
Proses operasi pengambilan janin pada rahim Cynthia sudah selesai dilakukan. Bukan hanya janin yang di angkat oleh sang Dokter tapi juga rahim Cynthia pun ikut diangkat.
Pengangkatan rahim (histerektomi) pada Cynthia harus dilakukan karena kondisi perdarahan pada rahim Cynthia yang abnormal terjadi saat proses pengangkatan rahim, tanpa di ketahui oleh Cynthia ternyata terdapat fibroid/miom pada rahimnya yang juga membesar bersama dengan janinnya.
Berry yang seorang diri menunggu proses operasi langsung saja menyetujui saat Dokter meminta persetujuannya untuk tindakan pengangkatan rahim Cynthia. Ia tidak mau repot-repot dan pusing lagi untuk mencari keberadaan Nico yang sudah ia cari batang hidungnya keseluruhan penjuru rumah sakit setelah ia menemui Andre tadi namun nihil.
Setelah operasi selesai, Berry segera menemui Dokter Hadi. Berry menemui Dokter bukan untuk menanyakan bagaimana kondisi Cynthia pasca operasi namun ia menanyakan bagaimana proses pengambilan jenazah janin yang sudah diangkat oleh sang Dokter tadi untuk segera ia bawa pulang.
Dokter Hadi dengan rasa penuh tanya, menjawab pertanyaan Berry tentang prosedur rumah sakit untuk mengambil Jenazah janin Cynthia. Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan tanpa berbasa-basi Berry segera pergi untuk mengurus Jenazah janin Cynthia yang ia ingin bawa pulang ke kota J hari ini juga tanpa memberikan kesempatan sang Dokter untuk menjelaskan kondisi Cynthia pasca operasi yang baru saja dilangsungkan.
Saat bayaga Berry makin menghilang dari oadangan mata Fokter Hadi. Mata sang Dokter terus sajamengedar keseluruh penjuru ruang tunggu, mencari sosok Nico yang ia ingin temui untuk menjelaskan kondisi Cynthia, namun sosok Nico tak terlihat batang hidungnya.
Selain menjelaskan kondisi Cynthia tadinya Dokter Hadi juga ingin menyampaikan pada Berry ataupun Nico untuk segera mencari rumah sakit yang mau menerima Cynthia untuk mendapatkan perawatan lanjutan pasca operasi namun Berry terlihat seakan tak perduli dan Nico tak terlihat batang hidungnya.
Seorang suster datang menghampiri sang Dokter.
"Dok, bagaimana apa sudah di sampaikan pada keluarga pasien untuk mencari rumah sakit lain untuk perawatan lanjutan pasien? Karena saat ini kondisi Pasien sudah stabil Dok, Pasien sudah siap untuk dipindahkan keruang rawat." Ucap Suster yang bernama Sila itu.
"Tak ada satu anggota keluarganya yang bisa saya ajak bicara mengenai hal ini Sus, tadi ada seorang pria yang menunggunya yang mengaku sebagai ayah dari janin Nyonya Cynthia tapi dia sudah pergi, dia hanya menanyakan bagaimana proses pengambilan Jenazah janin Nyonya Cynthia saja." Tutur Dokter Hadi apa adanya.
"Jadi bagaimana Dok? Kita tidak bisa memberinya ruang perawatan pada pasien karena Tuan Andre melarangnya." Tanya Suster Sila yang nampak terlihat bingung.
"Saya akan membawanya ke klinik bersalin milik saya Sus, tolong suster batu urus semuanya dan bantu dampingi pasien ya sus, saya lakukan ini demi rasa kemanusiaan." Jawab Dokter Hadi yang penuh keraguan.
__ADS_1
Apa yang dia lakukan sama saja menentang perintah Andre. Ia berharap Tiannmudanya itu tak mempermasalahkan tindakannya yang menolong pasiennya atas dasar kemanusiaan itu.
Beberapa menit kemudian Cynthia pun di bawa oleh suster Sila dengan ambulance rumah sakit menuju klinik bersalin milik Dokter Hadi. Ia mendapatkan pelayanan perawatan layaknya di rumah sakit pada umumnya.
Saat ia sudah terbangun dan sadar, Cynthia begitu terkejut dengan kondisi perutnya yang sudah rata.
"Perutku... kenapa serata ini? Kemana anakku dalam kandungan ku? Apa aku sudah melahirkan? Tidak... Tidak mungkin aku sudah melahirkan aku baru hamil jalan enam bulan." Ucap Cynthia yang menyadari perutnya sudah tidak lagi membuncit.
"Ayah dimana Ayah? Kenapa aku seorang diri seperti ini? Kenapa rumah sakit ini terasa sesak dan lebih kecil? Apa ayah sudah mengetahui aku bukan putri kandungnya dan aku sudah di buang olehnya? Ayah...Ayah ada dimana? Cynthia tidak mau ditinggalkan Ayah... Ayahhh..." Cynthia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan terus memanggil-manggil Nico sembari menangis histeris.
Suara brisik dari ruangan rawat Cynthia membuat seorang suster perawat yang berperawakan tinggi besar dan berwajah asam menghampirinya.
"Nyonya ada apa teriak-teriak? Tolong jangan buat kegaduhan disini!" Ucap seorang suster bernama Sri itu dengan wajah masamnya.
"Tak ada satu anggota keluarga pun yang menunggu Anda Nyonya, Anda datang kesini atas kebaikan hati Dokter Hadi karena keluarga Anda sudah menelantarkan Anda sendirian di rumah sakit." Jawab Suster Sri apa adanya.
"Tidak... Ini tidak mungkin. Ayah sangat menyayangiku tidak mungkin Ayah menelantarkan aku sendirian di rumah sakit. Suster pasti kau berbohongkan. Jessica dan sahabatnya itu pasti sudah membayar mu untuk berkata bohong pada ku ya kan?." Ucap Cynthia dengan mata yang berkaca-kaca seolah tak percaya jika sekarang ia sudah ditelantarkan oleh Ayah yang selama ini menanjakannya.
"Saya tidak berbohong Nyonya, jika Anda tidak percaya, Anda bisa menunggu kedatangan Dokter Hadi sore nanti untuk mendapatkan penjelasan darinya." Balas Suster Sri yang kemudian memeriksa kondisi Cynthia lalu setelah itu pergi meninggalkan Cynthia kembali seorang diri.
"Kurang ajar, aku pastikan kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal dari ku, terutama kamu Jessica. Tak akan aku biarkan dirimu hidup bahagia bersama Andre." Ucap Cynthia penuh dengan rasa dendam.
Sore menjelang malam Dokter Hadi seperti biasanya, ia datang mengecek kondisi pasien-pasiennya sebelum membuka jam prakteknya.
__ADS_1
Saat ini dia sedang di dalam ruang rawat Cynthia. Kondisi Cynthia sudah nampak lebih baik dari sebelumnya.
"Selamat sore Nyonya bagaimana kondisi yang Anda rasakan sekarang, apa sudah mencoba berdiri sendiri tanpa bantuan suster?" Tanya Dokter Hadi dengan ramahnya.
"Sore Dokter, saya merasa kondisi saya lebih baik, tapi saya belum mencoba untuk berdiri ataupun bergerak karena perut bagian bawah saya sangat terasa sakit dan nyeri." Jawab Cynthia.
"Ok baik, nanti saya akan resepkan untuk obat pereda nyerinya ya Nyonya." Balas Dokter Hadi dengan tersenyum ramah oada Cynthia.
"Dok, boleh saya minta penjelasan dari Dokter kenapa bisa saya ada di klinik ini dan kemana Ayah saya, Dok? Kenapa saya di tinggalkan seperti ini?" Tanya Cynthia dengan air mata yang menggenang di kelopak matanya.
"Maaf Nyonya, saya tidak tahu kenapa Ayah Anda meninggalkan Anda di rumah sakit Central Kusuma sendirian. Anda di pindahkan ke klinik ini karena saya tidak tega membiarkan Anda terlantar dalam kondisi belum sadar setelah menjalani operasi pengambilan Janin Anda yang sudah tiada dan sekaligus pengangkatan Rahim Anda yang sudah dalam kondisi parah karena Miom ada yang sudah membesar. Dan pada awalnya juga pihak rumah sakit sudah menolak untuk menangani Anda namun seseorang yang bernama Tuan Berry mendatangi saya, ia memberitahukan pada saya jika Tuan Muda sudah mengizinkan saya melakukan tindakan operasi pada Anda tapi hanya sebatas tindakan operasi saja, untuk perawatan mereka tidak mengizinkan Anda untuk di rawat inap disana. Sepertinya Anda dan Ayah Anda miliki masalah pribadi dengan anak pemilik rumah sakit tempat saya bekerja itu." Tutur Dokter Hadi oanjag Lebar yang membuat Cynthia terdiam dan terpaku tak dapat berkata apa-apa lagi.
"Anakku sudah tiada? Berry... bagaimana bisa Berry datang ke kota ini dan menemukan ku? Dia pasti sudah membawa anakku dengannya pulang ke kota J, baguslah aku tak perlu repot-repot mengurus mayat anak haramku dengan Berry. Pasti kedatangan Berry ini sudah direncana oleh Jessica dan Endah. Seberapa besarpun usaha kalian mengambil Ayah dariku tak akan pernah berhasil, karena Ayah akan tetap menjadi milikku dan Mommy." Ucap Cynthia di dalam hatinya.
"Dok, jika rahimku sudah diangkat?Itu artinya aku sudah tidak bisa memiliki kesempatan untuk memiliki Anak?" Tanya Cynthia oada Dokter Hadi.
"Maaf Nyonya, itu benar sekali Anda tidak bisa lagi memiliki kesempatan untuk memiliki anak." Jawab Dokter Hadi dengan berat hati menyampaikan kenyataan yang tak enak di demgar.
Cynthia seketika terdiam kembali mendengar jawaban Dokter Hadi. Dokter Hadi yag menyadari Cynthia memerlukan waktu untuk sendiri pun akhirnya meninggalkan Cynthia yang tengah terdiam dalam lamunannya.
"Sialan, gara-gara aku ingin melenyapkan mu dan anakmu. Aku harus mengalami penderitaan seperti ini." Umpat Cynthia di dalam hatinya.
"Tenanglah Cynthia, jika kamu tak memiliki kesempatan untuk memiliki anak sendiri dari rahim mu, itu tak akan jadi masalah besar untuk mu, itu malah bagus, kamu tak akan merepotkan hidup mu dengan bersusah payah hamil dan melahirkan seorang anak yang sangat menyakitkan, kamu akan tetap menjadi seorang ibu dari anak yang di kandung Jessica, karena sebentar lagi kamu akan menjadi ibu pengganti untuk anak dalam kandungan adik tersayang mu, Jessica hahahaha..." Ucap Cynthia pada dirinya sendiri dengan kegilaannya.
__ADS_1