
"Ting" Suara notifikasi pesan WhatsApp Jessica berbunyi, Jessica kemudian membacanya.
"Assalammualaikum wr wb
Selamat Siang,
kepada mahasiswa dan mahasiswi Universitas Adikari penerima beasiswa.
di tempat
Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Pentas Musik di Universitas Adhikari pada tanggal 28 Juni 2021, Pihak Universitas meminta partisipasi para penerima Beasiswa untuk menunjukan Prestasi dan Bakatnya. untuk itu diharapkan kehadirannya untuk membuat persiapan pertunjukan pada
Hari Tanggal : Senin, 14 Juni 2021
Waktu. : 08.30 s/d selesai
Tempat. : Aula Teater kampus Adhikari
Demikian surat undangan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih
TTD
Ketua Koordinator Beasiswa
Ade Sarifudin M.Si"
"Serius banget bacanya dari siapa sih Cil" Tanya Lina penasaran
"Dari ayang bebnya kali Lin." timpal Sisil.
"Gue udah jomblo mbak. Ini dari koordinator beasiswa dikampus mbak, kayanya senin gue mau izin gak masuk." jawab Jessica kemudian menunjukkan isi pesan whatsapp di ponselnya.
"Gak masuk mulu lo Cil, dipecat baru tau rasa lo Cil." ucap Lina yang menyadari Jessica sering tidak masuk kerja akhir-akhir ini.
"Ya mau gimana lagi mbak, gue pasti mentingin kuliah gue dari pada kerjaan. Klo sampai beasiswa gue di stop bisa repot gue Mbak. Kalau gue nggak dapat beasiswa gimana kelanjutan kuliah gue nantinya." ucap Jessica.
"Kan ada si boss yang lagi on the way jadi ayang beb lo Cil, gampangkan" Ucap Lina santai.
"Hah si boss,, Mana mungkin dia mau biayain gue mbak? On the way dari Hongkong, tertarik sama diri gue ajah nggak mbak, yang ada dia tertarik buatan ngerjain gue, nyiksa gue, dan ngerjain gue. Lagian gue akan lebih puas dan bangga kalau gue bisa lulus kuliah dengan beasiswika yang gue dapat dari prestasi gue sendiri Mbak." ucap Jessica menimpali ucapan Lina
"Bagus tuh Jes, gue suka cara berfikir lo, nanti klo kita udah sampai kantor lo langsung keruangan bu Lia buat ngajuin Izin." ucap Sisil pada Jessica
"Oh.. Kalau izin nggak masuk itu langsung ke Bu Lia ya mba? Terus nggak usah ke Pak Fabian?" Tanya Jessica.
"Iya langsung ke Bu Lia, emang sih klo yang part time itu biasanya izinnya sama kepala divisi. Tapi sekarangkan lu lagi nggak part time ada baiknya lu ngomong sama dia langsung, nah nanti bu Lia yang urus klo masalah perizinan lu ke Pak Fabian." ucap Sisil.
"Makasi ya mbak ku." ucap Jessica kemudian memeluk lengan Sisil yang duduk di samping kanannya.
Mobil yang ditumpangi Fabian dan mobil yang ditumpangi Jessica datang bersamaan. Alan menurukan Fabian dan Clara di lobby kantor, sedang mobil yang ditumpangi Jessica berhenti tepat dibelakang mobil Fabian. Jessica turun dari mobil berjalan beriringan dibelakang Fabian menuju lift. Clara menekan tombol 5 untuk menuju lantai 5 tempat dimana ruangan mereka berada, setelah Clara menekan tombol, Jessica juga ikut menekan tombol namun Jessica menekan tombol 3, dia ingin ke ruangan ibu Lia terlebih dahulu yang berada dilantai 3. Apa yang dilakukan Jessica menarik perhatian Fabian. Fabian menyernyitkan matanya melihat apa yang dilakukan Jessica.
“Mau kemana dia?” tanya Fabian di dalam hatinya.
"Ting" Suara pintu lift terbuka. Jessica yang berdiri dibelakang Fabian dan Clara berjalan maju hendak keluar. Tapi ketika melewati Fabian tangan Jessica dicekal oleh Fabian. Sehingga langkahnya terhenti.
"Mau kemana kamu?" tanya Fabian dengan tatapan mata menusuk.
Jessica melihat Fabian kemudian melirik tangannya yang di cengkram kuat oleh Fabian kemudian melihat karyawan lain yang berada dibelakang Fabian. Jessica berusaha melepaskan cekalan tangan Fabian sekuat tenaga.
"Tolong lepaskan Pak! Saya mau keruangan bu Lia, Pak Fabian." ucap Jessica kemudian Fabian melepaskan cengkraman tangannya.
"Jika sudah selesai, segera cepat kembali! Ingat tugas mu buatkan saya secangkir kopi!" ucap Fabian yang dijawab anggukan Jessica yang sedang memegangi tangannya yang sakit akibat cengkraman tangan Fabian tadi.
"Kasar sekali sih dia, dua kali nih tangan jadi korban kekerasan dia, tidak bisakah dia tak kasar padaku. Sakit banget nih aduh..." batin Jessica. Ia terus memgangi tangannya yang sakit.
__ADS_1
Jessica segera melangkah kakinya keruangan Bu Lia.
"Tok... tok...tok" Suara pintu ruangan Bu Lia yang diketuk Jessica.
"Masuk" Suara dingin Bu Lia dari dalam ruangan.
Jessica membuka pintu ruangan Bu Lia, dilihatnya bu Lia sedang memeriksa beberapa berkas dimeja kerjanya. Jessica pun masuk dan berdiri di depan meja kerja Bu Lia.
"Oh, kamu Jessica ada perlu apa kamu keruangan saya?" tanya Bu Lia pada Jessica dengan wajah datar yang tak bersahabat.
"Ini bu, saya kesini mau minta izin untuk gak masuk besok hari senin karena ada undangan dari kampus" ucap Jessica kemudian menyodorkan isi pesan WhatsApp di ponselnya kepada Bu Lia. Bu Lia pun menerima dan membaca sekilas isi pesan tersebut.
"Begini Jessica saya tidak bisa menjawab apa-apa tentang kamu lagi sekarang ini, karena seharusnya saya memberikan surat ini kepada kamu." ucap Ibu Lia dengan wajah yang datar seakan menahan kekesalannya pada Jessica setelah membaca pesan di ponsel Jessica. Ia menyodorkan sebuah amplop putih kepada Jessica.
"Apa ini bu?" tanya Jessica dengan memegang amplop putih ditangannya.
"Ini surat peringatan pertama buat kamu karena tiga hari tidak masuk tanpa alasan yang jelas, tapi saya tidak bisa memberikan surat peringatan ini kepada kamu, karena Pak Fabian melarang saya, jadi khusus untuk kamu jika ingin mengajukan izin langsung saja ke Pak Fabian ya! Bukankah kamu karyawan yang begitu spesial untuk Pak Fabian? Saya menunjukkan surat ini padamu agar kamu tahu saja, sebenarnya apa yang telah kamu lakukan itu ada konsekuensinya dan kamu seharusnya tidak bersikap semaunya diperusahaan ini." terang bu Lia dengan tatapan tidak suka pada Jessica kemudian mengambil lagi amplop putih ditangan Jessica dengan kasar.
"Ada lagi yang mau kamu bicarakan dengan saya, Jessica?" tanya Bu Lia dengan tatapan sinisnya.
"Tidak ada bu" Jawab Jessica.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan.Kamu boleh pergi karena saya masih banyak kerjaan yang harus saya kerjakan" ucap Ibu Lia tanpa memandang wajah Jessica.
"Baik bu, terima kasih sebelumnya, maafkan saya jika tindakan saya membuat ibu tidak suka dan menjadi sulit karena saya" Ucap Jessica.
"Tidak apa-apa Jessica, itu sudah jadi wewenang pak Fabian saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi walaupun ini tidak sesuai prosedur" ucap ibu Lia dengan senyum yang dipaksakan.
"Kalau begitu saya permisi Bu." ucap Jessica kemudian pergi dari ruangan bu Lia dengan rasa sakit hatinya atas perkataan dan sikap Bu Lia kepadanya.
Setelah dari ruangan Lia, Jessika pergi ke pantry di lantai 5 membuatkan kopi untuk Fabian. Sikap Lia yang berubah serta perkataan yang dilontarkan bu Lia padanya membuat Jessica tak enak hati dan sakit hati. Ketika sampai dimuka pintu ruangan Fabian, Jessica langsung masuk ke ruangan Fabian tanpa mengetuk pintu.
“Ceklek Brugh” Jessica membuka pintu dengan kasar.
Clara dan Fabian yang ada di balik meja terkejut, mereka terkejut dengan kedatangan Jessica yang membuka pintu kemudian membantingnya dengan kasar. Karena mereka terlalu fokus sedang serius mengecek invoice dari bagian keuangan.
Clara memandang Jessica dengan kesal tak berbeda dengan Fabian dia menatap Jessica penuh amarah dengan apa yang dilakukan Jessica barusan.
"Bisakah kamu masuk keruangan saya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu! Apa kau tidak punya sopan santun Jessica?" Ucap Fabian penuh nada penekan dan emosi.
"Clara bisa kamu keluar dulu,kita lanjutkan pengecekannya nanti." pinta Fabian pada Clara. Clara pun menuruti perintah Fabian untuk keluar dari ruangan Fabian. Ketika sampai dimuka pintu, Clara menghentikan langkahnya dan melihat Jessica disana dengan tatapan tidak suka.
"Awas saja kau nanti Jessica." batin Clara kesal.
Fabian membalikkan tubuh Jessica menghadap dirinya. Fabian menatap dalam wajah Jessica. Tangan Fabian menarik dagu Jessica kemudian memajukan wajahnya mendekati wajah Jessica. Ketika Fabian ingin mendaratkan bibirnya, Jessica memalingkan wajahnya dengan cepat. Jessica menolak sentuhan Fabian.
"Tolong jangan perlakukan saya seperti ini Pak” pinta Jessica. Entah mengapa ada rasa bersalah dibenak Jessica ketika Fabian ingin menciumnya hingga akhirnya ia menolaknya.
Fabian kemudian melepaskan Jessica, ia berjalan menuju sofa kemudian duduk disana. Dia menepuk-nepukkan sofa lalu melihat kearah Jessica,dengan tatapan matanya ia seakan meminta Jessica untuk duduk disana bersamanya. Jessica yang mengerti akan maunya Fabian pun menuruti permintaan Fabian untuk duduk disofa bersamanya. Jessica mengambil jarak saat duduk disofa bersama Fabian dan Fabian pun tak mempermasalahkan akan hal itu.
"Katakan pada ku!! Kenapa sikap mu seperti itu barusan?" tanya Fabian setelah menyeruput kopi buatan Jessica ditangannya.
"Tadi saya habis menemui bu Lia diruanganya" ucap Jessica.
"Lalu...apa masalahnya dan apa hubunganya dengan kelakuan mu barusan?" tanya Fabian.
"Ya masalahnya ada di bapak" jawab Jessica.
"Saya... Kenapa saya yang kamu masalahkan? Saya tidak melakukan apapun." ucap Fabian.
"Kenapa bapak melarang Bu Lia memberikan surat peringatan pada saya? Kenapa Bapak tidak membiarkan Bu Lia melakukan tugasnya. Bapak tahu apa yang bapak lakukan itu membuat saya nggak nyaman? Bapak tuh nggak tahu bagaimana pandangan Bu Lia tadi ke saya karena Bapak melarang dia melakukan tugasnya. Bapak ga pernah tahu kan? Karena bapak nggak mau tahu kan. Apalah artinya saya ini dimata bapak? Ngga ada artinya apa-apa saya tuh bagi bapak, Bapak selalu melakukan apapun suka-suka bapak tanpa berfikir dulu apa dampak yang akan terjadi pada saya, Termasuk nyakitin hati dan fisik saya adalah kesukaan bapak saat ini bukan?" ucap Jessica dengan deraian air mata.
"Bukankah saya sudah pernah katakan pada kamu, saya akan ada disamping kamu untuk menghadapi mereka. Lagipula ini adalah perusahaan saya jadi terserah saya mau melakukan apapun termasuk melarang Lia memberikan surat peringatan itu kepada kamu" ucap Fabian.
"Termasuk juga dengan apa yang ingin bapak lakukan dipintu tadi, Bapak anggap saya ini apa? Wanita murahan yang mau disosor tanpa kejelasan status begitu" Ucap Jessica dengan menatap tajam wajah Fabian.
"Dengar baik-baik kata-kata saya Jessica, Jangan pernah kamu berharap status dari saya, kamu jangan salah paham dengan apa yang saya lakukan pada kamu." ucap Fabian dengan membalas tatapan tajam mata Jessica.
"Aku tidak mungkin memberikan kamu status karena aku masih memiliki hubungan dengan Rania. Aku juga masih belum yakin tentang perasaanku pada mu Jess." batin Fabian.
__ADS_1
"Bagaimana saya tidak salah paham, tadi siang apa bapak lupa bapak bicara apa sama saya, bapak bilang aku dan kamu akan jadi kita dan semalam bapak bilang merindukan saya dan bapak juga menelpon saya ratusan kali saat saya tidak ada kabar dan bapak juga menjemput saya dirumah menunggu saya di rumah berjam-jam, bapak baru pergi ketika ibu saya mengatakan saya tidak akan bekerja karena saya sedang mengurung diri dikamar. Untuk apa semua itu Bapak lakukan? Apa bapak juga melakukan hal yang sama pada karyawan lainnya? Saya rasa tidak,, Apa bapak bisa menjelaskan pada saya atas dasar apa bapak melakukan itu semua pada saya, supaya saya tidak salah paham lagi nantinya?" ucap Jessica penuh emosional dengan air mata yang terus menjatuhi pipinya.
"Saya tidak perlu menjelaskan apapun pada kamu, camkan itu Jessica saya tidak akan menjelaskan apapun pada kamu." ucap Fabian dengan menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke arah wajah Jessica.
"Baiklah saya mengerti sekarang. Bagaimana sudut pandang bapak memandang diri saya, saya memang hanya wanita miskin pak, tidak punya nilai lebih didiri saya tapi saya ini manusia yang punya hati dan perasaan. Bapak berhasil menerbangkan saya ke langit lalu dengan mudah bapak menjatuhkan saya ke tanah, saya sadar betul langit bukan tempat saya, langit adalah tempat bapak, bapak tak mungkin saya gapai karena tempat saya hanya dibawah telapak kaki bapak." ucap Jessica menahan sesak didadanya, dia mengusap pipinya yang basah karena air mata yang terus mengalir, kemudian ia berdiri ingin meninggalkan Fabian.
"Oh iya pak, satu hal lagi, kalau bapak mau tau tujuan saya keruangan Bu Lia hanya satu, hanya ingin minta izin hari senin saya tidak bisa masuk kerja karena ada kegiatan di kampus,tapi bu Lia mengatakan pengecualian untuk saya, tidak perlu minta izin lagi padanya saya harus minta izin langsung pada bapak, jadi sekarang saya minta izin sama Bapak untuk hari senin saya tidak bisa masuk, dan diizinkan atau tidak saya akan tetap tidak masuk, saya harap besok Pak Toto tidak perlu repot lagi untuk menjemput saya dan ini ATM bapak, mulai besok saya juga sudah tidak bisa jemput anak bapak disekolah." Ucap Jessica sebelum meninggalkan Fabian. Ia meletakkan ATM Fabian di atas meja. Fabian hanya melihat apa yang dilakukan Jessica.
"Lakukan apapun sesuka hati kamu mulai sekarang, tapi yang perlu kamu ingat selesaikan kontrak kerjamu diperusahaan ini, lalu pergi dari perusahaan ini." ucap Fabian saat melihat Jessica telah sampai dimuka pintu. Jessica hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyum dipaksakan mendengar kalimat yang menyakitkan. Fabian melihat senyum Jessica yang seperti itu juga merasakan perih didadanya, hatinya seperti ditusuk ribuan pisau melihat Jessica tersakiti dengan kata-katanya barusan.
Jessica keluar dari ruangan Fabian dengan luka hati yang dalam. Saat jam kerja telah habis semua orang mulai bersiap untuk pulang. Lina yang melihat Jessica ikut bersiap juga, membuat dia bertanya.
" Lo ikut pulang juga Jess? Kan lo belum di telepon sama si Boss. Emang lu udah boleh pulang kalau belum ditelepon sama si Boss?" tanya Lina.
"Mulai sekarang dia gak akan telepon gue lagi mbak dan mulai sekarang gue juga akan pulang tepat waktu." ucap Jessica.
"Serius lo, terus lo diizinin gak buat hari senin nanti?" tanya Lina lagi.
"Diizinin dong mbak." jawab Jessica dengan senyum yang seakan-akan ceria. Jessica memang pandai menutupi kesedihannya.
Jessica turun kelantai dasar bersama teman seruangannya. Ia berjalan menuju halte bersama Lina dan juga Sisil. Mereka menunggu Ojek Online disana. Lina dan Sisil sudah terlebih dahulu pulang karena Ojek onlinenya tiba lebih cepat. Ketika Jessica sedang menunggu Ojek Online pesanannya. Tiba-tiba mobil Clara datang menghampiri. Clara keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Jessica kemudian menampar wajah Jessica sekuat tenaga. Meluapkan kekesalan dan rasa cemburunya tadi.
"Plak..." Suara tangan Clara yang mendarat di pipi Jessica, Membuat pipi putih mulus itu memerah seketika.
“Au…sakit..” jerit Jessica merasakan sakit pada pipinya.
"Mbak Clara apa yang mbak lakukan?" tanya Jessica sambil memegang pipinya yang sakit.
"Itu pelajaran pertama buat lo yang sudah berani-beraninya merebut perhatian Pak Fabian dari gue, gue harap lo jauhin Pak Fabian atau gue akan melakukan hal yang jauh menyakitkan dari ini." ancam Clara pada Jessica kemudian meninggalkan Jessica begitu saja. Jessica melihat mobil Clara meninggalkannya dengan tatapan kesedihan.
"Ya Tuhan, Apalagi ini..??? Sejak berpisah dari Diego hati ini makin terluka saja. Haruskah aku menutup saja pintu hati ini, mengalihkan rasa cinta pada orang yang aku kagumi malah membuat hatiku makin sakit dan hacur" Ucap batin Jessica.
Jessica masih setia menunggu Ojek Online yang dia pesan di Halte seorang diri. Setelah lama menunggu Ojek onlinenya tak kunjung tiba, Ojek Onlinenya malah membatalkan pesanannya. Menambah kesialan Jessica di hari ini. Ia berusaha memesan kembali Ojek Online namun ia sulit mendapatkannya karena masuk jam sibuk dimana semua orang banyak memesan ojek online untuk kembali pulang kerumah. Jessica melihat mobil Fabian melintasinya. Karena ketika mobil Fabian melintas Alan memberikan klakson pada Jessica.
“Tin..” Bunyi Alan memberikan kelakson. Ya mobil Fabian hanya memberikan klakson tapi tidak menghentikan laju mobilnya hanya untuk mengajak Jessica pulang bersama. Padahal jalan pulang mereka searah.
Hari semakin gelap, ditambah lagi langit terlihat mendung seperti akan turun hujan. Jessica belum mendapatkan kendaraan untuk pulang hingga saat ini. Ia tidak lagi bisa memesan ojek online karena ponselnya sudah kehabisan daya, Ia memutuskan untuk naik Taksi saja nanti, Jika ada taksi yang lewat. Karena jika naik bus dia tidak tahu harus naik bus yang mana. Karena sebelumnya dia tidak pernah naik Bus.
Jessica duduk di halte dari keadaan ramai hingga hanya dia seorang diri. Hari pun sudah gelap menandakan malam telah datang dan sang senja telah pergi, Rasa takut sudah bergelayut dalam diri Jessica, ditambah hujan sudah mulai turun.
"Ya Tuhan tolong aku... Jessica mau pulang... Jessica takut sendirian disini.... hiks... hiks.." ucap Jessica dengan suara lirihnya, ia menangis di halte seorang diri. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menutupi tangisannya.
"Jessica.. " panggil seorang pria yang berdiri dihadapan Jessica dengan memegang sebuah payung ditangan kanannya dan tangan kirinya lagi sedang memegang payung yang sudah terbuka. Yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari derasnya air hujan. Pria itu meletakkan payung yang terbuka di lantai Halte. Kemudian mendekati Jessica yang diketahuinya sedang menangis.
"Hei,, kenapa kau menangis,,,? Apa ada yang melukaimu hingga membuat mu menangis seperti ini? Atau kamu sedang merasa takut hemm? Tenanglah ada aku disini, kamu tidak perlu lagi merasa takut sayang." ucap pria dengan suara yang meneduhkan hati Jessica, Suara itu yang tak lain adalah suara Andre. Jessica menjawab semua pertanyaan Andre dengan anggukan kepala berkali-kali, Jessica masih saja terus menangis.
"Katakan pada ku siapa yang sudah melukaimu?! Tenanglah sekarang aku sudah ada disini tak akan lagi ada yang berani melukaimu ataupun menyakitimu." ucap Andre yang menarik tubuh Jessica dalam pelukkannya. Jessica tidak menolak pelukkan yang diberikan Andre. Andre memberikan rasa nyaman pada diri Jessica, pelukan Andre mampu menghilangkan rasa takut yang sejak tadi menggelayut pada diri Jessica.
"Jessica mau pulang Tuan." ucap Jessica didalam pelukkan Andre dengan suara yang begitu lirih.
"Ayo kita pulang, aku akan mengantarkan mu untuk pulang kerumah mu." ucap Andre. Kemudian menggandeng Jessica dan memayungi Jessica hingga Jessica masuk kedalam mobilnya.
Tanpa mereka sadari di ujung jalan sana ada seseorang yang melihat mereka dengan tatapan penuh emosi. Dialah Fabian.
Fabian memutar balik kendaraanya saat Toto memberitahunya kalau Jessica masih berada dihalte seorang diri. Jessica belum juga pulang karena belum mendapatkan kendaraan untuk pulang. Karena rasa khawatirnya dia memutuskan untuk kembali, ia berencana akan mengajak Jessica pulang bersamanya. Namun apa yang terjadi. Karena Ia datang terlambat, ia harus melihat Jessica di peluk dan dibawa pergi oleh Pria yang pernah mencium Jessica di hadapannya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa karena Pria yang menjadi rival-nya adalah orang yang berkuasa dalam dunia bisnis.
__ADS_1
Bantu Author dengan gift hadiah vote like dan kasih kritik dan saran ya...😊😊😊