Cinta Jessika

Cinta Jessika
Ditinggalkan bukan Meninggalkan


__ADS_3

Dengan tatapan kosong namun langkah kakinya berlari meninggalkan kendaraannya terparkir begitu saja. Ia berlari kearah kerumunan orang yang berusaha mengeluarkan korban yang masih berada di dalam mobil.


Nafas Fabian rasanya ingin berhenti ketika ia tak segaja menginjak plat nomor mobil Margareth yang terlempar ke jalanan.


"Hah... Margareth..." Fabian menangkupkan mulutnya dengan kedua tangannya.


"Anak-anak ku... Tidak... jangan seperti ini! Tuhan tolong Aku tidak mau seperti ini!" Air mata dari pria yang penuh penyesalan itu mengalir begitu deras.


Ia mempercepat langkahnya makin mendekati mobil. Terlihat dari jendela yang terbuka karena kacanya yang sudah pecah, dan wajah Margareth yang cantik terlihat berlumuran darah. Membuat Fabian menjerit histeris memanggil nama istri yang begitu mencintai dirinya itu. Istri yang telah banyak berkorban untuk dirinya yang sering ia sakiti dan kecewakan.


"Margareth...tidak Margareth...tidak... Ini bukan kamu kan Margareth? Katakan ini bukan kamu?" Pekik Fabian yang mengusap kasar rambutnya sambil menangis tak menyangka dengan apa yang ia lihat.


"Maaf Pak, Bapak siapanya korban?" Tanya salah seorang pria tua yang menghampiri Fabian karena melihat Fabian yang menangis histeris seakan mengenali salah satu korban.


"Saya Suaminya Pak." Jawab Fabian dengan wajah frustasinya.


"Kesini Pak! Salah satu anak bapak masih bernafas. Anak itu membutuhkan Bapak disisinya." Ucap pria tua itu sambil mengarahkan Fabian untuk mengikuti langkahnya.


Fabian segera mengekori langkah pria tua itu. Terlihat ketiga anaknya di baringkan di pinggir trotoar. Kenzo dan Hani sepertinya sudah tak bernyawa terlihat dari tubuhnya yang sudah tak ada tanda pergerakan tanda bahwa ia bernafas.


Sedang satu lagi putrinya Hana sedang di tenangkan oleh beberapa orang. Ia terus merintih dan terus mencari keberadaan Mami dan Papinya.


Tubuh Fabian seketika lemas tak bertulang. Ia duduk tersungkur di depan tubuh Hana yang terus merintih kesakitan. Mata Hana berbinar melihat kehadiran sosok sang Papi yang dicarinya.


"Papi... Tolong Hana pih, sakit sekali tubuh Hana Pih." Rintih Hana pada Fabian yang hanya bisa menangis melihat kondisi putrinya yang berlumuran darah dengan sekujur tubuh penuh luka.


Fabian memangku kepala putrinya untuk tidur di dalam pangkuannya sambil menunggu ambulans datang.


"Sabar Hana sayang, bertahanlah Papi ada disini Nak!" Ucap Fabian yang berusaha menguatkan Hana, meskipun dirinya pun tak kuat melihat putrinya kesakitan.


"Sakit Pih, perih Pih...Tolong lihat Kaki Hana Pih! Kenapa kaki Hana sulit di gerakkan dan terasa perih sekali?" Pinta Hana pada Fabian dengan rintihannya yang memilukan.

__ADS_1


Fabian mengikuti permintaan putrinya, ia melihat kearah kaki putrinya Hana. Betapa terkejutnya dia melihat Kaki putih mulus putrinya penuh dengan luka terbuka dan berlumuran darah.


"Ya Tuhan, Hana Putri ku." Batin Fabian menjerit melihat luka pada kaki Hana. Ia tak bisa membayangkan nasibnya jika ia selamaat dari kecelakaan ini. Fabian pun memeluk putrinya sambil terus menangis tanpa suara kemudian mengecup kening putrinya yang berlumuran darah.


"Kaki Hana baik-baik saja sayang." Ucap Fabian berbohong.


"Benarkah Pih? Kenapa perih sekali?"


"Ya sayang, benar... Papi gak bohong. Kaki Hana baik-baik saja." Jawab Fabian berbohong kembali meyakinkan putrinya.


"Pih, kenapa kedua adikku masih saja tertidur di seperti itu? Apa mereka baik-baik saja Pih?" Tanya Hana lagi dengan suara yang makin melemah nafasnya mulai tersengal-sengal.


"Karena ini sudah malam, anak kecil harusnya tidur sayang dan kedua adikmu baik-baik saja, kita tunggu mobil yang akan menjemput kita kesini ya. Hana yang sabar dan kuat ya sayang." Jawab Fabian yang tak ingin memberitahukan Hana jika kedua adiknya telah tiada.


"Pih, pandangan Hana mulai berkabut apa Hana sudah sangat mengantuk?" Tanya Hana lagi dengan nafasnya yang mulai tersengal-sengal dengan durasi yang cepat.


"Tidurlah sayang, jika Hana merasa mengantuk, Papi akan menemani Hana disini." Fabian menjawab dengan isak tangisnya.


"Katakanlah sayang!"


"Papi, jika Hana dan kedua adik Hana bangun esok hari, berjanjilah untuk tidak meninggalkan dan melupakan kami lagi. Hana sudah tak ingin tante Jessica menjadi Mami Hana lagi. Hana hanya ingin Mami Margareth Pih. Hana dan adik-adik sangat bahagia beberapa minggu ini karena Papi dan Mami terlihat saling menyayangi. Hana sangat sayang Papi. I Love you Pih." Tutur Hana dengan susah payah nafasnya tersengal-sengal dengan durasi cepat.


"I Love you to Hana." Jawab Fabian yang mengenggam jemari Hana.


"Papi Hana sudah tidak kuat lagi, Hana sangat mengantuk." Ucap Gadis kecil itu dengan nafasnya yang sudah tak lagi tersengal-sengal namun ia sudah mulai menutup matanya.


"Tidurlah sayang." Ucap Fabian yang kemudian tangisnya pecah setelah Hana menutup mata bersamaan dengan tubuhnya yang berhenti bernafas dan jemarinya yang tak lagi membalas genggaman tangan Fabian.


"HANAAAAAAA......" Pekik Fabian yang membelah kesunyian jalanan.


Kepergian Hana di pangkuan Fabian membuat Fabian terpuruk, hatinya begitu sedih, melihat dan mendengarkan perkataan sang putri di detik-detik terakhirnya.

__ADS_1


........


Berita kecelakaan seorang model cantik Margareth begitu cepat tersebar di seluruh penjuru Negeri. Jimmy yang baru bangun dari tidurnya dan menikmati roti buatan istrinya terlonjak kaget. Ia tersedak roti yang ia makan. Endah segera memberikan minum pada suaminya itu.


Setelah dirasa lebih baik, tanpa Kata-kata Jimmy kembali kekamar pribadinya, ia langsung mengenakan pakaiannya. Ia mengambil ponselnya yang ada di laci nakas. Betap terkejutnya dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari Margareth semalam.


"Apa ada sesuatu yang terjadi sebelum kamu kecelakaan Kak? Hingga kau menghubungi ku sebanyak ini. Jika aku tahu siapa dalang dari kecelakaan yang menimpamu hingga merenggut nyawa mu dan ketiga anakmu, aku tak akan pernah tinggal diam. Mereka pasti akan mendapatkan pembalasan dariku."


Jimmy terlihat menghubungi seseorang untuk menyiapkan pesawat Jet detik ini juga untuk dirinya. Ia keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Endah yang melihatnya segera menyusul suaminya.


"Kamu mau kemana Babang? Tidakkah bisa tunggu aku bersiap-siap dulu dan kamu sarapan dulu dengan benar!" Ucap Endah yang menarik lengan Suaminya namun di hempas kasar oleh Jimmy.


"Maaf sayang, aku tidak sengaja berbuat kasar pada mu. Tolong beri aku waktu untuk aku mengurusi anggota keluarga ku! Aku akan ke kota J mengurus semuanya dan sebaiknya kamu tetap disini. Aku akan kembali jika masalahku sudah selesai. Tolong jaga dirimu dan calon bayi kita baik-baik! Aku pasti akan merindukan mu." Ucap Jimmy yang kemudian mecium kening istrinya dan perut istrinya tamg mulai sedikit terlihat membuncit.


Endah tak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan Suaminya pergi entah sampai kapan ia akan kembali, yang pasti Endah menginginkan suaminya kembali dengan cepat.


....


Pemakaman dilakukan disebuah pemakaman mewah di kota J. Wajah sembab Fabian sangat terlihat walau ia menutupnya dengan kacamata hitamnya. Mata elang Jimmy terus memperhatikan sosok Fabian. Andre yang ikut hadir di acara pemakaman penatap penuh selidik pada Jimmy.


"Kenapa kau melihat dia seperti itu Jim?" Tanya Andre yang berdiri di samping Jimmy.


"Kematian Margareth tidak wajar menurut ku, semalam aku mendapati banyak panggilan tak terjawab dari dirinya di ponselku. Margareth seakan meminta pertolongan ku Ndre." Jawab Jimmy.


"Dan kau mencurigainya?" Tanya Andre lagi.


"Ya aku mencurigainya, aku akan stay di kota ini untuk sementara waktu. Aku akan menyelidiki semua yang menimpa Margareth sebelum terjadi kecelakaan ini dan aku akan menyelesaikan masalah ini dengan cara ku." Jawab Jimmy dengan nada bicara yang menyeramkan.


"Ya lakukanlah apa yang ingin kau lakukan disini, jangan khawatirkan istri mu! Aku akan menjaganya untuk mu. Jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku, jangan sungkan-sungkan! Jika aku boleh memberikan saran. Seharusnya kamu jangan mencurigai satu orang saja Jim! Lihat wanita tua yang tak nampak sedih di raut wajahnya, melihat menantu dan ketiga cucunya tiada." Balas Andre yang membuat matanya menatap Suci yang berdiri di samping Fabian.


Wanita tua itu menggunaka kaca mata hitam dan juga sebuah masker penutup wajah. Mata elang Andre dan Jimmy bisa melihat rona wajah Suci yang terlihat biasa saja dengan kepergian orang-orang terdekat putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2