
Satu minggu kemudian. Disebuah taman rumah sakit, Fabian dan Clara terlihat duduk-duduk di bangku taman sembari menemani Tuan Bagas menghirup udara segar di pagi hari.
Kondisi Tuan Bagas sudah membaik, namun ia belum di perbolehkan pulang karena masih harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Padahal ia sudah merasa sangat jenuh dengan keberadaannya di rumah sakit, apalagi ia dilarang untuk turun dari kursi roda ataupun dari ranjang tidurnya.
"Fabian, sampai kapan Daddy mu ini tidak boleh pulang, Nak?" tanya Tuan Bagas pada putranya yang sedang duduk di samping menantunya.
"Mungkin setelah pemeriksaan lanjutan Daddy selesai, Daddy akan boleh pulang," jawab Fabian yang juga tak tahu kapan sang Daddy boleh di izinkan pulang.
"Mereka mau periksa apa lagi sih? Daddy mu ini sudah sehat bugar seperti ini," tanya Tuan Bagas lagi yang sudah begitu merindukan kediamannya.
"Aku tidak tahu Dad, karena aku ini bukan Dokter," jawab Fabian yang membuat Ckara refleks memukul pahanya.
"Aduh... Sakit Ra, kok mukul sih," rintih Fabian sambil mengusap-usap pahanya yang terasa sakit dan panas karena pukulan Clara yang cukup kencang.
"Kamu ngomongnya jangan gitu sama Daddy, aku gak suka," protes Clara yang malah meninggalkan Fabian dan berjalan menghampiri Tuan Bagas.
Tanpa takut kotor, ibu hamil itu duduk di atas rumput yang hijau di taman rumah sakit Central Kusuma tepat di hadapan Tuan Bagas.
"Daddy, Rara sangat tahu, jika Daddy sangat bosan berlama-lama di sini. Tapi Rara mohon demi anak di kandung Rara, Daddy mau bersabar dan menyelesaikan pengobatan Daddy sampai tuntas, Rara mau Daddy keluar dari rumah sakit ini dalam keadaan sehat," ucap Clara begitu lirih.
"Daddy sudah sehat Ra, sebenarnya Daddy sudah bisa berjalan sendiri tanpa kursi roda ini, tapi dokter dan suster selalu melarang Daddy untuk berjalan sendiri,"
"Daddy, jangan bohongin Rara! Rara lihat dengan jelas saat Rara dan Fabian tidur malam itu. Daddy terjatuh saat mau pergi ke kamar mandi, untungnya ada suster jaga yang ingin memeriksa kondisi Daddy malam itu, coba kalau tidak, Rara gak tau apa yang akan terjadi sama Daddy," terang Clara yang membuat Tuan Bagas tersenyu penuh arti.
"Jadi kamu melihatnya Ra? Kenapa kamu tidak membantu Daddy, jika kamu melihatnya?" tanya Fabian yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Clara.
__ADS_1
"Ishhh kamu ngagetin aja sih. Aku pura-pura tidur malam itu, karena aku melihat Daddy tidur begitu gelisah. Tadinya aku ingin membantu Daddy saat ia terjatuh tapi sudah keburu suster jaga itu datang, dan waktu suster jaga itu mau membangunkan kita, Daddy melarangnya, bukan begitu Daddy?" Terang Clara yang kemudian bertanya pada Tuan Bagas untuk meyakinkan Fabian.
"Betul yang dikatakan istrimu, Daddy melarang suster membangunkan kalian, karena Daddymu ini sangat kasihan meihat kalian berdua sibuk merawat Daddy, apalagi kamu Ra, kamu ini harus ingat jika kamu sedang hami. Kamu harus menjaga kesehatan bayi di dalam kandungan mu, jangan terlalu capek-capek dan berpikir terlalu berat," jawab sang Daddy yang mengiyakan ucapan Clara sebelumnya.
"Berpikir terlalu berat? Kamu memikirkan apa lagi Ra? Aku sudah ada disini dan tak akan kemana-mana lagi, apa itu masih belum cukup untuk mu?" tanya Fabian yang menatap wajah sang istri dengan tatapan serius.
Clara terdiam sejenak mendengarkan perkataan sang suami, ia terus menatap dalam manik mata Fabian. Ia mencari keyakinan untuk mengungkapkan isi hatinya yang selalu mengganggu pikirannya selama ini.
"Aku berpikir keras selama ini, masih adakah ruang untuk diriku dan anakku yang ada di dalam kandungan ku ini di hatimu, Bie? Jujur aku sangat takut kehilanganmu, jika kamu kembali ke kota ini. Aku mengkhawatirkan kamu akan kembali pada masa lalu mu. Aku merasa lebih bahagia jika kamu masih mau menetap di Kota B, karena aku merasa kamu hanya jadi milikku, jika kamu ada disana. Maaf jika aku terlalu egois, tapi bolehkah aku merasakan cinta tulus mu hanya untuk ku, Bie?" Tutur Clara dengan suara yang begitu lirih.
"Ra, aku tak menyangka kamu masih berpikir seperti itu. Mereka memang memiliki tempat di hatiku, karena walau bagaimanapun mereka adalah bagian dari hidupku. Tapi hidup akan terus berjalan Ra, saat ini mereka sudah kembali pada Sang Pencipta dan tak akan mungkin kembali lagi. Dan di hidup ku saat ini hanya ada kamu yang bertahta di hatiku, kamu dan calon anak kita adalah prioritas di hidup ku, Ra. Maafkan aku bila aku tak bisa menjadi pria yang hangat dan romantis," terang Fabian yang membuat Clara terisak.
Clara begitu bahagia mendengar Fabian mengatakan jika dirinyalah yang saat ini bertahta di hati suaminya itu. Ia merasa perjuangannya selama ini membawakan hasil. Buah kesabaran dan ketulusannya selama ini tidak sia-sia.
Fabian terlihat mengusap air mata yang terus jatuh di kelopak mata indah Clara. Senyum mengembang terukir di wajah tua Tuan Bagas yang menjadi saksi kisah cinta mereka. Di dalam kisah cinta mereka, tak hanya Fabian dan Clara saja yang berjuang, tapi juga Tuan Bagas. Perjuangannya merubah kepribadian Clara patut di acungi jempol.
"Sama-sama Ra, aku juga mencintaimu," balas Fabian yang membalas pelukan Clara dengan sebuah kecupan di kening sang istri.
Dan di Negara yang berbeda, Jessica dan Andre tengah menikmati liburannya di kota London,Inggris. Entah ini ngidam atau hanya akal-akalan Jessica. Ia ingin pergi ke London hari itu juga setelah sarapan pagi kala itu yang berujung keributan diantara Kakak beradik.
"Sayang kamu bener mau lahiran disini?" tanya Andre yang tengah berbaris di samping istrinya yang terlihat kelelahan, setelah menyelesaikan permainan ranjang mereka yang entah sudah keberapa kali.
"Hemmm..." jawab Jessica dengan berdehem seperti kebiasaan suaminya.
"Hemmm apa si sayang? Yang jelas dong, aku kan harus mempersiapkan segalanya,gak bisa mendadak," tanya Andre yang terlihat kesal dengan jawaban yang ambigu dari Jessica.
__ADS_1
"Rasain keselkan emang enak? Kebiasaan kalau di tanya hem ham hem, giliran di balas dia kesal sendiri," gumam Jesica di dalam hatinya.
"Yang jawab dong ah, kamu mau ya aku hukum lagi?" desak Andre yang menggoyangkan tubuh sang istri yang tidur membelakanginya.
Mendengar ancaman Andre, Jessica langsung berbalik badan. Bukannya takut dengan ancaman sang suami tapi dia hanya merasa begitu lelah melayani gairah sang suami padanya yang tak ada habisnya.
"Kamu kayanya pengen banget anak-anak kita lahir prematur ya, Yang? Kamu tuh sadar gak sih punya kamu tuh ukurannya udah segede singkong jumbo. Kalau aku sering di hukum terus, kamu tuh ngasih jalan tol buat anak-anak kamu cepet keluar," tutur Jessica yang membuat Andre tersenyum geli dengan ucapan absurd sang istri yang mengatakan juniornya sebesar singkong jumbo.
Melihat suaminya tersenyum geli, Jessica malah mencubit pipi tirus sang suami.
"Sakit Yang, ih...cubit-cubit," Andre mengusap pipinya yang terasa sakit karena di cubit Jessica barusan.
"Gitu ajah sakit, apalagi nanti aku lahiran sekaligus dua anak pasti rasa sakitnya beribu-ribu kali lipat dari rasa sakit aku nyubit kamu barusan,"
"hem sayang, jangan ngomong gitu dong,maafin aku ya, aku akan terus di samping kamu, menemani kamu saat proses persalinan nanti, kamu boleh menyalurkan rasa sakit kamu ke aku nanti kok,"
"Bener ya Dad, gak boleh bohong loh dan gak boleh ngeluh nanti kalau aku cakar-cakarin kamu,"
"Gak akan ngeluh kok Mom, cuma nangis aja nanti aku kalau kamu cakar-cakarin aku sampai berdarah-darah, kaya Endah waktu nyakar-nyakarin Jimmy waktu itu,"
"Ishh Daddy mulai lebay deh, Daddy jangan terlalu dekat-dekat sama Ayah, Ayah itu terlalu lebay, sekarang Daddy jadi ketularan lebaykan kaya Ayah jadinya," umpat Jessica yang kembali membuat Andre tersenyum.
Andre kemudian memeluk tubuh istrinya yang terlihat tak begitu menyukai kedekatan dirinya dengan Ayah mertuanya itu.
Dan cerita cinta Jessika berakhir sampai disini...
__ADS_1
Untuk kelanjutan ceritanya, di tunggu di season 2 ya?
See you bye bye😍🖐️🖐️🖐️🖐️