Cinta Jessika

Cinta Jessika
Rujak dan Endah


__ADS_3

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 17.00, Andre dan Jimmy pun bersiap untuk pulang. Mereka sangat bersemangat untuk kembali pulang karena sudah ada istri mereka yang sedang menunggu kedatangan mereka.


Andre pulang tanpa menunggu Jimmy terlebih dahulu, sejak menikah dan sudah kembali ke Kota D, Andre memang sudah tak pulang bersama Jimmy lagi. Jam kerja Andre lebih singkat dari sebelumnya begitu pula dengan Jimmy.


Kini Andre sudah menaiki mobil yang akan di kemudikan oleh Bowo. Sejak tiga puluh menit yang lalu mobil mewah sang CEO sudah terparkir tepat di depan pintu lobby perusahaan.


"Tuan, sepertinya kita tidak bisa langsung pulang karena Nyonya muda minta dibelikan rujak yang kemarin Tuan muda bawakan. Nyonya muda minta dibawakan 5 bungkus karena ada Nona Anna dan Nyonya Endah juga di Mansion." Tutur Bowo dari balik kemudinya sebelum ia melajukan kendaraannya.


"Belikan saja Bow, Daripada saya harus tidur diluar jika tidak membawa pesanan yang dinginkan Nyonya mudamu itu." Jawab Andre dengan menghela nafas panjangnya.


Akhirnya sebelum pulang Andre membelikan rujak yang diinginkan sang istri. Dia rela mengantri bersama para ibu-ibu yang rata-rata juga sedang mengidam sama seperti istrinya, untuk membelikan pesanan sang istri sungguh membutuhkan perjuangan karena disela-sela ia mengantri banyak ibu-ibu yang juga meminta foto dengannya.


Mereka begitu mengagumi sosok Andre yang memiliki paras yang begitu tampan dan ramah. Menurut mereka Andre adalah tipe suami idaman sudah ganteng mau rela mengantri lagi demi membeli pesanan rujak sang istri yang sedang mengidam.


Karena kehadiran Andre di tengah antrian para wanita yang kebanyakan Ibu-ibu yang sedang hamil membuat rujak yang terkanal dengan nama Rujak Bang Ronal pun jadi semakin ramai. Bowo yang izin tak bisa mengantri karena ingin ke toilet hanya alasan, terlihat asyik dengan sebatang rokok yang ia nikmati di belakang mobil.


"Maaf Tuan Muda, kalau bisa saya tidak mau mengantri disana lagi lebih baik sayai asingkan kepulau terpencil daripada mengantri rujak disana. Mulut perempuan kalau antri pedesnya melebihi rasa rujak yang di buat Bang Ronal itu." Keluh Bowo pada dirinya sendiri sembari menyesap rokok di tangannya.


"Saya kira di dunia ini mulut terpedas, termenyakitkan dan terbawel di dunia ini hanya milik Nyonya Endah, tapi ternyata foto copy Nyonya Endah sangatlah banyak, bahkan lebih parah." Keluhnya lagi yang tak ia sadari Jimmy sedang berdiri didekatnya mendengar semua keluhan Bowo.


"Bowo beraninya kamu mengerjai Tuan mu sendiri dan berleha-leha disini sambil mengumpati istri ku. Lihat saja pembalasan ku. Tunggulah Tuan mu sampai pagi disini!" Batin Jimmy yang kemudian melangkah pergi menghampiri Andre yang tengah mengantri.


Jimmy berjalan dengan cepat dengan gaya dinginnya menghampiri Andre. Banyak para wanita yang mengagumi Jimmy yang berjalan mendekat kearah mereka yang sedang mengantri rujak Bang Ronal. Andre yang tengah sibuk mengantri sambil melayani permintaan foto para ibu-ibu tidak menyadari kedatangan Jimmy yang langsung datang menghampiri Bang Ronal.


Sesampainya di dekat Bang Ronal, Jimmy mengeluarkan uang segepok pecahan seratus ribu rupiah ke atas meja ulek Bang Ronal.


"Saya borong semuanya, mereka boleh mendapatkan rujakmu gratis, tapi tolong buatkan pesanan rujak Tuan itu terlebih dahulu!" Ucap Jimmy setelah meletakkan uang gepokannya itu yang langsung diterima oleh Bang Ronal dengan senang hati.


Suara Jimmy yang sangat di kenali oleh Andre membuat Andre langsung menengok kearah sumber suara Jimmy berasal.


"Jim.... Kamu disini?" Panggil Andre.


"Ya Tuan, saya disini untuk membantu Anda. Jadi Nyonya pesan berapa bungkus rujak Tuan?" Jawab Jimmy yang langsung menanyakan berapa banyak pesanan rujak yang ingin Tuannya beli untuk Nyonya Mudanya sekaligus adik iparnya.


"Ohh... terima kasih Jim, kamu datang di waktu yang tepat. Jessica pesan lima bungkus rujak Jim, tapi tolong jangan terlalu pedas ya. Aku tidak mau anakku botak." Jawab Andre yang seketika membuat para ibu-ibu tertawa.


Andre hanya tersenyum manis ketika para ibu-ibu menertawakannya. Mendengar jawaban Tuannya. Jimmy langsung memesan tujuh bungkus rusak kepada Bang Ronal. Lima untuk Tuannya dan dua untuk dirinya dengan level kepedasan yang luar biasa.


"Tambahkan lagi cabainya!" Pinta Jimmy berulang-ulang saat membuat rujak untuknya.


"Maaf Pak ini bukan rujak di cabeiin tapi cabe di rujakin." Ucap Bang Ronal yang melihat begitu banyak cabai yang akan dia haluskan.

__ADS_1


Jimmy langsung menatap tajam Bang Ronal hingga membuat nyali Bang Ronal ciut. Tanpa banyak kata-kata Bang Ronal langsung membuat pesanan Jimmy meski harus berlinangan air mata karena aroma pedasnya sangat menusuk.


"Ini rujak sama yang mesen sama-sama pedes." Umpat Bang Ronal dalam hatinya.


Tidak sampai lima belas menit semua pesanan kedua cowok ganteng itu selesai di buatkan. Setelah menerima pesanan mereka pun pergi. Dan saat Andre ingin mendekati mobilnya. Jimmy langsung menarik lengan Andre.


"Maaf Tuan, naik mobilku saja." Pinta Jimmy yang menyadari dia sudah kurang ajar menarik lengan Andre dengan menundukkan pandangannya.


"Santailah Jim, jangan terlalu kaku jika kita sedang tak lagi bekerja kau ini sahabatku yang sudah ku anggap sebagai saudara sendiri bahkan sekarang kau sudah jadi Kakak iparku. Tidak perlu kau terus meminta maaf padaku." Pinta Andre yang melihat Jimmy yang seperti itu.


"Baik Tuan," jawab Jimmy yang masih menunduk pandangannya.


"Jim, belajarlah panggil namaku mulai dari sekarang! Jangan panggil aku Tuan lagi! Aku tak mau mendengarnya, kau boleh memanggil ku Tuan jika sedang berhadapan degan rekan bisnis kita diluar itu, aku tak mau dengar!" Pinta Andre dengan tatapan tajamnya yang langsung dijawab Jimmy dengan anggukan kepala.


"Sekarang katakan pada ku kenapa aku harus naik mobilmu?" Tanya Andre kemudian.


"Naiklah dulu Ndre! Akan aku ceritakan di dalam mobil dan kamu tidak perlu beritahu kan ke Bow, jika kamu pulang bersama ku." Jawab Jimmy yang malah meminta Andre untuk segera naik ke mobilnya tanpa memberitahukan pada Bowo. Membuat Andre makin bertambah bertanya-tanya ada apa ini.


Andre pun mengikuti permintaan Jimmy. Ia duduk di kursi depan mobil Jimmy, tidak seperti biasanya duduk di kursi belakang. Saat mobil yang dikendarai Jimmy sudah melaju meninggalkan Bowo yang masih menikmati rokoknya dibelakang mobil sambil berjongkok, Andre pun menanyakan alasan kenapa dia harus menaiki mobil Jimmy dan meninggalkan Bowo tanpa memberi tahukannya terlebih dahulu.


"Jim, sebenarnya ada apa? Kenapa aku harus naik mobilmu?" Tanya Andre yang begitu penasaran.


"Bowo sedng mengerjaimu, Ndre. Dia meminta mu mengantri karena mau menghindari mulut ibu-ibu disana yang mulutnya lebih pedas dari mulut istriku katanya." Jawab Jimmy yang mengundang tawa lepas Andre.


Menyadari suami kakak iparnya itu marah, Andre pun berhenti tertawa berganti dengan senyum yang ia tutupi dengan telapak tangannya.


........


Sementara itu di Mansion Andre. Kedua adik kakak dengan sahabatnya yang akan menjadi kakak iparnya sedang duduk-duduk santai di taman sambil melihat sang ibu menyirami tanaman.


Andre membuatkan taman khusus untuk Lestari dan Ayumi bercocok tanam di Mansionnya. Ayumi sangat sering datang ke Mansion putranya hanya untuk berkebun bersama besannya yang memiliki hobby yang sama.


Hidup Lestari dan Ayumi yang tadinya monoton sekarang begitu berwarna karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang dekat yang memiliki hobby yang sama pula.


Disela-sela sang ibu sibuk dengan tanamannya. Ketiga wanita itupun telibat obrolan penting mengenai kebiasaan baru Endah yang tak biasa bagi mereka berdua.


"Tumben dah lu pengen banget rujak? Bukannya lu nggak suka buah kecuali buah yang bisa menghasilkan buah hati? Hahahaha...." Tanya Anna dengan candaannya.


"Hahahaha.... Iya ya tumben. Jangan-jangan!!!"


"Iye gue lagi tekdung, baru 4 minggu." Jawab Endah dengan santainya.

__ADS_1


"Wahhh serius lu??" Tanya Anna yang penasaran akan kebenaran kehamilan saabatnya sekaligus calon adik iparnya.


"Iyee.... Kenapa harus boong gue." Jawab Endah meyakinkan Anna.


"Pantesan gak masuk kuliah, gue kaya ada di negeri antabrantah di kampus baru sendirian. Jessica hamil, lu pakai ikutan hamil segala, lah gue kuliah barengan nya siapa dong????" Tambah Anna dengan wajah sedihnya harus kuliah di tempat baru tanpa kedua sahabatnya.


"Gampang 3 Minggu lagi lu nikah, habis di jebol langsung tekdung, jadi deh kita libur kuliah bareng karena hamil bareng ya gak, gitu aja repot." Jawab Endah dengan gampangnya.


"Iya Ann, minum vitamin penyubur kandungan biar cepet hamil." Ucap Jessica dengan sarannya.


"Nah tuh bener apa yang di bilang ade gue." Tambah Endah yang membenarkan saran adiknya.


"Ya udah temenin gue konsultasi besok ke dokter." Pinta Anna pada keduannya.


Permintaan Anna membuat Endah menatap tajam ke arah sang adik. Ia jadi ingat alasan mereka datang ke Mansion Andre karena sang Ibu kewalahan menghadapi Jessica yang mengamuk tidak mau di bawa ke rumah sakit oleh Angela sesuai permintaan Andre untuk memeriksakan kandungannya. Andre yang sedang bertemu dengan Client pentingnya tidak bisa di hubungi apalagi pulang ke Mansion.


"Eh, Markonah besok kalau lu gak mau ke Dokter lagi kaya tadi siang, nangis kaya anak kecil, gue beneran bakal manggil dukun beranak buat ngeluarin anak dalam kandungan lu tuh." Ancam Endah dengan mata yang melotot hampir keluar dari cangkangnya.


"Iya...iya Kakakku sayang, jangan marah-marah dong, aku jadi takut tauuu... tapi besok periksanya bareng-bareng ya?!" Ucap Jessica dengan suara manjanya yag membuat Enda memutar bola matanya malas.


"Bu.... Ibu....Kak Endah nih bu...sini bu!" Teriak Jessica memanggil sang Ibu yang baru saja selesai menyirami bunga.


"Emang gue kenapa? Nih anak kadang-kadang emang ya." Ucap Emdah yang menatap kesal pada adiknya.


"Jangan marah dan sebel mulu sama si Njess ntar anak lu mirip dia!" Anna berbisik di telinga Endah berusaha mengingatkan pada Endah.


"Eh.. iya ya. Amit-amit mirip dia yang penakut sama rumah sakit." Sahut Endah kemudian keduanya cekikikan berdua.


"Ada apa panggil-panggil Ibu, nak?" Tanya Lestari yang berdiri di dekat putrinya.


"Bu, Kak Endah hamil tuh bu." Jawab Jessica yang memegangi sambil memeluk lengan sang ibu.


"Iya ibu tahu, orang kedua setelah suaminya yang tahu Endah hamil ya Ibu." Sahut Lestari sambil tersenyum melihat putri-putrinya bergantian.


"Jadi ibu sudah tahu, yah gak seru." Timpal Anna yang mengerti Jessica ingin memberi kejutan pad Lestari.


"Hooh ga seru." Timpal lagi Jessica yang sepaham dengan Anna.


"Sudah-sudah jangan bahas di sini lagi. Hari sudah semakin gelap. Tidak baik ibu hamil duduknyerlalu lama di luar menjelang malam." Pinta Lestari yang kemudian menarik pelan tangan Jessica untuk bangkit dari duduknya.


" Ok siap Bu." Jawab ketiganya dengn kompak yang membuat hati Lestari bahagia.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku baru merasakan kedamaian saat ini. Saat dimana anak-anak ku berkumpul dengan saudara kandungnya. Tidak ada keributan, tidak ada iri dengki,tidak ada yang menzalimi dan tidak ada yang tersakiti." Ucap Batin Lestari ketika melihat ketiganya masuk kedalam sambil bergandengan tangan.


__ADS_2