
"Hallo nak..." suara berat nan lemah menyapa di pendengaran Jessica.
Suara yang sangat ia kenali, suara yang selama ini ia rindukan namun ia simpan rapat-rapat kerinduan itu karena rasa kecewa dan sakit hati lebih mendominasi. Jessica terdiam sesaat setelah mendengar suara Ayahnya yang begitu lemah.
"Bicaralah padanya, buanglah sedikit egomu sayang, ayahmu sedang sakit karena merindukan mu juga ibumu. Sudah cukup kalian menyiksanya dengan mengacuhkannya untuk sekian lama seperti ini." Andre mendorong Jessica dengan menasehatinya agar mau bicara pada Ayah mertuanya itu.
"Hallo Ayah..." akhirnya Jessica menyapa sang ayah di sebrang sana. Setelah mendengar nasehat yang diberikan suaminya.
Di sebrang sana Nico tersenyum sambil menangis haru karena bisa mendengar suara putri bungsunya yang menyapanya kembali.
"Hallo Ayah, apa ayah masih disana?" Tanya Jessica saat Nico tak kembali bersuara.
"Ayah masih di sini Nak, ayah sedang sakit Nak, dan sekarang ayah sedang dirawat di rumah sakit. Ayah sangat merindukan mu Nak, apakah kamu juga merindukan Ayah? Bisakah kamu kemari untuk menjenguk ayah dan sudi untuk memeluk tubuh ayahmu ini?" Sahut Nico dengan berbagai pertanyaan dan permintaannya dan dengan suara seraknya karena sambil menahan tangis haru bahagia mendengar kembali suara putrinya.
"Aku akan kesana secepatnya bersama ibu untuk merawat ayah sampai sembuh." Jawab Jessica dengan siara datarnya namun seketika membuat tangis haru Nico pecah karena terlalu bahagia mendengar jawaban Jessica.
"Ayah, kenapa ayah menangis? Apa ada kata-kata ku barusan yang menyakiti mu, Ayah?" Tanya Jessica yang mendengar suara tangis Ayahnya.
"Tidak nak, tidak ada kata-kata mu tadi yang menyakiti ayah mu ini nak, tak pernah ada sedikit pun kata-katakamu yang menyakiti ayah mu ini nak, malah sebaliknya kata-kata ayahmu inilah yang selama ini menyakiti mu, tolong berikan maaf mu ini pada ayah mu yang selalu membuatmu sakit hati dan kecewa, nak." Ucap Nico dengan rasa penyesalannya.
"Aku sudah memaafkan ayah tapi aku perlu waktu untuk mengobati semua rasa sakitku." Balas Jessica dengan suara yang bergetar, ia sedang berusaha menguatkan dirinya untuk tidak menangis.
"Apa masih belum cukup waktumu selama ini mengacuhkan ayah mu ini Nak?" Tanya Nico yang khawatir akan di acuhkan kembali.
"Mungkin sudah cukup, tapi hatiku masih berat untuk kembali bersikap seperti Jessica yang dulu. Jessica yang dulu terlihat begitu bodoh yang selalu berharap ayah bisa memberikan kasih sayang yang sama seperti cara ayah menyayangi Cynthia." Ucap Jessica yang seakan menampar Nico. Jessica tak lagi memanggil Cynthia dengan sebutan Kak Cynthia seperti apa yang di inginkan Endah kakak kandungnya pada dirinya.
"Maafkan ayah Nak, masi adakah kesempatan ayah untuk memperbaiki semua ini?" Balas Nico dengan hati yang begitu sedih.
__ADS_1
"Ada tidaknya kesempatan bagaimana ayah memperlakukanku nanti didepan Cynthia dan seharusnya ayah bertanya pada Cynthia, apakah dia akan memberi kesempatan pada ayah untuk memperbaiki semua ini." Jawab Jessica yang menyadarkan Nico bagaimana sikap Cynthia selama ini yang selalu menguasai dirinya dan tak pernah memberikan kesempatan Nico memperhatikan anak yang lain selain dirinya.
"Ayah akan berusaha merubahnya Nak tanpa harus bertanya pada kakak mu Cynthia." Sahut Nico yang seakan ingin membuat Jessica yakin dia akan berubah.
"Cynthia bukan Kakakku, sampai kapanpun aku tak akan menganggapnya sebagai kakakku. Maaf Ayah sepertinya perutku mulai keram karena terlalu banyak duduk, kita bisa sambung pembicarakan kita nanti saat kita bertemu. Dah ayah cepatlah sembuh, aku merindukan mu selalu merindukan mu." Ucap Jessica yang berusaha menghentikan perbincangan mereka itu dengan suara yang bergetar.
Ia terus berusaha menahan air mata yang ingin jatuh dari kelopak mata indahnya. Di saat nahasnya mulai merasakan sesak karena menahan tangisnya ia memikih untuk langsung menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu Nico menanggapi ucapan terakhirnya pada panggilan teleponnya itu.
Sedang di ujung telepon sana, saat Jessica menutup begitu saja panggilan teleponnya. Raut kesedihan kembali terpancar dari wajah pucat Nico.
"Dia masih marah Brat, dia bicara karena permintaan putra mu." Ucap Nico dengan suara yang kembali lemah tak bersemangat memberikan ponsel milik Brata kepada sang pemiliknya.
"Sabarlah Nic, kamu terlalu banyak menyakitinya dengan terus memberikan kekecewaan padanya. Tunggulah dia kembali kesini, bersikaplah baik padanya, manjakan dia seperti saat kau memanjakan dia di waktu kecil, aku yakin dia pasti luluh dan dekat lagi denganmu." Kata-kata Brata seakan kembali menampar diri Nico.
Ia terdiam menatap langit-langit ruang rawatnya dan dia pun tersadar, dia hampir tak pernah memanjakan Jessica sejak tragedi menghilangnya Cynthia pada saat Jessica masih duduk di sekolah dasar.
"Sudah Nic, sabarkan hati mu, memang penyesalan itu selalu datang di saat kita sudah menyadari kesalahan yang pernah kita lakukan Nic." Ucap Brata yang berusaha menenangkan besan sekaligus sahabatnya itu.
"Lagi pula benar apa yang di ucapkan Menantuku itu, Cynthia bukanlah putri mu, jadi pantas saja jika menantuku tak mau menganggapnya sebagai Kakaknya." Ucap Brata dalam hatinya sembari menatap sinis Cynthia yang tengah duduk sembari mengusap perutnya yang membuncit.
Di ujung sofa Cynthia yang melihat dan mendengar keterpukulan Nico setelah berbicara pada Jessica melalui sambungan telepon merasa begitu cemburu. Dalam senyum manis yang ia pancarkan kepada Brata yang memperhatikannya, ada kedengkian yang tersimpan begitu rapat olehnya.
"Dasar wanita bermuka dua, jangan kau pikir aku bisa kau tipu dengan senyum manis penuh kedengkian mu itu. Awas saja jika kau berniat macam-macam kepada menantu dan calon cucuku. Akan ku buat hidup mu dan Ibu mu menderita." Ucap Brata di dalam hatinya sembari membalas senyum Cynthia dengan begitu ramah.
"Sepertinya aku harus segera menghubungi Mami dan Omma Suci untuk melancarkan aksiku merebut Andre dari Jessica, aku juga tidak mau perhatian Ayah direbut oleh Jessica, seperti Ibu merebut Ayah dari pelukkan Mami. Tunggulah sebentar lagi Mami kita akan hidup berkumpul bersama Ayah, setelah aku berhasil menyingkirkan Jessica, Bang Leon dan Ibu. Dan bonusnya aku mendapatkan Andre, pengusaha nomor satu di Negri ini sebagai Ayah bayi yang ku kandung....hahaha... tidak dapat Diego aku dapat pangeran kaya dan tampan seperti Andre...hahahahaha...." Ucap batin Cynthia yang tersenyum senang sembari menatap perut buncitnya.
Diam-diam Ayumi memperhatikan apa yang dilakukan Cynthia dengan tatapan tak sukanya.
__ADS_1
"Apa kau sudah mulai tak waras, senyum-senyum sendiri seperti itu?" Ucap Ayumi dengan tatapan mata yang tak enak di lihat.
"Aku sedang membayangkan Kak Andre menjadi ayah dari anakku Tante." Jawab Cynthia dengan penuh percaya diri.
"Cih, apa kata mu barusan? Apa aku tak salah mendengarnya? Aku rasa kamu sedang bermimpi terlalu jauh. Putraku tak akan pernah menjadi ayah dari bayi yang kau kandung, bayi yang tak jelas asal-usulnya. Dan aku tak akan membiarkan keinginanmu itu tercapai, kau sudah salah bicara seperti ini pada ku." Ucap Ayumi dengan tatapan tajam menghunus langsung kejantung Cynthia.
"Tante tak akan bisa berbuat apa-apa jika nanti Kak Andre jatuh cinta padaku." Sahut Cynthia masih dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Hahaha... jatuh cinta pada mu kau bilang? Melihatmu saja putraku sudah jiji apalagi jatuh cinta pada mu. Dengar Cynthia jangan kau pikir kami tidak tahu siapa dirimu sebenarnya. Jika keluarga Abraham bisa kau tipu tapi tidak dengan keluarga ku. Berhati-hatilah jika mau berususan dengan keluargaku Cynthia." Ancam Ayumi dengan tatapan sendu dan wajah lemah lembut yang menipu.
"Pih, ayo kita pulang, mami sudah sangat lapar, rasanya jika disini terus Mami jadi ingin makan orang deh." Pekik Ayumi yang mengajak suaminya pulang.
"Nic, sorry, sepertinya istriku sudah bosan, aku pulang dulu ya, aku akan kembali bersama anak dan menantuku nanti. Ceoat sembuh ya Nic," ucap Brata yang berpamitan pada Nico.
"Makasih Brat sudah menyempatkan waktimu untuk menjenguk diriku ini." Sahut Nico yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Brata.
"Sama-sama Nic, jangan anggap aku orang lain, kita ini sudah menjadi saudara. Kau adalah besanku sekarang pasti aku akan menyempatkan waktu untuk dirimu sobat."
"Iya Brat, terimakasih sudah mau menerima putri bungsuku menjadi menantu mu."
"Putrimu itu sangat sopan, berhati baik dan tulus selain ia memiliki kecantikan dan otak yang sangat pintar, aku sangat senang dan bangga memiliki menantu seperti dirinya Nic, baiklah kalau gitu aku pamit ya. Lihatlah isyriku sudah mulai menekuk wajahnya karena tak sabar ingin pulang." Puji Brata pada Jessica yang membuat hati Cynthia meradang.
"Aku lebih cantik dan lebih pintar Om," sahut Cybthia dengan tak tahu malunya.
"Oh iya tentu kamu memang lebih cantik dan seksi tapi murahan dan kamu memang pintar merebut dan menipu orang seperti ibu mu." Sahut batin Brata.
"Oh iya tentu kamu memang lebih cantik dan pintar sayang." Sahut Brata pada kenyataannya yang pura-pura memuji Cynthia.
__ADS_1
Pujian Brata pada Cynthia membuat Ayumi istrinya kesal dan menatap tajam dirinya. Namun berbeda dengan Cynthia yang terlihat begitu senang, ia merasa di terbangkan ke atas awan mendengar pujian dari Bapak mertua Jessica itu.