Cinta Jessika

Cinta Jessika
Kembalinya Tom and Jerry


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Nico, Jessica sudah menyelesaikan sarapannya, dia duduk di ruang tv. Ia menunggu kedatangan Toto sambil menonton berita di televisi, hari ini dia tidak membawa motornya kembali karena kedua anak Fabian memintanya menjemput di sekolah dan meminta main kembali di rumah Jessica. Leon yang melihat Jessica di ruang tv, Ia datang menghampiri Jessica. Leon duduk di samping Jessica.


" Jess, kemarin kamu bawa anak siapa ke rumah?" tanya Leon pandangan matanya ke arah depan televisi ia bertanya dengan nada yang dingin pada Jessica.


" Bawa calon anak tiri aku lah bang hehehe..." jawab Jessica asal.


"Abang nggak suka kamu bawa anak-anak itu ke sini dan kata Ibu nanti mereka mau ke sini lagi. Abang harap kamu nggak bawa mereka lagi kesini." ucap Leon dengan nada dingin dan tatapan yang tidak menyenangkan.


" Kok abang gitu sih sukanya ngelarang-larang mereka tuh anak kecil Bang masa abang enggak suka sih sama mereka, Iya emang mereka mau main ke sini. Emang kenapa sih Abang kayaknya Abang nggak suka gitu mereka main kesini? Kalau emang mereka nggak boleh main kesini Abang harus jelasin apa alasannya ke aku sekarang!." tanya Jessica tidak suka dengan pernyataan Leon.


" Karena Abang nggak suka kamu deket sama mereka itu aja." tekan Leon, Ia menatap Jessica tajam karena tidak mau menuruti permintaannya malah memperotes dirinya.


" Ih Abang... Kenapa sih aku nggak boleh deket sama mereka? Mereka kan calon anak tiri aku Bang, Aku itu harus melakukan pendekatan sama anaknya dulu baru dapat Papinya." tutur Jessica.


" Karena kamu nggak akan menikah sama bapaknya tapi kamu akan nikah sama Andre cowok yang udah dipilih kakek buat jadi suami kamu nanti. Dan pria pilihan Kakek adalah pria yang terbaik buat kamu." batin Leon.


" Karena Abang nggak mau kamu ngasih harapan kosong sama anak nggak berdosa, Kamu itu bakalan php-in mereka dengan kebahagiaan yang cuma seumur jagung. Kasian kan mereka!" ujar Leon masih menatap Jessica dengan tajam.


" Apaan sih Abang nggak ngerti aku sama maksud ucapan Bang Leon, Aku itu nggak pernah merasa php-in mereka yang ada tuh yang php-in aku itu Papinya mereka." Jessica menimpali apa yang dikatakan Leon.


" Udahlah nggak usah banyak omong. Pokoknya nanti kamu juga akan ngerti apa yang dimaksud sama abang dan inget pesan Abang jangan bawa anak-anak itu ke sini lagi dan jangan terlalu dekat sama mereka!" ujar Leon penuh nada emosi karena Jessica selalu saja melawan dan membantah perkataannya.


Leon akhirnya lebih memilih meninggalkan Jessica begitu saja di ruang tv, meninggalkan Jessica dengan segudang pertanyaan mengapa Leon bisa bersikap seperti itu pada kedua anak Fabian.


"Iisshh.... Apa sih nih maksud si Abang ngomong kok nggak jelas siapa yang php-in tuh anak yang ada si om Duda suka php-in gue harusnya dia tuh ngomongnya sama Om duda bukan sama gue, bilang sama Om duda jangan php-in adik lu ini gitu harusnya Abang Leonnnn." gerutu Jessica.


"Tin...tin." suara klakson mobil di luar sana Jessica mengetahui bahwa itu adalah suara mobil Toto yang sudah datang menjemputnya.


" Nah itu dia Pak Tato udah datang tumben telat 10 menit." ucap Jessica pada dirinya sendiri, ia melirik jam tangan yang ia kenakan.


Jessica menghampiri ayah dan ibunya yang sedang duduk di teras rumah, Ibu menemani Ayah yang sedang bersiap pergi ke kantor. Terlihat Ayah sedang menggunakan sepatunya.


" Ayah ibu Jessica pergi dulu ya hari ini aku ke kampus, habis itu baru kerja jemput anak Om duda calon anak tiri aku Bu hehehe.. " pamit Jessica kepada ibu dan ayahnya. Jessica mencium tangan kedua orang tuanya


" Hari ini mereka jadi main ke sini lagi kan Nak?" tanya ibu ketika Jessica mencium telapak tangannya.


" Nggak tau deh bu kalau Jessica sudah selesai di kampus mungkin bisa jadi mereka ke sini tapi Bu, Bang Leon melarang aku bawa mereka ke sini katanya Bang Leon gak suka aku terlalu dekat dengan mereka." ucap Jessica dengan tampang yang sedih.


" Udah jangan dengerin Abangmu bawalah mereka kesini. Urusan Abang mu biar ibu yang urus." ucap Lestari pada anaknya. membuat wajah anaknya berubah menjadi cerah kembali.


" Makasih ya Bu Ibu emang yang terbaik" Jessica memeluk Lestari.


Jessica pergi meninggalkan kedua orang tuanya setelah berpamitan.


" Mereka siapa Bu yang ibu maksud dengan Jessica?" tanya Nico penasaran kepada istrinya.


" Itu loh yah anak bosnya Jessie, Mereka anak kembar yang cantik dan lucu-lucu kemarin mereka datang kemari dan katanya hari ini mereka ingin datang kemari lagi." terang Lestari kepada suaminya.


" Apa anak itu serius mau dengan bos dudanya itu?" tanya Nico lagi.

__ADS_1


" Sepertinya begitu ayah, Ibu lihat Jessica bahagia sekali jika bersama kedua anak kembar itu Ayah." tutur Lestari.


" Syukurlah kalau dia sudah bisa move on dari Diego Ayah ikut senang jika mendengar dia sudah mulai bahagia. Kita hanya bisa mendukung dan merestui siapapun jodoh anak kita nanti Bu." ucap ayah.


Jessica keluar dari pagar rumahnya, dia sama sekali tidak curiga dengan mobil yang menjemputnya karena mobil yang datang pagi ini adalah mobil yang biasa digunakan Toto.


Jessica membuka pintu belakang mobil itu betapa dia terkejut melihat Fabian sudah duduk di sana memberikan senyum manis pada Jessica.


" Gantengnya Om dudaku pagi ini." ucap batin Jessica.


" Kamu semakin hari semakin cantik Jessica ku." ucap batin Fabian memuji kecantikan Jessica.


Mereka saling berpandangan dan mengagumi satu sama lain pada batin mereka masing-masing. Jessica duduk di kursi penumpang sebelah kiri berdampingan dengan Fabian.


"Jess, Kamu kok nggak bales senyum aku sih, gigi aku sampai kering nih... nih ... Lihat nih!!" Pinta Fabian pada Jessica, berharap Jessica membalas senyumannya, Jessica ingin sekali menertawakan Fabian karena tingkah Bosnya itu mengunjuk-unjukkan gaya tersenyum dengan mulut yang terbuka memperlihatkan giginya yang rata namun ia tahan.


" Kak Alan, Kenapa kak Alan hari ini menjemputku, apa Pak Toto tidak masuk?" tanya Jessica kepada Alan dan mengacuhan Fabian disebelahnya.


" Toto aku pecat." jawab Fabian asal menanggapi pertanyaan Jessica kepada Alan. Ia tidak terima di acuhkan.


" Kak Alan, sungguh kejam sekali bos kita ini memecat seseorang tanpa sebab yang jelas, sepertinya aku harus mencari pekerjaan cadangan. Agar suatu saat nanti jika aku dipecat olehnya tiba-tiba aku sudah mempunyai pekerjaan lain." Jessica menanggapi perkataan dari Fabian kepada Alan.


" Kamu jangan mencari pekerjaan lagi, Aku tidak akan pernah memecatmu, tadi aku hanya bercanda aku tidak mungkin memecat Toto, mulai sekarang aku yang akan menjemputmu setiap pagi." ujar Fabian menanggapi perkataan Jessica tadi.


Fabian tidak memberi kesempatan kepada Alan untuk menjawab semua perkataan Jessica, Jessica tidak menanggapi dengan perkataan Fabian tadi mengenai dia yang akan di jemput setiap pagi oleh Fabian. sedang dibalik kemudi Alan hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.


" Kak Alan, sebenarnya hari ini aku tidak bisa pergi ke kantor, hari ini aku ada kegiatan di kampus, ada latihan untuk acara pentas seni nanti kalau Kak Alan sibuk biar Jessica naik bus di depan sana." lagi -lagi Jessica membuka pembicaraan dan menjadikan Alan sebagai kambing hitam, Jessica menunjuk sebuah halte bus di depan mereka. Fabian melirik Jessica seketika itu.


" Kak Alan, aku minta tolong sampaikan pada Pak Fabian terima kasih sudah bermurah hati mengkhawatirkanku dan mau mengantarkan aku ke kampus." ucap Jessica meminta tolong kepada Alan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Fabian. Fabian pun mendengarnya lalu tersenyum.


" Aku terima rasa terima kasihmu padaku." jawab Fabian menanggapi perkataan Jessica tadi.


Fabian menyandarkan tangan kanannya ke jendela mobilnya dan tangan kanannya tersebut menopang kepalanya. Dia terus memandangi wajah Jessica.


" Kak Alan, sampaikan ke Pak Fabian kalau nanti setelah dari kampus aku akan menjemput anaknya di sekolah, jika Pak Toto tidak bisa menjemputku di kampus biar kami bertemu saat di sekolah saja." lagi dan lagi Jessica menggunakan Alan sebagai sarana komunikasi dia dan Fabian.


"Ck... kamu terus menyebut nama Alan aku akan mengikuti permainanmu Jessica, sampai kamu mau berbicara padaku tanpa kamu menyebut nama Alan lagi." batin Fabian.


" Alan katakan pada Nona Jessica bahwa dia pasti akan dijemput Toto di kampus nanti suruh dia menunggu di kampusnya jangan kemana-mana." ucapan Fabian kali ini Fabian lah yang menyebut nama Alan.


" Kak Alan sampaikan pada Pak Fabian rasa terima kasihku lagi padanya. Tenang saja aku tak akan kemana-mana aku tahu akan kewajibanku." ujar Jessica sembari menatap Fabian dengan kesal.


" Alan katakan pada Nona Jessica jangan bermesraan dengan pria lain di depan anak-anakku, dia sudah mengotori mata anakku dengan pandangan yang buruk." Fabian mulai menyinggung kejadian kemarin.


Di balik kemudi Alan mulai sedikit pusing mendengar mereka terus menyebut namanya.


" Bisakah Mereka bicara tanpa menyebut Namaku? Aku jadi pusing mendengarnya." batin Alan.


" Kak Alan tolong katakan pada Pak Fabian untuk berhenti menuduh dan memfitnah orang." ujar Jessica tidak terima dengan tuduhan Fabian bermesraan dengan pria lain di hadapan anak-anaknya sembari menatap Fabian dengan tatapan tak sukanya.

__ADS_1


" Alan katakan pada Jessica dia harus menjadi orang yang mau mengakui perbuatannya sendiri." ujar Fabian sembari membalas tatapan Jessica dengan tatapan yang tajam.


Karena kesal Jessica merasa di pojokan oleh Fabian Ia pun akhirnya berbicara tanpa memanggil nama Alan lagi.


" Apa sih kok bapak malah nyari ribut sama saya hah?! Pagi-pagi udah nyari ribut." ucap Jessica marah dia memukul- mukul paha Fabian dengan kencang hingga Fabian meringis kesakitan.


" Apa aku nyari ribut, kamu tidak salah bicara. kamu yang cari ribut buktinya kamu pukul-pukul paha ku, ini KDRT Jessica." sanggah Fabian sembari memegangi kedua tangan Jessica yang memukul tadi agar tidak lagi memukulnya.


" Apa KDRT kita belum menikah Pak jadi ini bukan KDRT tapi lebih tepatnya penganiayaan." ucap Jessica kemudian melepaskan tangannya dari tangan Fabiab.


" Iya penganiayaan betul sekali, Bukankah kamu dari awal yang mencari ribut dengan ku, kamu gunakan Alan sebagai perantara kamu untuk bicara dengan ku, apa kamu masih marah denganku Jess?" ujar Fabian membela dirinya.


" Saya masih malas bicara sama bapak Sudahlah." ucap Jessica membuang pandangan wajahnya semula melihat Fabian lalu ke arah jendela mobil dan melipat kedua tangannya di dadanya.


" Ya sudah kalau kamu malas aku juga males sama kamu." balas Fabian membuang pandangannya juga ke arah jendela dan mengikuti gaya Jessica.


" Terserah Kalau malas kenapa Bapak jemput saya?" tanya Jessica yang menyadari Fabian mengikuti apa yang ia lakukan.


" Karena aku kangen sama kamu, kamu tahu anak-anakku bilang apa waktu sampai di rumah?" jawab Fabian kemudian menoleh menatap Jessica kembali dengan tatapan penuh cinta.


" Jangan coba gombalin saya ini masih pagi, Saya tidak tahu mereka cerita apa karena Bapak belum cerita." ucap Jessica ketus.


" Mereka bilang kamu berpelukan dengan Om Andre di depan mereka. Kamu sudah membuat aku cemburu tau." terang Fabian.


" Tapi saya nggak sengaja meluk dia Pak. Lagi ngapain Bapak cemburu sama saya. Saya kan gak berarti bagi Bapak." Jessica membela diri


" Sengaja apa nggak sengaja Jess?" goda Fabian.


" Ya nggak sengaja lah masa pelukan di muka umum disengaja. Ituu sangat memalukan dilihat banyak orang." jawab Jessica.


" Terus kalau dicium di parkiran itu sengaja atau tidak sengaja" tanya Fabian lagi.


Mata Jessica membulat mendengar pertanyaan Fabian. Lagi - lagi Fabian memojokkannya.


" Saya nggak tahu kalau dia mau cium saya, kalau saya tahu pasti saya menghindar, kejadiannya begitu cepat. Saya bukan orang yang suka disosor sana sini tidak seperti bapak." Jessica akhirnya menuduh Fabian setelah merasa pertanyaan Fabian memojokkannya.


" Apa? Kok jadi saya." ucapan Fabian terkejut atas tuduhan Jessica padanya


" Coba aja Bapak ingat-ingat kelakuan Bapak! Bapak itu suka banget nyosor ke sana ke sini mau ke client ataupun siapapun itu tidak memandang tempat, mau tua ataupun muda Bapak Sosor juga di depan umum." tutur Jessica kesal sambil memanyunkan bibirnya.


" Hahaha.... rupanya kamu cemburu dengan hal itu, itu hal yang biasa Jess." Fabian tertawa menanggapi perkataan Jessica.


" Terserahlah, mungkin bagi Bapak hal biasa tapi bagi saya tidak." ucap Jessica kesal.


" Oke baiklah jika kamu tidak menyukainya aku tidak akan melakukannya lagi." ucap Fabian.


Mobil Fabian telah sampai di pintu gerbang kampus. Jessica menolak untuk diantar sampai ke dalam. Jessica hanya meminta Fabian menurunkannya di pintu gerbang saja. Fabian pun menuruti permintaan Jessica. Hari itu mereka sudah mulai berkomunikasi kembali.


Siang hari setelah menyelesaikan kegiatan di kampusnya. Ia memberi kabar kepada Sisil tentang jadwal kegiatannya yang full hingga menjelang pentas seni. Yang membuatnya tidak mungkin untuk masuk kerja untuk beberapa hari ke depan. Ia tidak berani untuk mengatakan pada Fabian ataupun Lia, Makaya, Dia meminta bantuan Sisil untuk menyampaikan kepada Pak Fabian. Sisil pun menerima permintaan tolong Jessica.

__ADS_1


Sisi langsung menyampaikan perihal Jessica kepada Fabian, mengenai padatnya jadwal Jessica di kampus yang membuat Jessica tidak bisa masuk kerja untuk beberapa hari kedepan hingga pentas seni di kampusnya berlangsung. Fabian memaklumi itu dan mengizinkan Jessica untuk tidak masuk beberapa hari ke depan.


bersambung....


__ADS_2