
Ara tengkurap di kasur Rangga sambil membaca bukunya, sedangkan Rangga terlihat duduk di meja belajarnya.
Setelah kejadian baju haram itu kini mereka menjadi canggung. Bahkan saat ini Ara mengenakan baju training Rangga yang sangat kebesaran.
Bahkan tadi saat makan malampun suasana sangat dingin, daddy Hen memarahi mommy Tara atas sikapnya yang kekanakan hingga menantunya bahkan tak mau keluar kamar.
Rangga juga mendiamkan mommynya karena ulahnya membuat pikiran kotor Rangga naik kepermukaan, mendominasi hampir tiga perempat otaknya, membuatnya blank tak dapat berfikir jernih. Apalagi besok ujian fisika dan kimia.
Walaupun duduk dimeja belajar semenjak dari satu jam yang lalu, tapi tak sebaris tulisan pun yang nyantol ke otaknya.
Fikiran Rangga masih belum move on dari yang dilihatnya tadi.
Walaupun dia pernah melihat tubuh Ara secara utuh tapi saat itu dia tengah di kuasai nafsu sehingga tak begitu menikmati wujudnya, dan hanya menikmati rasanya.
Tapi yang dilihatnya tadi sungguh luar biasa pahatan sempurna Tuhan dalam menciptakan seorang Lailia Nafeesa Anara.
Dengan sadar dan kewarasanya yang hakiki Rangga melihat body shining shimmering splendid, dan glowing dari tubuh istrinya sendiri.
Siapa coba yang tidak gila memikirkan ini semua, disaat keindahan tersaji di depan matanya, namun dia tak dapat berbuat apa-apa.
Di saat sangat merasa ingin pada istrinya dengan rasa yang pada puncaknya tapi tidak bisa menyalurkan nya.
Rangga sadar dia harus menahan diri setidaknya sampai Ara berumur 17tahun dan itu beberapa bulan lagi, tepatnya bulan Oktober.
" Kak kalau soal yg begini bagaimana cara pemecahannya?" Ara tiba-tiba berdiri disampingnya, menyodorkan bukunya.
Rangga menolehkan kepalanya dan menatap wajah cantik Ara dengan rambut yg terlihat imut dengan dicepol dua kiri dan kanan.
" Duduk sini sayang, kakak jelasin.."
Rangga mendudukan Ara dalam pangkuannya, menjelelaskan dengan gamblang tentang cara pemecahan rumus kimia untuk soal yg ditanyakan oleh Ara.
" Wangi sekali sayang, padahal pakai sabun kakak kan?" Ucap Rangga dengan hidung yang terus menempel pada ceruk leher Ara. Matanya terpejam menghirup aroma wangi yg menguar dari tubuh Ara.
" Geli kak..., akhhh.."Ara menggerakkan badanya mencoba menghindari kecupan Rangga yang semakin brutal.
Tak tahukah Ara dengan semakin dia bergerak-gerak diatas pangkuan Rangga membuat sesuatu yang dibawah menjadi bangkit.
" Udah..udah kak, Ara belum selesaiin tugas ini.." Ara terus-terusan memblokade kecupan Rangga yg telah mulai menuju dadanya.
" Baiklah...baiklah.., sana belajarlah..." Ucap Rangga dengan melepaskan tangannya pada perut Ara, nafasnya memburu, dadanya naik turun tak karuan.
Ara segera bangkit berdiri, sebelum beranjak dia menatap pada wajah Rangga yang terpejam.
" Kakak marah??"
" Enggak sayang...." ucap Rangga, tanpa membuka matanya.
" Kalo mau diterusin ayo..., tugasnya Lili kerjain besok pagi aja nggak papa, asal kakak nggak marah ...."Ara mengambil kedua tangan Rangga dan diletakan pada kedua sisi pipinya.
Rangga membuka matanya dan tersenyum.
" Enggak sayang..., kakak nggak papa..
tapi kakak akan minta bonus di hari terakhir kakak ujian gimana?, setuju?" Bisik Rangga dengan mengecup singkat bibir Ara.
" Ya deh iya..." Jawab Ara ragu-ragu.
" Janji lho...." Rangga menyodorkan jari kelingkingnya pada Ara dan gadis itupun menyambutnya.
__ADS_1
" InshaAllah...." Jawab Ara dengan mengulum senyuman nya.
Pagi dirumah mommy Tara tak sama seperti dirumah Syakieb.
Mommy Tara tak mempersiapkan sarapan pagi tapi bibi, dan saat ini Ara telah ada di dapur untuk membuatkan sarapan.
" Non, nggak usah repot-repot biar bibi aja..." Bibi merasa nggak enak karena Ara sudah menyelesaikan tiga menu masakan sepagi ini.
" Nggak papa bi.., ini tinggal goreng tempuranya, oh ya..bi apa sudah ada yang ngantar baju seragam saya kesini.." ucap Ara dengan tangan sibuk membalur udang dengan tepung.
" Oh...coba bibi cek dulu disatpam ya Non..." Bibi segera berlalu untuk ke satpam depan.
" Wah wangi banget masak apa bi..?" Tanya daddy Hen, saat masuk ke dapur.
Sejak pulang dari masjid subuh tadi, daddy belum kembali ke kamarnya, tapi masuk ke ruang kerjanya untuk mengecek email yang masuk.
" Loh...kamu sayang yang masak, bibi kemana emang" Tanya daddy Hen terkejut karena mendapati Ara yang sedang memasak di dapur.
"Bibi sedang ambil baju Lili disatpam dad, tadi sopir di rumah yang antar"
Jawab Ara dengan tanganya menyodorkan secangkir teh untuk daddy Hen.
" Ini tehnya dad, Lili campur madu dan lemon tadi, berangkali daddy suka.."
Daddy Hen terkesiap sesaat, sudah bertahun-tahun tak ada yang membuatkanya teh lemon dengan madu.
Dulu sekali..ada yang selalu membuatkanya dan itu adalah cinta pertamanya, dialah seorang Neela Artafania.
Cinta pertama?? ataukah masih cintanya sampai saat ini??, hanya daddy Hen yang tau.
Daddy Hen menyeruput teh dengan mata terpejam.
" Apanya yang sama dad?" Tanya Ara saat lamat-lamat mendengar gumamam mertuanya.
" Ahh...enggak sayang, ini ueenak tenan!! Top markotop rasanya.."
Rangga turun dari tangga dengan telah menggunakan seragam.
"Sayang, kok belum ganti seragam sih..." Ucap Rangga menghampiri Ara yg sudah menyelesaikan masakannya.
Dan dibantu bibi dan daddy untuk membawa ke meja makan.
" Iya kak..ini juga udah selesai, kakak mau sarapan apa?"
Ara mengambil piring dan menyendokkan makanan yang dikehendaki Rangga.
Daddy Hen hanya menatap Ara dengan takjub.
Gadis ini benar-benar duplikatmu Neelaku...
" Dad, mommy mana?, daddy mau makan apa nih?" Daddy terkejut mendapati Ara ada disampingnya dan meraih piringnya.
" Mommy masih tidur, biasalah bulanan, jadi malas bangun cepat. Ahh.. daddy mau mie goreng jamur kuping itu, sama tempura udang itu sayang.." Dengan telaten Ara meledeni kedua pria itu.
" Mom..mari sini.., mommy mau sarapan apa? biar Lili yang siapin.." Ucapnya saat matanya melihat mertuanya turun dari tangga.
Mommy Tara mendekati Ara dan segera menciumnya.
" Maafin kelakuan mommy kemarin ya sayang..." ucap mommy Tara sangat menyesal. Semalam habis-habisan beliau dimarahin oleh daddy Hen.
__ADS_1
" Rangga sayang.., maafin mommy ya..." Rangga mengangguk tanpa suara.
"Duduk sini mom..." Ara menarik mommy ke samping daddy yang sejak tadi tak mengindahkan kehadiran mommy.
" Wah...tumben bibi sudah masak segini banyak bi..." Ucap mommy dengan menelan air liurnya karena sungguh berselera.
" Bukan bibi.., tapi menantu mommy yang udah masak ini semua.." Sahut Rangga.
" Benarkah??, wah hebat kamu sayang, mommy paling nggak bisa siapin sarapan, bawaanya buru-buru jadi hasilnya nggak maksimal..he..he.." Kata mommy Tara dengan cengiran khasnya.
***
Hari sekolah berjalan seperti biasa, setelah pulang sekolah mereka berdua meluncur ke rumah Syakieb karena bi Marni sudah mengabari bahwa Ardi berulang kali telpon kerumah mencari Ara.
Kring...kring..
Ara berlarian menuju telpon rumah yang berada di ruang TV.
Gadis itu sudah berganti baju beberapa saat lalu.
Ara segera memposisikan dirinya agar nyaman karena Ardi akan selalu lama kalau telponan.
" Assalamualaikum babangku sayang...." Sapa Ara genit.
" Hoek..hoek..mau muntah gue!!!, Waalaikumsalam..." Jawab Ardi dari seberang.
" Apa kabar bang...?, kapan pulang, Ara kangen deh..."
" Ishh, lebay!!!, lo kan udah ada suami ngapain kangenin gue..." Ardiansyah hanya pura-pura sih, gengsi dong dia bilang kangen duluan.
" Hahh!!, jadi lo gak kangen gue bang??, ishhh, pecat aja deh jadi sodara!!" Ara menutup mulutnya saat tawanya akan pecah.
Gadis itu sangat tau bagaimana kakunya Ardi dalam menyampaikan perasaannya.
" Lagian ngapain lo nelpon kalo gak kangen" Lanjut Ara.
" Bianca mana?, gue kangen sama dia beb, sama kayak kangen gue sama lo..." Ucap Ardi jujur.
" Bianca, Azura dan brothy ke Jogja bang..., kakek kange---- Akhhh!!!" Ara terkejut saat tiba-tiba Rangga mengecupi lehernya.
" Kenapa!!!, ada apa beb..!!" Suara Ardi terdengar sangat cemas.
" Ah..i..ini hanya digigit serangga?" Ucap Ara dengan mata melotot pada Rangga dan telunjuk di bibirnya.
" Bukan serangga sayang..., tapi Rangga..." Bisik Rangga dan malah menggigit kecil telinga Ara.
" Akkhhh!!!" Teriak Ara lagi
" Kamu kenapa sih beb!!!" Teriak Ardi geram.
" Ini.. Rangga kurang ajar! Eh mak.. mak.. maksud, maksud Lili serangga bang..." Ara geram bukan main dengan Rangga yg malah terkikik mentertawakan dirinya.
" Jadi sudah berapa hari mereka ke Jogja?, lalu kenapa Azura tidak minta ijin padaku!!, bukankah yang dibawa itu putriku?" Kata-kata Ardi terdengar tajam dan penuh kemarahan.
" Loh..loh..bang, ada apa ini?, memang sertifikat adopsi Bianca sudah ditangan abang, tapi jangan lupa yg membesarkan Bian itu Azura!!!, kau itu kenapa sih bang??!!!" Bentak Ara yang tidak suka nada bicara Ardi.
Bersambung...
...****...
__ADS_1
Hayooo...kenapa Ardiansyah tiba-tiba marah???