
Sebuah mobil ambulance datang ke kediaman Jessica, kedatangan mobil ambulance membuat keluarga Nico tercengang tanpa terkecuali.
"Istimewa sekali kamu Jessica,hingga pria itu mendatangkan para medis untuk memeriksa luka yang tak seberapa itu." batin Cynthia penuh rasa dengki.
"Tambah satu anggota keluarga yang kelakuannya sama-sama absurd. Andre sama saja hiperbolanya seperti Jessica. Aku bisa cepat gila jika seperti ini." batin Leon ketika melihat mobil ambulance masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Seorang Dokter muda dan seorang perawat keluar dari mobil ambulance itu. Mereka menghampiri keluarga Nico yang sedang memandang mereka terheran-heran.
"Selamat siang Pak Nico saya Dokter Nathan dan ini Suster Nita. Kedatangan kami kemari atas permintaan Tuan Andre untuk memeriksa keadaan luka bakar yang di alami Nona Jessica. Perkenankan kami untuk melakukan observasi luka bakar pada Nona Jessica, Bapak Nico." ucap Dokter Nathan dengan ramah dan sopan.
"Silahkan masuk Dokter, istri saya akan mengantarkan dokter menemui putri saya di dalam kamarnya" Nico mempersilahkan paramedis untuk memeriksa putrinya.
"Kelakuan putra mu tak jauh beda dengan kelakuan mu Brata, semoga anak ku akan bahagia hidup bersama anak mu nanti" batin Nico
Lestari segara mengantarkan Dokter Nathan dan juga Suster Nita ke dalam kamar Jessica. Nampak Jessica masih terlelap dalam tidurnya. Dokter segera melihat luka pada punggung tangan Jessica.
"Suster Nita tolong bersihkan dulu pasta gigi yang sudah mengering ini" ucap Dokter Nathan,Ia memerintahkan Suster Nita untuk membersihkan pasta gigi yang sudah mengering pada tangan Jessica.
"baik Dokter" jawab Suster Nita , Kemudian ia membersihkan pasta gigi yang menutupi punggung tangan Jessica. Pada saat Suster Nita membersihkan punggung tangan Jessica, Jessica mulai bangun dari tidurnya. Jessica yang memiliki phobia dengan apapun yang berbau tentang rumah sakit langsung menjerit.
" A a a a a a a a a a a tolonnngggg.... Ibu Ayah" teriak Jessica. Membuat semua orang terkejut. Ia segera menarik tangannya yang sedang dibersihkan itu dengan kasar.
"Tenang Nona kami sedang melakukan observasi pada tangan Nona" ucap Suster Nita. Jessica langsung bangun dari tempat tidurnya dan menyudutkan dirinya disudut kamar sambil berjongkok diatas tempat tidur.
"Keluar... Keluar dari kamar ku hiks...hiks ibu ayah tolong aku!!" teriak Jessica penuh rasa takut.
"Tenang Nona... Tenangkan diri anda Nona." Suster Nita berusaha menenangkan Jessica.
Seluruh anggota keluarga Nico menghampiri kamar Jessica. Mereka melihat Jessica yang sudah berada di dalam sudut tempat tidur sedang berjongkok ketakutan. Ayah langsung menghampiri Jessica dan memeluk anaknya yang ketakutan itu.
"Mereka hanya ingin memeriksa keadaan tanganmu. Jangan takut nak!" ucap Nico berusaha menenangkan anaknya.
" Aku takut ayah, aku tidak mau." ucap Jessica sambil menangis dalam pelukan Nico. Jessica memeluk erat tubuh Nico.
"Ayo Jessica anakku sayang jangan seperti ini. Luka mu harus segera di obati." rayu Lestari pada anaknya. Nico mengedipkan mata pada Lestari dan juga Leon memberi kode untuk membohongi Jessica supaya segara bisa di obati oleh Dokter.
"Baiklah sayang. Ibu saja ya yang akan membersihkan punggung tangan mu itu. Sini sayang kembalilah berbaring." Lestari kembali merayu putrinya.
"Suruh mereka pergi bu!" pinta Jessica.
__ADS_1
"Ya sayang, Leon tolong nak!" ucap Lestari mengedipkan mata pada Leon Dokter Nathan dan juga Suster Nita agar mau keluar dulu. Jessica pun kembali berbaring.
"Mari Dokter, Suster kita keluar dulu!" Ajak Leon. Mereka pun akhirnya keluar dari kamar Jessica.
"Apa kalian membawa obat tidur atau obat penenang? Adikku memiliki Phobia dengan apapun yang berbau tentang rumah sakit. Jika kalian mau mengobatinya sebaiknya beri dia obat itu. Agar dia kembali tidur dan diam. Kalau dalam keadaan sadar seperti ini kalian akan sulit memeriksa keadaannya." Tanya Leon kepada Dokter Nathan dan juga Suster Nita setelah mereka berada diluar kamar.
"Baiklah kalau begitu Tuan. Saya akan memberikan suntikan obat penenang hipnotik sedatif pada Nona Jessica. Tolong bantu kami dalam proses penyuntikannya. Saya khawatir Nona Jessica akan melakukan perlawanan." jawab Dokter Nathan.
"Baiklah kalau begitu mari kita masuk lagi!" ajak Leon pada Dokter dan Suster itu.
Leon masuk ke kamar Jessica terlebih dahulu. Ia langsung naik ke tempat tidur dan menduduki paha Jessica. Sedang Nico dan Lestari yang ada di kanan kiri jessica segera memegangi tangan Jessica.
"A a a a a a ayah,I i i i ibu, A a a a abang Leon, Apa yang kalian lakukan?" teriakan Jessica menggelegar ketika mereka bertiga memegangi tubuh Jessica hingga tidak bisa bergerak.
Suster Nita mengeluaran obat penenang dan jarum suntik kemudian memberikan pada Dokter Nathan. Dokter Nathan memasukkan obat penenang kedalam suntikkan.
" A a a a a, aku mau di suntik tolonggggggg!" teriak Jessica lagi, ia berusaha memberontak untuk melepaskan diri.
"Hai Dokter cepatlah sedikit!" pinta Leon pada Dokter Nathan.
"Ayah Ibu Kalian jahat sekali pada ku membohongi ku hiks...hiks" ucap Jessica sambil menangis dengan tubuhnya yang terus memberontak.
Dokter Nathan segera menyuntikan obat penenang pada lengan Jessica. Ia berjalan menghampiri Jessica.
Dokter Nathan akhirnya menyuntikkan obat penenang pada tubuh Jessica.Tak berapa lama Jessica pun kembali terlelap dalam tidurnya, tidak ada lagi perlawanan dari Jessica. Suster kembali melanjutkan membersihkan punggung tangan Jessica hingga selesai. Setelah selesai membersihkan Dokter Nathan segera memeriksanya.
"Kulit Nona Jessica tidak melepuh. Nona Jessica hanya mengalami luka bakar tingkat 1. Jenis luka bakar ini hanya mempengaruhi epidermis atau lapisan kulit luar Nona Jessica saja. Terlihat pada luka yang dialaminya hanya kulitnya yang kemerahan, kering dan dia mengalami rasa nyeri saja di area luka bakarnya. Saya akan memberikan resep obat pereda nyeri dan obat oles untuk luka bakar yang di derita Nona Jessica." terang Dokter Nathan pada anggota keluarga Nico. Meraka hanya diam dan mendengarkan penjelasan dari Dokter Nathan.
"Suster tolong siapkan Obat pereda nyeri dan obat oles pada luka bakarnya." perintah Dokter Nathan pada suster Nita. Suster Nita pun segara menyiapkan obat tersebut, Ia mengambil obat tersebut di dalam tas yang ia bawa. Kemudian memberikan pada Dokter Nathan.
"Suster tolong oleskan obat luarnya dulu pada area luka Nona Jessica." Perintah Dokter Nathan pada Suster Nita
"Baik Dok." jawab Suster Nita. Ia kembali mengambil obat luar untuk luka bakar Jessica di dalam tas yang ia bawa kemudian mengoleskan obat itu pada punggung tangan Jessica ysng terluka.
"Pada siapa saya memberikan obat ini?" tanya Dokter Nathan pada mereka.
"Dengan saya saja Dok." jawab Lestari, Ia menghampiri Dokter Nathan.
"Ini obat pereda nyerinya diminum 3 x 1 saja ya bu dan ini obat luarnya di oleskan di area kulit yang kemerahan saja 3 x 1, tolong bersihkan dulu area luka bakarnya baru di oleskan ya Bu" ucap Dokter Nathan dengan senyum ramah. Kemudian memberikan obat tersebut kepada Lestari.
__ADS_1
"Terima kasih dok." ucap Lestari.
"Sama-sama Bu. Baiklah kalau begitu kami permisi. Kami harus segera kembali ke rumah sakit." pamit Dokter Nathan kepada anggota keluarga Nico dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Mobil ambulance pun akhirnya pergi dari kediaman rumah Nico.
*
*
*
*
Siang pun sudah berganti malam, Jessica akhirnya bangun dari tidurnya. Dia kembali berteriak dan menangis mengingat kejadian siang tadi karena ia merasa sedikit pegal di bagian lengan tangannya yang habis di suntik oleh Dokter Nathan.
" Ibu Ayah Abang Leon kalian jahat. Kalian sama jahatnya seperti mereka. Hiks... hiks...hiks tidak ada yang menyayangi ku hiks ... hikss..." teriak Jessica sambil menangis.
Anggota keluarga Nico yang sedang menyantap makan malamnya di buat terkejut dengan teriakan Jessica di dalam kamarnya. Mereka menghentikan makan malamnya dan menghampiri Jessica.
Leon segera membuka pintu kamar Jessica. Didapatinya Jessica tengah menangis.
"Hai Jessica kenapa kamu teriak-teriak hah? Mengagetkan kami saja. Dasar anak cengeng." ucap Leon kesal dengan sikap adiknya yang terlalu hiperbola menurutnya.
" Abang jahat!! Sebel aku sama Abang. Ibu dan Ayah juga kenapa ikutan jahat seperti Abang. Tangan aku tambah sakit bu karena disuntik tadi" ucap Jessica sambil menangis memeluk tubuh ibunya yang duduk disampingnya.
" Ah lebay sekali kau ini, tadi apa kata mu aku jahat, Ayah Ibu juga jahat kata mu, memangnya siapa yang membawa Dokter kerumah ini, bukan aku yang membawanya. Juga bukan ayah dan ibu yang memanggil Dokter untuk datang kesini. Andre-lah yang membawanya. Jadi salahkan dia dan jangan salahkan kami." ucap Leon tak terima dikatakan jahat oleh Jessica.
"Ya sudah bantu aku menghubunginya, aku ingin mencaci makinya." ucap Jessica pada Leon.
"Hubungi saja sendiri aku tidak ada waktu membantu mu." ucap Leon ketus.
"Tuh kan Abang memang jahat tidak mau membantuku dalam keadaan susah. Tangan kananku sakit bang." keluh Jessica.
" Ya sudah tunggu, aku ambil ponsel ku dulu" ucap Leon pada Jessica kemudian pergi mengambil ponselnya.
"Ibu aku lapar tapi tangan kanan ku sakit. Aku mau makan tapi suapin ya bu?!" ucap Jessica dengan manja sambil mengedip-ngedipkan ke dua matanya.
"Ya tunggulah disini! Ibu akan mengambilkan makanan untuk mu. Setelah makan kau harus minum obat ya nak?" ucap Lestari. Jessica menjawab dengan anggukan kepala. Lestari kemudian pergi meninggalkan Jessica untuk mengambil makanan untuknya.
__ADS_1
Cynthia dan Nico yang berada di muka pintu segera kembali keruang makan menyelesaikan santapan makan malamnya.
bersambung