" Siapa bilang!!!, sejak menyusui twin jadi besar kok!!" Teriak Ara tak mau kalah..., matanya mulai mengkilap.
" Tapi dia fresh Ra!!, bibirnya glossy, alisnya keren, matanya Hauuummmm, macan cuy...lo apa?. B' ajah...."
" Hissshhh...diem lo!! Berisik!! Ayok ahh, gue ikut kalian aja!!" Ara menyambar tas twin dengan kesal.
Tubuh Lenox bergetar menahan tawanya.
" Mampus lo Rangga..." Gumam Lenox pada dirinya sendiri.
Lenox lebih dulu keluar dari dalam, disusul Ara dibelakangnya.
" Kami duluan deh 'kakak'....bye Sheyla. Senang bertemu denganmu hari ini cantik..." Lenox melambaikan tangan Shadow pada Sheyla. Kedipan genitnya tak ketinggalan.
Sheyla tersenyum dan ikut melambai ramah.
Ara nyelonong begitu saja dengan rantang dan tas bayi ditangan, Rangga melotot melihatnya.
" Sayang.., kamu nggak nungguin kakak?" Rangga bergegas berdiri dan menghampiri istrinya.
"Nggak, kakak kan ada yang nungguin tuhh.." Jawab Ara ketus.
" Loh yang...., masa kakak berangkat sendiri sih..." Rangga meraih tangan Ara.
" Kan nggak sendiri, tuh ada temannya..." Ara menujuk Sheyla dengan dagunya. Matanya menyiratkan kemarahan yang besar.
" Ehhh, kok...." Rangga kebingungan melihat reaksi Ara yang seperti ini.
" Tunggu bentar yang...please...." Rangga menggenggam tangan Ara dengan kedua tanganya.
" Wah kalian akrab banget ya, ya ampun lo benar-benar kakak yang sweet.." Ucap Sheyla yang berdiri di depan mereka.
" Sama siapa saja kamu ngaku-ngaku kalau Lili adek kamu Bi?" Bisik Ara dengan suara tertahan.
" Nggak pernah!!!, nggak ada...apa sih?" Rangga menggaruk rambutnya.
" Ayokk sayang cepetan!!, kakakmu masih ada tamu. Kita duluan aja..." Suara Lenox dari depan semakin membuat Rangga kesal.
Baru selangkah Ara berjalan, Sheyla menggenggam lengan Rangga dengan kedua tanganya.
" Jadi kapan kita makan malam?" Ucap Sheyla.
Ara langsung menoleh dan menatap tangan Sheyla yang menempel pada lengan suaminya dengan tatapan tajam.
" Lepas!! lepas nggak!!" Bentak Ara dengan menunjuk jarinya pada wajah Sheyla.
Sheyla langsung mengangkat kedua tanganya.
" Ahh..ha..ha.., terkejut gue. Gila adik lo posesif banget..." Ucap Sheyla lagi.
" Mbak, anu...aduh siapa ya tadi, Stella atau siapalah. Maaf sepertinya anda datang diwaktu yang tidak tepat..." Rangga mengatupkan tanganya pada tamunya.
__ADS_1
" Nggak papa, adikmu lucu banget..."
" Maaf mbak dia bukan----"
" Baiklah, kalau udah sempat kabari aja bisanya kapan. Biar mama gue siapin makan malamnya.." Sheyla meraih tasnya lalu menyandangnya
" Kalian mau piknik?" Tanya Sheyla lagi saat melihat rantangan ditangan Ara.
" Nggak sih, cuma acara keluarga..." Sahut Rangga dengan sebelah tanganya masih menggenggam erat tangan Ara.
Tin...tin...tin.
Bunyi klakson Lenox memperkeruh suasana.
" Dih duluan sana, Ara sama gue!!" Teriak Rangga kencang.
" Boleh gue ikut nggak Rangga?" Ucap Sheyla disamping telinga Rangga.
Jujur, Rangga terjingkat saking kagetnya.
Belum juga sadar dengan apa yang terjadi, Ara menghempaskan tangan Rangga dan melesat melambai pada mobil Lenox agar berhenti.
" Sayang..., loh!!! Lili sama kakak aja sayang....." Rangga berusaha mengejar Ara.
" Sama gue aja nggak papa, gue bawa mobil kok..." Sahut Sheyla dengan menarik kembali pergelangan tangan Rangga.
Ara mendadak berhenti, dan menoleh kearah Sheyla.
" Mbak tolong lepasin tanganya!!, jangan sentuh milik saya!!" Ucap Ara kesal.
" Ya ampunn adek lo imut banget-----"
" Bukan adik!!!, dia istri saya!!" Kali ini Rangga mulai jengah.
" Hahh....apa?" Sheyla melepaskan pegangannya dan terpaku di tempat. Matanya menatap Ara dari atas sampai bawah.
" Hahh..ha..ha..., jangan bercanda deh. Kalian ini adik kakak lucu banget!. Nggak mungkinlah selera lo kaya dia..... Ya ampun...lucu!. Joke kalian sungguh lucu..." Sheyla mengusap perutnya karena tertawa.
" Maksud mba?, aku kayak apa memangnya?" Tantang Ara.
" Mau jawaban jujur?" Tantang Sheyla balik.
...****...
" Ra lihat!!, Almeer mulai tengkurap..." Seru Hana.
Mereka saat ini berkumpul di ruang keluarga rumah Rayya dan Hanum.
Lengkap semua ada, kecuali Denis dan Natasya.
" Nah..., Meera juga nih mommy..... Meera juga ikut tengkurap, wiihhh imutnya..." Saga terus-terusan duduk disamping Almaeera.
Ara tidak bergeming, ibu dua anak itu terus saja diam.
Hana dan Hanum yang menyadari keanehan sikap sahabatnya itupun saling pandang.
" Dia kenapa?" Tanya Hanum
" Entahlah, dari datang tadi udah kaya gitu..." Sambar Vera yang juga penasaran dengan Ara.
" Kurang puas kali malam tadi?" Dian tiba-tiba merangkul mereka dari belakang.
" Kak Dian!!, hobi banget nyamber kalo udah yang begituan.." Hana bergidik
" Wajar lah!!, istri brothy Marvel pasti terjangkit virus vulgarnya brothy..." Sahut Vera.
" Gaya lo!!!, sok polos!! nggak taunya lo lebih parah Han..." Olok Dian dengan bertos ria dengan Vera.
" Ihhh, nggak ya... Gue mah kalem..." Sahut Hana.
" Kalem apaan!!, tuh dileher bang Adnan gue lihat ada tanda merah bekas gigitan lo!!!. Duh-duh Hana...., badas juga lo...." Dian mengacak-acak jilbab Hana yang tersipu malu.
Sementara Hanum dan Azura hanya tersenyum mendengarkan keributan mereka.
" Sayang..., ponsel kakak tadi dibawa nggak?" Rangga mendekati Ara dan duduk bersila disampingnya.
Ara merogoh tasnya dan menyodorkan ponsel itu begitu saja tanpa melihat Rangga.
__ADS_1
" Kenapa?" Tanya Rangga masih menatap wajah manyun itu.
" Nggak papa.." Jawab Ara ketus dan langsung berdiri menuju ke arah dapur, berniat membuat susu untuk twin.
Rangga yang bingung tiba-tiba diketusin, menatap punggung istrinya.
" Kenapa ya?"
Lalu diapun segera berdiri dan menyusul Ara.
" Sayang...." Rangga melingkarkan tanganya diperut Ara yang sedang berdiri didepan dispenser.
" Kamu marah?" Tanya Rangga, dagunya menumpu pada bahu Ara.
Tak ada jawaban dari bibir Ara, dia tetap saja bergerak menyelesaikan kegiatannya.
" Sayang, kenapa sih?, ini di rumah orang loh.... Malu kalau dilihat yang lain kita begini..." Rangga mengeratkan pelukanya.
" Kenapa malu!!, kakak dan adik marahan itu biasa!!"
Rangga syok mendengar jawaban ketus Ara.
Oh....rupanya masih nyambung yang tadi toh?
Eh...ngomong-ngomong apa yang dibisikin cewek tadi sama Lili ya...
" Kamu cemburu?, nggak mau disebut adiknya Rangga, maunya disebut istrinya gitu?" Rangga membalik tubuh istrinya agar menghadap padanya.
" Kamu cemburu?" Tanyanya lagi, bibirnya begitu manis saat terseyum. Matanya menatap penuh cinta pada wanita didepannya itu.
" Nggak" Jawab Ara kesal.
" Nggak?, nggak cemburu?" Tanya Rangga lagi.
" Wah...sayang sekali, padahal kakak berharapnya kamu cemburu, biar kakak yakin kamu masih cinta sama kakak..."
" Yah..., nggak masalah lah. Masih ganteng ini. Masih banyak lah yang mengantre..." Ucap Rangga sambil mengamati wajahnya pada tampilan kaca lemari piring di dapur Hanum.
Ara melotot mendengarnya, dengan kesal dia menghentakkan kakinya geram.
" Kamu mau cari pacar lain Bi!!" Gumamnya pelan.
" Terpaksa, istriku udah nggak cinta lagi...mau gimana lagi. Nggak bisa juga dipaksa kan?" Sahut Rangga.
" Siapa bilang begitu!! Masih kok!!" Ucap Ara lirih.
" Masih apa?" Tanya Rangga, pria muda beranak dua itu melangkah lebih dekat pada istrinya.
" Masih apa sayang?" Bisiknya didepan wajah Ara.
Cup..
Rangga menyambar bibir pink alami Ara dengan rasa yang membuncah. Hatinya begitu berbunga-bunga mendapati istrinya begitu cemburu padanya.
" Masih apa?, ayo jawab..." Desak Rangga di sela-sela ciumnya. Tanganya mulai bergerak nakal.
" Ma...sih.....ahhh, cintaaa...emmmppp" Bisik Ara.
Rangga begitu bahagia mendengarnya.
Arapun semakin menggila, tanganya juga sudah mulai meremas kepala Rangga, memperdalam ciuman mereka.
" Haiss..!, kalian ini nggak tau tempat!" Suara Vino mengagetkan keduanya, Ara langsung bersembunyi dibalik punggung Rangga, merapikan jilbabnya yang berantakan.
Sementara Rangga tersenyum malu-malu seperti maling ketangkap basah.
" Kamar dirumah ini banyak, pakai aja salah satunya, biar twin kami yang pegang ha...ha..ha..." Sambar Rayya di belakang Vino.
" Iya nih, siapa yang pengantin baru dan siapa yang justru malah kepanasan. Asyik-asyikan di dapur pula..." Lanjut Vino lagi.
" Diihhh...berisik. Yok yang...kita pulang aja duluan..." Rangga menggeret tangan Ara.
" Loh kok kalian pulang, emang mau ngapai Ga?" Tanya Vino.
" Mau nidurin yang bawah Vin, terlanjur tegak ini.." Bisik Rangga ditelinga Vino
" Dasar!! Bocah sialan!!" Umpat Vino.
__ADS_1