
Pukul 07.00 Jessica dengan sepeda motornya terlihat keluar dari rumahnya. Fabian yang melihat Jessica langsung turun dari mobilnya ia menunggu di depan pintu pagar rumah Jessica. Fabian melihat outfit yang dikenakan Jessica sepertinya Jessica ingin berangkat ke kantor. Fabian bersandar di kap mobil BMW-nya dengan pose yang sama seperti biasa. Berdiri bersandar dengan kedua tangan dimasukkan di saku celana kanan dan kirinya. Fabian memasang senyum manis melihat Jessica membuka pintu gerbang mengeluarkan sepeda motor dan menutup pintu gerbang kembali. Fabian menghampiri Jessica ketika Jessica hendak menyetater sepeda motornya
" Jessica kamu mau kerja atau ke kampus?" tanya Fabian basa-basi namun Jessica tidak menjawab. Jessica hanya melihat wajah Fabian. Jessica sedikit memperhatikan luka-luka Fabian.
" Kamu mau ke kantor ya bareng sama saya ya kita berangkat bersama mau?" ajak Fabian namun Jessica tetap diam. Jessica malah menyetater sepeda motornya, Fabian mematikan mesin sepeda motor Jessica dengan mencabut kunci sepeda motor Jessica.
" Maafkan saya. Bisakah kamu memaafkan saya? Tolong jangan seperti ini! Ini sangat menyiksa." pinta Fabian ia memegang salah satu tangan Jessica namun dengan kasarnya Jessica menghempas tangan Fabian kemudian menyalakan lagi mesin motornya, melajukan sepeda motornya meninggalkan Fabian.
Di dalam perjalanan menuju kantor Jessica terus berpikir. Mengapa Bosnya itu cepat sekali berubah 180 derajat, kemarin menolak tapi sekarang mengejar.
" Hai Om Duda aku sudah tidak mau diperlakukan seenaknya Kau tidak tahu rasanya diterbangkan lalu dihempaskan begitu saja dan lagi kata-kata Om Duda nggak bisa dipegang bisa berubah-rubah kapan saja suka-suka mulut pedas Om itu isss... Menyebalkan sekali dirimu Om Dud. Kita lihat saja seberapa besar kesungguhanmu pada ku Om Duda." batin Jessica.
Kantor
Intercom di meja kerja Jessica terus berdering Jessica tak juga mengangkatnya sehingga membuat karyawan lain terganggu. Karyawan lain memandang Jessica penuh kesal, namun enggan menegur Jessica karena tahu itu akan berhubungan dengan Pak Fabian bosnya.
Setelah berkali-kali tidak diangkat Fabian akhirnya menelepon Sisil sebagai kepala bagian di sana.
" Sisil, apa Jessica masuk kerja hari ini?" tanya Fabian dengan nada kesal.
" Jessica masuk hari ini Pak, dia ada di meja kerjanya sedang membuat laporan." jawab Sisil.
" Apa dia tidak punya telinga? Saya menelepon berkali-kali tapi dia tidak mengangkat, Apa kau juga tidak menyuruhnya untuk mengangkat panggilan telepon dari saya?" ucap Fabian tersulut emosi.
"Baik Pak nanti saya akan meminta Jessica mengangkat panggilan telepon dari Bapak." ucap Sisil sambil melirik Jessica yang berada di balik mejanya.
Setelah mendengar jawaban Sisil Fabian kemudian memutuskan intercom pada Sisil dan kembali menelpon intercom Jessica.
Ketika intercom Jessica berdering kembali Sisil segera berjalan menghampiri meja kerja Jessica kemudian ia mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hem..." Sisil menyodorkan gagang telepon pada Jessica.
" Angkatlah! bicaralah baik-baik jangan jatuhkan harga dirinya di depan mereka. Kau mau jadi bahan gosip oleh mereka!" pinta Sisil sambil menunjukkan orang disekeliling ruangan menggunakan matanya agar Jessica mengerti. Jessica pun menerima gagang telepon yang sudah dipegang Sisil.
"Hallo.. hallo... Jessica kamu di sana? Kamu dengar suara saya?" sapa Fabian di seberang sana.
"Hallo... hallo...hallo" ucap Jessica seolah-olah tak mendengar suara Fabian dan berusaha menyapa Fabian disana.
" Kok nggak ada suaranya ya Mbak Sisil." ucap Jessica berbohong.
Mendengar jawaban Jessica Fabian di ruangan kerjanya segera menutup sambungan teleponnya. Dia segera menghubungi teknisi yang berada di kantornya.
" Apa kalian mengecek secara rutin telepon di kantor ini?" tanya Fabian dengan penuh emosi pada bagian teknisi.
"Kami selalu mengecek secara rutin Pak, apa ada masalah?" tanya Tomo bagian teknisi.
"Ya benar ada masalah diruang AE, perbaiki telepon di meja kerja Jessica kalau perlu ganti saja yang baru!" perintah Fabian dengan emosi.
__ADS_1
Tidak Berapa lama kemudian teknisi datang ke ruangan AE membawa pesawat telepon yang baru dan memasangnya di meja Jessica. Setelah memasang telepon yang baru teknisi itu menghubungi Fabian di ruangannya menggunakan telepon yang baru ia ganti di meja Jessica. Fabian dengan cepat mengangkatnya, baru satu kali Deringan ia langsung mengangkatnya.
" Halo Pak saya sudah mengganti pesawat telepon di meja Mbak Jessica dengan yang baru." ucap Tomo.
" Oke, berikan teleponnya pada Jessica!" perintah Fabian.
Tomo memberikan gagang telepon pada Jessica," Bapak mau bicara sama Mbak Jessica." ucap Tomo.
"Hallo Jess..." sapa Fabian. Jessica diam tidak menjawab sapaan Fabian.
"Kamu pasti bisa dengar saya bukan? Karena saya sudah mengganti pesawat telepon kamu jadi pasti kamu mendengar suara saya, Tidak akan ada lagi alasan kamu tidak mendengar suara saya, apalagi dengan alasan karena pesawat telepon dimeja kerjamu rusak" ucap Fabian. Jessica menanggapi dengan mengetuk mikrofon telepon tersebut menggunakan pulpen yang ada di tangannya.
"Kenapa kamu masih diam seperti ini? kamu masih marah pada saya? Oke saya minta maaf, Saya harus bagaimana supaya kamu memaafkan saya?" tanya Fabian, Jessica tidak menanggapi pertanyaan Fabian dia hanya menjawab dengan ketukan bolpoin lagi.
" Bicaralah Jess, kamu tahu ini kantor? Bersikaplah profesional saya ini atasan kamu Jangan bersikap seperti ini terus terhadap saya!" ucap Fabian kesal ia mulai kehilangan kesabarannya.
"Kalau kamu seperti ini sama saja kamu tidak menghargai saya sebagai atasan dan pemilik perusahaan ini" ucap Fabian lagi.
"Saya bisa saja memecat kamu jika saya...tut...tut...tut" ucapan Fabian terputus Jessica menutup teleponnya sebelum Fabian menyelesaikan perkataannya. Jessica merapikan barang-barangnya dan beranjak pergi dari ruangan.
Semua orang di ruangan memperhatikan Apa yang dilakukan Jessica. Di dalam benak mereka bertanya-tanya apa yang terjadi antara Jessica dan Pak Fabian. Kenapa Jessica begitu enggan untuk bicara sepatah kata pun kepada Pak Fabian.
Lina yang melihat Jessica pergi langsung menghampiri meja kerja Sisil
"Eh si Bocil lagi ngambek ya sama si banteng? Kayaknya dia nantangin si banteng tuh, berani banget dia tapi pasti seru nih." ucap Lina kepada Sisil.
Jessica berjalan menuju lift setelah sampai di depan pintu lift ia menekan tombol untuk turun ke lantai dasar. Dia berdiri menunggu lift terbuka. Saat ia sedang menunggu pintu lift terbuka ia melihat Fabian sedang berjalan menghampirinya, Fabian menarik lengan Jessica, Jessica berusaha melepasnya namun gagal.
"Kamu mau pergi? Oke Ayo kita pergi kita selesaikan masalah kita di luar kantor." ucap Fabian menatap Jessica penuh amarah Jessica hanya diam tanpa jawaban. Fabian memegang telapak tangan Jessica dengan erat. Mereka pun turun ke lantai dasar.
Saat di lantai dasar pintu lift terbuka Jessica dan Fabian bertemu dengan Clara. Clara berada di depan pintu lift. Clara melihat mereka dengan tatapan tidak suka karena ia melihat Fabian menggenggam erat tangan Jessica, Jessica yang mendapatkan pandangan Clara seperti itu membuang pandangan wajahnya ke samping dengan memutarkan bola mata menandakan dia malas berurusan dengan Clara. Fabian melewati Clara masih dengan bergandengan tangan dengan Jessica.
" Pak Bapak mau ke mana? Sebentar lagi kita akan ada meeting dengan pihak Universitas Adhikari." Clara berusaha mencegah langkah Fabian pergi bersama Jessica. langkah Fabian pun terhenti begitu juga dengan Jessica. Fabian menatap Jessica.
" Saya harap kamu mau tetap di kantor menunggu saya atau saya akan batalkan kerjasama dengan kampus kamu itu dan saya akan bilang alasan saya membatalkannya karena kamu." ancam Fabian.
Jessica tidak menganggap ancaman Fabian. Dia melepaskan genggaman tangan Fabian kemudian pergi meninggalkan Fabian. Clara bersorak senang dihatinya melihat Jessica meninggalkan Fabian.
"Argggghh..." Fabian frustasi. Dia kembali menendang kakinya ke udara kemudian Ia berlari mengejar Jessica. Clara yang melihat Fabian mengejar Jessica dimakan api cemburu.
Jessica sudah berada di tempat parkiran motor, ia hendak mengambil kunci sepeda motor yang ada di dalam tasnya. Tiba-tiba Fabian datang dan langsung menggendong Jessica seperti karung beras. Fabian membawa kembali Jessica ke gedung kantor. Banyak karyawan yang melihat apa yang dilakukan Fabian kepada Jessica. Fabian sudah tidak peduli lagi dengan pandangan karyawannya terhadap hubungan mereka.
Jessica terus meronta-ronta tanpa suara. dia memukul-mukul tubuh Fabian agar menurunkannya tapi Fabian tidak bergeming Ia terus menggendong Jessica. Seorang security menghampiri Fabian dan membantu Fabian menekan tombol lift, Fabian membawa Jessica ke ruangannya.
Saat melewati ruangan Clara, mata Clara membulat keheranan melihat apa yang dilakukan Fabian kepada Jessica.
" Anak itu sudah kubilang jauhi Pak Fabian, rupanya dia belum juga jera baiklah tunggu saja kamu Jessica, aku akan membuatmu jera dengan cara lain dan membuat mu menyesal karena telah merebut Pak Fabian dari ku." ucap batin Clara. Dia benar-benar termakan api cemburu.
__ADS_1
Fabian menurunkan Jessica di ruangannya Jessica mencoba keluar dari ruang Fabian namun Fabian terus menghalangi upaya Jessica. Fabian mengunci ruang kerjanya dan menyalakan peredam suara di ruang kerjanya tersebut. Entah apa yang ingin dilakukan Fabian dengan Jessica di ruangan itu.
Fabian meletakkan kunci ruangannya di saku celananya, agar Jessica tidak bisa mengambilnya. Fabian berjalan menuju sofa dan mendaratkan tubuhnya di sofa panjang tersebut. Dia membiarkan Jessica berdiri mematung di depan pintu untuk beberapa saat. kemudian Fabian menatap Jessica lalu menepuk-nepuk kan sofa meminta Jessica untuk duduk bersamanya. Jessica pun melangkahkan kakinya mendekati Fabian ke sofa.
Fabian menatap Jessica dalam, kali ini dia menatap penuh kelembutan.
" Ternyata kau adalah wanita yang tidak suka dikasari. Kau wanita yang suka akan kelembutan, Baiklah aku akan berlaku lembut padamu." batin Fabian.
"Kau tahu Jess, semalam saya tidak bisa tidur dengan nyenyak begitu juga dengan Hana putri saya? Kau tahu kenapa? Karena Hana merindukanmu dan karena aku memikirkanmu dan menahan sakit disekujur tubuh ini."
"Kau tahu betapa sakitnya luka-luka di tubuh ini dan juga di hati ini, semua ini karenamu." Fabian menunjukkan luka di wajahnya di tangannya dan juga di hatinya. Jessica menatap sendu Fabian
" Apakah sulit untuk memaafkan saya Jess? Demi memohon maaf padamu saya tidak tidur semalaman dan pergi ke rumahmu pagi-pagi buta, meninggalkan waktu sarapan saya bersama anak-anak, anak-anak saya menjadi korban dari sikapmu. Tapi apa yang saya lakukan tidak berarti bagi kamu Jess. kamu masih diam seperti ini. Mau sampai kapan?" tanya Fabian.
"Apa tidak ada kesempatan untuk saya memperbaiki semuanya? Saya tahu kamu terluka akan kata-kata saya, Saya benar-benar minta maaf? Dan saya menyesali semua itu. Tolong jangan mendiami saya seperti ini. karena saya sangat menderita dengan perlakuanmu seperti ini kepada saya." ucap Fabian penuh penyesalan. Fabian duduk mendekati Jessica. Dia melihat Jessica meneteskan airmatanya dalam diamnya. Ketika Fabian mendekat, Jessica memberanikan diri menyentuh wajah Fabian, Dia menyentuh luka-luka Fabian, Jessica merasa bersalah, makin berderai air mata Jessica.
"Diego lah yang melakukannya pada ku. Kami berkelahi karena kamu." ucap Fabian ketika tangan Jessica berada di wajah Fabian.
Jessica menyentuh sudut bibir Fabian yang terlihat robek dengan jemarinya. Fabian malah mencium jemari Jessica. Tangan kanan Fabian menghapus air mata Jessica di pipi Jessica. Kemudian Fabian menarik tengkuk Jessica. Ia ingin mencium Jessica.
"Tok...tok..tok." suara ketukan pintu menghentikan Fabian.
"Pak Fabian, Pak Nugroho dari Universitas Adhikari sudah tiba dan sedang menunggu di ruang meeting." ucap Clara di balik Pintu. Suara dibalik pintu masi bisa terdengar karena Fabian sudah mensetting itu.
Lagi - lagi Fabian gagal mencium Jessica. mendengar perkataan Clara Jessica bangkit dari duduknya. Fabian mengeluarkan kunci ruangannya dari saku celana. Lalu memberikan kepada Jessica. Ia memegang tangan kanan Jessica ketika memberikan kunci.
" Jika kamu mau pergi, Pergilah temui anak-anak saya! Mereka sangat merindukanmu. Jika kamu belum bisa memaafkan saya, saya tidak apa-apa asalkan kamu tidak membawa masalah kita kepada anak-anak saya. kamu boleh mengacuhkan saya tapi tolong jangan acuhkan anak-anak saya karena mereka sangat menyayangimu." ucap Fabian.
Jessica pun keluar dari ruangan Fabian. ia mendapati tatapan permusuhan dari Clara di muka pintu namun ia tidak menanggapinya. Jessica turun ke lantai dasar. dia pergi menuju meja resepsionis.
" Mbak minta tolong panggilin Pak Toto dong, bilang sama Pak Toto kalau saya mau menjemput anak-anak Pak Fabian." ucap Jessica ke resepsionis.
"Baik mbak Jessica." jawab resepsionis.
Ketika sedang menunggu Pak Toto di lobby Jessica bertemu dengan Alan.
" Hai Kak Alan" sapa Jessica.
" Hai nona Jessica, Nona mau kemana?" tanya Alan.
" Jangan panggil nona-nona, panggil aku Jessica aja. aku mau jemput anaknya Pak Fabian. Boleh nggak aku minta tolong kak Alan untuk bawa pulang sepeda motorku ke rumah. karena nanti habis jemput anak-anak aku nggak balik lagi ke kantor Kak Alan." pinta Jessica.
" Itu masalah kecil, Baiklah mana kunci sepeda motormu." ucap Alan. Jessica pun memberikan kunci sepeda motornya kepada Alan.
Jessica pergi meninggalkan perusahaan menuju sekolahan anak-anak Fabian. Alan memberikan kabar baik ini kepada Fabian di ruangannya. Fabian tersenyum senang.
"Akhirnya kau luluh juga, ternyata titik kelemahanmu adalah anak-anakku, kau akan kujadikan ibu untuk anak-anakku nanti. Tunggu saja!" batin Fabian.
__ADS_1
bersambung