Cinta Jessika

Cinta Jessika
Aku Ini Hanya Sebuah Luka


__ADS_3

Sebuah pesawat komersial telah mendarat dengan sempurna di lapangan udara kota D. Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit dari kota J menuju kota D.


Bagas dan keluarganya di jemput oleh salah seorang kerabatnya yang berada di kota tersebut. Kerabatnya tersebut mengantarkan Bagas dan keluarganya kesalah satu penginapan bintang lima di kota D.


Setelah sebelumnya kerabatnya tersebut sudah membooking dua kamar yang memiliki connecting door atau biasa di kenal dengan connecting room untuk mereka menginap. Bagas sengaja meminta kerabatnyauntuk memesan tipe kamar tersebut karena dia membawa kedua anak Fabian ikut serta dalam perjalanannya ini.


Bagas meminta kedua cucunya untuk beristirahat sebelum menuju ke Mension Abraham pada malam hari ini.


“Cucu – cucu Oppa yang tersayang, kalian istirahatlah dulu ya! Nanti malam kita akan makan malam bersama teman bisnis Oppa. Karena pertemuan Oppa dan teman Oppa ini malam hari jadi sekarang kalian harus istirahat bobo siang dulu supaya nanti malam tidak mengantuk. Oke sayang?!” pinta Bagas kepada dua cucunya. Kedua cucunya menjawab dengan menganggukkan kepala mereka kemudian segera berbaring di ranjang tidur mereka. Bagas mencium kening kedua cucunya bergantian.


“Hana apa yang kamu rasakan sekarang sayang, apa kamu masih merasakan tidak enak badan?” tanya Bagas setelah mencium kening Hana.


“Hana baik-baik saja Oppa karena Hana sudah sehat Oppa, kemarin Hana sakit karena tidak makan saja. Sekarang Hana sudah banyak makan seperti biasanya.” jawab Hana.


“Anak pintar. Besok-besok Hana jangan lakukan sesuatu yang merugikan diri Hana sendiri ya. Dan Hana harus ingat pesan Oppa tidak semua keinginan kita pada orang lain harus di turuti orang tersebut. Jangan biarkan diri mu menjadi seorang pemaksa yang nantinya akan merugikan diri Hana sendiri karena dibenci orang lain ya. Oppa sayang Hana karena itu Oppa berharap Hana tidak melakukan hal itu lagi yah?!.”


“Iya Oppa. Hana juga sayang Oppa.” Hana bangkit  dan memeluk tubuh tua yang masih kekar itu. Ia menangis sedih karena harus mengubur harapannya untuk memiliki ibu pengganti seperti Jessica.


“Sudah sayang jangan menangis lagi, cepatlah kamu tidur Hana lihatlah adik mu Hani sudah sangat cepat sekali dia tertidur!”


“Iya Oppa.”  Hana kembali berbaring.


Bagas kemudian beranjak dari ranjang Hana meninggalkan kedua cucunya untuk beristirahat kemudian mematikan lampu kamar kedua cucunya itu sebelum masuk kedalam kamar miliknya yang berada disebelah kamar cucunya.


Ia kembali ke kamarnya yang berada di sebalah kamar cucunya itu melalui pintu connecting yang berada didalam antara kamar miliknya dan kamar cucunya.


Terlihat Suci sedang asyik bicara dengan ponsel yang menempel di telinganya. Entah sedang berbicara dengan siapa dia. Nampaknya Bagas tidak perduli dan mengabaikannya begitu saja.

__ADS_1


Bagas yang seolah tak perduli dengan apa yang sedang di bahas oleh sang istri di telepon miliknya itu memilih untuk tidur sejenak merebahkan tubuh tuanya di ranjang dan mengistirahatkan fikirannya yang sedang kalut memikirkan nasib perusahaan dan para karyawannya yang terimbas karena perbuatan istrinya yang menentang dan melawan seorang Andre.


Di Perusahaan Fabian.


Fabian kini sudah berada di muka pintu ruang kerja Jessica. Jantungnya terasa berdabar-debar ia begitu gugup ingin bertemu dengan sang pujaan hati.


Ceklek! Suara hendle pintu terbuka.


Jessica memandang pada daun pintu yang terbuka. Ia kira yang datang adalah Bowo ternyata perkiraannya salah. Ia mendapati Fabian yang berada di muka pintu. Senyum Fabian nampak mengembang sempurna di wajah tampannya itu. Jessica yang melihat keberadaan Fabian segera berdiri dari duduknya. Pandangannya mengedar keseluruh sudut ruang kerjanya.


Jessica menyadari betul hanya ada dirinya yang berada di ruangannya itu. Bowo yang ia tunggu sejak tadi tak juga kunjung datang. Entah apa yang dilakukan di toilet hingga begitu lama sekali.


Jessica segera mengambil ancang-ancang untuk pergi berlari menyelamatkan dirinya dari Fabian. Sedang Fabian yang membaca gerak-gerik Jessica yang terlihat ingin lari menghindarinya segera menutup pintu dan mengunci pintu itu.


“Jangan coba-coba lari dari ku lagi Jess! Aku tidak akan berbuat kurang ajar lagi pada mu aku hanya ingin bicara dengan mu. Entah dengan cara apa lagi aku harus mencari kesempatan untuk bicara dengan mu. Kau menutup aksesku untuk menghubungi mu dan Andre begitu ketat menjaga mu tidak ada cela untuk ku bicara empat mata dengan mu Jes.”


“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Pak. Bukannya sudah jelas aku sudah menentukan pilihan ku pada malam itu. Saya harap Bapak bisa menghargai keputusan ku ini Pak dan aku juga berharap Pak Fabian tidak memaksa ku lagi!”


“Berhentilah Pak! Cinta yang seperti ini hanya akan menyakiti Bapak saja. Aku tidak bisa membalas perasaan cinta Bapak karena hati ku sudah terlanjur sakit dan pergi dari mu Pak.”


“Kita belum memulainya Jess tapi kamu sudah memilih untuk pergi, beri aku kesempatan sekali saja aku mohon.”


“Aku tidak bisa memberikan kesempatan untuk mu Pak. Aku tidak mau menyakiti perasaan orang yang sangat mencintai ku dengan mengkhianatinya.”


“Kau begitu tak rela menyakitinya tapi kau begitu mudahnya terus –menerus mematahkan harapan ku untuk hidup bersama mu. Dalam hidup ku baru kali ini aku merasakan sakitnya mencintai wanita tanpa bisa aku miliki.”


“Aku sudah meminta mu untuk berhenti mencintai ku berkali-kali Pak, Berhentilah mencintai ku jika hanya rasa sakit yang kau dapati. Seperti aku yang berhenti mencintai mu karena hanya luka dan luka yang selalu kau torehkan pada ku.”

__ADS_1


“Maafkan aku jika dulu aku selalu menyakiti mu Jes, tapi sungguh saat itu aku belum menyadari perasaan cintaku pada mu dan…” kata-kata Fabian terhenti karena Jessica memotongnya.


“Dan sekarang kau merasakan cinta itu setelah aku pergi dari mu bukan begitu Pak? Maafkan aku Pak, semuanya sudah terlambat aku tidak mungkin menoleh lagi kebelakang untuk mengingat rasa cinta yang membuatku selalu terluka, Aku hanya ingin bahagia bersama orang yang mencintai ku dan mengerti akan diri ku. Dan Hati ku sudah ku labuhkan pada orang yang menjadikan ku ratu di hati dan hidupnya. Orang yang selalu mengerti akan diriku hingga hal yang terkecil sekalipun. Orang yang tidak mementingkan egonya sendiri tidak seperti diri mu.”


“Bukannya tak akan ada kata terlambat selagi kamu mau memberikan aku satu kesempatan? Aku bisa seperti dia jika kamu memberiku kesempatan sekali saja.”


“Tidak maafkan aku Pak. Aku tidak bisa. Kau lihat tangan ku ini! Betapa sakitnya luka di tanganku ini. Aku tak bisa melakukan kegiatan ku sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Aku jadi hidup bergantung dengan orang lain karena mu Pak. Ini semua hadiah dari rasa cinta ku pada mu. Ini hanya sedikit luka yang terlihat karena rasa cinta ku pada mu, belum lagi luka di hati ku akan kata-kata dan perlakuan kasar mu pada ku dulu. Dan masi banyak lagi luka-luka dihatiku yang disebabkan karena rasa cintaku pada mu. Dan karena orang di sekeliling mu yang tidak menyukai ku karena rasa cinta ku pada mu. Aku tidak tahu nantinya jika aku memberikan mu kesempatan mungkin nyawa ku akan melayang di tangan Mbak Rania ataupun Mbak Clara yang sudah terang-terangan pernah menyelakai ku.”


Fabian melangkah maju mendekati Jessica yang sedang memandangi tangannya yang terluka. Fabian meraih tangan Jessica yang terluka. Fabian sangat menyadari semua derita yang Jessica rasakan bersumber dari dirinya.


“Maafkan aku. Maafkan atas semua luka yang telah aku torehkan pada mu. Aku akan selalu mencintai mu dan berharap suatu saat akan ada kesempatan untuk diri ku memiliki mu.” Fabian mencium telapak tangan Jessica yang terluka tanpa rasa jijik.


Sejenak Fabian memeluk tubuh Jessica dan mencium kening Jessica.


“Andaikan waktu dapat di putar kembali aku tak akan mau melakukan kesalahan yang membuat ku menyakiti mu dan membuat mu pergi berpaling dari ku. Aku ini hanya pria yang sangat bodoh menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu dan Andre begitu beruntung mendapatkan dirimu yang mampu menjaga kesetiaan cintamu padanya. Meskipun aku terus memohon pada mu kamu tetap pada pendirianmu untuk tetap bersamanya. Kau begitu menjaga hatinya dan mengabaikan hati ini yang juga mencintai mu. Terimakasih telah membuatku mencintaimu dan terimakasih atas segala kebaikan mu kepada ku dan juga pada ke dua anakku selama ini. Aku tak ingin lagi mendengar mu memaksa ku untuk berhenti mencintai mu. Hati ini milik ku, jadi biarkan aku mencintaimu hingga aku lelah dan pergi sendiri dari hidup mu. Percayalah mulai hari ini aku tak akan mengganggu hubungan kalian atau berusaha merebut mu dari dirinya lagi. Karena aku sadar aku hanya sebuah luka bagi mu.” ucap Fabian sembari memegang dadanya menunjukkan hatinya yang begitu mencintai Jessica dengan suara yang bergitu berat karena ia sedang menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Fabian merasakan hatinya yang sakit karena terus mendapatkan penolakan dari Jessica. Semua usahanya selama ini seakan sirna dan tak dianggap ataupun di hargai oleh Jessica.


Wanita yang ia perjuangkan tak mau menerima ataupun memberinya kesempatan. Malah mematahkan hatinya untuk berhenti mencintai  diri Jessica sendiri.


Fabian memilih beranjak pergi meninggalkan Jessica karena hatinya sudah begitu rapuh menahan sesak di dadanya. Ia melangkahkan kakinya hendak membuka kunci pintu ruang kerja Jessica.


Saat ia memasukkan anak kunci Jessica memeluk tubuh kekar Fabian dari belakang.


“Maafkan aku sudah menyakiti mu Pak. Aku tahu sekarang hati mu terluka karena kata- kata ku tadi. Maafkan aku…Maafkan aku yang sudah menyakiti kedua anak mu dengan tanpa sengaja memberikan harapan kosong kepada mereka.  Maafkan aku andaikan keadaan kita tidak seperti ini mungkin…” ucap Jessica saat memeluk Fabian dari belakang namun ucapannya terhenti karena Fabian melepaskan pelukannya.


Mendapatkan pelukan dan mendengar kata-kata dari Jessica membuat benteng pertahanan Fabian akhirnya runtuh. Air mata yang ia bendung akhirnya terjun bebas. Segera ia melepaskan pelukkan Jessica dari tubuhnya dan berlalu pergi dari ruang kerja Jessica tanpa rasa ingin mendengar lagi ucapan Jessica yang belum Jessica selesaikan itu. Fabian pergi dengan membawa kesedihannya .

__ADS_1


Saat Fabian membuka pintu ruangan kerja Jessica. Angela tengah berdiri di muka pintu. Ia menatap penuh tanya melihat Fabian yang keluar dari ruangan dengan air mata yang membasahi pipinya. Berjalan berlalu begitu cepat melewatinya begitu saja dan juga melihat calon Nyonya mudanya tengah berdiri dibelakang pintu dengan wajah yang sendu.


bersambung


__ADS_2