
Cynthia yang sedang berusaha mengambil hati kedua mertua Jessica, bersikap berpura-pura baik, bahkan sikap baiknya itu terlihat terlalu berlebihan.
Meski Ayumi selalu mematahkannya tak membuat Cynthia menjadi patah arang. Ia terus berusaha melakukan pendekatan yang makin membuat Ayumi merasa kesal dengan keberadaan Cynthia yang terus memaksa untuk mengantar mereka sampai ke Lobby rumah sakit.
Adam yang ada tak jauh dari keberadaan mereka terlihat tersenyum geli melihat raut wajah Ayumi yang sudah nampak kusut menahan rasa kesal dan risih karena terus di ikuti dan di dekati oleh Cynthia.
Sesampainya di pintulibby ruamah sakit Cynthia begitu berdecak kagum melihat mobil mewah milik Brata yang terparkir di depan Lobby rumah sakit dengan seorang supir yang sudah siap membukakan pintu untuk dirinya dan sang istri.
"Om, apa ini mobil milik Om?" Tanya Cynthia yang terkesan kampungan.
"Iya ini mobil milik Om, Cynthia. Kenapa memangnya? Apa kamu menyukainya? Sepertinya kamu mau memiliki mobil seperti ini juga ya?" Jawab Brata yang menebak dengan tepat apa yang diinginkan Cynthia dari raut wajahnya.
Tebakan Brata membuat Cynthia yang matrealistis langsung menganggukan kepalanya saat di tanya apa ia ingin memiliki mobil seperti yang di miliki Brata.
"Mewah sekali Om, pasti mobil ini mahal, jika pun aku mau, Ayah dan Kakek tak akan mau membelikannya untuk ku Om." Ucap Cynthia yang berpura-pura sedih untuk mengambil simpati Brata dan Ayumi.
"Cih, wanita ini pandai sekali berakting, pantas saja jika Tuan Abraham tak mau membelikan mobil seperti ini untukmu karena kamu ini bukan keturunan Nico. Asal-usulmu saja tidak jelas. Cara bicaramu ini seakan kau di kerdilkan oleh mereka." Batin Ayumi yang menatap sinis wajah Cynthia.
"Jika saja kamu menantu Om, Om pasti akan membelikan 10 mobil seperti ini untukmu, Cynthia. Kerena kamu anak yang cantik, ramah dan baik." Jawab Brata yang sengaja memanasi Cynthia dengan memujinya.
"Benarkah itu Om?" Sahut Cynthia dengan wajah sumringahnya dan dibalas anggukan kepala dari Brata.
"Aku akan segera menjadi menantu mu Om, dan akan aku tagih ucapan mu saat ini padaku nanti, setelah aku berhasil menikahi putra mu." Batin Cynthia berkata begitu opstimis bisa menjadi menantu Brata Kusuma.
"Keluarkanlah jati dirimu dan niat jahatmu untuk merebut hati anakku dari menantu kesayanganku karena iming-iming yang keberikan pada mu, Cynthia. Agar aku punya alasan untuk ikut campur dalam menghempasmu dari kehidupan menantuku tanpa harus ada kata tak enak dengan Nico dan Tuan Abraham yang terkesan lambat di mata ku karena sudah melangkahi mereka." Batin Brata yang menatap Cynthia seakan penuh kasih sayang padahal kenyataanya tidak.
Tak jauh dari posisi mereka berada Adam mendengar ucapan Brata yang seakan memberi lampu hijau Cynthia untuk menjadi seorang pelakor di rumah tangga keponakannya. Tak perlu menunda-nunda Adam langsung menghubungi Brata dengan ponselnya.
Drt...drttt...
Ponsel Brata bergetar, ia mengambil ponselnya di saku celananya kemudian mengangkat panggilan telepon dari Kakak sahabatnya itu.
"Hallo.."
"BRATA!!! Kalau kau sudah bosan hidup, dengan senang hati aku akan menjadi malaikat pencabut nyawa mu, Brata." Ucap Adam langsung to the poin dengan amarah yang tak bisa ia pendam.
"Woooo...wooo...Santai dulu Bro, ada apa kau menelepon ku dan langsung marah-marah seperti ini? Aku masih mau hidup Bro apalagi sebentar lagi aku akan menambah cucu dari menantu kesayangan istriku. Aku melakukan kesalahan apa pada mu Bro???" Sahut Brata yang bingung mendapatkan amarah dari Adam tidak ada angin dan tidak ada hujan menghubunginya langsung meluapkan amarahnya.
"Jangan kau pikir aku tak mendengar ucapanmu barusan kepada anak rubah itu, kau ini seperti memberi angin segar kepada anak jadi-jadian Nico itu." Ucap Adam dengan penuh emosi.
"Hahahaha...ternyata telinga mu ada dimana-mana Bro hahaha... Katakan dimana posisimu sekarang Bro? Mari kita duduk untuk sekedar minum kopi bersama Bro!"
__ADS_1
"Aku tidak ada waktu untuk duduk bicara dengan orang yang berniat menghancurkan rumah tangga keponakanku dengan menghadirkan anak rubah itu menjadi perusak rumah tangga."
"Hahaha... kau serius marah pada ku Bro. Aku sungguh tidak serius dengan ucapanku, saat ini aku hanya sedang memancing di air yang keruh saja Bro hahahaha." Ucap Brata yang kemudian melangkah masuk kedalam mobil, meninggalkan Cynthia begitu saja, tanpa pamit ataupun melihatnya. Sedangkan Ayumi sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil.
"Apa maksud mu memancing dia air yang keruh Brata?"
"Ini sudah cukup terlalu lama kalian menyelesaikan permasalahan ini, aku sudah tak sabar dan ingin turun tangan menghempaskan anak itu jauh dari menantuku."
"Sebenarnya aku pun merasakan apa yang kau rasakan Brata tapi aku harus mengikuti perintah Daddy ku. Tolong di ingat-ingat Brata jika terjadi sesuatu hal yang buruk dengan keponakanku karena ucapanmu tadi pada si anak rubah itu, kau harus menggantinya dengan nyawamu Brata." Ancam Adam yang kemudian mematikan sambungan panggilan teleponnya begitu saja.
"Hahaha...dia mematikan panggilan telepon begitu saja, ternyata dia sangat menyayangi menantuku, sampai dia semarah ini padaku." Ucap Brata dengan tawa kerasnya.
Ayumi dan sang supir yang mendengarnya hanya diam dan pura-pura tidak mendengarnya.
Cynthia yang masih berdiri melihat bayangan mobil Brata yang makin menghilang dari pandangan matanya merasa kesal karena mendapat perlakuan tak mengenakan dari Brata yang baru saja menerbangkannya lalu meninggalkannya tanpa menganggap keberadaannya, ia merasa sakit hati dan makin bertekat untuk merebut Andre dari Jessica.
Cynthia ingin membalas semua orang yang menyakitinya termasuk kedua orang tua Andre. Karena baginya mendapatkan Andre akan membuatnya memiliki power untuk menghabisi semua orang yang selama ini ia benci.
"Lihat saja kalian, jika aku sudah mendapatkan Andre akan ku habisi kalian semua satu persatu. Orang yang sudah membuatku sakit hati pantas untuk mati." Ucap Cynthia dengan suara pelan namun masih dapat di dengar, dia menghentak-hentakkan kakinya begitu keras meluapkan kekesalannya.
Sedang Adam yang melihatnya hanya bisa tersenyum sinis.
"Sebelum kamu menghabisi kami, kami akan menghabisi dirimu terlebih dahulu rubah kecil." Ucap Adam dalam hatinya saat mendengar niat Cynthia yang terucap barusan.
Setelah menemukannya Cynthia segera menghubungi Suci. Suci yang sedang berada di Villa Fabian bersama Melati langsung mengangkat panggilan ponselnya yang berdering dari nomor yang tak di kenal itu.
"Hallo siapa ini?" Sapa Suci di sebrang sana.
"Hallo Omma Suci, ini aku Cynthia." Jawab Cynthia yang membuat Adam yang berada di belakang Cynthia begitu terkejut.
"Oh, ternyata dia sudah tahu jati dirinya dan sepertinya dia intens berkomunikasi dengan tante Suci. Benar-benar rubah kecil yang licik kau Cynthia." Batin Adam.
"Darimana saja kamu, tidak ada kabar berita, seakan menghilang di telan Bumi. Mami mu disini sakit karena kedua tangannya di tembak oleh Pamanmu Adam. Cepatlah kesini tengok Mami mu ini Cynthia." Ucap Suci yang membuat Cynthia terkejut.
"Mami di tembak Paman Adam?! Bagaimana bisa Omma?" Tanya Cynthia yang seakan tak percaya dengan apa yang menimpa Ibu kandungnya.
"Tentu bisa anak bodoh, pertanyaan macam apa yang kamu utarakan ini, Cynthia? Cepatlah kemari! Bantu Omma merawat Mamimu, Omma tidak bisa terus merawat Mamimu, karena Om mu Fabian juga masih dirawat di rumah sakit."
"Aku tidak bisa Omma, saat ini aku berada di kota D, aku tinggal di Mansion Kakek Abraham. Saat ini ayah juga sedang sakit dan di rawat di rumah sakit."
"Apa??? Jadi selama ini kau ada bersama mereka?"
__ADS_1
"Kenapa Omma begitu terkejut? Memangnya kenapa jika aku bersama mereka? Apa ada masalah??"
"Tentu ada masalah, kau ini bodoh sekali Cynthia. Sudah ku bilang Mami mu itu di tembak oleh Adam berarti ada masalah antara Mami mu dan Paman mu itu, tidak mungkin Paman Adam mu itu menembak Mamimu tanpa sebab. Berhati-hatilah pada mereka semua Cynthia, mereka sudah tahu bahwa kau bukan anak Ayah Nico mu itu, mereka sedang mencari keberadaan keponakan mereka yanh sebenarnya. Mami mu di tembak Paman mu Adam karena dia menghukum Mami mu yang sudah menukar dirimu dengan anak kandung Ayah Nico mu itu. Dan perlu kau tahu mereka sudah membuat Mami mu menjadi DPO, setelah melaporkan kesalahan Mami mu yang membakar panti asuhan tempat dimana kami membuang anak Nico yang asli." Terang Suci pada Cynthia.
"Apa??? Tidak... ini tidak mungkin Omma, mereka masih bersikap baik seperti biasanya pada ku. Omma jangan berkata lagi aku ini bukan anak Ayah Nico. Aku sungguh tidak menyukai itu Omma, Ayah Nico adalah ayahku Omma selamanya akan menjadi Ayahku." Ucap Cynthia dengan rasa takut kehilangan Nico.
Karena kesal dengan perkataan Suci, Cynthia memilih untuk menutup panggilan teleponnya. Ia tidak lagi mood untuk menceritakan alasan dan tujuan dia menghubungi Suci.
"Damn, nenek tua bangka itu sudah memberitahukan pada rubah kecil ini. Aku harus bicara serius dengan Daddy mengenai hal ini. Untuk menentukan langkah yang akan aku ambil selanjutnya." Ucap Adam setelah mendengar ucapan Cynthia pada Suci disambungan telepon.
Sementara itu Abraham dan Dewi tengah di sibukkan dengan permintaan Endah mengenai kamar yang akan di tempatinya mulai nanti malam bersama dengan suaminya.
Ia ingin kamar yang berada di samping kamar Cynthia yang berada di lantai dua. Dia juga ingin kamarnya itu memiliki peredam suara yang bisa di atur secara otomatis. Entah apa maksud dan tujuan dari permintaan Endah tersebut.
Barang-barang Endah yang sudah datang terlebih dahulu dibandingkan pemiliknya minta di tata langsung oleh Neneknya, karena dia tidak percaya dengan orang lain selain Dewi sang Nenek untuk menata barang-barang mewahnya itu.
Seperti saat pengemasan yang di lakukan Bi Lastri di pagi hari tadi, Bi Lastri sangat di buat kuawalah dengan banyaknya barang Endah dan bagaimana cara pengemasannya yang harus sesuai dengan apa yang diajarkan Endah padanya terlebih lagi Endah mengawasi cara kerja Bi Lastri melalui Video Call.
Begitu juga yang dialami Dewi saat ini, dia sedang diajarkan terlebih dahulu oleh Endah via Video Call untuk membuka barang-barang super mewahnya yang ia dapat dari hasil traktiran orang-orang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Endah sudah cukup kamu terlalu berlebihan memperlakukan barang-barang mu ini sayang, jika barang ini rusak, nenek akan menggantinya dengan barang yang baru dan sama seperti ini juga sayang." Ucap Dewi yang sudah lelah mengikuti tutorial yang sangat ribet, ia seakan sudah bosan diajarkan cucunya itu cara membuka bungkusnya dan meneletakkan barang-barang mewahnya itu.
"Tidak Nek, aku tak mau diganti baru karena barang-barang ku itu memiliki historinya sendiri. Jadi tolong perlakukan mereka seperti bayi yang baru lahir ya Nek? Harus pelan-pelan, penuh berhatian dan lembut." Balas Endah yang membuat Dewi menahan kesalnya dan mencoba kembali bersabar menghadapi keinginan cucunya ini itu.
"Ahh ya sudahlah, baiklah nenekmu ini akan memperlakukan barang-barangmu seperti bayi. Hufft... aku bisa apa jika sudah begini." Ucap Dewi dengan menggelengkan kepala dan mulutnya yang terus berdecak kesal.
Sedang Abraham yang sedang menikmati minuman coklat hangatnya setelah ia di pusingkan dengan permintaan Endah yang tidak-tidak dari warna cat kamar hingga model gorden dan warna gorden yang harus sesuai seleranya itu, kini harus menerima jika waktu menikmati minuman kesukaannya harus kembali di ganggu dengan deringan ponsel miliknya.
Dilihatnya layar ponsel miliknya itu.
"Adam, tumben sekali ada apa dia meneleponku?" Gumam Abraham yang segera menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo Dam, ada apa kamu menelepon Daddy Nak? Apa ada sesuatu yang penting?" Sapa Abraham yang langsung menanyakan tujuan putra sulungnya itu menghubunginya.
"Dad, ternyata selama ini anak rubah itu sudah tahu jati dirinya, Nico dan keluarga sudah di kelabuhi oleh anak rubah itu."
"Kamu dapat informasi darimana Dams?" Tanya Abraham dengan santainya.
"Aku tak sengaja mendengarnya saat dia sedang menghubungi sahabat Mommy Dad." Jawab Adam.
"Tenanglah Dams, dia ada bersama kita teruslah bersikap seperti biasanya jangan sampai memancing kecurigaannya hingga waktunya nanti."
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sedang Daddy rencanakan? Aku sudah tak sabar ingin mendepak anak rubah itu dari keluarga kita Dad." Tanya Adam dengan kesalnya.