
Kejadian Leon melamar Anna di atas panggung membuat para wanita di bawah panggung berteriak histeris, ikut larut dalam kebahagiaan Anna terkecuali seorang sosok wanita yang berdiri mematung dengan air mata kesedihan yang tak mampu lagi ia bendung. Ya siapa lagi sosok wanita itu kalau bukan Kiara.
"Mas Leon begitu mudahnya kau berpaling dari ku, secepat itu kah posisiku tergantikan. Selama ini kau selalu menyangkal kecurigaan ku pada mu tentang perasaan sahabat adikmu itu. Tapi semuanya sekarang terbukti Mas. Tega kamu mas...Memilih meninggalkan aku, berhenti memperjuangkan cinta kita dan Akhhh...." Kiara bermonolog pada dirinya sendiri hingga ia tak sanggup lagi untuk berkata-kata, karena hatinya begitu hancur. Kiara yang hadir diacara ini mewakili Papinya yang tidak bisa datang karena sedang di rawat di rumah sakit. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Leon dan melihat Leon melamar wanita lain di hadapannya. Bahkan di muka umum dengan begitu romantis. Kiara tidak dapat lagi bertahan di acara pesta yang belum di mulai itu. Karena hatinya sudah tak kuat lagi melihat kebahagiaan mantan kekasihnya itu bersama wanita lain di atas panggung. Ia pergi meninggalkan acara dengan membawa pulang luka di hatinya.
Sedangkan di atas panggung, rona bahagia di wajah Anna begitu nampak terpancar. Senyum merekah menghiasi wajah cantiknya. Begitu pula dengan wajah Jessica walaupun ada beribu-ribu pertanyaan muncul di benaknya membuatnya begitu penasaran. Kenapa bisa Leon melamar sahabatnya itu? Ini sebuah kebetulan atau sudah di rencanakan. Apa yang di bicarakan Andre dan Leon tadi mengenai hal ini? Sepertinya Jessica harus mencari tahu jawabannya sendiri nanti.
"Kamu sedang memikirkan apa sayang hemmm? Kok melamun hemmm" tanya Andre yang tengah merangkul tubuh mungil Jessica dengan menatap bola mata Jessica begitu lembut dan Andre juga menggoyang-goyangkan pelan bahu Jessica menyadarkan Jessica dari lamunannya.
"Tidak ada Kak, turun yuk! Malu dilihatin terus sama banyak orang." ajak Jessica.
Andre dan Jessica pun akhirnya turun dari panggung meninggalkan Leon yang tengah memeluk tubuh Anna.
"Selama ini aku mengetahui kalau kau menaruh hatimu pada ku Ann, Aku diam bukan karena tidak mengetahuinya Ann. Sekarang aku akan membalas semua rasa cintamu pada ku dengan cara ku sendiri. Bersiaplah menerima balasan cinta ku pada mu Anna ku sayang." ucap Leon ditelinga Anna yang membuat Anna makin mengeratkan pelukkannya dan tersenyum bahagia mendengar kata-kata dari pria yang sangat dia cintai itu.
Dikejauhan senyum kedua orang tua Anna terpancar sangat jelas karena melihat kebahagiaan putrinya di atas panggung.
"Anak ku akan berjodoh dengan pewaris tunggal perusahaan Abraham Group, aku sungguh tak menyangka." ucap batin Santoso yang mengetahui siapa Leon sebenarnya.
"Kamu sudah menunjukkan bahwa kamu adalah cucu ku Leon. Teruslah menjadi cucu yang penurut seperti yang aku harapkan." batin Abraham.
Setelah Anna dan Leon turun dari panggung. Acara perayaan ulang tahun perusahaan Santoso pun di mulai. Semua orang menikmati acara dengan suka cita.
Mereka berenam duduk berkumpul di satu meja bersama menikmati acara pesta dengan suasana yang penuh kegembiraan.
"Kak, aku mau ketoilet." bisik Jessica pada Andre yang ada di sampingnya.
"Ya baiklah, ayo aku antar." ucap Andre pada Jessica.
"Tidak perlu aku bisa sendiri. Jangan khawatirkan aku. Tetaplah disini." ucap Jessica kemudian berdiri.
"Mau kemana Jess?" tanya kedua sahabatnya itu bersamaan saat melihat Jessica berdiri.
"Mau ketoilet pipis." jawab Jessica.
"Temenin gak?" tanya Endah.
"Nggak usah, tenang aja bisa kok." jawab Jessica lalu pergi karena sudah tidak tahan lagi.
Kepergian Jessica tak lepas dari penglihatan Fabian yang sejak tadi terus memperhatikannya sejak tadi. Dia tidak menikmati sama sekali acara tersebut. Matanya terus memperhatikan Jessica yang berada di meja depan. Sedang Rania yang ada di sampingnya sibuk berbicara dengan teman sosialitanya. Entah apa yang dibicaraan oleh Rania mungkin tak jauh dari barang-barang branded yang harganya selangit.
"Nia, aku ketoilet dulu sebentar kamu jangan kemana-mana tunggu aku disini ya!" ucap Fabian kemudian mengecup kening Rania dan pergi mengikuti langkah kaki Jessica dari jarak yang jauh. Fabian sengaja menjaga jarak agar tidak diketahui oleh Rania ataupun Andre.
Fabian berdiri menyandarkan satu kaki di dinding toilet wanita dengan kedua tangan yang berada di saku celananya menunggu Jessica keluar.
Ketika Jessica keluar dari toilet. Fabian menarik tangan Jessica membawanya ketempat yang lumayan sepi di sebuah lorong di hotel itu. Saat tangannya di tarik Fabian, Jessica berteriak kesakitan. Karena tangan yang Fabian tarik adalah tangan kanannya yang terluka.
"Aaaaaauuu....sakit lepaskan!" Jessica meminta Fabian melepaskan tangannya. Namun Fabian tak bergeming, dia baru melepaskan tangan Jessica ketika ia sudah berada di tempat yang begitu sepi menurutnya.
"Apa yang bapak lakukan? Kenapa bapak hanya bisa menyakiti ku hah?" ucap Jessica yang menangis merasakan sakit pada tangannya. Ia terus memegangi tangannya yang sakit dan meniup-niup luka bakar itu untuk meredakan rasa sakitnya.
Pandangan Fabian pun tertuju pada tangan Jessica yang terluka. Ia langsung mendekat dan ikut meniup luka itu bahkan mencium luka pada tangan Jessica. Apa yang di lakukan Fabian membuat Jessica menatapnya.
"Maafkan aku... Aku tidak sengaja menyakiti mu." ucap Fabian setelah mencium punggung tangan Jessica yang nampak bertambah merah itu.
"Lepaskan! Jangan kau ulangi lagi menyentuh diriku Pak!" Jessica menghempas tangan Fabian yang menyentuhnya.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyentuh mu? Apa karena Andre? Pria yang jauh lebih kaya dari ku, iya?!!" tanya Fabian yang menatap Jessica penuh rasa kecewa.
"Iya karena dia. Kenapa Bapak tidak menerimanya? Kenapa Bapak bertanya pada ku padahal Bapak sendiri tahu jawabannya heh!" jawab Jessica yang menatap tajam wajah Fabian.
__ADS_1
"Tentu aku tidak menerimanya, Karena aku begitu mencintai mu. Semudah itu kau berpaling dari ku? Apa motifasi mu berhubungan dengan Andre? Apa karena uang? Jika hanya karena uang aku bisa memberikan berapa pun yang kamu mau Jess, kembalilah pada ku sayang, kembalilah mencintaiku seperti dulu, aku dan anak ku sangat mencintai mu, dan kami tidak mau kamu meninggalkan kami begitu saja Jess." Fabian memberondong Jessica dengan pertanyaan yang seakan merendahkan harga dirinya karena membawa-bawa uang sebagai alasan ia memilih Andre. Fabian sungguh sudah salah paham menurutnya.
"Kenapa bapak berfikir serendah itu pada ku? Aku tidak seperti yang Bapak fikirkan." tanya Jessica dengan raut wajah kecewanya.
"Aku tidak merendahkan mu, aku hanya bertanya pada mu. Kamu yang sudah salah mengartikan pertanyaanku. Jessica, aku sangat mencintai mu kembalilah seperti Jessica yang dulu. Mengagumi ku dan mengharapkan cinta dari ku. Please...!!!! Aku akan melakukan apapun yang kamu mau sayang asalkan kamu mau kembali padaku." ucap Fabian memohon.
"Tolong hargai keputusan ku Pak, Bapak selalu merasa diri bapak, perasaan bapak harus di pentingkan dan di nomor satukan. Bagaimana dengan perasaan aku ini? Kenapa aku harus selalu di tuntut untuk mengerti dan harus selalu berusaha mengimbangi mu Pak? mengimbangi sikap mu yang berubah-ubah hari ini, jam ini, detik ini kamu bisa saja mengatakan cinta pada ku tapi beberapa jam kedepan kamu bisa saja membuangku dan mengumpatiku dengan kata-kata kasar. Seperti yang pernah Bapak lakukan pada ku waktu itu." ucap Jessica dengan air matanya karena mengingat rasa sakit yang Fabian torehkan pada waktu itu.
"Maafkan aku yang telah menyakitimu. Aku berjanji tak akan mengulanginya kembali" ucap Fabian yang menatap wajah Jessica yang sudah basah karena air mata.
"Aku tak akan pernah kembali pada mu Pak, Mau di paksa bagaimanapun aku tak akan kembali pada mu. Bukankah hati seseorang dapat berubah-ubah. Dulu aku datang pada mu membawa cinta yang tulus untuk mu. Tapi apa yang aku dapatkan hanya luka dan luka yang terus kau torehkan. Hingga aku tak sanggup lagi mencintai mu. Aku ingin bahagia Pak, izin kan aku bahagia dan lepaskan aku dengan Bapak berhenti mencintaiku" ucap Jessica pada Fabian.
"Tidak...Tidak Jess... Aku tidak akan berhenti mencintaimu." ucap Fabian yang berjalan mendekati Jessica, Jessica berjalan mundur menjauhi Fabian yang mendekatinya. Hingga akhirnya langkahnya terhenti karena tubuhnya sudah berada di sudut lorong. Langkah Jessica yang terhenti membuat Jessica dan Fabian berdiri tak berjarak lagi.
Di sisi lain di dalam Ballroom. Seorang Bodyguard berlari menghampiri Andre dan membisikkan sesuatu hingga Andre merespon dengan mata yang membola, serta rahang kerasnya yang menonjol jelas terlihat, ia juga merapatkan barisan gigi-giginya yang rata itu dan tangannya yang sudah terlihat mengepal begitu sempurna.
"Kurang ajar!!!" Andre menggebrak meja dihadapannya, Ia langsung berdiri dan melanglah begitu cepat penuh emosi. Apa yang terjadi pada Andre membuat ke empat orang di meja itu ke heranan.
"Kalian diam disini aku akan menyusul Andre." ucap Leon pada Anna dan Endah.
"Ayo Jim!" ajak Leon. Mereka pun menyusul kepergian Andre.
"Apa aku harus memaksa mu kembali pada ku, Jessica?" tanya Fabian yang sudah berdiri tanpa jarak dengan Jessica.
"Aku akan membuat mu mengandung benihku. Agar kau kembali pada ku dan Andre akan meninggalkan mu" ucap Fabian yang memegang wajah Jessica dengan kedua tangannya, dan ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica. Jessica berusaha menjauhkan tubuh Fabian dengan mendorongnya sekuat tenaga dan berteriak minta tolong.
"Tolong...Tolong aku!!!" teriak Jessica dengan sekeras mungkin.
"Lepaskan aku Pak!!" pinta Jessica.
"Kak Andre tolong aku." jerit Jessica di hatinya memohon pertolongan dari pujaan hatinya.
Fabian pun melepaskan Jessica. Jessica langsung berlari memeluk tubuh Andre meminta perlindungan darinya.
"Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan berkelahi dengan mu. Ku harap kau jangan melakukan hal di luar batasan mu Fabian! Jangan kau sentuh calon istriku dengan tangan kotor mu! Atau aku tak akan segan-segan menghancurkan mu dan juga keluarga besar mu itu. Jika kau masih berani menyentuhnya ataupun merebutnya dari ku. Kau akan tahu sendiri akibatnya. Camkan perkataan ku baik-baik Fabian!" ucap Andre dengan tatapan yang mengerikan.
Leon dan Jimmy yang berdiri jauh di belakang mereka. Memandang Fabian dengan tatapan yang tak bersahabat. Fabian yang mendapat ancaman dari Andre hanya diam tak berkutik. Ia tidak bisa melawan Andre. Karena dia tahu akibat yang akan dia terima jika melawan seorang Andre. Bahkan dia menyaksikan sendiri bagaimana kehancuran Rania di tangan Andre dalam satu hari saja.
Fabian hanya bisa menatap sedih punggung Jessica yang pergi menjauh darinya. Ia menendang bebas udara meluapkan kekesalannya yang tidak bisa berbuat apa- apa.
Di dalam Ballroom Rania yang memiliki kesempatan mendekati Santoso pun melangkahkan kakinya menghampiri Santoso yang sedang berjalan seorang diri.
"Selamat malam Om." sapa Rania pada santoso.
"Malam Rania, bagaimana kabar Papi mu, saya dengar dia masuk rumah sakit ya?" tanya Santoso berbasa - basi, padahal dia sudah mengetahui ulah keponakannya yang membuat Anton hingga masuk rumah sakit.
"Kabar Papi sudah mulai membaik setelah menjalani operasi semalam Om." jawab Rania dengan senyum yang ramah namun menyimpan maksud tertentu.
"Oh, baguslah jika kondisinya mulai membaik." ucap Santoso berusaha ramah pada Rania walaupun ia rasanya enggan berlama-lama dengan wanita murahan seperti Rania.
"Om, apa kita bisa bicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan pada Om, tapi sebaiknya kita cari tempat yang nyaman terlebih dahulu untuk kita bicara berdua Om." ucap Rania dengan senyum ramah yang belum memudar dari wajah cantiknya itu.
"Mau bicarakan apa Rania? Bicarakan saja di sini langsung Rania. Saya tidak memiliki waktu yang banyak karena masih banyak tamu yang belum saya sambut kedatangannya." jawab Santoso.
"Oh... baiklah om jika itu maunya Om Santoso, Aku bisa mengerti. Maaf sudah mengganggu waktu om. Begini Om, aku mau meminta bantuan Om untuk mengembalikan kondisi perusahaan Papi. Apa kira-kira om bisa membantu?" tanya Rania.
"Oh tentang perusahaan Papimu. Suruh saja orang kantor Papi mu datang mengajukan proposal ke perusahaan saya Rania, saya akan membantu perusahaan Papi mu sesuai dengan kemampuan saya." jawab Santoso singkat.
"Ada satu lagi om, Aku ingin minta bantuan om untuk menghancurkan Andre dari perusahaan Batara Group. Apa om bisa membantu ku untuk hal ini?" tanya Rania yang membuat Santoso tertawa seketika mendengar permintaan Rania.
__ADS_1
"Hahaha....hahaha" tawa Santoso.
"Kenapa Om tertawa?" Tanya Rania yang heran dengan Santoso yang manggapi permintaannya dengan tertawa begitu keras. Hingga membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.
Shella, Ayumi dan Brata yang sedang berdiri tak jauh dari mereka pun menghampiri Santoso dan Rania.
"Pih, kenapa Papi tertawa sekeras itu?" tanya Shella pada suaminya.
"Iya San, apa yang membuatmu tertawa seperti itu?" tanya Brata pada adiknya itu.
"Aku sedang menertawakan permintaan wanita yang ada di hadapanku ini Mas Brata." Jawab Santoso.
"Memangnya apa permintaan wanita ini pada mu San?" tanya Ayumi yang melirik Rania dengan tatapan ketidak sukaannya.
"Dia ingin aku menghancurkan keponakanku sendiri Mbak." Jawab Santoso yang membuat Ayumi langsung menatap tajam wajah Rania yang ada di sampingnya.
Seketika Rania merasakan ketakutan yang luar biasa mendengar jawaban Santoso yang mengatakan Andre adalah keponakannya.Terlebih lagi saat ini dia sedang berdiri disamping Ayumi dan Brata, kedua orang tua dari Andre.
"Kau mau menghancurkan anakku?" tanya Ayumi pada Rania dengan tatapan yang mematikan. Rania menggelengkan kepalanya dan berjalan mundur menghindari Ayumi yang mendekatinya.
"Apa kau masih kurang puas menyakiti calon menantu hah? Apa kau pikir semua wanita yang menjadi lawan mu itu adalah wanita yang lemah hah? Apa masih kurang teguran yang diberikan putra ku untuk membuat mu jera hah?" Ayumi terus berjalan mendekati Rania, Rania pun terus berjalan mundur menghindari Ayumi yang terlihat begitu emosi. Kesombongan dan keangkuhan Rania hilang seketika melihat lawannya adalah wanita yang sangat berkuasa. Semua orang di dalam Ballroom memperhatikan mereka. Kaum wanita yang pernah di sakiti oleh Rania. Bersorak sorai bergembira melihat Rania tak berkutik dihadapan Ayumi.
Posisi Rania tersudut ketika langkahnya terhenti oleh tubuh seseorang yang menahannya. Ya tubuh yang menahan tubuh Rania adalah tubuh Anna. Endah berdiri disamping Rania seakan menjaga Rania untuk tidak pergi.
"Mau kemana kau J*lang? kau sudah tak bisa lari dari kami hahaha..." tanya Endah dengan tawanya yang menakutkan.
Ayumi menghampiri Rania dan memberikan tamparan di wajah Rania sekuat tenaga.
"Plak" Suara tamparan diwajah Rania.
"Ini untuk balasan atas perbuatanmu pada calon menantuku" ucap Ayumi menatap tajam wajah Rania .
"Plak" Ayumi kembali menampar wajah Rania.
"Ini balasan atas niatmu mau menghancurkan anakku" ucap Ayumi. Setelah menampar Rania, Ayumi pergi berlalu meninggalkan Rania. Santoso dan istrinya hanya menjadi penonton kemarahan Ayumi.
"Hai J*lang bagaimana rasanya tamparan tante Ayumi tadi, aku rasa itu masih sangat kurang cukup untuk mu. Kamu tau gara-gara ulah mu, aku jadi sangat letih karena harus menyuapini makan Cinderella kami itu." ucap Endah dengan senyum yang menakutkan.
"Ya Cinderella kami jadi tidak bisa makan sendiri karena mu." ucap Anna menimpali perkataan Endah.
Endah menarik tangan Rania kebawah, Anna juga mendorong tubuh Rania dari belakang hingga membuat Rania terjatuh tersungkur dibawah. Kemudian menginjak punggung tangan kanan Rania dengan High heelnya. Seketika Rania menjerit kesakitan.
"Aaaaaaakkkkkhhhhh saaaakiittttt lepaskan!" Rania teriak kesakitan.
"Hahahahaha" Seringai tawa Endah yang menakutkan nampak dari wajah cantiknya itu.
"Mungkin teriakan mu ini sama dengan teriakan yang kemarin kau dengar ketika kau menyiram tangan sahabatku dengan air panas Rania." ucap Endah yang berjongkok dihadapan Rania.
"Ini jadi teguran pertama mu dari ku, jika kau masih berani menyentuh Cinderella ku, Ku pastikan nyawamu akan habis di tanganku hahahaha." ucap Endah lagi yang membuat bulu kuduk Rania merinding. Endah berdiri masih dengan seringai tawa yang menakutkan. Anna menendang tubuh Rania yang duduk di lantai Ballroom.
"Rasakan Rania" ucap Anna saat menendang tubuh Rania. Rania benar-benar dipermalukan seperti sampah. Dia menangis seorang diri tak ada satu pun orang yang memperdulikan dia.
Jimmy yang baru datang melihat Endah menyiksa Rania hanya bisa diam dan terkejut dengan apa yang ia saksikan. Begitu pula dengan Leon yang melihat Anna menendang tubuh Rania yang sudah tak berdaya itu.
"Kalian memang kumpulan wanita bar-bar." batin Leon.
"Burung pipit kau sungguh wanita yang menyeramkan." batin Jimmy.
bersambung
__ADS_1
Tolong tinggalkan jejak kalian yah🤗😄🙏🙏🙏🙏