
Bibi mondar-mandir di ruang bawah, matanya terus-terusan menatap lantai dua rumah keluarga Hendrawan Wijaya.
" Kok den Rangga dan non Lili belum turun juga udah jam sepuluh, apa nggak sekolah ya?" Gumamnya.
" Katanya sih mau ke Bandara jam dua belas, apa masih siap-siap ?, masak nggak sarapan juga?" Bibi terlihat bingung dengan pemikirannya sendiri.
Saat akan beranjak kembali ke dapur, Rangga terlihat menuruni tangga.
Anak majikanya itu terlihat berseri-seri dan semakin terlihat ganteng luar biasa.
Rambut basahnya membuat bibi langsung paham apa yang terjadi. Senyum simpul terbit dari bibirnya.
" Wah bentar lagi sepertinya saya bakalan momongan anak den Rangga..." Gumamnya untuk dirinya sendiri.
" Bi masak apa?" Tanyanya Rangga dengan buru-buru mengambil dua piring nasi.
" Telor puyuh seperti pesannya nyonya den, non Lili masih belum selesai beberes ya den?, apa perlu bibi bantu?"
" Tidak usah bi, udah selesai, tinggal berangkat..." Rangga membawa dua piring nasi yang telah lengkap dengan lauk pauk itu kembali ke atas.
Ceklek...
Pintu terbuka, nampak Ara sedang berganti baju. Punggungnya terbuka sempurnakan, membuat Rangga susah menelan salivanya.
" Masih sakit ya...?" Rangga meletakkan dua piring nasi di atas meja sofa.
Ara hanya mengangguk, sakit dan perih, seperti ada yang mengganjal dibawah sana. Bahkan Ara yakin pasti 'her something' saat ini sedang terluka parah.
Rangga benar-benar menggila beberapa saat lalu, bahkan Ara sampai bergidik mengingatnya, Ara sangat ngeri dibuatnya.
Ara baru tahu sisi lain seorang Rangga. Penampilannya saja diluaran terlihat cool dan cuek. Ternyata bucin akut dan mesum tingkat dewa.
Yang membuat Ara syok adalah keahlian Rangga di saat mereka making love tadi. Rangga seperti seorang yang ahli.
" Kenapa melamun hemmmm??" Tanya Rangga saat melihat Ara terus saja menatap nya.
" Kamu belajar begituan dari mana kak?" Tanya Ara tiba-tiba.
" Begituan apa?" Rangga tersenyum manis dan balik bertanya.
" Yang itu tadi?" Ucap Ara lagi.
" Itu tadi yang mana?" Rangga pura-pura bodoh sengaja mengerjai Ara.
" Ahhh..sudahlah..."
Rangga tersenyum tipis dan melangkah mendekati Ara dan membantunya menutup resleting gaun nya. Di peluknya Ara dari belakang, dan mendusel dusel dibawah tengkuknya.
" Yang seperti itu nggak perlu dipelajari sayang, biarkan saja insting kita yang jalan yang penting Asssyuuur...." Jawab Rangga.
"Apa tuh Asyyurr?"
" Assyikk...dan syyuuuurrr..." Rangga menyambar bibir Ara dengan cepat.
Cup.
Cukup satu kecupan saja.
" Sejak kapan kakak mesum gini?" Ara menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kemesuman Rangga.
" Sejak kelas 4 SD, sejak kenal cewek cantik yang namanya Lili, bahkan ada satu rahasia lagi mau tau??" Rangga menaik turunkan alisnya.
"Apa?"
" Mimpi basahku yang pertama kali aja sama kamu...." Bisiknya pada telinga Ara.
"Ihhh kakak jorok amat sih!!" Ara menabok lengan Rangga.
" Loh benar kok!!!, nggak bohong sumpah!!" Bahkan Rangga sampai mengacungkan dua jarinya tanda swear.
Mereka kembali bercakap-cakap ringan dan memakan sarapan yang sangat sudah terlambat.
" Sudah pamit papa mama kan?"
" Sudah kak, mama masih di Singapore malah...." Ara terlihat mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya dan memakainya pada wajahnya.
__ADS_1
" Kenapa pakai masker, kamu pilek?" Tanya Rangga heran.
" Nggak kak, Lili ada niatan pakai cadar suatu saat, tapi mungkin nanti, saat ini pakai ini dulu sambil terus memantapkan hati..." Jawab Ara jujur.
"Apa kakak mengijinkan??" Lanjutnya.
" Apapun yang terbaik lakukanlah, aku selalu mendukung di belakangmu sayang..., Ayo udah siang..."
Sopir sudah menyiapkan mobil tepat didepan pintu rumah.
Rangga segera memasukkan koper ke bagasi belakang.
"Ayo sayang.." Rangga melihat Ara yang terlihat lambat berjalan menjadi sungguh kasihan.
" Aduh..., kepalaku..." Gumam Ara lirih sambil memijat-mijat pelipisnya.
" Sayang...,pusing??" Tanya Rangga penuh rasa khawatir.
" Iya dikit.."
" Ya udah tidur aja di mobil ya..." Rangga memapah Ara untuk masuk ke dalam mobil.
Ini pasti efek gue bantai dia tadi nih, ya ampun ganas juga gue...
Rangga membaringkan kepala Ara di pangkuannya.
"Tidur aja sayang..." Ucapnya sambil memijit pelan kepala Ara.
Hampir satu jam setengah mobil sampai juga di bandara.
Proses di bandara semua sangat cepat, karena Rangga telah mereservasi semua dengan teliti.
Dan saat mereka telah berada di dalam pesawat. Sejak tadi Ara hanya diam dan terus berpegangan tangan pada Rangga.
Kepalanya terus tersandar pada pundak Rangga. Fikiranya kacau saat ini, Ara baru menyadari sekarang, tadi pertempuran pertama nya dengan Rangga dia tau betul Rangga memakai pengaman, dan yang kedua pun.
Tapi saat yang dikamar mandi tadi Ara sangat ingat betul, Rangga tidak memakainya.
Rangga menggenggam jemari tangan Ara dan membawanya ke resepsionis.
" Good afternoon sir, welcome to the Grand Hotel, How may I help you?" Resepsionis.
" Sure, I have a reservation for today. It's under the name of Rangga" Ucapnya.
Tak berapa lamapun Rangga telah mendapatkan kunci kamarnya.
" Satu kamar kak?" Tanya Ara dengan wajah yang terkejut.
" Ya iyalah..." Jawab Rangga santai.
" Terus aku dimana?" Tanya Ara bingung.
" Loh kok!!, ya sama akulah sayang.., kamu ini kenapa sih?" Rangga jadi ikut bingung.
" Kak teman-temanya kakak nginep sini juga?"
" Iya..."
" Kakak nggak malu gitu masukin pacarnya ke kamar hotel?"
" Siapa yang bilang kamu pacarku, kamu kan istrinya aku sayang..." Jawab Rangga tegas.
" Tapi kan mereka nggak tau..." Ara hampir menangis saat ini.
" Mereka orang barat sayang, udah biasa itu..., sudah jangan berfikir yang aneh-aneh.." Rangga menarik Ara ke kamar yang telah di bukanya.
" Masuk sayang..." Rangga membuka pintu dan mendorong kopernya masuk.
Rangga kembali ke pintu saat tak di dapatinya Ara masuk ke dalam.
" Sayang ayo masuk..." Rangga menarik tangan Ara lagi.
__ADS_1
" Nggak mau..., Lili mau kamar lain.." Ara menghempaskan tangan Rangga.
" Sayang aduh...kok gitu sih kamu!!" Bentak Rangga yang dibuat stress dengan ulah Ara kali ini.
" Kak..., Lili menjaga nama baik kakak..., tidak ada yang tahu kita sudah menikah, Lili mohon kak, ini demi kebaikan kakak" Ara benar-benar menangis saat ini.
Rangga terlihat marah, wajahnya terlihat mengeras.
" Ya udah kamu masuk!!, kakak yang cari kamar lain!!" Ucapnya dengan nada yang sedikit keras, membuat Ara sedikit terlunjak kaget.
" Kakak marah..?"
" Iya!!!, udah tau nanya..." Sahut Rangga kesal.
" Tega ya marahin aku sampai kaya gitu, Lili pulang aja deh, nyesel aku tuh ikut gini..." Ara segera beranjak menuju pintu kamar hotel.
Rangga menarik nafas dan menghembuskan nya kasar.
" Duduk!!" Tarik Rangga pada lengan Ara dan mendudukanya ke sofa.
" Kita sudah menikah sayang..., kita ini suami istri..., apa yang kamu takutkan?" Ucap Rangga pelan, pemuda ini berusaha menurunkan egonya, dia sangat menyesal telah membentak Ara.
" Lili tidak takut apa-apa, tapi kakak lihat ini" Tunjuknya pada jilbabnya.
" Ini identitasnya Lili, dimana tanggungjawab Lili untuk menghormatinya, KTP kakak memang sudah berstatus menikah, tapi Lili belum..." Butiran air mata telah luruh di pipi nya tanpa dikomando.
" Kalo kakak bilang teman-temanya kakak masukin cewek ke kamarnya biasa aja, apa kakak terus ikut-ikutan begitu?, lalu dimana bedanya barat dan timur?" Lanjut Lili dengan mengusap air matanya.
" Dan ini" Tunjuk nya lagi pada jilbab nya.
"Apakah kakak fikir ini hanya hiasan saja?, tidak kah kakak berfikir Lili punya tanggungjawab besar untuk menjaganya?" Kali ini ucapanya bergetar luar biasa.
" Disini ada identitas agama kita, disini ada maruwah kita, disini ada harga diri kita, disini ada nama baik kita, apa kakak paham?" Isak Ara.
"Dan ingat aku istrimu, tanggungjawab dunia akhirat ku ada dipundakmu..." Lanjutnya.
" Jika yang memakai ini, keluar masuk kamar hotel bersama lelaki dengan KTP pelajar apa pendapat orang??, apa kakak berfikir sampai kesana??"
Rangga terdiam, tak dapat berkata-kata lagi. Semua ucapan Ara benar.
Ya, Rangga akui Rangga kurang tentang pemahaman agama.
Yang Rangga ia tahu hanya sholat, puasa, dan rukun islam lainya.
Saat ini Rangga benar-benar merasa kecil, takut....takut akan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu mungkin.
Tiba-tiba terlintas wajah Hanan di fikiranya.
Kak Hanan sama Ara kalau dipasangkan cocok banget tuh, satu ganteng sholeh dan satunya cantik dan sholehah, perpaduan luar biasa yang tak ada tandinganya....
Ingatanya pada ucapan murid satu sekolahnya membuatnya merinding.
Ranggapun mengakui Hanan itu pemuda sholeh dan alim, wajahnya lembut dan meneduhkan...
Seperti wajah istrinya..lembut dan meneduhkan..
Tidak!!!
Aku harus banyak belajar lagi, aku tidak boleh bodoh dan kalah dari Hanan..
Aku harus berusaha menjadi Rangga yang baik dan tak akan membuat Lili kecewa karena telah memilih ku...
" Sayang...maafkan kakak..." Rangga menjatuhkan tubuhnya di depan Ara, kepalanya diletakkan di pangkuan gadisnya, oh salah sejak tadi pagi gadis ini sudah tidak gadis lagi.
Ara *******-***** rambut Rangga, diapun paham Rangga terlalu posesif padanya. Dia paham Rangga terlalu mencintainya.
Tapi justru ini yang membuatnya takut...
Bersambung....
...*****...
Like, komen dan voteππππ
Thanksπππ
__ADS_1