
Ara duduk disamping Hana dengan cemberut. Tanganya bersedekap di dada.
Rangga melihat itu, hatinya bertanya-tanya. Apakah Ara benar-benar telah bersama Lenox.
" Kenapa sih?, biar ajalah Lenox pulang. Bareng gue kan bisa.." Ucap Natasya.
" Iya Ra, kamu terlalu bergantung padanya, Lenox akan semakin tidak bisa lepas..." Bisik Vera, Vera paham bahwa sejak tadi Ara hanya ingin memanasi Rangga.
Ara memang dekat dengan Lenox ditahun-tahun belakangan ini. Tapi Ara dan Lenox tidak pernah berbicara tentang cinta.
Semenjak penolakan Ara, saat kepulangan nya dari Bandung 5 tahun lalu.
" Gue masih nggak percaya Ra, Lenox bertahan mengejarmu selama ini, dia benar-benar lintah yang susah lepas" Ucap Natasya lagi.
Rangga mengatupkan gerahamnya. Rasa emosinya sudah ditahap mengepulkan asap, tinggal meletus saja.
" Lenox nggak mungkin bisa lepas dari akulah, apalagi meninggalkan aku Nath, nggak akan mampu dia...dia cinta mati sama aku..." Ara sengaja mengeraskan suaranya agar Rangga mendengar.
Dan Ara benar-benar berhasil. Wajah Rangga, memerah menahan marah.
" Bang, Lili bareng abang aja ya ?" Ara menoleh ke arah Adnan.
Tapi ternyata Hana mencubit kecil lenganya dan dagunya menunjuk pada Rangga yang nenunduk sendu.
" Duh..gimana ya..." Ucap Hana lirih.
" Gimana apanya?" Sahut Ara saat melihat Hana yang terlihat bingung, padahal mah Hana akting.
" Bunda meminta kami sebelum pulang mampir ke rumah tante Sara, terus ambil kue di Swan Bakery, yakin kamu mau ikut?"
Ara menepuk keningnya. Dia jelas nggak mau, tante Sara itu doyan ngomong dan Ara nggak sanggup dengernya.
" Ya udah deh..." Ara menunduk meraih ponselnya, membuka aplikasi pemesanan taxi online.
Sebenarnya Adnan tidak tega melihat adeknya dibohongi seperti ini. Tetapi ini adalah salah satu cara mendekatkan Ara dan Rangga kembali.
Apalagi Vino dan Vera telah pamit karena kedua anak mereka sudah rewel karena mengantuk.
Ikut Natasya nggak mungkin, pasti Ara akan jadi obat nyamuk.
Rayya?
Rayya jelas nggak bawa mobil orang rumahnya saja lima langkah dari cafe ini.
Trus Denis???, Denis itu bussiness man tersibuk. Kesini tadi saja dia harus lari-lari dari Gama Bagaskara. Untuk mengantar Ara?, jelas dia nggak bisa.
" Jadi gimana Ra? Kerumah gue dulu gimana?..." Basa-basi Rayya.
" Nggak usah kak Rayyan, terimakasih. Ini usah pesan taxsi kok.." Ara mengacungkan ponselnya.
" Sama kak Rangga aja lah Ra.." sahut Natasya, sontak membuat semuanya melotot. Gadis cabe satu ini memang luar biasa.
Ara menatap Rangga yang juga tengah menatap nya sendu.
" OGAH!!" ketusnya.
Rangga hanya diam, diamnya sebenarnya untuk menyusun rencana.
Ara ini memang tipe yang nggak bisa diajak bicara baik-baik jika dalam mode garang seperti ini.
Ara hanya bisa ditaklukkan dengan cara yang hanya Rangga sendirilah yang tahu.
" Nah ini taxi Ara udah ada di depan. Bang, Han aku duluan ya.." Ara menyalami Adnan dan menciuminya seperti biasa.
"Rasya sayang, mau ikut mommy ke rumah momo nggak?" Ara mentoel pipi keponakannya itu, dan Rasya melengkung ikut.
Tapi karena Hana ada misi untuk mendekatkan kedua pasutri yang retak ini maka Hana tidak mengijinkan Rasya ikut Ara.
Dan tentu itu membuat Adnan kecewa. Karena Rasya selalu tidur dengan mereka, dan jelas membuat Adnan jablai.
" Kak Rayyan, kak Denis...Ara duluan ya...Assalamualaikum..."
Ara hanya menatap dan mengatupkan tangannya pada Rayya dan Denis saja, sementara melewati Rangga begitu saja.
Ara berlalu begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" Kejarlah...." Ucap Denis.
" Iya Ga!!, perjuangkan selagi bisa..." Rayya juga ikut memberikan tepukkanya di pundak Rangga.
" Atau kakak memang mau Ara menjadi menantu Maha Dafran?" Sindir Hana.
__ADS_1
"Tidak!!!, dia istriku!!!, masih istriku!!" Jawab Rangga cepat dan langsung berlari mengejar Ara.
" Aku tidak menyangka mereka akan seperti ini..." Keluh Rayya.
" Iya, aku juga. Sesak rasanya waktu mendengar kabar itu dari kalian.." Balas Denis.
" Tapi memang sifat Rangga seperti itu, dia kalau sudah belajar akan lupa segalanya. Ditambah lagi dia jauh dari Ara, dan jarang disentuh...pasti akan beku ha...ha..ha.." Denis menabok punggung Rayya.
" Kamu gimana bro?, masih jomblo aja. Tapi sejak kamu operasi lasik. Kamu ganteng loh tanpa kacamata gini...swear!!!" Denis merangkul Rayya, sementara Rayya hanya tersenyum dan menatap Hana.
Hana mengangguk dan mengeluarkan amplop dari tas nya.
" Ini kak, ada titipan. Bacalah dirumah..."
Rayya mengulurkan tanganya untuk meraih amplot berwarna peach itu. Begitu girly dan imut. Tapi dengan cepat Denis menyambar nya.
" Apa ini hemmmm?, jangan bilang jomblo kita punya pengagum rahasia?"
" Biar jomblo juga kak Rayya itu lelaki sejati, tidak payboy sepertimu!!!" Ucap Natasya yang sejak tadi hanya ngobrol dengan sepupunya dan Adnan akhinya menimpali.
" Playboy????, ha..ha..ha... Bahkan aku lupa kapan terakhir nya.." Denis tertawa, tapi hatinya begitu sendu.
Walaupun di Australia dia selalu bersama-sama dengan Rose, tapi dihatinya hanya ada Natasya.
" Dan andaikan kau tau, bahwa playboy ini sekarang benar-benar kena karmanya.
Rose tunanganku, bahkan saat ini sedang hamil entah anak siapa?" Denis menundukkan wajahnya.
Dan Rayya kini gantian merangkulnya.
Kembali ke Ara dan Rangga.
Ara baru akan memasuki taxi saat tangan kekar menyambar lenganya.
Ara yang memiliki reflek yang bagus langsung bisa menangkis, tapi Rangga dengan sigap bisa menaklukkan Ara. Dan mengunci Ara dengan cara melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang ramping Ara dengan erat.
" Lepas!!" Bentak Ara.
Tapi Rangga tak bergeming dan justru mengulurkan dua lembar uang pada sopir taxi.
" Ikutin alamat yang ada di aplikasi pak, tapi dia nggak usah dibawa.."
" Nggak mau!!, lepas!!. Pak tolong saya pak, dia mau culik saya..." Seru Ara.
Ara mencengkeram tangan Rangga berusaha meloloskan diri. Tapi Rangga semakin mengeratkan dekapannya.
" Lepas!!, lepas!!" Teriak Ara.
Rangga mengankat tubuh Ara dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Brugh!!!
Klep..klep..klep
Rangga memangku Ara yang terus berontak, dan dengan cepat Rangga mengunci semua pintu.
" Aku mau keluar..." Ara terus melawan dan berontak.
Rangga mencekal kedua tangan Ara dengan sebelah tanganya, dan dengan cepat melepaskan tali pinggangnya.
" Kau mau apa!!, jangan gila!!" Teriak Ara ketakutan.
" Keras kepalamu itu!!, hanya bisa dilawan dengan kegilaan ku dedek Lili..." Ucap Rangga dingin, sambil melilitkan tali pinggangnya ke kedua tangan Ara yang menyatu.
Mereka saling tatap, tatapan mereka terlihat penuh permusuhan.
Rangga yang masih geram dengan tingkah Ara pada Lenox tadi dan Ara menumpuk seluruh rasa kesalnya selama ini.
***
Brugh..
Rangga menghempaskan Ara ke ranjang nya. Tepatnya di kamar Apartemen nya.
"Kenapa kesini?, aku mau pulang.." Ara segera berlari kepintu.
" Pulang kemana?, ini rumahmu.." Sahut Rangga cepat.
" Ha..ha..ha..mimpi..." Ara meraih handel pintu tapi sayangnya terkunci.
" Buka!!!, aku mau pulang...." Ucap Ara pelan.
" Tidak!!, tempatmu disini Lailia Nafeesa Anara Wijaya.." Jawab Rangga dan dengan santainya dia melepaskan semua bajunya.
__ADS_1
Ara membuang pandangannya ke arah lain. Kalung tidak lagi ada di leher Rangga, pun cincin kawin mereka.
Tadi saat Rangga menyetir Ara sempat melirik jari Rangga kosong semua.
Sesak.
Dada Ara terasa sesak. Dia ingin hubungan mereka baik-baik saja. Tapi rupanya jelas-jelas sudah hancur.
Ara memutar-mutar cincin yang ada di jarinya. Buat apa dia harus terus memakainya?, bahkan Ranggapun telah melepaskan cicin kawin dan dirinya???.
Saat Rangga melangkah mendekat. Dengan cepat Ara memasukkan cincin itu ke dalam mulutnya, karena kedua tanganya masih terikat tali pinggang Rangga.
Hupp!!!
Rangga mengangkat Ara seperti mengangkat karung saja.
Brugh!!
Lagi, Rangga menghempaskanya ke kasur.
Ara tidak bisa teriak, berontak ataupun menolak karena di dalam mulutnya ada cincin.
Rangga meraih tangan Ara dengan lembut, lalu membuka ikatan dan menciumi jemari Ara dengan tangan bergetar. Air matanya tergenang begitu saja.
Degghhh...
Remuk hati Rangga saat mendapati jemari Ara kosong. Tidak ada jejak ikatan darinya disana.
" Kau melepasnya?" Tanya Rangga sendu.
Kau juga melepasnya kan??, lalu?? Apa salahku?? Batin Ara.
" Katakan padaku, apa kau selingkuh??"
Ara hanya diam, Rangga masih di depanya jadi dia belum bisa mengeluarkan cincin itu dari mulutnya.
" Katakan padaku sayang, apa cintamu sudah habis untukku?" Lagi, Rangga menatapnya dengan tatapan menyedihkan.
" Kau......, kau.... Apa kau tidak rindu padaku sayang..?" Suara Rangga terdengar serak demi menahan tangisnya yang ingin meledak.
Melihat Ara yang hanya diam saja, Rangga rasanya ingin mengobrak-abrik kamarnya.
Tapi Rangga terlalu hebat, sangat mudah baginya mengelola emosinya saat di depan Ara begini.
Dengan tanpa kata, Rangga berdiri dan meninggalkan Ara dengan rasa kecewa yang luar biasa.
Fix, Ara telah berubah...
Ya Allah...Ampunilah dosaku..
Kembalikan dia padaku..ya Allah...
Rangga menusap wajahnya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Ara dengan cepat mengeluarkan cincin di mulutnya dan dimasukkan ke kantong celananya.
Ara meneliti kamar Rangga ini, koper-koper masih berserakan. Dan coath Rangga juga masih tergeletak di kasur begitu saja. Ara bisa menduga bahwa Rangga langsung kesini setelah turun dari pesawat.
Ara memejamkan matanya. Sekedar untuk menurunkan tensi emosinya yang naik beberapa waktu lalu.
Tapi justru siluet gambar Rangga yang bertelanjang dada berkelebat disana.
" Sialan..." Desisnya.
" Siapa?, aku? Sialan?" Sahut Rangga.
" Iya!!!"
Ara sedikit merangkak untuk mengambil tasnya. Lalu merogoh dan mengambil ponselnya.
" Kau mau apa?" Tanya Rangga saat melihat Ara menempelkan ponsel ke telinganya.
" Menghubungi Lenox untuk jemp----"
Srett..
Prakkk!!!
Rangga melempar ponsel Ara begitu saja ke lantai.
" Kau!!!, dimana sopan santunmu!!, Ada suamimu disini dan kau menghubungi selingkuhan mu di depanku???" Bentak Rangga.
__ADS_1
" Suami???? Siapa??? Kau????" Jerit Ara emosi.