
Di kota D, Abraham beserta istri dan juga menantunya Lestari sedang berada di bandara mereka akan pergi ke kota J bersama-sama tanpa kehadiran Nico bersama mereka.
Setelah mereka masuk ke dalam pesawat dan pesawat telah lepas landas Abraham mengajak Lestari untuk berbicara serius.
"Lestari kemarilah nak! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Abraham.
Lestari yang mulanya duduk berjajar dengan Abraham dan Dewi pun pindah ke kursi yang berhadapan dengan Abraham dan Dewi.
"Ya Dad, ingin membicarakan hal penting apa dengan ku Dad?" Tanya Lestari pada Abraham.
"Lestari, sebelum aku bicara aku ingin bertanya dulu tentang perasaan mu."
"Perasaan? Perasaanku yang bagaimana maksud Daddy?" Tanya Lestqri yang tak mengerti arah pembicaraan ayah mertuanya itu.
"Perasaan kau sebagai seorang ibu." Jawab Abraham.
"Perasaanku sebagai seorang ibu? Apa ada yang salah dengan perasaanku sebagai seorang ibu Dad? Apa ini karena Cynthia yang hamil di luar nikah? Jika ia tolong maafkan aku yang tak becus mendidiknya, hingga mencoreng nama besar mu, Dad." Ucap Lestari dengan rasa penuh penyesalan
"Aku tidak ingin menilai mu benar atau salah. Aku hanya ingin bertanya padamu sebagai seorang ibu. Apakah kau tak menaruh curiga pada putri yang kau besarkan selama ini?"
Maksud Daddy Putriku yang mana Cynthia atau Jessica? Tanya Lestari.
"Jangan balik bertanya padaku nak! Aku ingin kau menjawab sejujurnya tentang apa yang kau rasakan selama ini saat membesarkan kedua putrimu itu."
"Kedua putriku itu memang berbeda Dad, aku rasa setiap anak memang berbeda tidak ada yang sama, tapi aku kadang suka merasa Cynthia seperti bukan anakku, hatiku dan hatinya seakan tak bisa menyatu, kadang aku merasa aneh pada diri ku sendiri, ada rasa cemburu ketika dia terlalu dekat dengan Nico padahal Nico itu adalah ayahnya tapi tidak dengan Jessica. Seperti saat ini hatiku begitu sakit saat Nico lebih memilih menemani Chintya di mantion daripada mendampingi Leon yang sangat membutuhkan dia dalam Konferensi pers besok."
"Jika aku katakan yang sebenarnya padamu bahwa Cynthia bukan anakmu apa kau percaya akan kata-kata ku Nak?"
"Kenapa Daddy bisa berkata Chintya Bukan Anakku? Apa Daddy mengetahui sesuatu yang aku tak tahu?"
"Bacalah nak!" Abraham menyodorkan amplop coklat yang bergizi hasil tes DNA antara Cynthia dan Nico.
Lestari menerimanya dan langsung membukanya kemudian membacanya. Seketika saja ia terkejut mulutnya terbuka lebar tangan kirinya langsung menutup mulutnya yang terbuka itu. Air matanya mulai terlihat menggenang di kelopak matanya. Ia terkejut membaca hasil test DNA yang menyatakan 99% tidak cocok.
"Dad.... Jika Chintya bukan Anakku, lalu di mana anakku Dad?"tanya Lestari sembari menangis.
Dewi menguatkan menantunya dengan menggenggam kedua tangan menantunya itu berusaha menyalurkan ketenangan di hati menantunya yang begitu terkejut dan terpukul putri yang selama ini ia besarkan ternyata bukan anaknya.
"Anak kandungmu sudah berada bersama saudara dan saudarinya di kota J, kita akan segera menemuinya setelah kita sampai di kota J nanti. Ternyata anak kandungmu itu selama ini sudah berada di dekatmu, dianyara keluarganya bahkan dia hadir dalan pernikahan adiknya Jessica. Tapi sayangnya kau tak menyadarinya begitu juga dengan Nico." Jawab Abraham.
"Tolong katakan siapa anak kandung ku itu Dad? Aku ingin segera mengetahuinya." tanya Lestari penasaran.
__ADS_1
Air matanya tak henti-hentinya mengalir sebelum mengetahui siapa Putri kandungnya. Abraham kembali mengeluarkan amplop coklat yang berisi hasil tes DNA antara Nico dan juga Endah. Kemudian memberikannya pada Lestari.
Setelah menerimanya Lestari dengan semangat membuka amplop coklat itu hingga amplop itupun robek. Lestari kembali menangis histeris dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan membiarkan kertas hasil test DNA itu jatuh dari tangannya.
"Endah.... ternyata Endah adalah putriku, pantas saja saat aku bersama dengan dirinya aku seperti merasakan sangat dekat dan mudah akrab. Ternyata Jessica selama ini bersahabat dengan kakak kandungnya sendiri, permainan takdir macam apa ini Tuhan?" ucap Lestari sambil menangis tersedu-sedu.
Dad...Jika Endah adalah anakku lalu Cynthia anak siapa?" Tanya Lestari disela isak tangisnya.
"Cynthia adalah anak Melani mantan calon istri Nico, yang Nico tinggalkan demi diri mu." Jawab Abraham.
"APA?? Melani??" Lestari kembali terkejut mendengar jawaban mertuanya.
"Putri mu sengaja di tukar oleh Melani, putri mu di buang ke panti asuhan, setelah putri mu di adopsi seseorang panti asuhan itu dibakar dengan keji. Mereka membakarnya untuk menghapus jejak keberadaan putri kandung mu. Melani melakukan hal ini tidak sendiri ada orang besar yang membantunya. Entah motif apa yang mendasari orang itu membantu Melani. Akupun sedang mencari tahu dan masih mengikuti permainan mereka."
"Ini semua terjadi karena salah aku dan Nico di masa lalu. Maafkan Ibu Nak, karena dosa ibu dan ayah mu kamu jadi hidup terpisah dengan kami dan mengalami penderitaan selama ini." Ucap Lestari yang begitu lirih dengan isak tangisnya.
"Kau sudah tau Endah hidup menderita Nak?" Tablnya Dewi yang baru kali ini mengeluarkan suaranya.
"Tentu aku tahu Mom, Endah selalu curhat pada ku saat main ke rumah ataupun dengan sambungan telepon, bahkan dia sering menginap ketika Leon ada tugas luar kota dari kantornya. Putriku selama ini keseoian dan merasa tak ada yang menyayanginya bahkan memperdulikannya."jawab Lestari lirih kemudian menangis kembali.
"Sebenarnya dia sudah begitu dekat dengan kalian hanya saja kalian tidak mengetahuinya, mulai hari ini kalian sudah bisa bersama lagi Nak, Mommy janji kedepannya tak akan lagi ada yang memisahkan kalian." Dewi menghampiri Lestari kemudian memeluknya.
"Makasih Mom," jawab Lestari dalam pelukan ibu mertuanya.
"Ya Dad," sahut Lestari.
"Bisakah kau merahasiakan hal ini dari semua orang termasuk suamimu. Aku ingin mengetahui maksud kejahatan dari dalang yang membuat semua yang terjadi pada keluarga kita. Biarkan saja dulu Nico dengan kebodohannya. Bila saatnya sudah tiba kita akan memberitahunya."
"Ya Dad, aku akan ikuti apa kata Daddy tapi bolehkah aku tak kembali ke kota D. Aku ingin bersama ketiga anakku yang menetap di kota J."
"Ya kau boleh menetap di kota J, tapi jika aku memanggilmu kau harus siap kembali ke Kota D."
"Terima kasih atas kebaikan hati mu Dad, aku akan selalu siap jika Daddy dan Mommy membutuhkanku." ucap Lestari kemudian menciumi punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian.
Di kota J setelah Leon bertemu Endah, ia kembali ke unit apartemennya. Ia masih mendapati Adam yang setia menunggunya dengan duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Paman..." panggil Leon.
Adam menoleh ke arah Leon, ia segera menyimpan ponselnya di saku celananya.
"Ya Leon, ada apa?" Tanya sang Paman.
__ADS_1
"Aku sudah bicara denga Andre dan juga Endah."
"Ya jadi bagaimana hasilnya?"tanya Adam dengan wajah seriusnya.
"Andre tak mau menjual saham yang dia miliki pada kita Paman."
"Sudah ku duga. Dia punya prinsip yang tak bisa di goyahkan." Sahut Adam dengan tubuh yang seketika tak bergairah.
Bagaimana tidak, baru saja Ferry menghubunginya. Ia sudah mengetahui jika Andre sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Ia ingin segera melakukan serah terima saham perusahaannya yang di miliki oleh Andre nanti malam atau besok siang paling lambat.
"Kenapa Paman terlihat begitu tak bergairah setelah mendengar perkataan ku barusan?" Tanya Leon yang melihat reaksi sang Paman.
"Ferry sudah tak sabar ingin melakukan serah terima saham perusahaannya yang di miliki oleh Andre, dia memberiku waktu nanti malam dan paling lambat besok siang, saat jam makan siang,"
"Oh... karena itu."
"Kenapa kau begitu santai Leon? Padahal kau tak berhasil mendapatkan saham itu. Ini sangat penting untuk keluarga kita terutama adik mu Endah." Tanya Adam yang menanggapi sikap Leon yang terlihat tenang dan santai tidak seperti dirinya yang gusar tak tenang.
"Untuk apa aku cemas dan gusar seperti mu Paman? Andre memang tidak menjualnya tapi Andre akan memberinya secara cuma-cuma." Jawan Leon yang seketika membuat raut wajah Adam tersemyum bahagia.
"Benarkah? Kau memang hebat Leon bisa membuat Andre melepaskan saham besar begitu saja secara cuma-cuma." Tanya Adam yang masih tak percaya, ia juga memuji Leon yang mampu menaklukan seorang Andre.
"Aku memang hebat, itu pasti. Tapi kau jangan senang dulu Paman, karena Andre memberikan syarat untuk mu dan untuk Kakek tidak dengan diriku. Jika kau dan Kakek bisa mengabulkan permintaannya dia bersedia kapan saja melakukan serah terima saham itu bahkan menit ini juga."
"Itu namanya bukan cuma-cuma Leon, cepat katakan apa syarat yang diajukan adik iparmu itu untuk ku dan Kakek mu!"ucap Adam dengan memutar bola matanya.
"Paman apa kau kenal dengan Jimmy?"
"Ya aku mengenalnya, Jimmy assiten sekaligus sahabat Andre bukan?"
"Ya tepat sekali jawabanmu Paman. Kau hebat sekali Paman bisa langsung menjawab pertanyaanku dengan benar."
"LEON,,, berhentilah bermain-main! Cepat katakan apa hubungannya Jimmy dengan syarat yang Andre berikan!" Ucap Adam yang sudah tak sabar.
"Jimmy dan Endah berpacaran,"
"Apa mereka berpacaran?" Tanya Adam yang terkejut.
"Kenapa Paman, apa ada masalah? mereka saling mencintai satu sama lain, Andre ingin Paman dan Kakek tidak memisahkan mereka ataupun menjodohkan Endah dengan laki-lain."
"Kau tidak tahu siapa Jimmy,Leon?"
__ADS_1
"Aku tahu dia hanya anak supir, bagi Paman dan Kakek, Jimmy tidak sederat dengan kita bukan?"
"Bukan itu Leon, tunggulah Kakek mu yang akan menjelaskannya! Sebentar lagi mungkin dia akan tiba di kota J bersama dengan ibu mu. Untuk syarat yang diberikan Andre, aku tidak bisa memberi keputusan apapun biar Kakek mu saja." Jawab Adam melemas.