Cinta Jessika

Cinta Jessika
Tertusuk


__ADS_3

Fabian kembali ke aparteman Louis, namun langkah kaki Fabian tidak tertuju pada unit apartemen Margaret. Fabian melangkahkan kakinya menuju unit apartemen miliknya yang dulunya di tempati Rania.


Tubuh kekar itu berjalan dengan tatapan kosong, ia sedang merasakan pedihnya luka akan kenyataan hidupnya yang sebenarnya bahwa ia dilahirkan hanya sebagai alat balas dendam sang Mommy, wanita yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya.


Dengan berjalan gontai Fabian telah sampai di depan pintu unit apartemennya. Ia menekan key password yang ada di handle pintu unit apartemennya.


Fabian masuk ke dalam apartemen yang nampak gelap dan sepi tanpa kehidupan. Sebenarnya ia malas untuk masuk ke apartemen yang mengingatkan dia dengan perbuatan Rania yang menjijikan namun mau bagaimana lagi, sebelum menemui ketiga anaknya dan istrinya dia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Fabian menjatuhkan bokongnya di sofa panjang. Ia duduk bersandar menutupi matanya dengan satu lengan kekarnya. Ia mulai menjatuhkan air matanya yang ia tahan sejak diperjalanan tadi.


Suara tangis pilu dari pria arogan bertubuh kekar itu begitu menyayat hati. Ia terus mengingat-ingat pengakuan sang Mommy tentang tujuannya melahirkannya ke dunia ini hanya untuk menjadikan dirinya sebagai alat balas dendam, ia juga mengingat sang Mommylah yang membuatnya berpisah dengan Margaret kala itu dan ia mengingat dengan teganya sang Mommy menyebut Kenzo putranya sebagai anak haram. Ditambah lagi dia kini sedang merasa bersalah pada Jessica, wanita yang dicintainya terlalu dalam hingga sulit melupakannya.


*


*


*


Sudah pukul 21.00, tiba-tiba hati Margaret begitu mencemaskan Fabian sang Suami.


"Kamu kemana Bie, sudah cukup lama kamu pergi dan belum kembali. Dulu biasanya kamu akan mengabariku jika akan pulang lebih lama. Apa kamu baik-baik saja Bie? Kenapa aku begitu khawatir dan gelisah memikirkan mu?" Batin Margaret yang mencemaskan Fabian.


Margaret mengambil ponselnya di atas nakas, ia segera menghubungi Fabian untuk mengusir gelisahnya. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Fabian namun Fabian tak mengangkatnya.


Margaret tidak hilang akal, ia tahu bahwa Fabian tadi pergi bersama Toto. Margaret tidak memiliki nomor telepon Toto, ia segera menghubungi Alan meminta nomor telepon Toto, Alan pun segera memberikan nomor telepon Toto pada Margaret.


Setelah mendapatkan nomor telepon Toto, Margaret segera menghubungi Toto.


"Tut...tut...tut.." suara dering memanggil.


"Hallo" sapa suara Toto disebrang telepon.


"Hallo Pak Toto, saya Margaret istri Pak Fabian."


"Iya Ibu, ada yang bisa saya bantu?"


"Pak, apa suami saya saat ini berada bersama Bapak?"


"Maaf bu, Bapak sudah saya antar kembali ke apartemen dan saya sudah kembali ke Mansion."

__ADS_1


"Sejak kapan Pak?"


"Kurang lebih dua jam yang lalu bu?"


"Ok Pak Toto, terimakasih atas informasinya, maaf jika saya mengganggu waktu istirahat bapak."


"Oh iya bu, tidak apa-apa."


Margaret segera berjalan keluar kamarnya meninggalkan ketiga anaknya yang sudah tertidur pulas. Ia melangkahkan kakinya ke resepsionis. Ia menanyakan unit apartemen milik Fabian yang ada di apartemen Louis.


Margaret merasa Fabian ada disana dan dalam kodisi yang tidak baik. Ia berjalan begitu cepat setelah pihak resepsionis memberitahukannya.


Kini Margaret sudah berada di depan unit pintu apartement milik Fabian yang pernah di tempati Rania. Margaret tahu Rania sudah tak tinggal di sini lagi karena Fabian sudah menceritakan pada Margaret bahwa suaminya itu sudah mengusir Rania dari unit apartemen miliknya.


Margaret melihat pintu tak tertutup dengan rapat, dengan mudah Margaret dapat masuk ke dalam. Ia berjalan begitu pelan dan berhati-hati. Baru beberapa langkah kakinya masuk ia sudah mendapati suaminya sedang duduk dengan mata yang tertutup lengan kekarnya, terdengar suara isak tangis yang bersumber dari suaminya.


Margaret mempercepat langahnya menghampiri Fabian, ia menyentuh lengan kekar sang suami yang menutup matanya itu.


"Bie..."panggil Margaret.


Fabian menurunkan lengannya, ia membuka matanya melihat Margaret ada di hadapannya. Fabian tak menjawab panggilan Margaret, ia malah menatap dalam wajah istrinya.


"Maafkan aku Marg..." Fabian menarik tubuh Margaret masuk ke dalam pelukannya.


"Aku sudah memaafkan mu Bie, katakan kamu kenapa seperti ini?" Margaret melepaskan pelukan Fabian dan menatap dalam wajah suaminya.


"Aku sudah tahu penyebab kenapa kamu pergi dariku saat itu Marg. Kenapa kamu tidak mencoba menceritakannya pada ku? Aku hampir gila dan mati saat kau meninggalkan ku saat itu Marg, untungnya Alan begitu setia menemaniku, ia selalu menyelamatkan ku saat aku berusaha mengakhiri hidup ku, dunia ku runtuh saat itu seperti saat ini," ucap Fabian dengan air mata yang begitu deras jatuh dari kelopak matanya.


"Kamu tahu dari mana Bie?"


"Aku tahu langsung dari mulut pelakunya, orang yang begitu egois memisahkan kita dan menjadikan kita korban dari ke egoisannya."


"Kau tahu langsung dari Mommy? Kau menemuinya?"


"Iya aku tahu dari Mommy, aku menemuinya bersama Tuan Adam."


"Bie... jadi seharian ini kamu pergi menemui Mommy,"


"Ya... maafkan aku Margaret, seharusnya aku tidak menutup komunikasi dengan mu, tidak menjauhkan anak kita dari mu, mungkin jika aku tidak menutup komunikasi dengan mu tidak akan selama ini kita berpisah dan Kenzo akan lahir di dalam pernikahan kita."

__ADS_1


"Bie... susah cukup jangan menyesali semuanya. Itu sudah terjadi sekarang kita mulai semuanya dari nol lagi Bie,"


"Marg, beri aku waktu untuk kembali mencintai mu dan beri aku waktu untuk melupakan perasaanku pada Jessica. Jujur saja hatiku terpenjara oleh rasa bersalahku pada Jessica. Aku ingin menyelesaikan permasalahanku dengannya sebelum kita memulai semuanya dari awal. Apa kau bersedia untuk menunggu ku Margaret?"


"Aku bersedia Bie, aku akan menemani mu dalam suka dan duka mu Bie."


"Terimakasih Margaret, kau tidak pernah berubah, kau masih seperti yang dulu selalu memahami aku." Fabian memgecup kening Margaret kemudian memeluk tubuh istri cantiknya itu.


Tanpa di sadari oleh keduanya sepasang mata memperhatikan mereka sejak tadi. Ia mendengar pembicaraan suami istri itu sejak awal. Ia begitu geram mengetahui Fabian sudah kembali dengan Margaret.


"Sialan benar kata Clara, kamu sudah rujuk dengan mantan istri mu Bie, karena dia kamu meninggalkan ku. Aku tak terima kamu campakkan aku seperti ini. Kamu jadikan aku gembel terlunta-lunta di jalan. Jika aku tak bisa mendapatkan mu begitu juga dengan mantan istrimu ataupun Jessica,"batin Rania penuh rasa amarah.


Rania berjalan mengendap-endap ke dapur mengambil sebuah pisau. Ia kembali keruang tamu dan menusuk tubuh Fabian dari belakang. Saat Fabian tengah memeluk tubuh Margaret.


"Aaaaaaa...."pekik Fabian kesakitan. Fabian seketika menoleh ke belakang melihat siapa yang menusuk dirinya.


"Rania..." panggil Fabian.


Margaret begitu terkejut melihat kehadiran Rania yang memegang pisau yang sudah berlumuran darah.


"Bie..."pekik Margaret ketika melihat pinggang belakang Fabian mengeluarkan banyak darah. Margaret mencoba menekan luka Fabian menahan agar tidak terlalu banyak darah itu keluar.


"Rasakan kamu Bie, ini balasan untukmu yang sudah mengusirku dan mencampakkanku Bie, jika aku tak bisa memiliki mu maka mantan istrimu dan Jessica pun tak boleh memiliki mu Bie." Ucap Rania dengan suara bergetar.


"Rania..." panggil Fabian sebelum tubuhnya terjatuh karena banyak mengeluarkan darah.


"Bie ku mohon bertahanlah..." ucap Margaret dengan wajah yang takut dan cemas.


"Tolong...tolong..." teriak Margaret sekencang-kencannya.


Teriakan Margaret membuat Rania ketakutan. Ia takut penghuni lain datang dan menangkapanya akhirnya Rania segera memilih untuk pergi melarikan diri, padahal tadinya ia ingin menusuk Margaret seperti yang ia lakukan pada Fabian.


Tak berapa lama penghuni lain berdatangan dan langsung membantu Fabian dengan segera membawanya ke rumah sakit, beruntungnya salah satu penghuni apartemen yang menolong Fabian ada yang berprofesi sebagai dokter bedah. Sebelum dibawa ke rumah sakit, Fabian mendapatkan pertolongan pertama dari dirinya.


Sedang di sisi lain Jessica yang tertidur dalam dekapan Andre tiba-tiba terbangun dan berteriak begitu keras memangil nama Fabian.


"Pak Fabian..." pekik Jessica yang membuat semua orang terbangun tanpa terkecuali.


Setelah terbangun Jessica malah menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2