
Rania tengah sibuk melihat koleksi baju pesta di butik, dia memilih gaun tanpa memperdulikan lagi harga gaun itu mau mahal ataupun mau murah Fabian pasti akan membayar tagihan belanjanya.
Pandangan Rania mengedarkan ke seluruh penjuru butik, belum ada satu gaun pun yang menarik perhatiannya. Kaki jenjangnya tidak lelah melangkah ke sana kemari untuk melihat-lihat gaun koleksi di butik itu, hingga akhirnya langkahnya terhenti di sebuah gaun yang terpajang di sebuah mannequin, ya gaun itu adalah gaun yang diinginkan Jessica tadi. Sebuah kebetulan dua wanita yang menyukai Fabian menyukai gaun yang sama. Namun Jessica tidak beruntung mendapatkannya, selain harganya yang mahal, Ana juga tidak mau membelikannya karena modelnya terlalu terbuka dibagian dada.
"Bie, gaun itu bagus aku mau yang itu boleh Bie?" ucap Rania pada Fabian yang duduk disalah satu sofa yang letaknya ada ditengah ruangan.
"Ambillah jika kamu menyukainya." ucap Fabian acuh, wajahnya seakan tak perduli Rania mau memilih apapun.
Saat ini Fabian ada bersama Rania namun fikiran dan hatinya tetap pada Jessica.
"Kamu ada dimana Jess? Saat ini aku sangat membutuhkan mu disamping ku. Aku ingin kamu menghiburku dengan celotehan mu, dan dengan wajah mu yang lucu saat kamu marah pada ku. ohh Jessica ,,, Hanya menyebut nama mu saja aku sudah sangat merindukanmu." batin Fabian nelangsa.
Seorang karyawan butik membantu Rania mengambil gaun yang ia inginkan. Kemudian mengantarkan Rania keruang ganti. Fabian menunggu Rania mencoba gaunnya ditempat yang sama. Ia menyibukkan dirinya dengan memainkan ponselnya. Disaat itulah Andre, Leon dan Jimmy melewati Fabian yang sedang duduk di sofa. Fabian yang tengah sibuk memainkan ponselnya tidak menyadari akan kehadiran mereka bertiga.
Sedang di lantai dua Jessica dan kedua sahabatnya sedang asyik memilih-milih gaun Bridesmaid setelah mereka menyelesaikan memilih gaun pengantin.
Terdengar gelak tawa mereka hingga ke lantai dasar. Fabian yang sangat hafal dengan suara khas tawa Jessica pun di buat terkejut.
"Jessica, kamukah itu, apa kamu ada disini?" tanya Fabian pada dirinya sendiri.
"Hahahaha" gema suara tawa mereka terdengar lagi hingga kelantai dasar.
"Aku yakin betul itu tawa Jessica" ucap Fabian lagi.
Seorang karyawan butik turun dari lantai dua, membawakan tiga setelan Jas untuk Andre Leon dan Jimmy. Saat karyawan itu melewati Fabian. Fabian menghentikan langkah karyawan butik itu.
"Mbak tunggu sebentar, apa yang tertawa diatas tadi itu ada tiga orang wanita?" tanya Fabian pada karyawan butik yang bernama Ema itu.
"Ya betul tuan." jawab Ema pada Fabian.
"Ya betul tuan tiga wanita yang menyebalkan, yang sudah menguras kesabaranku hingga habis." batin Ema.
__ADS_1
"Apa salah satu diantara mereka ada yang bernama Jessica?" tanya Fabian to the poin.
"Ya betul tuan, salah satu dari mereka ada yang bernama Jessica." jawab Ema. Jawaban Ema seketika membuat senyum merekah di wajah Fabian. Tanpa mengucapkan terima kasih Fabian segera melangkahkan kakinya ingin menghampiri Jessica di lantai dua. Namun sayang baru saja langkah kakinya menginjak anak tangga, Rania sudah datang dan memanggilnya.
"Bie, kamu mau kemana?" tanya Rania pada Fabian. Membuat Fabian menghentikan langkahnya dan kembali turun.
"Sial, dia datang." rutuk Fabian dalam hatinya.
Fabian tidak menjawab pertanyaan Rania, dia hanya tersenyum kaku di wajahnya.
"Kamu tau gak sih Bie, diatas itu khusus gaun pengantin, kamu kalau mau keatas tunggu aku dulu dong sayang." ucap Rania manja kepada Fabian.
"Khusus gaun pengantin?? Kenapa Jessica berada disana? Siapa yang mau nikah? apa mungkin temannya? Tidak mungkin dia yang akan menikah, lagi pula siapa calonnya? Dia sudah putus dari Diego dan dia tidak dekat dengan pria manapun, kecuali Andre yang berusaha mendekatinya." Fabian membatin.
"Bie, kamu kok diem aja sih, malah melamun, kamu lihat aku dong, gimana gaunnya cocok gak sama aku?" ucap Rania dengan suara khasnya yang manja, Ia memutar tubuhnya agar Fabian melihat Ia dan gaun yang ia kenakan.
"Cocok" jawab Fabian singkat
"Mbak aku jadi pilih yang ini ya." ucap Rania pada karyawan butik sambi menatap sebal Fabian.
"Bie, tunggu aku ya, aku ganti pakaian dulu" ucap Rania yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Fabian. Rania kembali keruang ganti. Fabian merasa memiliki kesempatan lagi untuk kelantai dua. Ia bergegas melebarkan langkahnya ke lantai dua.
Kini Fabian sudah berada dilantai dua. Netranya mengedar kepenjuru ruangan. Ruangan itu nampak sepi. Tidak mungkin Jessica sudah keluar dari lantai ini. Pasti dia akan melewati Fabian jika ia turun dari lantai dua.
"Kemana dia? Kenapa sekarang ruangan ini nampak sepi?" tanya Fabian pada dirinya sendiri. Fabian melangkah kakinya menuju pintu ruangan ganti diujung lantai dua.
Fabian membuka pintu ruangan tersebut yang tidak di kunci. Ternyata kosong, tidak ada satu orangpun disana. Baik Jessica, kedua temannya ataupun karyawan butik. Fabian melihat ada anak tangga lagi di sudut ruangan itu. Ia ingin melangkahkan kakinya kesana namun lagi-lagi Rania memangginya.
"Bie.. Aku kan sudah bilang, tunggu aku kalau kamu mau lihat-lihat gaun pengantin disini." ucap Rania yang melangkahkan kakinya menghampiri Fabian.
"Sial, dia selalu saja menghalangiku saat aku akan menemukan Jessica." batin Fabian.
__ADS_1
"Bie, ternyata kamu sudah tidak sabar yah untuk menikahiku, buktinya kamu bersemangat sekali mau membelikan ku gaun pengantin?" ucap Rania penuh percaya diri.
"Kau salah Rania, aku semangat kelantai dua karena aku ingin menemui Jessica bukan mau membelikan mu gaun pengantin" batin Fabian.
Fabian hanya tersenyum kaku di wajahnya.
"Sepertinya koleksi gaun pengantin disini tidak sesuai dengan selera ku Rania, sebaiknya lain kali kita cari gaun pengantin di tempat lain" ucap Fabian pada Rania. Ia ingin Rania mau segera di ajak turun agar jika nanti Jessica yang dia yakini ada di lantai atas turun, tidak akan melihat keberadaan Rania yang bersamanya.
"tapi Bie aku kan belum lihat-lihat" ucap Rania pada Fabian
"Ayolah Rania, belajarlah menuruti perkataanku" ucap Fabian seakan meminta Rania untuk pulang.
"Baiklah Bie" ucap Rania dengan wajah sedihnya.
Akhirnya Fabian dan Rania turun ke lantai dasar. Saat ia akan menuruni anak tangga terakhir, mereka berpapasan dengan Andre, Leon dan Jimmy. Fabian terperangah akan kehadiran mereka bertiga yang menggunakan setelan Jas yang tak biasa.
"Mau apa mereka dengan setelan jas seperti itu, seperti ingin menghadiri sebuah pesta saja, dan kenapa Leon ada disini bersama Andre? Apa mereka saling kenal?" tanya Fabian pada dirinya sendiri. Ini semua seperti teka-teki baginya. Teka-teki yang harus ia pecahkan sendiri jawabannya.
"Selamat siang Tuan Andre, senang bertemu dengan anda disini" sapa Rania dengan senyum mempesona pada Andre, namun Andre hanya diam mengacuhkan sapaan Rania.
"Permisi, calon istri ku sudah menungguku diatas." ucap Andre dengan wajah datarnya.
"Oh... maaf kan saya tuan, telah menghalangi jalan anda." ucap Rania kemudian ia segera menuruni anak tangga.
Andre, Leon dan Jimmy jalan begitu saja melalui Fabian yang berdiri terpaku karena perkataan Andre.
"Calon istri???" tanya fabian pada dirinya sendiri ketika Andre menyebut kata calon istri.
"Semoga diatas tidak hanya ada Jessica dan kedua sahabatnya, semoga masih ada wanita lain selain mereka, aku tidak rela jika dia mendapatkan Jessica, Jessica itu milik ku, calon istriku, calon ibu dari anak-anakku." batin Fabian.
bersambung
__ADS_1