
Pov Fabian.
Aku datang ke Mall Grand Abraham bersama mantan istriku Margaret. Dia nampak begitu peduli padaku. Aku masih melihatnya seperti dahulu selalu mengerti dengan apa yang aku rasakan, tidak ada yang berubah sama sekali pada dirinya. Dia tetap cantik dan baik hati.
Dia datang menawarkan bantuan untuk mendapatkan Jessica kembali, dia menyemangati ku untuk bangkit dan memperjuangkan perasaanku. Hatiku langsung tergerak saat dia memerintahku untuk bersiap menuju Mall Grand Abraham. Ia ingin aku menemui Andre. Bertanya langsung padanya tentang kabar Jessica yang menghilang bak di telan Bumi.
Kini aku sedang menunggu kedatangan Andre. Aku mencari informasi dari Alan, kapan Andre akan datang kesini? Alan menjawab, ia akan datang untuk menjamu tamu penting saat jam makan siang di sebuah restoran mewah di dalam mall Grand Abraham.
Tepat pukul 12.00 siang, aku melihat Andre datang seorang diri. Wajahnya terlihat begitu bahagia, senyum terpancar di wajah tampannya, tidak ada raut kecemasan di wajahnya seperti yang aku alami saat ini. Ingin rasanya aku langsung menghampirinya, namun Margaret yang berada di sampingku mencegah langkah kakiku.
" Jangan terlalu terburu-buru menghampirinya Bie! Biarkan dia menyelesaikan urusannya baru aku akan meminta waktunya untuk duduk bersama mu berbicara baik-baik padanya. Ingatlah dia orang yang berpengaruh di Negri ini! Jangan gunakan emosi mu yang suka meledak-ledak!" Margaret memperingatiku dengan menarik lenganku saat aku ingin menghampirinya.
Dua jam aku menunggu Andre menyelesaikan kegiatannya bersama Clientnya. Aku melihatnya menerima sebuah panggilan telepon, dia terus berkata, "Sabar Sayang aku akan segera pulang", dan terus saja berkata "Sabar Sayang aku akan segera pulang, tunggulah aku dirumah." kalimat yang keluar dari mulutnya membuat aku terus bertanya dalam diriku, "Siapa yang ia Panggil dengan panggilan sayang, Jessicakah atau wanita lain?"
Di saat aku sedang tenggelam dalam fikiranku. Tanpa ku minta Margaret menghampiri Andre yang tak jauh dari hadapan kami. Ia meminta waktu untuk kami bicara bersama. Andre menatap wajahku saat ia bicara dengan Margaret, entah apa yang Margaret bicarakan padanya, hingga akhirnya Andre mau meluangkan waktunya untuk bertemu dan bicara padaku.
Sekarang kami duduk di sebuah Coffee Shop yang berada di dalam mall Grand Abraham. Margaret memesankan kami masing-masing secangkir kopi untuk menemani kami berbicara. Kulihat Andre masih tengah sibuk dengan ponselnya. Dia meminta waktu 5 menit untuk membalas email dari Clientnya di Paris. Aku pun mempersilahkan dirinya.
Andre meletakkan ponselnya di atas meja setelah selesai membalas email dari Clientnya.
Dia menatapku tanpa kata-kata. Dia sekan menungguku memulai percakapan.
"Tuan Andre, maksud dan tujuan ku mengajak mu kesini karena ada hal yang ingin ku tanyakan padamu." aku memulai percakapan kami.
Andre mengambil secangkir kopi yang ada di hadapannya lalu menyeruputnya.
"Silahkan Pak Fabian, bertanyalah aku akan menjawabnya." jawabnya santai.
"Dimana Jessica sekarang Tuan? Apa kau mengetahui keberadaannya?" tanya ku padanya.
Andre mengerutkan dahinya mendengar pertanyaanku.
"Bukankah kemarin dia berangkat kesini bersama mu?" Andre balik bertanya pada ku.
__ADS_1
"Ya memang aku berangkat bersamanya tapi saat tiba disini aku mengalami masalah..." ucapanku terputus karena Andre memotongnya.
"Masalah?? Masalah apa??" dia bertanya seakan tidak mengetahuinya.
"Pihak Mall mencabut izin penggunaan sarana dan prasarana Mall ini untuk Event kita."
"Lalu apa hubungannya dengan Jessica?" tanyanya lagi. Wajahnya begitu serius menuntut penjelasan dari ku.
"Anak pemilik Mall meminta aku melakukan barter. Aku membarter Jessica dengan izin penggunaan Mall ini." jawabanku tak membuatnya marah ataupun gusar. Ia malah nampak tenang.
"Kenapa kau lakukan itu padanya Pak Fabian? Bukankah kau juga mencintainya?" tanyanya begitu tenang pada ku.
"Aku dalam pilihan yang sulit saat itu."jawab ku cepat.
"Seharusnya sesulit apapun masalah yang kau hadapi jika kau sedang bekerja sama dengan ku. Pintalah bantuan padaku bukan melakukan tindakan yang akan merugikan karyawanmu sendiri terlebih Jessica." sahut Andre dengan tegas.
Apa yang diucapkan Andre memang benar adanya. Aku terlalu gegabah dan salah mengambil keputusan.
"Apa kau tau di mana Jessica sekarang? Aku ingin bertemu dengannya. Meminta maaf atas kesalahanku padanya. Aku sangat merasa bersalah padanya."
"Tuan Andre yang terhormat, tolong izinkan aku bertemu dengannya sekali saja." Aku memohon padanya dengan menangkupkan kedua tanganku di dada.
"Mohon maaf Pak Fabian, aku tidak bisa mempertemukan kalian. Aku tidak mau melihat wanitaku sedih karena mu. Biarkan takdir saja yang akan mempertemukan kalian berdua." Andre menolak permohonanku.
"Kau tahu Pak Fabian, Selama aku menjadi kekasihnya dia masih menyimpan perasaan cinta dan kekagumannya pada mu. Ia masih sering menangisi diri mu. Aku selalu berusaha mengarahkan hatinya untuk berjalan mengarah pada ku, berpaling dari rasa cintanya padamu. Menghapus namamu yang terlanjur terukir dihatinya. Maaf jika aku tanpa sengaja sudah merebut Jessica dari mu." terang Andre lagi.
Aku terdiam mendengarkan ucapan Andre. Ku lihat ia menyeruput kembali kopinya. Ku lihat jelas ada sebuah cincin yang tersemat dijari manisnya yang belum pernah ku lihat sebelumnya.
"Apa dia sudah bertunangan atau menikah? Lantas dengan siapa dia bertunangan atau menikah? Wanita mana yang berhasil ia nikahi? Apa dengan Jessica dia menikah?? Tidak...tidak...itu tidak boleh terjadi. Aku belum bisa kehilangannya dalam waktu yang terlalu singkat seperti ini." Aku terus saja memperhatikan cincin yang melingkar dijari manisnya sembari bermonolog dengan diriku sendiri.
"Jika tidak ada lagi yang ingin dibahas aku pamit undur diri. Terimakasih atas secangkir kopinya Nona Margaret. Senang biaa bertemu kembali denganmu." ucapnya berpamitan pada Margaret. Margaret menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan namun Andre menolaknya.
"Upsss..." Margaret menutup mulutnya saat Andre pergi begitu saja dari hadapan kami.
__ADS_1
"Ternyata benar rumor yang beredar. Dia pria yang dingin pada semua wanita yang dijumpainya. Mungkin apa yang dia lakukan pada semua wanita yang di jumpainya hanya untuk menjaga hati pasangannya. Sungguh beruntung wanita yang mendapatkan laki-laki seperti Tuan Andre." gumam Margaret dengan suara yang begitu pelan namun masih terdengar oleh ku.
"Dulu akupun begitu Margaret tapi kau yang merubahku menjadi seperti ini. Dengan meninggalkan diriku dan kedua anak kita demi karir mu itu." sahutku penuh emosi.
"Hahahaha..." Margaret tertawa menanggapi perkataanku.
Membuatku mengerutkan dahiku tak paham akan maksud dari tawanya.
"Seharusnya kau memperjuangkan ku saat itu Bie, harusnya kau terus mengejarku hingga aku yakin akan perasaanmu pada ku dan aku berani mengatakan sebuah kebenaran yang sebenarnya terjadi pada ku."
"Apa maksudmu Margaret? Kebenaran apa yang kau maksud?"
"Kebenaran tentang alasan sebenarnya aku meninggalkan mu, Alasan aku meninggalkan mu demi karir hanyalah kamuflase belaka Bie, Aku selalu berusaha menemui anak-anak kita tanpa sepengetahuan mu dan Ibu mu, Hingga akhirnya Papi mu mengetahuinya dan merasa kasihan pada ku, Ia memberi kesempatan untukku bisa menemui kedua anakku dengan mudah dengan cara memperkenalkan ku sebagai Tante Rika, Baby Sister yang bekerja di rumah kedua orang tua mu. Tante Rika adalah aku yang menyamar masuk kedalam rumah orang tuamu. Selama aku berpisah dengan mu aku tak pernah benar-benar jauh dari kalian Bie."
"APA??!!!" Aku terkejut dengan penuturan Margaret.
"Aku tak akan menjelaskan apapun padamu sebelum kau mencari tahu sendiri kenapa aku dulu meninggalkan mu Bie. Aku tak mau dianggap memfitnah orang lain dan mengambil kesempatan untuk kembali pada mu, saat kondisimu sedang seperti ini. Aku hanya pasrah dengan takdirku Bie. Jika memang Tuhan mentakdirkan kita bersatu kembali aku tak akan menolaknya tapi jika Tuhan mentakdirkan kamu dengan wanita lain aku siap menerima kenyataan pahit itu. Asalkan wanita yang mendampingimu itu seperti Jessica bukan seperti Clara ataupun Rania. Jika mereka yang akan menjadi jodohmu nanti mungkin aku akan melayangkan gugatan hak asuh anak kembali pada mu Bie. Karena mereka tak pantas menjadi ibu pengganti untuk kedua anakku."
Pernyataan yang diutarakan Margaret membuatku diam membisu. Dia tak pernah benar-benar meninggalkanku dan kedua anakku.
Betapa bodohnya aku tak bisa mengenali penyamarannya sebagai Rika. Baby Sister yang selalu memberikanku perhatian lebih dengan menyiapkan segala keperluan ku dari mulai bangun tidur hingga aku ingin memajamkan mata. Bahkan aku pernah menidurinya saat aku pulang dalam keadaan mabuk. Aku kira aku bermimpi bercinta dengan Margaret ternyata tidak.
Tapi tunggu dulu, dia izin berhenti menjadi baby sister karena melahirkan. Anak siapa yang ia kandung saat itu. Apa itu anakku atau anak pacarnya yang lain? Karena waktu dia izin cuti dia mengatakan pacarnya menghamilinya namun tidak mau bertanggung jawab tapi hampir setiap malam aku juga sering menidurinya.
"Margaret, jawab pertanyaanku dengan jujur anak siapa yang kau kandung saat kau menyamar menjadi Rika? Pacarmu atau aku??" tanya ku dengan menatap tajam manik mata Margaret.
"Anakmu, karena dalam hidupku laki-laki yang pernah meniduriku hanya kamu. Aku melahirkan dan membesarkan putraku hanya seorang diri. Saat aku ingin melahirkan putra kita aku bertemu dengan Tuan Andre dan Jimmy sepupu ku yang menjadi Assiten pribadinya. Dialah yang menolong ku saat aku ingin melahirkan. Dia juga yang memberikan aku dan putraku tempat tinggal yang sangat layak dan membantuku mengembalikan karirku hingga sampai seterkenal seperti saat ini. Saat ini putra kita sudah menginjak usia tiga bulan. Aku sengaja menyembunyikan putra kita dari dirimu karena aku takut kau akan menjauhkan kembali aku dengan putraku seperti kau menutup semua akses aku menemui kedua putri kembar ku maka dari itu aku beralasan aku dihamili kekasihku yang tak bertanggung jawab, pada kenyataannya aku tak memiliki seorang kekasih satupun setelah berpisah dengan mu."
Deg!
Deg!
Deg!
__ADS_1
Aku tak mampu berkata-kata apa lagi mendengar penuturan Margaret. Tanpa aku ketahui aku sudah memiliki seorang anak lagi dari Margaret yang menyamar menjadi Rika yang hampir selalu aku tiduri saat pulang kerja baik sadar atapun dalam keadaan mabuk.
Bersambung