
Jessica yang tadinya menatapi wajah Endah, sang kakak dalam diam, kini sudah beralih menatap wajah Fabian yang tengah duduk berhadapan dengannya. Jessica menatap dalam sesaat manik mata Fabian yang terlihat sendu.
"Kamu mengharapkan apa dari ku, atas semua ucapan mu barusan, Om Duda? Jika cinta yang kamu harapkan dariku, aku sudah tak bisa memberikannya padamu, karena cinta yang ku punya sudah ku serahkan semuanya pada suamiku, suami yang hanya mencintai ku, suami yang rela terluka bahkan mati karena ingin menyelamatkan ku," ungkap Jessica yang membuat hati Fabian sakit, karena kalimat terakhir Jessica seakan membaringkan dirinya dengan sosok Andre yang lebih baik dan ebih segalanya dari dirinya.
Rasa hati Fabian begitu teriris, pedih dan sakit jangan ditanyakan lagi. Ingin rasanya Fabian mengakhiri hidupnya saja saat ini, karena merasakan hatinya begitu remuk, mendengar Jessica berbicara seperti ini padanya, wajah yang datar, tatapan mata yang tajam hingga menghunus relung hati Fabian yang terluka. Pahit sekali ucapan Jessica tapi itu memang kenyataan yang tak bisa di pungkiri oleh Fabian. Jika ia mengharapkan Jessica bicara maka pahitnya ucapan Jessica harus ia terima.
Fabian terdiam, dan ia memang memilih untuk diam, karena ia masih menunggu Jessica kembali berbicara. Fabian masih berharap ada sebuah kalimat yang meneduhkan hatinya dari bibir Jessica yang ia rindukan seperti dulu. Melihat Fabian diam, Jessica pun meneruskan ucapannya.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku sampai detik ini, terimakasih telah memberikan hatimu padaku, tapi itu semua terlambat. Kemana saja dirimu? Saat aku sudah seperti pengemis cinta pada mu waktu itu hum? Kamu hempaskan aku dengan kata-kata pedas mu, aku memilih mundur, ketika aku tahu kamu sudah ada yang memiliki, orang yang memiliki dirimu saat itu sangat jauh lebih dari diriku ini, apalah diriku ini saat itu di mata mu, mungkin hanya seonggok sampah dimatamu yang tak berharga atau hanya sebuah sendal jepit usang yang mudah kau buang." Ucapan Jessica yang terus membuat Fabian menggelengkan kepalanya. Seakan berkata tidak, ia tidak pernah menganggap Jessica serendah itu, Jessica terlalu merendahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jika dulu, kamu pernah mengatakan padaku, kamu adalah luka bagiku, ya itu benar. Aku sangat mengagumi mu dulu, kamulah pria pertama yang pernah membuatku jatuh hati, selalu membuat ku ingin bersama mu, selalu membuat ku ingin mengimbangi setiap langkah mu, bahkan aku bisa menerima kehadiran kedua anak mu yang tak bisa diterima oleh kekasih mu yang cantik tapi kejam itu, aku tak perduli dengan status Duda mu, aku ini seperti wanita yang tak tahu diri, memiliki kekasih tapi mencintai kekasih orang lain, semua itu karena aku mencintaimu mu, tapi itu dulu, sebelum suami ku datang dengan membawa getaran cinta yang tak pernah aku rasakan, baik dengan Diego, mantan kekasih ku yang berselingkuh dengan keponakan mu, ataupun dengan diri mu sendiri, Om. Suami ku datang menghapus segala luka yang kamu torehkan dihatiku, dan bukan hanya kamu yang menorehkan luka di hatiku ,tapi juga orang-orang terdekat mu pun melakukan hal yang sama padaku, dosa apa yang aku perbuat hingga mereka ikut menyakiti ku, apa aku menjadi pendosa, ketika aku mencintaimu? Hingga mereka pantas menyiksa batin dan fisik ku? Aku berharap banyak padamu, saat mereka menyakiti ku, tapi apa? Yang selalu menjadi malaikat ku hanya sosok suamiku bukan dirimu yang aku cintai, aku ingin di cintai Om bukan ingin dilukai," ungkapan isi hati Jessica yang ia utarakan, membuat pria dihadapannya meneteskan air mata, begitu pula dengan Jessica. Endah pun demikian, ia larut dalam kesedihan mereka berdua.
Jujur saja Fabian tak sanggup lagi mendengar ungkapan hati Jessica, namun ia harus menguatkan dirinya untuk mengetahui bagaimana isi hati Jessica padanya sebelum ia pergi memulai hidupnya yang baru.
Jessica terdiam sejenak, manik matanya memperhatikan Fabian yang tengah menangis tersedu-sesu dihadapannya, pria itu tak lagi malu menumpahkan air matanya dihadapan wanita yang begitu ia cintai, bukan untuk mengambil simpati ataupun rasa iba dari Jessica, tapi pria dihadapannya itu begitu menyadari kesalahan demi kesalahannya pada wanita yang selama ini ia harapkan menjadi pendamping hidupnya.
"Aku minta maaf jika kata-kata ku melukai hatimu, aku juga minta maaf karena sekarang ataupun nanti aku tidak akan bisa membalas semua rasa cintamu, bahkan pengorbanan mu untukku selama ini, karena seperti yang kamu tahu,aku ini wanita bersuami, pahamilah posisiku sebelum kamu berharap aku mengerti posisimu, tolong jangan menuntut ku atas apa yang kamu rasakan selama ini karena diriku, karena aku tak pernah memintanya, sebenarnya tidak pantas bagiku menemui seorang pria dari masa lalu ku dibelakang suamiku seperti ini, dan jujur saja, aku tak nyaman," ungkap Jessica lagi yang kembali meremukkan hati Fabian.
"Kamu memperjuangkan aku yang sudah dimiliki orang lain dan mengorbankan perasaan mereka hanya demi aku yang tak sedikitpun menoleh padamu, bukankah itu keterlaluan? Bukankah itu sia-sia? Berapa kali aku katakan padamu berhentilah mencintaiku, lanjutkan hidupmu yang baru dengan keluarga mu yang mencintai mu, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah jadi bagian dari hidupmu , dan seharusnya sekarang kamu tak perlu menemui ku, karena ini hanya akan membuat hati mu patah dan tanpa sadar kamu sudah melukai hati Mbak Clara yang sangat sabar merawat mu. Bukankah Tuhan sudah begitu baik memberikan kesempatan kedua pada mu, dengan menghadirkan Mbak Clara dan calon anakmu? Sekarang bagaimana bisa kamu melepaskan bayangan ku yang ada di dirimu, jika kamu masih bisa melihat ku dan masih ingat menemuiku? Apa kamu ingin Tuhan kembali mengambil seseorang yang sangat mencintaimu seperti yang sudah terjadi hum? Pergilah Om, lupakan aku, lupakan semua rasa mu padaku! Kita tutup semuanya disini. Pergilah !! Dia pasti sedang cemas menunggu mu di rumah! Karena aku yakin kamu pergi tanpa berpamitan dengannya, dan tolong lepaskan aku dari perasaan mu, biarkan aku bahagia bersama suamiku," ucap Jessica yang kemudian beranjak dari kursinya. Jessica merasa sudah cukup ia berbicara panjang lebar dengan Fabian. Ia rasa ia sudah terlalu lama meninggalkan suaminya di Ballroom.
__ADS_1
Jessica membalikkan tubuhnya, ia melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan Fabian. Fabian yang melihat Jessica pergi meninggalkannya, langsung saja berlari mengejar langkah Jessica dan memeluknya dari belakang dengan kedua tangannya melingkar di leher Jessica.
"Maafkan aku, maafkan aku... Maafkan aku dengan perasaan cintaku yang selalu melukai mu, biarkan aku memeluk mu hanya sesaat Jess, sebelum aku pergi darimu." Ujar Fabian dengan suara terisak saat memeluk Jessica.
"Ini salah, lepaskan aku! Aku tak mau menyakiti perasaan suamiku," pinta Jessica dengan kedua tangannya yang berusaha melepaskan lengan Fabian yang melingkar di lehernya.
"Aku tahu ini salah, aku tahu kamu sangat menjaga hati suami mu, betapa beruntungnya dia mendapatkan mu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi setelah ini. Berjanjilah padaku, suatu hari nanti, jika Tuhan mempertemukan kita, anggaplah kita tak pernah saling mengenal, tolong acuhkan aku, jangan tatap manusia hina ini yang berani-beraninya melukai mu," balas Fabian yang mengecup kepala Jessica.
Endah yang melihat sanga adik terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Fabian, menyingkap gaunyang dikenakan olehnya, ia mengambil pistol yang ia selipkan di pahanya. Ia berjalan mendekati Fabian.
__ADS_1
"Lepaskan adikku! Jangan memaksa ku berbuat nekat!" Ucap Endah dengan mengarahkan pistol di kepala Fabian.