Cinta Jessika

Cinta Jessika
Jimmy 1


__ADS_3

Sepulangnya Jimmy dan Andre dari acara pemakaman Margareth dan ketiga anaknya. Jimmy segera melakukan penyelidikan. Ia terlihat mendatangi kantor management apartemen Louis di temani oleh Andre, yang kali ini bertindak sebagai seorang adiknipar bukan sebagai atasan ataupun Tuan Muda untuk Jimmy.


Rona wajah menyeramkan terpancar di wajah tampan Jimmy, tidak ada keramahan diwajah itu apalagi sebuah senyuman yang tak akan terukir diwajahnya saat ini.


Jimmy duduk di bangku kebesaran seorang pimpinan Management apartemen Louis yang sudah bergidik ngeri melihat aura dingin dan menyeramkan dari wajah Jimmy.


Rahangnya yang tegas dan mengeras nampak terlihat diwajahnya yang mampu membuat orang yang melihatnya sadar jika pemilik wajah itu sedang marah dan hatinya sedang tak baik-baik saja.


Sedangkan Andre ia duduk santai di sebuah sofa singel meminta sebuah laporan keuangan bulanan apartemen pada pimpinan Management dengan senyum ramahnya yang membuat hati pimpinan Management itu merasa sedikit lebih nyaman.


"Apa gaji yang saya berikan pada karyawan di sini terbilang rendah Ben?" Tanya Andre yang pandangannya seakan masih membaca laporan keuangan Apartemen miliknya itu.


"Tidak Tuan." Jawab Beni singkat.


"Ada apa ini? Apa ada masalah?" Tanya batin Beni yang merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Andre.


"Ben, berapa kali kalian memprogramkan melakukan perawatan pada CCTV di Apartemen ini?" Tanya Andre lagi pada Beni yang terlihat tenang namun memiliki segudang tanya ada apa dengan maksud pertanyaan pemilik gedung apartemen ini.


"Setiap hari Tuan." Jawab Beni jujur dan apa adanya.


"Setiap hari? Benarkah itu?" Tanya Andre memperjelas.


"Benar Tuan." Jawab Beni lagi meyakinkan Andre.


"Kalau begitu panggilkan orang-orang yang bertugas melakukan perawatan CCTV di Apartemen ini hari kemarin!" Perintah Jimmy yang duduk di meja kebesaran Beni dengan suara yang begitu lantang hingga membuatt Beni terlonjak kaget.


"Ba-baik Tuan Jimmy." Jawab Beni dengan tergagap karena dia masih mengontrol irama jantungnya yang terlonjak kaget mendengar suara keras dan lantang Jimmy barusan.

__ADS_1


Tak sampai sepuluh menit sebuah tim perawatan CCTV di Apartemen Louis datang keruangan pimpinan Management apartemen itu. Mereka yang terdiri dari empat orang anak muda yang masih berusia kira-kira dua puluh satu tahun tengah berdiri menghadap Jimmy yang duduk dengan santai namun tatapannya bagaikan elang, terus memperhatikan mereka.


"Benar kalian yang melakukan perawatan kemarin?" Tanya Jimmy.


"Ya benar kami Tuan." Jawab salah satu ketua tim itu dengan berani menjawab pertanyaan Jimmy.


"Berapa kalian di bayar untuk melakukan sabotase CCTV apartment ini?" Tanya Jimmy yang langsung membuat hati mereka gusar.


Mereka berempat terdiam cukup lama tak ada yang menjawab pertanyaan Jimmy. Sikap mereka yang diam membisu membuat Jimmy tak sabar dan langsung saja mengeluarkan pistol yang terselip di pinggangnya dan meletekkannya di meja dengan kasar.


"Brakkk" suara hentakan meja dan pistol beradu.


"Jika kalian masih diam, pistol ini yang akan bicara." Ucap Jimmy yang membuat keempatnya gemetar hebat.


"Ma-maafkan kami Tuan, masing-masing dari kami mendapatkan dua ratus lima puluh juta." Jawab ketua Tim itu dengan jujur.


Kakinya terlihat begitu gemetar ketika Jimmy datang menghampiri dirinya dengan pistol di tangannya.


"Seorang wanita yang mengaku sebagai keponakan pemilik unit Apartemen Tuan Fabian, Tuan." Jawab Karta dengan menundukkan wajahnya.


"Siapa nama wanita itu?" Tanya Jimmy dengan mengangkat pandangan karta dengan menggunakan pistolnya.


"Cy-Cynthia Tuan." Jawab Karta tergagap.


"Mudah sekali kau menuruti permintaannya. Apa dia merayumu dengan tubuh indahnya itu hum? Bagaimana rasanya saat kau menjamah tubuhnya hum? Nikmatkah hum?" Tanya Jimmy yang menebak Cynthia sudah menggunakan tubuhnya untuk merayu ketua Tim ini.


Namun pertanyaan Jimmy tak di jawab oleh Karta, ia malu untuk menjawab semua tebakan Jimmy yang benar adanya.

__ADS_1


"Kalian tahu, karena perbuatan kalian saya jadi kesulitan untuk mencari tahu penyebab kematian Kakak saya dan ketiga keponakan saya. Perbuatan kalian sudah membuat saya marah." Jimmy berkata dengan suara yang memekik di kalimat akhirnya.


Andre yang tahu apa yang ingin dilakukan Jimmy segera meminta Beni memanggil ambulans dari rumah sakit miliknya sebelum ia meninggalkan ruang kerja pimpinan Management apartemen miliknya itu.


Beni yang awalnya tak mengerti maksud Tuannya akhirnya mengerti ketika peluru dari pistol Jimmy berhasil keluar dan bersarang di tangan Karta. Darah berceceran, jerit kesakitan terdengar hingga keluar ruangan membuat kehebohan seisi kantor management.


Tak sampai disitu Jimmy terus menembaki tangan keempat orang itu secara bergantian. Jangan tanya bagaimana kondisi Beni saat ini. Setelah dia menghubungi sekertarisnya untuk menelepon rumah sakit meminta ambulans datang ke apartemen, dia langsung jatuh pingsan ketika suara tembakan kembali terdengar di telinganya.


Ruang kerja Beni saat ini sangat ramai dengan rintihan kesakitan dari keempat orang yang sudah membuat seorang Jimmy marah.


"Ini peringatan kecil untuk kalian yang sudah berani-beraninya berkhianat. Jika kalian berani melakukannya lagi. Saya akan pastikan peluru di dalam pistol ini akan bersarang di kepala kalian. Rasa sakit yang kalian rasakan hari ini tak sebanding dengan dengan rasaa sakit yang di rasakan Kakak saya dan ketiga anaknya." Ucap Jimmy dengan tatapan yang mengerikan sebelum meninggalkan ruang kerja Beni.


Kini Jimmy melangkahkan kakinya ke unit apartemen mendiang Margareth. Ia masuk ke unit itu seorang diri. Sunyi senyap apartemen itu kini. Tak ada lagi suara tangisan Kenzo yang sering ia degar ketika mendatangi unit apartement Kakak sepupunya itu.


Hati Jimmy yang begitu sedih meratapi kepergian Kakak sepupunya bersama ketiga anaknya itu. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar Kenzo yang terlihat masih berantakan seperti habis digunakan untuk tidur. Ia membuka lemari pakaian keponakannya itu. Ia terkejut karena tak ada satupun baju keponakannya itu disana.


"Kemana baju-baju Kenzo? Apa mereka semalam ingin pergi dari Fabian sampai akhirnya terjadi kejadian naas itu?" Batin Jimmy bertanya-tanya.


Untuk memastikan dirinya Jimmy melangkahkan Kakinya ke kamar pribadi Margareth. Ia membuka lemarinya dan benar saja tak ada satu pakaianpun milik Margareth ada di dalam lemari, hanya pakai Fabian yang masih tertata rapih disana.


"Apa yang kau lakukan pada Kakakku Fabian?" Jimmy berkata dengen mengeratkan gigi-giginya. Rahang kokohnya terlihat begitu menonjol.


Dengan rasa amarah dan penuh emosi, Jimmy keluar dari unit apartemen Margareth. Ia mempercepat langkahnya, ia ingin mendatangi Pria brengsek yang jadi penyebab kematian Kakak sepupunya dan ketiga keponakannya.


Dengan menggunakan mobil Jeep Wrangler Rubicon Jimmy membelah jalanan kota J yang begitu ramai di siang ini dengan kecepatan tinggi menuju rumah kediaman Bagaskara di pusat Kota.


Jimmy tak menunggu seorang satpam membukakan pintu gerbang tinggi rumah mewah itu. Jimmy langsung menabrak pagar putih di hadapannya.

__ADS_1


Jimmy keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah tanpa permisi. Ia terus meneriaki nama Fabian di rumah besar nan mewah itu.


Suara hantaman mobil yang cukup keras dan teriakan Jimmy yang memanggil nama Fabian membuat orang seisi rumah keluar mendekat kesumber suara.


__ADS_2