
Hari sudah menjelang sore, Nico yang baru pulang kembali dari kegiatan memancing bersama ketiga Besannya terlihat sangat lelah. Seakan tak perduli dengan kelelahan sang Suami. Lestari terus merengek agar Nico segera bersiap-siap untuk ikut ke Mansion Abraham.
Mendengar rengekan yang tak kunjung berhenti dan wajah sang istri yang mulai merajuk. Dengan berat hati Nico mengikuti kemauan sang istri.
Sementara Endah dan Jessica. Duo ibu hamil ini tengah asyik menonton drama Korea kesukaan mereka di ruang televisi dengan ditemani oleh Angela dan juga Bi Lastri untuk mengusir kegusaran hati mereka. Sedang Bowo tengah sibuk menyiapkan mobil yang berukuran besar untuk mereka berangkat bersama dalam satu mobil ke Mansion Abraham.
Ketika Nico sudah siap, Lestari dengan suaminya itu menghampiri kedua anak perempuannya yang berada diruang televisi. Jessica sudah terlihat mengantuk seperti biasanya jika perutnya sudah terisi penuh ia akan mudah tertidur.
"Ayo putri-putri ayah yang cantik! Ayah sudah siap, maaf sudah membuat kalian menunggu lama." Ucap Nico yang malah duduk diantara kedua putrinya. Ia merangkul tubuh kedua putrinya yang tengah hamil itu.
"Ayah, aku ngantuk bisakah perginya besok saja?" Tanya Jessica dengan gayanya merengek seperti anak kecil yang tak ingin ikut.
"Hayolah putri Ibu yang cantik, jangan beralasan untuk membatalkan kepergian kita ke Mansion Kakekmu, sayang! Sekarang kamu akan bilang mengantuk dan nanti malam kamu akan merasakan kesepian dan gelisah lagi hum. Kita coba dulu satu malam disana sayang, kalau nanti malam kamu masih merasa gelisah dan tak berubah, besok pagi kita kembali lagi. Bagaimana sayang?" Rayu Lestari yang duduk di sofa lain di dekat sofa kedua putri dan suaminya duduk.
"Ok baiklah Ibu." Jawab Jessica yang hatinya mulai gusar dan jantungnya berdetak tak menentu merasa takut yang berlebihan.
Berkali-kali Jessica menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ternyata tak hanya Jessica, Endah pun melakukan hal yang sama.
"Tenanglah! Aku ada bersamamu dan akan selalu menjagamu, adikku." Endah menenangkan Jessica yang duduk di kursi paling belakang mobil Alphard bersama dengan dirinya. Ia terus menggenggam tangan adiknya yang makin lama makin dingin karena merasa gelisah dan takut berlebihan.
"Ya Tuhan, lindungi kami. Kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu sekarang?" Batin Jessica yang tak tenang.
"Endah gue ngerasa akan ada sesuatu yang menimpa kita, gue takut Ndah." Ucap Jessica dengan berbisik di telinga sang Kakak.
"Jangan takut Jess! Lihatlah banyak pengawal yang menjaga kita! Tidurlah dibahu gue biar rasa cemas dan gelisah lo berkurang!" Balas Endah yang menenangkan sang Adik meskipun dia juga merasakan insting yang sama.
Endah terus berusaha menidurkan sang Adik agar tak terus merasa cemas. Butuh waktu lima belas menit membuat adiknya itu tertidur.
Perjalanan menuju Mansion Abraham berjalan lancar tanpa hambatan apapun dari Mansion Andre. Sampai di jalan besar menuju Mansion Abraham tiba-tiba mobil pengawal yang mengikuti dari belakang semua menghilang. Bowo melihat keanehan dari spion tengah mobil.
"Kemana mobil para pengawal?" Tanya Bowo dengan suara kecil yang hanya bisa di dengar oleh Angela.
"Kenapa Bow?" Tanya Angela.
__ADS_1
"Bersiaplah Angela! Sepertinya hal buruk akan terjadi. Mobil pengawal di belakang menghilang." Jawab Bowo yang sudah menambah kecepatan mobilnya.
Angela yang mendengar ucapan Bowo segera membuka laci dashboard mobil. Ia mengambil senjata apinya dan mempersiapkan senjatanya itu.
"Mereka kembali Bow, tapi sepertinya didalam mobil itu bukan mereka. Tambah kecepatan mobil mu Bow!" Ucap Angela yang melihat dari spion kiri mobil.
Bowo segera menambah kecepatan mobilnya diatas rata-rata.
"Tembak ban mobil mereka Angela!" Perintah Bowo pada Angela.
Angela segera pindah ke kursi tengah dengan pistol ditangannya, Bowo sudah membuka sunroof, Angela akan menembak dari sana. Angela yang berpindah dengan membawa pistol membuat Lestari dan Nico terkejut.
"Ada apa Angela?" Tanya keduanya yang terkejut bersamaan.
"Ada seseorang yang sedang mengikuti kita dengan menggunakan mobil para pengawal kita. Tolong tenang Tuan dan Nyonya. Saya dan Bowo akan mencoba mengatasinya." Jawab Angela.
"Jangan melakukan penembakan dulu Angela! Itu terlalu beresiko!" Larang Nico yang membuat Angela mengurungkan tindakannya.
Nico segera menghubungi sang Daddy namun tidak terhubung. Akhirnya dia menghubungi sang Besan, siapa lagi Besan yang bisa di andalkan jika bukan Brata.
"Brata kami di ikuti oleh orang tak dikenal, mobil pengawal kami sudah di bajak oleh mereka." Jawab Nico dengan rasa takut dan cemasnya.
"Ikuti saja permainan mereka Nico, bersikaplah tenang! Jangan lakukan apapun apalagi perlawanan! Aku akan segera datang menyelamatkan kalian bersama para menantumu." Balas Brata yang membuat Nico tercengang mendengarnya.
"Apa maksud mu Brata? Apa kamu sengaja membiarkan kami dalam bahaya?" Tanya Nico yang memang tak mengerti dengan jalan pikiran Besannya itu.
"Tidak seperti itu kawan, kamu cukup tenang ikuti saja apa kataku, kalian tak akan dalam bahaya jika mengikuti apa kata-kata ku untuk tidak melakukan perlawanan." Jawab Brata yang akhirnya diikuti oleh Nico
"Baiklah, jika sampai terjadi sesuatu pada keluarga ku karena mengikuti saranmu, aku akan sangat membenci mu Brat." Ucap Nico yang sedikit mengancam.
"Percayalah Nico! Kalian akan baik-baik saja. Tolong berikan ponselmu pada Angela!" Ucap Brata yang kemudian meminta ponsel Nico diberikan pada Angela.
Angela terlibat pembicaraan yang cukup serius, Angela terus berkata,"Baik Tuan," berkali-kali dan hingga akhirnya ponsel itu terputus dan Angela mengembalikan ponsel itu dan duduk kembali di kursi depan.
__ADS_1
"Bow, Tuan Brata memerintah kita untuk membiarkan mereka membawa Tuan dan Nyonya- Nyonya kita tanpa perlawanan. Setelah itu kita di minta ke Bandara menjemput Tuan Andre dan Tuan Jimmy. Sekarang kurangi kecepatan mu Bow!" Terang Angela pada Bowo.
Bowo segera mengurangi kecepatan mobilnya, dan tak lama berselang, mobil pengawal yang sudah di bajak oleh penjahat segera memotong jalan mobil yang di kemudian Bowo.
Beberapa orang yang tak di kenal keluar dari mobil itu dengan senjata api di tangan mereka. Lestari dan Nico terlihat begitu terkejut dan takut. Nico melihat kedua putrinya yang tertidur di kursi paling belakang.
Tok...tok!! Kaca mobil di ketuk dengan kencang dari arah Jendela sebelah kanan mobil. Bowo membuka kaca jendela mobil itu.
Seseorang menodongkan pistol kearah kepala Bowo.
"Keluar atau saya tembak kepalamu!" Ancam Pria itu.
Tanpa perlawanan Angela dan Bowo keluar dari mobil. Mereka segera naik kedalam mobil dan membawa mobil itu pergi ke suatu tempat yang Angela dan Bowo tidak tahu.
Setelah bayangan mobil itu menjauh Angela segera menghubungi Tuan Brata, memberitahukan posisi mereka dan tak lama kemudian seseorang mengantarkan sebuah mobil mewah yang di dalam bagasi sudah terdapat senjata canggih yang cukup banyak.
"Hari ini kita bersenang-senang Bow." Ucap Angela yang sedang menggunakan rompi anti pelurunya.
"Ya sudah lama kita tidak bersenang-senang Angela." Jawab Bowo yang juga tengah mengenakan rompi anti pelurunya.
Setelah berada di dalam mobil, Angela segera menghubungi Jimmy, memberitahukan kepada Jimmy mengenai penculikan yang terjadi kepada keluarga istrinya, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuan Brata padanya.
"Hubungi Jimmy ketika mereka sudah membawa keluarga istrinya pergi, jangan lupa untuk pancing emosi Jimmy, Angela." Ucap Brata saat di panggil telepon bersama Angela.
"Tuan, maafkan saya, Nyonya Endah dan Nyonya Jessica di culik. Kedua orangtuanya ada bersama mereka. Mobil kami di rebut paksa oleh mereka. Saya tidak tahu kemana mereka membawa Tuan dan Nyonya- Nyonya kami Tuan, karena kami ditinggalkan di tengah jalan." Ucap Angela yang membuat Jimmy terkejut.
Rahang pria itu mengeras, tangan kirinya mengepal sempurna.
"Kurang ajar!!" Pekik Jimmy yang kemudian memutus panggilannya dengan Angela.
"Ada apa Jim?" Tanya Andre yang melihat kemarahan tiba - tiba Kakak iparnya.
"Istri-istri kita dan kedua mertua kita di culik. Kita harus kembali ke kota D hari ini juga Ndre." Jawab Jimmy.
__ADS_1
"APA??? Pantas saja hatiku gusar ternyata ini penyebabnya. Cepat siapkan pesawat Jet kita Jim. Kita berangkat sekarang juga." Sahut Andre yang tak kalah terkejut.