
"Tolong jangan menangis sayang! Air matamu terlalu berharga jika hanya menangisi kesalahan yang tak pernah aku lakukan, dihidupku hanya akan ada dirimu, tidak akan ada yang lain," sanggah Leon dengan tangan yang tak hentinya mengusap air mata yang terjun bebas dari kelopak mata sang istri.
"Buktikanlah Mas!" tantang Anna yang menatap manik mata suaminya, ia mencari keyakinan dari keraguan yang ia rasakan saat ini.
Bukan tanpa alasan, menurut sudut pandang Anna,ia sangat mengetahui dahulunya Leon sangat mencintai Kiara. Berbagai macam cara pernah Anna lakukan untuk menarik perhatian Leon kala itu, tapi tak pernah berhasil menarik perhatian Leon sedikit pun, karena ia begitu mencintai Kiara. Namun kenyataannya malah sebaliknya, tapi sayangnya Anna tidak mengetahui akan hal ini.
"Aku akan segera membuktikannya pada mu sayang, tolong jangan pernah meragukan kesetiaan ku padamu," Leon berkata sembari menangkupkan wajah istrinya dengan kedua tangannya. Untuk beberapa saat mereka saling memandang satu sama lain. Leon memutuskan pandangannya pada sang istri dengan sengaja mengecup bibir merah jambu yang terlihat begitu seksi dan menggoda di mata Leon.
....
Sementara itu di tempat yang lain. Seorang pria yang baru saja tiba dari kota B terlihat berjalan dengan terburu-buru di lorong rumah sakit Central Kusuma di kota J.
Langkah pria itu terhenti ketika ia melihat sosok istrinya dengan perut buncitnya tengah berdiri bersandar di dinding ruangan rumah sakit sambil menangis tersedu-sedu melihat Ayah mertuanya masih tak sadarkan diri di dalam sana.
Melihat kesedihan sang istri dengan tanpa ragu, Fabian menarik tubuh Clara untuk masuk ke dalam pelukannya. Semula Clara begitu terkejut dengan apa yang di lakukan pria yang ia anggap orang asing ini padanya, namun setelah beberapa saat ia berada di dalam pelukan pria yang ia anggap orang asing ini, Clara menyadari bahwa pria yang ia anggap orang asing ini adalah suaminya.
"Berhentilah menangis, jangan bersedih lagi Clara, aku sudah ada disini!" Pinta Fabian dengan tangan yang terus sibuk mengusap punggung istrinya itu.
"Aku sangat mengkhawatirkan Daddymu, Bie," jawab Clara dengan isak tangisnya yang menjadi-jadi.
Salah jika kalian berpikir saat ini Clara sedang berakting, karena Clara yang dahulu dan Clara sekarang sungguh jauh berbeda. Perubahan Clara ini berkat dari buah kesabaran sang Ayah mertua yang selalu membimbingnya ke jalan yang benar.
__ADS_1
Saat ini jangan tanyakan bagaimana wajah Clara. Wajahnya terlihat begitu sembab dan bibirnya makin menebal seperti orang yang baru saja di antuk tawon, karena tak hentinya ia menangis dan terus menggigiti bibirnya melihat ketidak berdayaan sang Ayah mertua yang begitu baik padanya.
"Jangan khawatir berlebihan seperti ini, Clara! Tolong berusahalah untuk lebih tenang! Karena sudah ada Dokter yang menangani Daddy. Ingatlah satu hal Clara, kamu sedang mengandung, prioritaskan kandung mu, terlalu khawatir dan bersedih sangat tidak baik untuk dirimu dan anak kita nanti," ucap Fabian yang coba mengingatkan sang istri dengan kondisinya seraya mengelus perut sang istri dengan penuh perhatian
Clara terdiam mendengarkan ucapan Fabian barusan, ia berfikir memang benar ucapan suaminya ini. Berangsur-angsur isak tangis Clara pun mereda. Fabian menuntun Clara untuk duduk di sebuah bangku yang tersedia di lorong tersebut.
Meraka berdua duduk berdampingan, Fabian tak melepaskan rangkulannya pada Clara.
"Apa kamu sudah makan hum?" Tanya Fabian yang sejak tadi memperhatikan wajah Clara yang sembab dan terlihat memucat.
"Belum Bie, aku tak sempat," jawab Clara dengan suara lemahnya.
Melihat Fabian terlihat begitu perhatian padanya, senyum di bibir Clara pun terbit.
"Bie, kamu sudah berubah, benar kata Daddy mu, aku hanya perlu bersabar untuk menantikan dirimu seperti hari ini. Aku seperti sedang bermimpi, mendapatkan perhatian mu seperti ini, Bie. Semoga kamu akan terus seperti ini dan tak akan pernah berubah." Batin Clara yang memandangi wajah Fabian dengan penuh cinta.
Tiga jam kemudian, Tuan Bagas akhirnya sadar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat sekeliling ruangan dimana ia berada saat ini. Fabian dan Clara yang tengah duduk di sebuah sofa menyadari pergerakan tubuh Tuan Bagas segera menghampirinya.
"Syukurlah dirimu sudah sadar Dad," ucap Fabian saat melihat sang Daddy yang masih menatap ke langit ruang rawatnya.
Tuan Bagas menoleh saat Fabian berucap, ia menatap lengkang wajah sang anak dan tak lama kemudian terlihat bulir air mata menetes di wajah lelaki tua itu.
__ADS_1
"Dad, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Fabian yang nampak begitu khawatir.
"Maafkan Daddy Nak, Daddy sudah mengetahui semuanya. Maafkan Daddy yang tak bisa merubah sikap buruk Mommy mu hingga membuat hidupmu menderita seperti saat ini, Daddy hanya minta padamu untuk tidak dendam pada keluarga mereka, biarkan masalah ini sampai disini, Mommy mu memang pantas untuk menerimanya," tutur Tuan Bagas dengan isak tangisnya.
Walau bagaimanapun Suci adalah istri yang sangat ia cintai, mengetahui sang istri telah tiada karena di bunuh, hatinya begitu sedih. Namun dia bisa berkata apa, saat ia mengetahui penyebab seseorang membunuhnya dengan kejam. Ia sampai sakit seperti ini bukan karena menangisi kepergian Suci untuk selama-lamanya, melainkan karena ia merasa sudah gagal menjadi kepala keluarga yang harusnya bisa mengayomi istri dan anak-anaknya.
"Sudahlah Dad, semua sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya, lagi pula semua itu terjadi bukan hanya salah Mommy tapi juga salah diriku sendiri, maafkan diriku yang menyembunyikan kematian Mommy dari mu Dad, aku sangat mengkhawatirkan dirimu jika Daddy tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Fabian.
"Jangan menyalahkan dirimu Nak! Sakit sekali hati ini jika mendengar mu menyalahkan dirimu sendiri padahal dirimulah yang paling terluka saat ini," balas Tuan Bagas yang masih saja berlinang air mata.
"Dad, berhentilah menangis! Kuatkan dirimu, cepatlah sembuh. Setelah ini kita akan memulai hidup kita yang baru," ucap Fabian sambil mengusap telapak tangan Tuan Bagas.
"Daddy sudah berusaha untuk kuat Nak, namun apa daya, lelaki di hadapan mu ini sudah terlalu tua untuk menerima beban hidup hingga akhirnya lemah tak berdaya seperti ini, mungkin azalku sudah semakin dekat, Nak,"
"Dad, jangan bicara seperti itu!" Sanggah Fabian dengan nada sedikit meninggi, jujur saja ia masih takut dengan kehilangan.
"Fabian, cepat atau lambat Daddymu ini akan segera pergi menyusul Mommy mu, Daddy harap kamu bisa hidup bahagia bersama istrimu Clara, hargailah usahanya untuk mendapatkan cintamu selama ini," ucap Tuan Bagas yang mengerti dengan rasa takut yang dirasakan sang putra.
"Aku tahu itu, tapi aku harap Daddy tak pergi secepat ini, temani aku Dad, temani aku memulai hidupku yang baru, berusahalah untuk kembali sehat untuk terus bersama ku Dad," ucap Fabian dengan suara begitu lirih.
Tuan Bagas merentangkan tangannya, meminta Fabian untuk memeluknya, Fabian pun mendekatkan tubuhnya dan memeluk sang Daddy yang terbaring di brangkarnya, "Aku menyayangi mu Nak," ucap Tuan Bagas saat memeluk tubuh Fabian.
__ADS_1