
Terjadi kegaduhan ketika rombongan Endah membawa Jessica yang tengah pingsan tak sadarkan diri. Para Bodyguard berlarian ada yang mengambil brankar, ada yang segera memanggilkan Dokter dan para medis lain dan Endah dengan suara Toanya yang berteriak.
"Hai kalian Nyonya muda pemilik rumah sakit ini pingsan, cepat kalian tangani, Jangan kalian di diam saja hah!" Pekik Endah dengan suara toanya yang cempreng ketika sudah berada di dalam ruang IGD
"Endah brisik banget loh, orang yang sakit jantung bisa langsung koit denger suara lu yang cempreng itu. Ini tuh rumah sakit Ndah bukan di hutan gak usah teriak-teriak, lu gak liat bodyguard ade lu udah pada lari kocar-kacir buat ngurusin Ade lu yang udah jadi ratu benaran ini." Ucap Anna yang menegur Endah.
"Berisik lu Ann, lama-lama lu mirip banget kaya emak-emak. Ngomel mulu, lu gak jadi gue sih, gue tuh cemas ade gue pingsan lama banget kaya gini gak sadar-sadar gara-gara anak tikus got itu."
"Endah, lu jangan ngatain dia kaya gitu, gak baik tau gak, lu tuh lagi hamil." Tegur Anna lagi.
"Ahhh... Anna lu bawel banget, gak asyik lu." Ucap Endah dengan rasa kesalnya.
Karena kesal, Endah malah meninggalkan Anna yang sedang menemani Jessica yang masih pingsan menunggu Dokter datang untuk memeriksakan kondisinya.
Endah berjalan penuh rasa kesal, menuju meja bulat yang berisikan perawatan dan beberapa Dokter yang sedang memeriksa reka medis para pasien lain.
"Hai, kalian! Apa kalian tak mendengar saya berteriak-teriak memanggil kalian untuk memeriksakan kondisi adik saya hah!" Omel Endah dengan menggebrak meja bundar tersebut membuat Dokter jaga dan suster yang sedang sibuk dengan kegiatannya dibuat terkejut.
"Mohon bersabar Nona, kami sedang menangani pasien lain, disini kami juga sedang bekerja bukan hanya duduk-duduk saja." Jawab salah satu Suster dengan beraninya menatap tajam Endah.
"Oh ya, sepertinya suami saya harus melakukan pembersihan tenaga medis di rumah sakit ini dan orang yang pertama harus di depak suami saya adalah kamu orangnya." Ucap Endah yang membalas tatapan tajam suster yang ada di hadapannya.
"Memangnya siapa suami Nona? Beraninya Nona mengancam saya." Balas Suster yang bernama Mirna itu yang langsung berdiri dari duduknya.
"Hah, ternyata kamu punya waktu meladeni saya berdebat tapi tidak punya waktu untuk memeriksakan kondisi adik saya yang merupakan Nyonya muda dari pemilik rumah sakit ini." Tutur Endah dengan senyum miringnya yang malah mendapat balasan tertawaan dari rivalnya itu.
"Hahaha tolong jangan berhayal terlalu tinggi Nona. Seharusnya Anda datang ke rumah sakit jiwa bukan datang kerumah sakit ini." Ucap Suster yang bernama Mirna itu disela tawanya.
Bukannya menimpali ucapan Suster Mirna, Endah malah ikut tertawa, bahkan tawa Endah malah terdengar menakutkan. Dokter yang sedang meneliti hasil reka medis pasien sampai melirik sejenak ke arah Endah dan berkata,"Sayang sekali, cantik-cantik tapi kurang waras."
"Sayang, apa yang kamu tertawakan? Apa ada yang lucu atau sedang terjadi suatu masalah disini hum?" Tegur Jimmy yang berdiri disamping sang istri yang merasa curiga dengan tawa Endah yang menakutkan yang ia dengar.
Jangan ditanya bagaimana reaksi Suster Mirna melihat sosok Jimmy dihadapannya memanggil wanita yang ia hina dengan sebutan sayang.
"Tu-Tuan... Jim-Jimmy." Ucap Suster Mirna dengan tergagap.
Belum sempat Endah menjawab pertanyaan suaminya dan mengadukan kesalahan Suster Mirna, teriakan Andre sudah menggelegar bagaikan petir di ruang IGD rumah sakit Central Kusuma. Ia begitu marah melihat sang istri belum mendapatkan penanganan apapun.
"MANA DOKTER!!! KENAPA ISTRIKU BELUM JUGA DIPERIKSA HAH!!! JIMMY PECAT SEMUA DOKTER DAN SUSTER YANG BERTUGAS HARI INI DI RUANG IGD!!" Pekik Andre dari bilik Jessica.
"Hahahaha kau sudah mendengarnya Suster Mirna. Bersiaplah untuk say goodbye dengan seragam kebesaran mu itu Suster Mirna." Tawa Endah mengejek Suster Mirna dengan membaca name tag yang tersemat di dadanya.
__ADS_1
Para Dokter dan suster langsung berlari tunggang langgang mendengar kemarahan Andre. Mereka segera menghampiri brankar Jessica, dimana ada Andre yang tengah berdiri penuh kecemasan dan amarahnya.
"Tuan maafkan kami, kami tidak tahu kalau Nyonya Muda berada di sini." Ucap salah satu Dokter yang malah makin membuat Andre marah.
"Kalau dia bukan istri ku, apa kalian tidak mau memeriksanya hah? Apa gaji yang aku berikan masih tergolong kecil bagi kalian hingga kalian bersikap seperti ini hah?" Sahut Andre dengan amarahnya.
"Tidak begitu Tuan, maaf jika kata-kata saya salah." Sahut Dokter itu sambil menundukkan pandangannya.
"Periksa istriku dengan benar, jika terjadi apa-apa dengan istriku, aku tak akan segan-segan mengusir kalian semua dari dunia ini." Ancam Andre yang membuat semua orang yang berdiri mengerumuni brankar Jessica menelan ludahnya dengan bersusah payah.
Setelah dilakukan pemeriksaan Jessica segera dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Saat Jessica dipindahkan, brankar Jessica bertemu dengan brankar Cynthia yang baru saja tiba.
Nico mendapatkan tatapan sinis tak hanya dari Endah dan Leon, tapi juga dari kedua menantunya dan juga satu calon menantunya, Anna.
Mereka menatap sinis Nico tanpa menyapanya. Mendapatkan tatapan sinis dari mereka semua membuat Nico merasa bersalah dan terkucilkan apalagi. Suara pekikan dan tangis Lestari yang memanggil nama Jessica makin menambah hatinya tertusuk ribuan pisau.
"Kenapa dengan Jessica? Apa yang telah terjadi padanya? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padanya setelah aku menuduhnya tadi?" Nico bermonolog di dalam hatinya.
"Jessica maafkan Ayah, maafkan Ayah yang tak bisa mengontrol diri ayah tadi. Semoga kamu dan kandungan mu baik-baik saja Nak dan semoga Kakakmu Cynthia dan kandungannya juga baik-baik saja." Ucap Nico yang hanya bisa ia ucapkan di dalam hatinya ketika ia melihat Lestari memeluk tubuh Jessica penuh kesedihan yang menyayat hatinya.
Dua jam telah berlalu. Cynthia masih dalam kondisi kritisnya, Cynthia yang mengalami pendarahan hebat memerlukan banyak transfusi darah sedang anak dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan.
Dokter sudah menyampaikan hal ini kepada Nico dan Berry. Dokter yang menangani Cynthia menyampaikan permohonan maafnya akan kenyataan buruk yang harus ia sampaikan dengan berat hati atas kegagalan mereka menyelamatkan bayi dalam kandungan Cynthia, tak lupa juga ia menyampaikan kosongnya golongan darah yang mereka butuhkan untuk Cynthia. Dokter menyarankan Nico dan Berry mencari pendonor dan juga mencari kantung darah di PMI sesuai golongan darah Cynthia.
Golongan darah Nico A sedang Cynthia B. Begitu pula dengan Berry yang tidak memiliki kesamaan golongan darah dengan Cynthia. Dengan sedikit rasa kemanusiaan Berry masih mau menolong Cynthia untuk mencarikan kantung darah sesuai golongan darah Cynthia di PMI terdekat sesuai anjuran pihak rumah sakit.
Dengan rasa masih tak percayanya Nico mencari tahu dimana ruang rawat Jessica untuk menemui Lestari. Dia berharap Lestari memiliki golongan darah yang sama seperti Cynthia.
"Ceklek" suara handle pintu terbuka.
Sosok Nico muncul dari balik pintu yang terbuka. Seluruh pasang mata yang ada di ruang rawat Jessica menatapnya.
"Bu, bisa kita bicara empat mata sebentar, ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan pada Ibu." Ucap Nico yang menatap wajah sang istri yang sudah membuang pandangannya setelah mengetahui kedatangan dirinya.
"Bicaralah disini, tidak ada yang harus di tutupi dari anak dan menantuku disini." Ucap Lestari dengan ketusnya tanpa memandang wajah lawan bicaranya.
Sesak sekali dada Nico saat mendengar nada bicara Lestari yang tak pernah ia dengar selama ini.
"Bu, sebaiknya kita bicara di luar, aku tidak mau Jessica terganggu dengan pembicaraan kita." Ucap Nico yang mencoba merayu Lestari agar mau bicara empat mata dengannya di luar.
"Sejak kapan kau perduli dengan putri bungsu ku? Bukannya di pikiran mu hanya ada Cynthia anak kesayanganmu itu." Ucap Lestari lebih ketus dari sebelumnya dan kali ini menatap tajam wajah suaminya.
__ADS_1
"Bu, tolong maafkan aku, cukup berkata-kata yang menyakiti hatiku."
"Tak semudah itu memaafkan mu, kau sudah cukup membuat anak-anak ku terluka demi anak yang bukan darah daging mu. Teganya kau menuduh putriku hingga ia masuk rumah sakit seperti ini." Ucap Lestari dengan linangan air mata.
"Aku tahu kau datang kesini pasti karena Cynthia putri kesayanganmu itu membutuhkan pendonor darah, bukan? Aku katakan pada mu, golongan darahku A sama seperti dirimu, jika golongan darah dia bukan A ataupun O seperti anak-anak kita sudah dapat kau pastikan sendiri dia itu siapa mu, Tuan Nicholas." Ucap Lestari dengan penuh penekanannya.
Setelah Lestari meyelesaikan ucapannya, Nico merasa kakinya tak lagi bertenaga bahkan serasa tak bertulang, ia jatuh terkulai lemah di muka pintu. Tak ada satupun dari mereka tergerak menolongnya. Jimmy yang baru saja satu langkah berjalan menghampiri Nico. Tangannya langsung di cekal oleh Endah.
"Babang, Jangan bantu dia yang tak bisa menerima kehadiran ku sebagai putri kandungnya!" Ucap Endah dengan suara yang sengaja ia keraskan agar Nico mendengarnya.
"Endah... Ayah tak pernah berkata seperti itu pada mu Nak." Sangkal Nico yang terduduk lemas di lantai.
"Ya memang, mulut mu memang tak pernah berkata seperti itu tapi gestur dan sikapmu yang berkata seperti itu pada ku. Aku ini manusia bukan batu yang tak punya perasaan. Selama ini aku sangat kenyang di acuhkan jadi aku sangat mengenal bagaimana rasanya tak diterima." Terang Endah yang membuat Nico meneteskan air matanya.
"Maafkan Ayah Endah...maafkan Ayah... Ayah mohon maafkan kesalahan Ayah." Ucap Nico dengan suara yang terisak.
Tak mau istirahat istrinya terganggu. Andre yang masih tak terima akan sikap sang Ayah mertua terhadap istrinya segera berteriak memanggil Angela ataupun Bowo.
"ANGELA....BOWO..." Pekik Andre memanggil keduanya.
"Iya Tuan." Jawab keduanya yang berdiri di belakang Nico yang masih terduduk dilantai.
"Bawa Tuan Nico pergi dari sini dan jangan biarkan dia muncul dihadapan istriku lagi!" Perintah Andre yang membuat semuanya terkejut.
"Andre!!!" Pekik Nico yang merespon perintah sang menantu pada anak buahnya.
"Kak, jangan keterlaluan! Walau bagaimanapun dia Ayah mertua mu." Protes Anna.
"Aku tak akan keterlaluan jika Tuan Nico tidak bersikap keterlaluan terlebih dulu pada istriku. Bukankah pernah aku sampaikan dulu, aku tak perduli siapapun yang menyakiti istriku, mau dia orang lain ataupun saudara kandungnya bahkan orang tuanya sendiri sekali pun. Aku akan membalasnya." Ucap Andre dengan wajah dinginnya dan suara yang keras dan tegasnya yang tak lagi memanggil Nico dengan panggilan Ayah lagi.
Mendengar seluruh ucapan Andre Angela dan Bowo segera membawa Nico keluar dari ruang rawat Jessica tanpa perlawanan berarti dari Nico. Nico tak bisa berkata apa-apa lagi. Yang ada di dalam dirinya hanya sebuah penyesalan.
"Jim, keluarkan Cynthia dari rumah sakit ini, aku tidak Sudi rumah sakit milikku menangani orang yang sudah berani coba-coba melakukan pembunuhan terhadap istri dan kedua calon anakku." Perintah Andre kepada Jimmy yang langsung mendapatkan protes lagi dari Anna
"Kak, Jangan bersikap kejam seperti ini! Jimmy jangan lakukan itu!." Protes Anna.
"Diam kau Anna! Jangan ikut campur! Jim cepat lakukan segera!" Perintah Andre lagi dengan nada meninggi.
Anna terkejut mendapat bentakan dari kakak sepupunya itu. Anna pun langsung menangis tersedu-sedu dan Leon segera menarik tubuh mungil Anna kedalam pelukannya. Leon tak berkata-kata apapun untuk menenangkan Anna. Ia hanya terus memeluk dan membelai rambut panjang Anna yang tergerai.
Ia diam bukan karena tak berani pada Andre dan menerima Anna di perlakukan seperti itu oleh adik iparnya sekaligus Kakak sepupu calon istrinya, dia diam karena tak ingin memperkeruh suasana dan berusaha memahami kondisi Andre. Karena Andre saat ini sedang dalam kondisi emosional dan merasakan rasa khawatir yang tinggi karena Jessica belum sadar juga dari pingsannya sejak tadi. Meskipun Dokter berkata dia baik-baik saja dan kini Jessica hanya sedang tertidur tapi Andre masih tetap khawatir jika Jessica belum membuka matanya.
__ADS_1
Berbeda dengan Anna yang melarang Andre melakukan pengusiran terhadap Cynthia dari rumah sakit milik keluarga besarnya itu. Endah malah mendukung habis-habisan perintah adik iparnya kepada suaminya itu dan ia malah menyuruh dan menyemangati sang suami untuk segera cepat melakukan perintah adik iparnya untuk mengusir Cynthia yang ia sebut anak tikus.