
Perusahaan Batara Group
Pukul 11 siang.
Nico masih duduk di tempat yang sama seperti saat Brata meninggalkannya. Tidak ada yang ia lakukan di ruangan kerja sahabatnya itu selain merenungi kesalahannya.
Ceklek!! Suara handle pintu terbuka. Membuat Nico menoleh ke arah pintu masuk ruangan tersebut. Nico berdiri seketika saat melihat sosok pria tinggi tegap datang menghampirinya.
"Untuk apa Ayah ada di sini? Apa pertemuan ku dengan Om Brata ada kaitannya dengan Ayah?" Tanya Sosok Pria dengan wajah dinginnya yang ternyata adalah putra yang ia rindukan.
"Leon... Leonardo putra ku." Panggil Nico yang berjalan mengikis jarak diantara mereka.
Nico memeluk tubuh tegap kekar sang putra yang ia rindukan. Meskipun pelukannya tak di balas oleh sang putra, ia seakan tak perduli. Ia tak mau melepaskan pelukannya terhadap sang Putra.
"Leon, Ayah datang kesini ingin meminta maaf pada mu dan kedua suami adik-adik mu. Sebelum Ayah minta maaf pada mereka, bisakah kamu memaafkan Ayahmu ini? Ayah sudah menyadari kesalahan Ayah... Tolong maafkan Ayah mu ini Leon!" Ucap Nico dengan suara bergetar dan lirih.
"Ayah meminta maaf padaku?! Apa aku tak salah mendengarnya?!" Tanya Leon dengan nada mengejek pada Nico.
"Kamu tidak salah mendengarnya Nak, Ayah benar-benar minta maaf pada mu, maafkan kesalahan Ayah selama ini pada mu. Ayah sudah tahu beratnya jalan hidup yang kamu lalui karena kebodohan dan keegoisan Ayah. Ayah tahu kamu mendapatkan cemoohan dan hinaan dari orang sekeliling mu karena Ayah. Ayah mohon terimalah permohonan maaf Ayahmu ini Leon." Jawab Nico dengan tubuh yang makin lama merosot turun memohon maaf dari sang Putra.
"Bangunlah Ayah! Jangan bersikap makin bodoh dimataku dengan cara memohon seperti ini!" Ucap Leon yang menarik lengan Nico agar kembali berdiri namun Nico menolaknya.
"Ayah tak akan bangun jika kamu tidak memaafkan Ayah Leon, Ayah hampir gila dengan semua kenyataan yang hampir tak bisa Ayah terima. Tak hanya kalian yang menderita Leon, Ayah pun merasakan penderitaan yang sama dengan kalian." Tolak Nico dengan permintaannya yang sama dimaafkan putranya.
"Penderitaan kami bersumber pada Ayah, sedang Ayah menderita karena kesalahan Ayah sendiri. Sudah pernah ku katakan bersikaplah adil pada anak-anak mu Ayah, tapi Ayah tak mau mendengarkan ku. Ayah selalu mengorbankan Jessica hanya demi kebahagiaan Cynthia. Tapi apa sekarang Ayah? Ternyata Cynthia bukanlah anakmu, sudah lama hati ibu terluka karena dua anaknya dikorbankan hanya karena satu anak tapi ternyata anak yang dibela suaminya adalah anak dari mantan calon istrinya terdahulu. Hati istri mana yang tidak sakit Ayah?" Cecar Leon pada Nico yang terus mengelengkan kepalanya.
"Maafkan Ayah Leon... Tolong beri Ayah kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Ayah ingin berkumpul kembali bersama kalian." Nico terus memohon maaf pada putranya dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Aku sudah lama memaafkan mu ayah, tapi aku tak bisa bersikap seperti Leon yang dulu lagi kepadamu. Seperti dirimu yang tak bisa bersikap seperti dulu lagi kepada Kakek dan Nenek." Pungkas Leon yang menampar hati Nico.
Ucapan Leon praktis membungkam mulut Nico yang sejak tadi terus memohon maaf pada putranya itu.
"Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya, dan saat ini aku sedang memetik karma burukku sendiri." Batin Nico yang teriris perih akan kata-kata putranya.
Ceklek!! Pintu ruangan kerja Brata kembali terbuka. Leon dan Nico menoleh kearah pintu ruangan yang terbuka itu.
Nampak terlihat Brata datang bersama Andre dan juga Jimmy. Tak ada wajah keterkejutan yang nampak pada wajah Andre. Meskipun ia belum diberi tahu oleh Brata maupun Jimmy tentang kedatangan sang Ayah mertua di ruangan kerja Papinya.
Andre berjalan menuju sofa panjang dan mendaratkan bokongnya di atas sofa itu.
"Buka jendelanya Jod! Berikan kami asbak dan buatkan kami kopi!" Perintah Andre pada assiten sang Papi.
"Baik Tuan Muda." Jawab Jodi yang langsung menjalankan perintah Tuan Mudanya.
Sementara Jimmy yang datang langsung menghampiri Nico dan mencium punggung tangan Ayah mertuanya itu dan menepuk bahu Leon, kemudian ikut duduk di samping Andre.
Andre sibuk menyalakan rokok yang ada di tangannya. Tak perlu waktu lama Jodi membawakan nampan berisikan kopi untuk mereka semua. Setelah meletakkannya Jodi langsung undur diri.
"Sejak kapan kau jadi pecandu rokok Ndre?" Tanya Brata pada sang Putra.
"Sejak, istri ku selalu bermimpi buruk karena di tuduh melakukan kejahatan yang tak pernah ia lakukan. Ingin ku bunuh saja orang yang menuduh istrinku itu tapi sayangnya dia Ayah mertua ku." Jawab Andre yang langsung mendapatkan sorot mata tajam dari Brata dan juga Jimmy.
"Andre jaga bicaramu!" Bentak Brata yang tak ingin anaknya bersikap kurang ajar pada ayah mertuanya.
__ADS_1
"Untuk apa aku menjaga bicara ku Pih? Apa karena ada Tuan Nico disini jadi aku harus menjaga bicaraku padanya? Sepertinya tidak perlu. Beliau saja tak pernah menganggap keberadaan istriku untuk apa aku menganggap orang yang menjadi sumber penderita istriku. Setiap malam istriku terbangun hanya karena mimpi buruk tentang dia dan dia lagi." Balas Andre dengan nada bicara yang naik satu oktaf.
Mendengar ucapan sang anak Brata hanya bisa mengelus dada dan menggelengkan kepalanya.
Sedang Nico yang mendengar ungkapan isi hati menantunya hatinya kembali teriris-iris, ia sedang merasakan sesak di dadanya. Rasanya ia ingin teriak dan memaki kebodohannya sekarang juga namun apa daya mulutnya seakan terkunci tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Ndre...tenangkan dirimu!" Ucap Jimmy yang menepuk bahu Andre.
"Sejak masuk tadi aku sudah berusaha tenang Jim, jika aku tak berusaha tenang mungkin aku sudah menghabisinya sejak tadi." Ucap Jimmy dengan seloroh mata yang tajam menatap tangan Jimmy yang menepuk bahunya.
Jimmy yang mendapatkan tatapan tajam dari Andre segera menyingkirkan tangannya.
"Sepertinya emosimu ini bawaan kedua bayi mu Ndre." Bisik Jimmy pada Andre yang membuat Jimmy mendapatkan sikutan dari Andre pada perutnya.
"Auuu... Sakit sekali Ndre. Kejam sekali kau Ndre, melakukan kekerasan padaku." Rintih Jimmy yang merasakan sakit pada perutnya yang sering merasa lapar semenjak mengetahui istrinya tengah mengandung buah hatinya.
"Lemah sekali sekarang kau Jim, mungkin sikap lemah mu ini bawaan anakmu." Ucap Andre mengembalikan kata-kata Jimmy yang membuat Jimmy menepuk keras paha Andre .
Plak..!!!
"Auu...sakit sekali... Jim, keterlaluan Kau!!" Rintih Andre yang sudah bersiap membalas kembali pukulan Jimmy dengan mengangkat tangamnya tinggi-tinggi.
"Andre, Jimmy... Bisakah kalian tidak ribut sendiri!" Tegur Leon yang memandang dengan tatapan ingin menerkam keduanya.
"Aishhhh... pria datang bulan marah-marah lagi." Gumam keduanya bersamaan dengan suara pelan yang masih dapat didengar semua orang yang ada di ruangan kerja Brata dengan saling berpandangan satu sama lain.
"Diam kalian berdua!!" Bentak Leon.
"Maaf Om, mereka memancing emosiku."
"Jangan kau anggap gerutuan mereka yang senang jika kau makin marah pada mereka, Leon!"
"Iya Om..."
"Duduklah! Mari kita bicara dengan kepala dingin,"
Nico dan Leon berjalan menghampiri sofa yang ada Andre dan Jimmy yang sudah duduk terlebih dahulu disana.
Brata menarik kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya untuk duduk saling berhadapan dengan mereka.
"Kalian mungkin sudah tahu maksud dan tujuan Papi memanggil kalian datang kesini."
"Hemmm..." Andre mendehem.
"Papi ingin kita bisa hidup berdamai dengan masa lalu dan menatap masa depan bersama dengan keluarga yang utuh dan kompak."
"Hemmm..." Andre lagi-lagi berdehem.
"Di luar sana ada banyak musuh yang sedang mencari kelemahan kita, salah satu kelemahan kita adalah keluarga yang terpecah belah karena keegoisan."
"Hemmm.." Andre lagi-lagi berdehem yang membuat Leon makin jengkel pada adik iparnya itu.
Brata juga merasa jengkel dengan sikap Andre yang terus memotong ucapannya dengan terus berdehem, namun dia masih berusaha sabar dan memilih mendiamkan kelakuan Andre yang menyebalkan semenjak Jessica dinyatakan hamil.
__ADS_1
"Jangan sampai keluarga kita hancur lebur karena keegoisan kita yang tidak mau saling memaafkan!"
"Hemmmm...." Lagi-lagi Andre berdehem.
"Jadi Papi harap kalian bisa memaafkan kesalahan yang di lakukan oleh Ayah Nico."
"Hemmmm..." Lagi dan lagi Andre berdehem yang makin membuat Leon dan Brata kesal.
"Andre bisakah kamu diam dan tidak terus hamm-hemm... hamm-hemm ... Kenapa tingkahmu semakin hari semakin menyebalkan hah!" Omel Leon yang sudah tak bisa menahan rasa jengkelnya.
"Hemmm... Entahlah... Aku sangat menyukai jika kamu kesal dan marah padaku, Leon si Pria datang bulan." Balas Andre yang membuat Leon menimpuk bantal sofa kearah Andre.
"Leon, Andre!!" Panggil Brata yang sudah memicingkan matanya.
"Bagaimana apa kamu bisa memaafkan Ayahmu Leon?"
"Aku sudah memaafkannya Om, tapi aku tak bisa bersikap seperti dulu lagi. Mungkin aku perlu waktu untuk meruntuhkan rasa kecewaku yang sudah menggunung padanya."
"Ok Leon, Papi harap waktu yang kau perlukan tidak terlalu lama dan cepatlah berdamai dengan dirimu sendiri agar semua rasa kecewamu dan rasa benci terhadap Ayahmu itu sirna."
"Iya Om..." Jawab Leon dengan manggut-manggut. Leon masih tidak bisa memanggil Brata dengan sebutan Papi meskipun Brata terus membiasakan dirinya untuk memanggilnya dengan sebutan Papi.
"Jim, bagaimana dengan dirimu?"
"Ayah tak perlu meminta maaf padaku, karena Ayah tak pernah berbuat salah padaku. Minta maaflah pada istriku, aku akan membantu Ayah untuk mendapatkan maaf dari istriku yang keras kepala." Jawab Jimmy yang membuat senyum Nico terukir.
"Terimakasih Jimmy." Ucap Nico dengan senyum yang terukir diwajahnya yang terlihat lebih tirus seperti tidak terurus.
"Andre, bagaimana dengan mu Nak?" Tanya Brata pada anaknya yang sudah memasang wajah menyebalkan.
"Ya...Aku bagaimana istriku saja, jika dia bisa memaafkan Ayahnya, maka aku akan memaafkannya."
"Tapi jika tidak, bagaimana?" Tanya Brata lagi.
"Ya gak gimana-gimana, istriku sedang hamil aku tak berani memaksanya. Tuan Nico saja yang harus berusaha sendiri untuk mendapatkan maaf darinya. Aku tidak mau mengambil resiko." Jawab Andre yang membuat Leon senyum mengejeknya.
"Bilang saja kau takut tak di kasih jatah dan tidur di luar Ndre." Tebak Leon dengan tatapan mengejek.
"Ya begitulah kiranya. Aku tak seperti Jimmy yang tahan di siksa istrinya yang kejam." Ujar Andre yang melirik Jimmy.
"Intinya kau tak mau berkorban untuk Ayah mertuamu Nak, bukan begitu?" Tanya Brata lagi pada putranya.
"Hemmmm.... Bisa dikatakan seperti itu." Jawab Andre.
"Jadi bagaimana Nic? Kau sudah mendengar jawaban mereka. Tinggal bagaimana usaha mu mendapatkan maaf dari para wanita di hidupmu itu." Ujar Brata yang menatap Nico dengan tatapan teduhnya.
"Terimakasih atas bantuan mu, Brata, aku akan melanjutkan perjuangan ku mendapatkan maaf dari kedua putri ku dan juga istriku." Ujar Nico yang berdiri menghampiri Brata.
"Semangatlah Nic, aku akan selalu mendukung dan membantu mu." Balas Brata yang tengah berdiri berhadapan dengan Nico.
"Apa sudah selesai, aku mau pamit, perutku sudah terasa perih dan lapar." Ucap Jimmy yang sedang berdiri sembari mengelus perutnya yang sudah bunyi keroncong sejak tadi.
Semua mata memandang Jimmy yang terlihat begitu tak sabar ingin keuar dari ruang kerja Brata. Tingkah Jimmy yang mirip dengan Endah sekarang membuat mereka menertawakan Jimmy bersama-sama. Jimmy yang di tertawakan seolah tak perduli dan langsung keluar dari ruang kerja Brata. Andre dan Leon yang jahil segera menarik masuk tubuh Jimmy untuk kembali masuk ke ruang kerja Brata.
__ADS_1