Cinta Jessika

Cinta Jessika
Borni


__ADS_3

Dua puluh menit berlalu, cara kerja Alan membuat Andre berdecak kagum. Banyak ide kreatif yang ia tuangkan di dalam proposal sehingga banyak hal yang di bahas oleh Andre maupun Alan.


Ketika Andre larut dalam pekerjaannya, ia tak menyadari istri yang setia menunggunya sedang tertidur dengan lelapnya di atas sofa. Ia duduk membelakangi dirinya, menatap kearah jendela. Majalah yang ia bacapun sudah jatuh kebawah lantai, karena pembacanya sudah memejamkan mata.


Tok...tok...tok suara ketukan pintu dari luar terdengar.


Borni segera membukakan pintu ruang kerja Tuannya itu. Seorang pria dengan setelan jas berwarna cokelat berdiri di muka pintu.


"Apa saya datang terlambat?" Tanya Pria itu tanpa rasa malu yang membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Borni.


"You orang gak bisa hargai waktu ya? Kalau saja isi proposal You orang gak berbobot, udah ekeh eliminasi yey dari tadi." Omel Borni di depan pintu sebelum mempersilahkan sosok pria berjas coklat itu yang tak lain adalah Fabian.


"Maaf, tadi saya benar-benar sakit perut dan ingin kebelakang." Sahut Fabian yang berusaha ramah meskipun kesal karena dapat omelan dari sekertaris Andre itu.


"Sakit perut you orang bilang, tolong jangan di jadikan alasan yah sakit perut you orang itu! Awas saja ya, kalau you orang jadi penyusup di perusahaan ini. Ekeh door baru tau rasa. Cepat masuk!" Balas Borni yang tak bisa ramah dengan Fabian.


Entah mengapa Borni seakan tak bisa bersikap ramah dengan Fabian, tidak dengan tamu-tamu Tuannya yang lain. Seakan filing Borni bekerja dengan baik. Ia terus menaruh curiga pada sosok Fabian dari awal ia bertemu dengannya di ruang tunggu.


Borni berjalan mengekori Fabian yang berjalan menghampiri meja meeting yang ada di tengah-tengah ruangan kerja Tuan Mudanya itu. Sambil berjalan mata Fabian mengedar mencari sosok yang ingin ia lihat. Siapa lagi jika bukan Jessica.


Langkah Fabian terhenti sejenak melihat keberadaan Jessica yang ada di sofa. Ia duduk menghadap ke jendela. Fabian hanya melihat punggungnya saja namun hatinya sudah bahagia.


"You orang kalau jalan jangan lirak-lirik kemana-mana ya! Jaga sikap you orang disini!Jangan kurang ajar! Dilarang liatin Nyonya muda eke ya! Kalau gak mau You orang punya kepala eke patahin." Tegur dan ancam Borni dengan berbisik di telinga Fabian.


Borni makin tidak suka dengan sosok Fabian dengan matanya yang seakan terpesona hanya melihat punggung Nyonya mudanya itu.

__ADS_1


Fabian yang mendapatkan ancaman dari Borni segera melanjutkan langkah kakinya menghampiri Andre, Alan dan staff khusus Andre lainnya.


Setelah berjabat tangan dan memohon maaf atas keterlambatannya, mereka kembali membahas mengenai ide acara yang mereka tawarkan kepada Andre. Andre begitu tertarik dengan ide gagasan Alan. Keaktifan Alan mempresentasikan gagasannya membuat Fabian terlihat nampak bodoh di depan Andre.


Ia tak diberi kesempatan untuk menambahkan ataupun dimintai pendapat oleh Alan dalam penyampaian gagasan ide yang mereka tawarkan perusahaan Andre tersebut.


Alan sengaja melakukannya agar Fabian tidak malu dan tambah terlihat bodoh karena tidak menguasai materi dalam proposal yang ia buat dan tak pernah Fabian pelajari sebelumnya. Meskipun Alan sudah berulang kali mengingatkan untuk Fabian pelajari sebelum mereka bertemu dengan Andre.


"Luar biasa Pak Alan, sayang sangat suka dan tertarik dengan ide gagasan Anda, sepertinya kemungkinan besar saya akan gunakan jasa perusahaan Anda sebagai penyelenggara acara perusahaan saya." Ujar Andre pada Alan.


"Wah, terima kasih atas pujiannya Tuan. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih sekali jika Tuan Andre mau menggunakan jasa perusahaan kami." Balas Alan dengan senyum bahagianya.


Saat Alan dan Andre terlibat percakapan intens antara keduanya, Fabian yang terlihat mengganggur dan tak dilibatkan dalam perbincangan itu ingin sekali melirik kembali keberadaan Jessica yang berada di belakangnya namun gerak-geriknya terus di perhatikan oleh Borni. Baru saja Fabian ingin menolehkan pandangannya Borni sudah berdehem dan menendang Kakinya tanpa rasa ragu.


"Hoam... Daddy masih lamakah?" Jessica terbangun dan merenggangkan ototnya dengan merentangkan kedua tangannya, tanpa melihat dulu kondisi ruang kerja sang suami yang masih banyak orang.


Sontak saja suara Jessica membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di ruang kerja sang suami. Semua mata memandangi dirinya namun Jessica tidak menoleh sedikitpun kearah meja meeting suaminya yang berisi banyak mata yang sedang memandanginya, ia malah kembali memejamkan matanya.


"Ah bodohnya aku melupakan istriku yang ternyata sudah tertidur sejak tadi dengan posisi seperti itu." Gumam Andre dalam hatinya. Ia baru menyadari sang istri menunggunya hingga tertidur di sana.


"Sebentar lagi Mommy," jawab Andre yang kemudian dengan cepat merapikan dokumen yang ada di hadapannya. Borni yang melihat Tuannya merapikan dokumen segera membantu Tuannya itu.


"Pak Alan dan Pak Fabian, sepertinya sampai disini dulu pembicaraan kita, nanti salah satu staff saya akan segera menghubungi kalian untuk membicarakan budget acara disetiap kota." Ucap Andre yang kemudian langsung saja meninggalkan meja meeting tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya, ia berjalan menghampiri sang istri.


Andre segera menggendong Jessica tanpa menunggu tamunya pergi terlebih dahulu. Apa yang dilakukan Andre tak lepas dari perhatian Fabian. Fabian terus menatapi keduanya dengan rasa cemburunya.

__ADS_1


"Maafin Daddy ya Mommy, sampai melupakan mu yang sudah mengantuk." Bisik Andre pada sang istri yang sedang memejamkan matanya.


"Hemmmm... Daddy, aku ngantuk..." Ucap Jessica dengan mata yang terpejam.


"Ya sayang, ayo kita tidur di kamar ya!"Sahut Andre.


Andre melewati Fabian dan Alan begitu saja dengan menggendong sang istri yang tengah tertidur. Ia membawa sang istri ke kamar pribadinya yang ada di dalam ruang kerjanya itu, setelah Borni membantunya membukakan pintu.


"Andai dulu aku menanggapi semua perasaanmu pada ku, pasti akulah pria yang sedang menggendong mu seperti saat ini, Jessica." Gumam Fabian dalam hatinya penuh dengan rasa sesal.


Setelah memastikan Tuan dan Nyonya-nya masuk ke dalam kamar, Borni segera menutup pintu kamar itu dan saat ia berbalik, ia kembali di buat kesal oleh Fabian.


"Hey, kenapa you orang bukannya keluar malah masih ada disini?" Pekik Borni yang nampak kesal.


Fabian tak bergeming ia masih menatapi pintu kamar pribadi Andre yang ada di dalam ruang kerjanya itu. Dengan langkah cepat Borni menghampiri Fabian yang berdiri mematung seorang diri.


"Siapa you orang sebenarnya huh? Jangan coba-coba jadi pebinor di rumah tangga Tuan Muda Eke ya! You orang harus sadar diri, you orang cuma kuman jangan mengharapkan Princess keluarga Adijaya." Borni bicara tanpa jarak dengan Fabian, mata Borni menatap tajam manik mata Fabian dan yang lebih mengejutkan Fabian adalah saat Borni menodongkan pistol berukuran kecil ke perut nya.


Fabian membalas tatapan tajam Borni dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"You orang mau keluar sekarang atau You orang mau Eke door disini?!" Ucap Borni yang makin menekan pistol kearah perut Fabian.


Fabian mengarahkan manik matanya kearah pistol yang Borni makin tekan kearah perutnya, tanpa mengatakan apapun Fabian segera keluar dari ruang kerja Andre. Setelah memastikan Fabian keluar Borni segera menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Hadduh tugas eke berat juga hari ini, bukannya jauhin Tuan dari pelakor tapi malah jauhin Nyonya dari pebinor." Gumam Borni sambil merapikan anak rambutnya dengan jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2