Cinta Jessika

Cinta Jessika
Fabian adalah Monster


__ADS_3

Disaat keluarga kecil Nico sedang menikmati makan malam bersamanya dengan suasana hangat untuk pertama kalinya.


Disebuah pesawat yang sedang mengudara dalam penerbangan terakhirnya hari ini, ada seorang wanita yang sedang menelan kekecewaan, setelah dirinya terhempas oleh orang yang sangat di sayanginya. Sosok orang yang selama ini ia kuasai.


Dialah Cynthia, dia memutuskan untuk kembali ke kota J untuk bertemu langsung dengan Diego. Ia ingin mengajak Diego untuk bekerja sama dalam memporak-porandakan rumah tangga Jessica dan Andre.


Sedangkan di sudut lain, Fabian yang tak bisa hidup lepas dari bayang-bayang Jessica secara tidak langsung membuat Margareth dan ketiga anaknya menderita tanpa ia sadari.


Hati Margareth begitu tersakiti terus-menerus dengan sikap Fabian yang mengaulinya dengan fantasinya yang hanya terisi bayang-bayang Jessica.


"Cukup Bie, aku sudah tak mau lagi melayani nafsumu yang menganggap diriku ini Jessica. Hentikan kegilaan mu Bie!" Ucap Margareth yang menyelimuti tubuhnya dengan bad cover setelah permainan pertamanya berakhir dan Fabian meminta lagi setelah ia kembali melihat foto Jessica di ponselnya.


"Ok baiklah, jika kamu tak mau melayaniku, aku akan pergi. Clara pasti dengan senang hati melakukannya." Sahut Fabian yang turun dari tempat tidur. Ia langsung mengambil pakaiannya yang berada di atas lantai dan memakainya.


Margareth menangis tersedu-sedu dengan tatapan matanya terus mengikuti kemana Fabian melangkah. Setelah selesai menggunakan pakaiannya, Fabian berjalan ke arah meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Ia mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


Ia benar-benar pergi meninggalkan Margareth yang tak ingin lagi melayaninya. Ia membanting keras pintu kamar pribadinya dengan Margareth hingga suara bantingan pintunya membuat Kenzo putra yang menjadi alasan ia menikahi Margareth, yang sedang tertidur pulas akhirnya terbangun karena terkejut dan anak itu pun menangis.


Suara tangisan Kenzo yang begitu nyaring terdengar tak menghentikan langkah Kakinya meninggalkan apartemen Margareth. Ia berjalan begitu saja tanpa tersentuh hatinya menuju lift untuk ke basemen mengambil mobil miliknya.


Fabian benar-benar menuju Apartemen Clara yang letaknya tak jauh dari perusahaannya sesuai degan ucapannya dengan Margareth. Waktu yang menjelang dini hari, mungkin Clara masih terlelap dalam tidurnya atau mungkin dia sengaja tak membukakan pintu kamarnya yang ia sengaja kunci sebelum tidur.


Fabian, pria yang dulu ia kagumi dan ingin ia miliki sekarang adalah Fabian, pria yang sangat ia takuti dan hindari semenjak dia mendapatkan kekerasan se.ks.ual dari pria pujaan hatinya itu.

__ADS_1


Bugh...bughh...bughh! Fabian menggedor terus tanpa henti pintu kamar Clara yang terkunci seperti biasanya.


"Clara buka pintunya!!" Pekik Fabian berkali-kali dari balik pintu.


Clara yang terbangun dari tidurnya karena suara ketukan pintu yang di gedor Fabian, memilih untuk tidak membukaan pintu untuk CEO gilanya yang nantinya hanya akan menyiksa tubuhnya, hanya karena hasratnya pada Jessica yang ia lampiaskan pada dirinya secara brutal.


Clara menutupi tubuhnya dengan selimut dan memasang earphone bluetooth dan menyalakan musik dengan volume tertinggi. Ia melakukannya untuk antisipasi kemarahan Fabian yang akan membabi buta jika Fabian berbuat nekat masuk ke dalam kamarnya dengan mendobrak pintu kamarnya.


ia berpikir Fabian akan melihatnya tertidur sambil mendengarkan musik sehingga tidak mengetahui kedatangannya dan mendengarnya dia mengetuk pintu kamarnya berulang kali.


Tersiksa, ya Clara sekarang tersiksa karena obsesinya dengan Fabian. Pria yang dia harapkan bisa mencintainya dan membuatnya hidup dengan gelimangan harta. Keinginannya hanya tinggal keinginan yang hanya menjadi angan-angan. Ia sudah tak bisa pergi dan lari dari Fabian yang sudah menjadi monster di dalam hidupnya.


Fabian yang tak bisa menuntaskan hasratnya juga pada Clara, akhirnya memilih untuk pergi dari apartemen Clara. Ia melajukan mobilnya membelah jalan kota J di tengah malam menjelang pagi menuju perusahaannya.


"Pintunya tidak terkunci Pak Fabian, karena ada Pak Alan sedang lembur." Tutur Security yang bernama Tarom itu, yang membuat Fabian menarik alisnya heran.


"Lembur??" Tanya Fabian yang tak mengetahui apa yang di lemburkan Alan sang Asisten.


"Iya Tuan, katanya sedang menyiapkan proposal penawaran untuk perayaan ulang tahun perusahaan Batara Group." Jawab Tarom yang memang mengetahui apa yang sedang di lemburkan oleh Alan.


"Ulang tahun Batara Group?" Fabian membeo, ia memang tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.


Semenjak keterpurukannya ditinggal Jessica pergi, drastis ia tak terlalu memperdulikan perusahaannya yang ia rintis dari Nol. Semua pekerjaannya di limpahkan pada sang assisten yang setia bekerja padanya tak memandang pagi bertemu dengan pagi, lelah letih tak lagi ia rasakan.

__ADS_1


Sadar Perusahaan Batara Group ada kaitannya dengan Jessica, Fabian segera bergegas masuk kedalam perusahaan dan meninggalkan Tarom begitu saja. Ia mempercepat langkah kakinya menuju ruang kerja Alan.


Brakkk!!! Pintu ruang kerja Alan di buka kasar oleh Fabian. Membuat Alan terlonjak dari duduknya, ia sangat terkejut melihat kehadiran Fabian di hadapannya.


Ia pikir yang datang adalah setan penunggu perusahaan yang kadang kerap kali menggodanya tapi ternyata CEO perusahaan tempatnya bekerja. Alan terlihat mengelus dadanya berulang kali.


"Alan, kenapa kau tak mengatakan padaku? Jika kau sedang membuat proposal untuk perusahaan Batara Group?"tanya Fabian yang menatap tajam manik mata Alan.


"Saya sudah mengatakannya, namun Pak Fabian tak pernah bisa fokus mendengarkan ucapan saya. Jadi saya putuskan untuk saya kerjakan sendiri. Lagi pula sejauh ini saya belum menemukan kendala yang berarti." Jawab Alan yang kembali sibuk dengan kertas-kertas penting di hadapannya.


"Jadi kau akan memberitahukan ku jika kau menemukan kendala berat seperti itu?" Tanya Fabian dengan tatapan penuh artinya pada asistennya yang sudah berani bicara seenaknya pada dirinya sekarang.


"Mungkin saja seperti itu tapi sepertinya Pak Fabian tak akan peduli dengan masa depan perusahaan ini sekarang." Jawab Alan tanpa menatap wajah Fabian, bicaranya tak ramah seperti dulu, cara bicaranya ia begitu sinis.


"Kapan acara itu akan di selenggarakan Alan?" Tanya Fabian kemudian yang mengabaikan kesinisan Alan padanya.


"Dua bulan lagi, dan dalam dua hari lagi saya harus datang ke kota D untuk menyerahkan langsung proposal ini pada Tuan Andre. Beliau akan langsung memberikan penilaian layak atau tidaknya kita menggarap perhelatan besar perusahaannya itu yang akan di langsungkan di beberapa kota besar di Negeri ini." Jawab Alan yang membuat wajah Fabian berbinar.


Ia berharap bisa mendapatkan proyek besar ini dan bonusnya adalah dapat bertemu dengan wanita yang sudah menjadi istri orang yang amat sangat ia cintai.


"Dua hari lagi, aku akan ikut denganmu menyerahkan proposal ini Alan." Sahut Fabian dengan wajah sumringahnya. Ada harapan baginya untuk bertemu Jessica kembali membuatnya memutuskan untuk ikut ke kota D.


"Jessica aku akan kembali menemui mu, aku akan melepas kerinduan ku pada mu yang begitu sangat menyiksaku Jessica ku." Batin Fabian yang kembali melihat foto Jessica di layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2