Cinta Jessika

Cinta Jessika
Tak sabar


__ADS_3

Lestari, Abraham dan Dewi sudah sampai di kota J. Setelah sebelumnya pesawat jet milik Abraham telah mendarat sempurna di bandara kota J. Setibanya mereka di kota J mereka langsung menuju apartemen Louis.


Perasaan Lestari mengharu biru ada perasaan senang dan juga sedih akan bertemu dengan Endah kali ini tidak seperti biasa-biasanya. Lestari terus meminta sopir untuk mempercepat laju kendaraan yang dikemudikan sang supir. Ada Rasa Tak sabar ingin buru-buru bertemu dengan Endah, Putri kandungan yang selama ini hidup jauh dari dirinya, putri yang menjadi korban dari keegoisan seseorang karena sebuah dendam.


"Pak tolong percepat laju mobil ini, jangan di perlambat seperti ini pak, jalanan begitu lengang kenapa Bapak menjalankan mobil begitu lambat?" Pinta Lestari sambil mengomel di kursi samping pengemudi, ia seakan lupa sedang pergi bersama kedua mertuanya.


"Baik bu, saya akan mempercepat laju kendaraan ini." Sahut sang supir yang bernama Udin, namun Udin hanya mengiyakan permintaan Lestari tapi tidak menjalankannya.


"Aisss... ini masih begitu lamban Pak, tidak ada perubahan sama sekali, bisakah lebih cepat lagi. Tolong dong Pak, tekan pedal gasnya lebih dalam, ini bukan mobil tuakan Pak Supir? Kenapa jalannya seperti kura-kura?" Omel Lestari sambil memukul lengan sang sopir.


Udin sang supir yang mendapat pukulan dari Lestari sangat merasa terkejut. Untuk kali ini Ia tidak menjawab pertanyaan dan permintaan Lestari, ia malah menatap kilas wajah Lestari yang terlihat kalem dan sendu diawal pertemuan mereka di Bandara, namun sekarang sudah terlihat kilatan emosi dan amarah menatap dirinya, dengan pandangan ketidak sukanya karena ia tak kunjung menambah kecepatan.


Terang saja Udin tak menambah kecepatan, karena ia tak berani melakukannya, jika tidak di minta sang Tuan Besar yang sedang duduk manis berdua sang istri di kursi tengah mobil yang dikendarai Udin. Terlebih ia tak mengenal siapa Lestari sebenarnya, yang sudah berani-beraninya menyuruh, mengomel serta memukul dirinya.


Sedang Abraham yang duduk di bangku tengah bersama Dewi hanya bisa mengembangkan senyum mereka mendengar suara omelan Lestari yang pertama kalinya mereka dengar, Dewi benar-benar tak menyangka menantunya yang terlihat pendiam bisa juga cerewet dan mengomel seperti itu di depan mertuanya sendiri, bahkan bisa melakukan kekerasan dengan memukul sang supir karena rasa tak sabarnya ingin bertemu Endah.


Tak ingin membuat menantunya tambah marah kepada Udin, Abraham pun akhirnya meminta Udin mempercepat laju kendaraannya.


"Udin tolong percepat kendaraan ini!" Perintah Abraham dengan suara berat dan tegasnya.


"Baik Tuan." Jawab Udin kemudian menginjak pedal gas lebih dalam dari sebelumnya.


Lestari nampak cemberut dan kesal karena merasa setelah Abraham yang memintanya Udin langsung melajukan kendaraan yang di kemudikannya, lebih cepat dari sebelumnya.


"Aku harus sadar diri, aku ini siapa. Dia hanya menuruti permintaan mertua ku dan tak menganggap permintaan ku sebelumnya." Batin Lestari yang menguatkan dirinya.


Tak Berapa lama kendaraan yang dikendarai Udin pun telah sampai di lobby apartemen Louis. Lestari begitu semangat untuk turun dari mobil Begitu juga dengan Dewi. Lain halnya dengan Abraham ia terlihat santai turun dari mobil yang dikendarai oleh Udin setelah Udin membukakan pintu untuknya.


Dewi dan Lestari saling bergandengan jalan terlebih dahulu meninggalkan Abraham. Ketika merasa Abraham seakan tak menyusul langkah kaki mereka. Mereka berdua pun menghentikan langkah kaki mereka.


"Tunggu sebentar Nak, Daddy mu tertinggal jauh sepertinya." Ucap Dewi yang meminta Lestari menghentikan langkahnya seperti dirinya.


Dewi melihat Abraham yang berjalan begitu santai dan terlihat begitu malas-malasan.


"Dad, cepatlah sedikit Mommy sudah kangen sama Leon!" Pinta Dewi pada Suaminya saat ia merasa langkah Abraham terlalu lamban.


"Sabarlah Mom, semenjak ada Leon kau seperti melupakan ku, kau ini seperti tergila-gila dengan cucu mu itu." ucap Abraham kesal diminta istrinya untuk mempercepat lanfkahnya padahal ia memang sedang sengaja memperlambat jalannya.

__ADS_1


"Ah..Daddy, kau tahu sendiri aku hanya punya satu cucu laki-laki."


"Ya aku tahu kita hanya punya satu cucu laki-laki, dan kau sangat suka berduaan dengan cucu mu itu entah apa yang kalian lakukan di belakangku." Ucap Abraham lagi yang berjalan menghampiri dua wanita yang sudah tega meninggalkannya.


"Aku tidak melakukan apa-apa dengan cucu ku itu, Leon itu sangat manis memperlakukanku jadi aku sangat suka bersamanya," jawab Dewi sambil tersenyum membayangkan kembali Leon selalu menyuapinya buah-buah segar di taman yang berada di Mansion Abraham.


"Ah...untung saja Leon itu cucuku kalau bukan mungkin aku akan mengeksekusinya karena telah merebut perhatian istriku," batin Abraham.


"Dad, ayo Dad... aku takut Endah sudah pulang kerumah orang tua angkatnya dan aku tak bisa bertemu dengannya," ajak Lestari yang juga tak sabar.


"Ahh... kalian ini... sama-sama tidak sabaran, apa kalian tidak tahu aku ini sudah tua , aku harus berhati-hati mengatur langkah ku tak bisa asal cepat-cepat seperti kalian." Ucap Abraham kesal dengan dua wanita di hadapannya.


"Alasan!! Bilang saja kau sebenarnya cemburu jika aku berdekatan dengan cucu kita itu bukan?"tebak Dewi pada Abraham.


"Ayo Lestari, kita tinggalkan Daddy mu yang sengaja memperlambat jalannya." Ajak Dewi pada menantunya.


Mereka berdua kembali meninggalkan Abraham. Mereka naik lift terlebih dahulu tanpa menunggu Abraham.


"Mereka benar-benar tega sekali, meninggalkan aku seorang diri. Leon dan Endah sudah membuat mereka meninggalkan ku." batin Abraham yang terlihat sedih karena di tinggal Dewi dan Lestari.


Sementara di dalam lift ketika Dewi menekan tombol angka yang berada di samping pintu lift, Lestari menfajukan pertanyaan kepada ibu mertuanya yang masih nampak awet muda itu.


"Apapun tentang putramu aku mengetahuinya Nak, terimakasih sudah melahirkan cucu laki-laki yang sebaik dan setampan Leon untukku."jawab Dewi dengan mwngembangkan senyumnya kemudian merangkul tubuh Lesatari yang lebih pendek dari dirinya.


"Sama-sama Mom, aku juga berterima kasih karena Mommy sudah sangat menyayangi Putraku," balas Lestari dalam pelukan ibu mertuanya.


Ting! Suara pintu lift berbunyi. Lift berhenti di lantai 7 tempat dimana unit apartemen khusus berhenti.


Dewi melepaskan pelukannya pada tubuh Lestari kemudian ia mengajak Lestari untuk keluar dari dalam lift.


"Ayo Nak, kita temui mereka!" Ajak Dewi pada menantunya.


Sambil bergandengan tangan Dewi dan Lestari keluar dari dalam lift. Mereka melangkah bersama menuju unit apartemen Leon. Dewi juga menunjukkan di mana unit apartemen Jimmy asisten Andre yang dicintai oleh Endah saat mereka melewatinya.


Dewi dan lestari sama-sama mengetahui Endah yang sangat menyukai Jimmy karena saat di acara pernikahan Jessica dan Andre, Endah sempat menceritakan perasaannya cintanya pada Jimmy kepada Lestari dan saat Endah bercerita dengan Lestari tak sengaja didengar oleh Dewi. Jadilah mereka berdua pendengar sejati curahan hati Endah mengenai perasaan cintanya yang ia pendam kepada Jimmy dari awal pertemuan mereka.


Saat berada di depan pintu apartemen Andre Dewi menawarkan Lestari untuk mampir terlebih dahulu ke Unit apartemen Andre dan Jessica namun tawaran dari Dewi ditolak oleh Lestari. Dengan alasan ia ingin menemui Endah terlebih dahulu.

__ADS_1


Kini mereka berada di depan pintu unit apartemen Leon Dewi dengan semangat menekan tombol bel yang berada di pintu unit apartemen Leon.


Saking tidak sabarnya Dewi dan Lestari ingin bertemu dengan orang yang mereka temui, hingga membuat meraka bergantiab menekan tombol bel yang ada di pintu unit apartemen Leon terus - menerus tanpa henti.


Leon yang berada di dalam unit apartemennya tidak mendengar bunyi bell yang begitu berisik yang di timbulkan oleh Lestari dan juga Dewi, karena ia sedang mandi.


Tapi suara bel yang begitu berisik itu terdengar oleh Adam yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruang televisi. Adam tak sengaja tertidur saat sedang menonton televisi sembari menunggu kehadiran kedua orang tuanya dan adik iparnya itu, karena suara bilang sangat berisik dan tidak kunjung berhenti membuat ia terbangun dari tidurnya dengan wajah yang baru bangun mata yang memerah rambut yang acak-acakan Adam bangun berusaha mengumpulkan nyawanya untuk berjalan menuju pintu.


"Tunggu!!!" Ucap Adam dengan suara beratnya, suara khas orang yang baru bangun tidur.


Suara Adam itu tak di denger oleh Dewi dan juga Lestari. Dua wanita yang berada di depan pintu masih saja tak berhenti menekan tombol bell, hingga Abraham datang menghampiri mereka, meraka pun tak mengentikan aksi iseng mereka itu.


"Mom, please stop it," pinta Abraham pada Dewi.


Saat Dewi menghentikan aksinya menekan bell, Lestari malah yang menekan Bell. Melihat menantunya melakukan hal yang sama seperti istrinya. Abraham pun meminta Lestari menghentikan aksinya.


"Lestari... stop, Jangan tiru ibu mertua mu ini!" ucap Abraham sembari melirik kearah Dewi. Lestari pun menurut ia berhenti menekan tombol Bell, saat Lestari berhenti Dewi malah mengulangi lagi menekan tombol Bell.


"Mom please stop...jangan seperti anak kecil!"pinta Abraham.


Dewi mengacuhkan permintaan Abraham dia masih saja menekan tombol bell sesuka hatinya. Hingga akhirnya pintu apartemen pun terbuka. Wajah bangun tidur Adam menyambut kehadiran mereka.


"Pantas lama sekali kau membukakan pintu ternyata kau tertidur son," ucap Abraham saat melihat wajah Adam yang begitu berantakan.


"Aku merasa lelah hati dan fikiranku mengurusi anak-anak Nico jafi aku butuh istirahat Dad," sahut Adam membalas kata-kata Abraham.


"Minggir nak, Mommy mau masuk kau menghalangi jalan Mommy," ucap Dewi yang menerobos masuk kedalam apartemen dengan menyingkirkan tubuh kekar Adam.


"Leon... Leon sayang Nenli mu datang Nak," pekik Dewi yang memanggil - manggil Leon. Nenli adalah panggilan sayang Leon untuk Dewi. Dewi sangat senang dipanggil Nenli oleh Leon padahal Nenli adalah singkatan dari nenek-nenek lincah.


"Dia ada di kamarnya Mom, Mom panggil sekeras apapun dia tak akan mendengarnya karena sepertinya dia sedang mandi." Sahut Adam untuk menghentikan Dewi yang terus saja berteriak.


" Iya tahu tuh Mommy seakan tergila-gila dengan cucunya sendiri." Tambah Abraham.


"Bukankah kau sama seperti Mommy, sayang saja Jessica sudah bersuami coba saja kalau belum?!" Ucap Adam membela Mommynya.


"Kau juga begitu Dams, kau habiskan waktu mu untuk menonton apapun yang dilakukan Jessica saat assistenmu mengurungnya di Mansionku." Abraham membela diri.

__ADS_1


"Itu karena dia lucu," balas Adam.


Hati Lestari begitu senang karena putra dan putrinya bisa di terima dan mendapatkan kasih sayang darikan keluarga suaminya, dulu dia pernah berfikir darah dagingnya akan di tolak dan di benci oleh keluarga suaminya karena telah lahir dari rahim wanita yang tak sederat dengan mereka.


__ADS_2