
Andre melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Pikirannya sangat cemas membayangkan kondisi Jessica saat ini. Jimmy dari ruang meeting menghubungi Bowo bawahannya untuk menyiapkan mobil untuk Andre di lobby. Ketika Andre sudah berada di lobby Bowo yang sudah berada disana berjalan menghampiri Andre.
"Silahkan Tuan! Saya yang akan mengatar Tuan ke Perusahaan Nagaswara." ucap Bowo dengan menunduk hormat.
Andre kemudian masuk kedalam mobil setelah Bowo membukan pintu mobil untuknya.
"Cepat kendarai mobil mu!" ucap Andre pada Bowo dari kursi belakang.
"Baik Tuan" jawab Bowo dibalik kemudinya.
Jalanan mulai terlihat padat pada jam sibuk seperti saat ini. Andre segara menghubungi Jimmy dengan ponselnya.
"Jim, aku butuh Patwal untuk memecah kemacetan." ucap Andre.
"Baik Tuan, Patwal akan segera datang mengawal mobil Tuan." jawab Jimmy di ujung teleponnya.
Tidak berapa lama sebuah motor patwal datang dari arah belakang.
"Tin...Tin..." Patwal memberi kode pada mobil yang dikendarai Bowo. Bowo segera menyalakan lampu hazard dan mengikuti motor Patwal di depannya. Tidak sampai dua puluh menit Andre sudah tiba di perusahaan Fabian.
Kedatangan Andre dengan di kawalan Polisi membuat karyawan Fabian terkejut dan tercengang. Membuat mereka bertanya-tanya. Ada apa yang terjadi hingga membuat Andre datang ke perusahaan ini dengan menggunakan Patwal? Apa segitu penting keperluannya hingga ia nampak begitu tergesa-gesa?
Andre yang baru datang segera berlari menghampiri meja resepsionis.
"Selamat siang Tuan Andre. Ada yang bisa kami bantu?" sapa staff resepsionis.
"Lantai berapa ruangan Jessica?" tanya Andre dengan nafas yang terengah-engah.
"Lantai 5 tuan. Jessica berada di ruangan AE yang berada di pojok sebelah kiri dari lift." jawab staff resepsionis menjelakan keberadaan Jessica.
Setelah mendapatkan informasi, Andre berlari ke arah pintu lift. Ia menekan tombol dengan emosi dan rasa cemas yang menghantuinya. Bowo berusaha mengejar langkah Tuannya yang berjalan begitu cepat.
Andre kini sudah berada di lantai 5. Setelah sampai dilantai 5. Andre segera berlari lagi menuju ruangan Jessica. Terdengar suara teriakan dan tangisan Jessica yang menyayat hati Andre dari depan muka pintu.
"Brukk" Andre membuka pintu dengan kasar.
Semua orang yang berada di ruangan yang sedang menenangkan Jessica dibuat terkejut akan kedatangan Andre.
"Kayanya tadi Jessica nelpon abangnya kenapa yang dateng Tuan Andre?" batin Lina.
Melihat Andre datang Jessica bukannya diam malah mengeraskan suara tangisannya. Andre berlari menghampiri Jessica memecahkan kerumunan di meja Jessica. Netra Andre fokus pada punggung tangan Jessica yang sudah memutih karena di oles pasta gigi begitu banyak.
"Sakit...Panas..."keluh Jessica pada Andre. Di saat Andre memegangi telapak tangan kanan Jessica memperhatikan punggung tangan Jessica yang tersiram air panas itu
"Aku mau pulang." ucap Jessica lagi dengan memandang wajah Andre. Wajah Jessica sudah basah dengan air mata membuat hati Andre meradang.
__ADS_1
"Mana tas mu, Sayang?" tanya Andre. Lina dengan sigap memasukan ponsel Jessica yang berada diatas meja kedalam tas kemudian memberikan tas kerja Jessica pada Andre. Andre pun menerimanya dan memberikan senyuman kepada LIna sebagai tanda berterima kasih.
"Sayang, jawab pertanyaanku sebelum kita pulang! Siapa yang membuat tangan mu sampai jadi seperti ini?" tanya Andre pada Jessica.
Disisi lain staff resepsionis menelepon Clara memberitahukan kedatangan Andre yang sedang mencari keberadaan Jessica.
"Selamat siang mbak Clara, saya ingin menginformasikan Tuan Andre datang mencari Jessica, mungkin sekarang beliau sudah berada di ruangan AE." ucap Staff resepsionis itu.
Deg! Clara terkejut.
"Ok... Terimakasih atas informasinya" Clara menutup panggilan Intercom setelah mendengar informasi dari bagian resepsionis.
" Saatnya menyaksikan waktu pertunjukkan." batin Clara dengan senyum liciknya.
Clara berjalan keruangan Fabian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di lihatnya Rania sedang duduk diatas pangkuan Fabian, Memeluk Fabian dengan manja. Mereka seperti habis bertukaran slavina.
"Cih, Kau nikamati saja ciuman terakhirmu dengan Fabian, Rania." batin Clara.
"Clara bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?" bentak Rania.
"Maaf nona Rania, ini sangat urgen." ucap Clara dengan menunduk.
"Ada apa?" tanya Fabian.
"Dimana dia? Bukannya kita baru saja bertemu, mau apa dia datang kesini?" tanya Fabian lagi.
"Tuan Andre ada di ruang AE pak, kedatangannya kesini mencari keberadaan Jessica." jawab Clara.
Jawaban Clara membuat Fabian terkejut. Membuat Fabian langsung berdiri tanpa perduli Rania yang sedang duduk di atas pangkuannya hingga membuat tubuh Rania terhempas jatuh ke bawah.
"Hahaha... Rasakan ini baru hempasan pertama yang kamu rasakan Rania. Kau akan merasakan lagi Fabian menghempasmu dari hidupnya ketika Fabian mengetahui kamulah yang menyiram Jessica dengan air panas tadi." batin Clara.
Fabian bukannya menolong Rania dia malah melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari ruangannya. Dia berjalan cepat seperti berlari menuju ruangan Jessica yang berada satu lantai dengan ruangannya.
Rania bangun dibantu oleh Clara.
"Fabian kau tega sekali melakukan ini padaku. Lihat saja aku akan mencelakainya lebih parah dari ini!" ucap Rania yang di dengar oleh Clara.
Rania dan Clara menyusul langkah Fabian menuju ruangan Jessica.
Mereka sudah sampai di muka pintu. Fabian berjalan perlahan saat melihat Andre sedang mengamati punggung tangan Jessica dan didapatinya Jessica sedang menangis terisak merasakan kesakitan. Mata Fabian fokus pada punggung tangan Jessica.
"Apa yang terjadi?" tanya Fabian pada dirinya sendiri.
Para karyawan yang berkerumun langsung memecahkan diri ketika menyadari kedatangan Fabian.
__ADS_1
Rania yang melihat kedekatan Andre dan Jessica mulai di hantui oleh rasa takut.
"Wanita murahan itu siapanya Tuan Andre? Mengapa mereka begitu dekat?" batin Rania.
Deg! Tiba - tiba rania mengingat pertemuannya dengan Andre di Claudia Boutique.
"APA!!! Apa dia calon istrinya? Hah aku dalam masalah besar jika benar dia calon istrinya Tuan Andre." batin Rania lagi. Wajah sombong Rania seketika berubah. Rasa cemas dan ketakutan mendominasi di balik wajah cantiknya.
Clara yang melihat perubahan raut wajah Rania bersorak di dalam hatinya.
"Aku tak perlu bersusah payah menyingkirkan wanita kejam seperti dirimu Rania. Permainanku begitu cantik bukan?" sorak sorai dalam batin Clara.
"Siapa yang melakukannya katakan padaku hemm..? Jangan takut ada aku disini! Aku akan selalu melindungi mu sayang." Andre mengulang pertanyaanya karena Jessica tak kunjung menjawab.
Jessica melihat kedatangan Fabian, Rania dan juga Clara didalam ruang kerjanya. Dia tatapnya wajah Rania lebih lama seakan memberi tahu Andre dialah pelakunya.
"Dia maksudmu?" tanya Andre pada Jessica. Kemudian Jessica mengangguk dan kembali menangis. Andre membawa Jessica dalam pelukkannya ketika Jessica kembali menangis.
"Sudah - sudah jangan menangis lagi, mari kita pulang!" ajak Andre.
"Tunggu dulu!! Kau tidak berhak membawanya pergi dari sini. Dia ini karyawan ku, dia tidak boleh pergi dari sini tanpa seizinku." ucap Fabian menghentikan langkah Andre dan Jessica dengan mencengkram kuat lengan Andre.
"Lepaskan cengkraman tanganmu Fabian! Jangan halangi jalan ku Fabian! dia ingin pulang." ucap Andre.
"Biarkan dia pulang denganku, pergilah kau dari perusahaan ku!" usir Fabian.
"Jangan membuat kesabaranku habis Fabian! Kau ingin kita berkelahi untuk ketiga kalinya?" ucap Andre.
Ucapan Andre membuat Rania menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena terkejut mengetahui penyebab Fabian datang ke apartemannya semalam dalam kondisinya yang luka-luka karena habis berkelahi dengan Andre.
"Cukup kak aku tidak mau kalian berkelahi lagi! Biar aku pulang menunggu bang Leon saja." ucap Jessica dengan suara terisak.
"Leon-lah yang memintaku menjemputmu." jawab Andre.
Deg! Fabian tak bisa menahan Andre membawa Jessica pergi. Fabian melepaskan cengkraman tangannya dilengan Andre. Bowo menghampiri Tuannya. Mengambil alih tas Jessica yang dibawa oleh Andre.
Andre berjalan sembari merangkul tubuh Jessica. Ketika berada di hadapan Rania. Andre menghentikan langkah kakinya.
"Rania, kau tunggu saja pembalasan ku atas apa yang kau lakukan pada wanita yang ku cintai." ucap Andre dengan menatap tajam wajah Rania.
"Ma....ma...maafkan aku Tuan. Aku tidak sengaja melakukannya." ucap Rania terbata.
"Aku tak akan pernah menerima maafmu Rania. Persiapkan saja diri mu untuk menerima pembalasanku!" ucap Andre kemudian pergi berlalu. Ucapan Andre membuat Rania dan juga Clara bergidik ngeri.
bersambung
__ADS_1