
Andre membiarkan Jessica beristirahat setelah pergulatan panas ronde pertama diatas ranjang mereka. Jessica mengira Andre telah tidur terlebih dahulu dalam posisinya memeluk dirinya dari belakang. Jessica mengira seperti itu karena hembusan nafas Andre yang Jessica rasakan begitu teratur. Namun nyatanya dia hanya pura-pura tertidur.
Andre yang sudah memastikan Jessica tertidur segera bangun dari posisi tidurnya. Ia meletakkan kepala Jessica secara perlahan diatas bantal. Kemudian Andre mengambil ponselnya yang berada di laci nakas.
Ia hendak menghubungi Jimmy menanyakan bagaimana Event pameran mobil sport yang digagas Perusahaan EO Fabian. Andre mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang menghadap ranjang tidurnya.
"Hallo Jim, bagaimana acara kita apa semua berjalan lancar?" Andre menelepon dengan suara yang begitu pelan agar tidak membangun Jessica.
"Acara berjalan lancar Tuan. Para pengunjung Mall Abraham sangat antusias dengan pameran kita ini. Bagian marketing kita mengatakan sudah banyak SPK (Surat Pemesanan Kendaranan) yang mereka terbitkan di pameran ini."
"Baguslah kalau begitu. Aku minta tolong pada mu untuk kau handle dulu acara pameran kita ini Jim. Nanti jika aku ada waktu luang. Aku akan sempatkan untuk pergi kesana." ujar Andre di ujung teleponnya.
"Bagaimana mungkin pengantin baru memiliki waktu luang. Bukankah waktu kalian selalu dihabiskan dengan pergulatan panas diatas ranjang?!" batin Jimmy.
"Besok hari minggu adalah acara puncaknya Tuan. Ada beberapa tamu penting kita yang harus Anda jamu makan siang."
"Iya aku tahu, aku usahakan akan datang kesana."
"Aku tidak yakin kau akan datang Tuan." batin Jimmy lagi.
"Baiklah Tuan, saya berharap Anda bisa menyempatkan sedikit saja waktu mu untuk menjamu tamu penting kita salah satunya Tuan Anderson, saya khawatir Tuan Anderson akan kecewa jika tidak di jamu oleh Anda sendiri, maaf jika saya terkesan memaksa Anda dan sekali lagi saya ucapkan selamat menempuh hidup baru bersama Nona Jessica Tuan."
" Sepertinya kau takut sekali aku tidak datang Jim? Kau seharusnya tidak perlu takut aku tidak datang Jim hahaha... Aku pastikan padamu sekarang, pernikahan yang baru saja aku langsungkan dengan Jessica bukan suatu penghalang untuk ku menghadiri acara perusahaanku sendiri, aku akan datang besok untuk menemui dan menjamu kedatangan Tuan Anderson pada acara pameran kita. Jim, Aku harap kau bisa segera menyusul ku untuk segera menikah sobat."
"Doakan saja saya segera menemukan jodoh yang tepat untuk saya Tuan."
"Ya...ya... Seberapa besar dan seringnya doa yang ku panjatkan untuk mu akan tetap sia-sia jika kau tidak membuka hatimu untuk orang lain Jim."
"Anda jangan bicara seperti itu Tuan. Saya sudah membuka hati saya ini untuk seseorang namun saya harus berjuang keras untuk mendapatkan hatinya."
"Wah benarkah itu? Perempuan mana yang akhirnya bisa mencuri hati mu Jim? Aku sarankan kau harus lebih keras lagi untuk berjuang jangan terlalu banyak diam di tempat dan kurang action."
"Baik Tuan. Terimakasih atas saran yang telah kau berikan ini."
Setelah menyelesaikan panggilan teleponnya, pandangan Andre tertuju pada Jessica yang tengah tertidur di ranjang. Matanya terus saja memandangi istrinya yang tengah tertidur hingga akhirnya Andre berjalan menghampiri ranjang kemudian naik ke ranjang merebahkan tubuhnya disamping Jessica. Andre kembali memeluk tubuh Jessica dan ikut pergi ke alam mimpi bersama istri tercintanya.
Disisi lain, Cynthia yang baru saja bangun dari tidurnya segera keluar kamar karena merasa sangat lapar perutnya pun sudah terasa perih.
__ADS_1
Cynthia keluar kamar berjalan menuju ruang makan dilihatnya para Maid tengah sibuk membersihkan alat makan yang habis digunakan diacara pernikahan Jessica.
Mata Cynthia begitu terbelalak memperhatikan para Maid yang sedang mengelap sendok berlapis emas yang baru saja di cuci di meja makan.
Kehadiran Cynthia di ruang makan segera di hampiri salah satu Maid.
"Nona apa nona baru bangun? Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang Maid kepada Cynthia.
"Aku lapar. Siapkan aku makanan. Cepat!!!" Cynthia memerintah dengan suara yang begitu tinggi bernada angkuh dan sambong.
Maid yang mendengar perintah Cynthia segera membungkukkan sedikit tubuhnya lalu undur diri dari hadapan Cynthia. Ia pergi dengan menahan rasa kesalnya.
"Sombong sekali Nona ini, sungguh sangat berbeda dengan Nona Viona dan Nona Vioni, adiknya saja dari kemarin selalu menolak di layani tapi dia dari kemarin kerjaannya selalu memerintah terus." gumam Maid yang bernama Warsih.
Maid tersebut kembali ke ruang makan dengan membawakan beberapa hidangan untuk Cynthia. Meskipun makanan sudah ada di hadapannya Cynthia belum juga memakan makanannya. Membuat para Maid yang duduk di meja makan saling bertukar pandangan satu sama lain.
"Maaf Nona apa menu yang saya hidangkan tidak sesuai serela Nona?" tanya Warsih yang tengah duduk di meja makan bersama Maid yang lain sembari mengelap peralatan makan yang baru saja di cuci sebelum disimpan dilemari penyimpanan.
"Kenapa kalian masih saja disini? Aku tidak akan memulai makan makanan ku jika kalian masih berada satu meja makan bersama ku." ucap Cynthia angkuh.
Warsih yang merupakan kepala para Maid segera mengajak pergi para Maid yang lain dengan memberikan kode dengan mengedipkan matanya lalu menggerakkan kepalanya dengan menoleh kesamping dengan cepat.
Para Maid yang mengerti kode yang diberikan Warsih segera meninggalkan meja makan. Banyak diantara mereka memandang Cynthia dengan tatapan tidak suka. Sedang Cynthia orang yang di tatap seakan tak perduli pada mereka.
Sikap sombong Cynthia makin menjadi ketika mengetahui dia adalah cucu seorang Abraham. Di Mansion Abraham Cynthia selalu ingin dilayani bagaikan seorang Ratu. Para Maid terpaksa melayani Cynthia atas permintaan Nico yang mengatakan pada mereka, "Tolong kalian layani putriku dengan baik karena dia sedang hamil muda!".
Para Maid tidak bisa menolah permintaan Nico karena Nico adalah salah satu putra dari Abraham, majikan mereka.
Setelah menghabiskan makanannya, Cynthia bergegas mencari keberadaan Nico dan Lestari. Ia mencari di kamar tidur orang tuanya namun ia tak menemukannya.
Cynthia berjalan menuju taman dimana tempat ibunya sering menyendiri menikmati kesedihan karena meratapi nasib Jessica yang harus menikah karena perjodohan, sejak kedatangannya ke Mansion ini Lestari memang sering menyendiri di taman. Meskipun Nico terus mencoba menemani, Lestari terus saja menolak.
Langkah Cynthia terhenti, Ia terperangah melihat Lestari yang sedang tersenyum begitu lebar. Dengan senyuman yang terpancar di wajah Lestari menandakan suasana hatinya yang begitu bahagia.
"Kenapa Ibu bisa tersenyum begitu bahagia? Apa yang membuat Ibu senyum sebahagia itu?" Cynthia bermonolog.
Cynthia melangkahkan kakinya menghampiri Ibu dan Ayahnya.
__ADS_1
"Ibu... Ayah..." panggil Cynthia yang berdiri di belakang kursi taman.
Lestari dan Nico menoleh kebelakang kearah sumber suara.
"Sini Nak? Kenapa kamu bangun sesiang ini? Apa semalam kamu tidak bisa tidur hmm?" Nico membrondong pertanyaan pada anak kesayangannya itu. Nico berdiri dan menarik tangan anaknya meminta anaknya untuk duduk bersama dirinya dan Lestari.
"Aku juga tidak tahu ayah, rasanya aku begitu lelap dalam tidurku hari ini."
"Apa kamu nyaman tinggal disini?" tanya Nico.
"Iya ayah, aku nyaman tinggal disini."
"Tapi sayangnya kita harus pulang Cynthia, ini bukan rumah kita." sahut Lestari.
"Tapi Bu..."
"Tidak apa bu, jika dia nyaman tinggal disini biarkan saja. Kita akan tinggal untuk beberapa waktu disini hingga Cynthia melahirkan. Jika kita tinggal disini orang tak akan tahu jika Cynthia hamil tanpa seorang suami yang menikahinya. Bagaimana menurut ibu?"
"Ya ibu sebagai seorang istri ikut saja apa kata Ayah untuk tinggal disini hingga Cynthia melahirkan." Lestari menjawab dengan setengah hati.
"Makasih Bu." Cynthia memeluk tubuh Lestari yang duduk disampingnya.
"Iya sama-sama nak." Lestari membalas pelukan Cynthia.
"Bu, bagaimana pernikahan Jessica tadi pagi?" tanya Cynthia dalam pelukan Lestari.
"Pernikahan adik mu berjalan lancar, Jessica sangat bahagia dengan pernikahannya. Kamu doakan saja semoga pernikahan adikmu langgeng dan terus bahagia." jawab Lestari.
"Bahagia??? Dia menerima pria yang dijodohkan Kakek padanya Bu?" Cynthia melepaskan dekapan Lestari.
"Ya tentu saja dia menerimanya. Ternyata Kakek mu menjodohkan adikmu dengan Andre kekasihnya."
Deg.
"Apa?? Jessica menikah dengan Andre??" Mata Cynthia membola mendengar perkata yang terlontar dari mulut Lestari.
Bersambung.
__ADS_1