
Endah yang baru kembali segera membersihkan tubuhnya yang sudah lelah kemudian naik ke atas ranjang menyusul Jessica dan Lestari yang sudah memejamkan mata terlebih dahulu. Lestari tidur diantara Jessica dan Endah.
Dalam mata yang terpejam Jessica dan Endah saling memukul tangan mereka satu sama lain, mereka memperebutkan tubuh sang Ibu yang di jadikan guling untuk di peluk oleh mereka berdua. Lestari yang merasa tidurnya terusik oleh kelakuan kedua putrinya akhirnya mencubit lengan Jessica dan Endah. Setelah di cubit merekapun akhirnya bisa tidur dengan tenang.
Sementara itu Andre dan Jimmy merasa sangat suntuk hanya duduk di balkon sembari menikmati secangkir kopi, entah sudah cangkir yang ke berapa dan sebatang rokok yang sudah ke berapa batang yang mereka hisap.
"Begini rasanya di tinggalkan dan di acuhkan istri ya Jim?" Tanya Andre dengan suara yang lirih dengan kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
"Ya begini rasanya menikah tapi tak bisa unboxing di malam pertama." Ucap Jimmy dengan suara yang tak kalah merananya.
"Ini tak bisa di biarkan Jim, mereka pasti sudah enak-enakan tidur pulas memeluk ibu mertua kita, sedang kita merana sendiri disini sulit untuk memejamkan mata. Bagaimana jika kita culik saja istri-istri kita itu?" Ajak Andre dengan ide briliannya.
"Ide bagus Tuan, mereka berdua kalau sudah tidur itu seperti mayat hidup, mereka tidak akan sadar jika kita pindahkan ke kamar kita."
"Kau benar Jim, kita harus hubungi kakak ipar kita kalau begitu. Kita tidak bisa masuk unitnya tanpa bantuan dia."
"Ya kau benar Tuan, sekarang sebaiknya Anda segera hubungi dia Tuan! Saya khawatir dia sudah tidur." Perintah Jimmy pada Andre untuk pertama kali dalam hidupnya memerintah Tuannya itu.
"Sepertinya kau sedang memberi perintah pada ku Jim?" Tanya Andre dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Iya Tuan, apa ada masalah jika saya memerintah Anda sekarang ini? Anda harus ingat Tuan walau bagaimanapun saya ini sekarang sudah jadi kakak ipar Anda Tuan, karena saya sudah menikah dengan Endah kakak perempuan Nyonya Jessica, jadi sah-sah saja jika saya memerintah Anda di luar pekerjaan."
"Oh, iya benar juga. Kau sudah menikah dengan yang lebih tua dari istriku, kau tahu Jim biasanya yang lebih tua itu lebih cepat mati Jim." Balas Andre dengan tatapan meledek assiten sekaligus sahabatnya itu.
" Sialan baru memerintah sekali saja dia sydah menyumpahi ku mati lebih dulu." Gumam batin Jimmy.
"Tuan, jadi atau tidak menghubungi kakak ipar kita itu?" Tanya Jimmy yang enggan menanggapi ledekkan Andre yang tak berbobot. Baginya sekarang menculik Endah dari ibunya untuk mengunboxing sang istri adalah hal yang terpenting dalam hidupnya saat ini.
"Tentu jadi, tunggu sebentar. Sepertinya kau sudah tak sabar melepas masa perjaka mu itu ya?!" Sahut Andre yang kemudian mengambil ponselnya di saku celananya.
Ia segera menghubungi Leon yang masih terlihat online di aplikasi Whatsapp-nya.
"Hallo Ndre, mau ngapain telepon tengah malam hah?" Sapa Leon dengan tak bersahabat.
"Bukakan pintu, kami ingin menjemput istri-istri kami." Sahut Andre dengan suara tak bersahabat pula.
"Oh kumpulan suami-suami bucin lagi gak bisa tidur ya? Apa kalian berdua ingin berniat menculik kedua adikku yang sudah tertidur seperti mayat hidup itu? Selamat tak bisa tidur ya para adik ipar, aku tak akan mengizinkan kalian menculik kedua adikku itu." Ucap Leon meledek di sambungan teleponnya.
"Ayolah Kakak ipar jangan meledek kami, tolonglah bantu kami, bukakan pintu untuk kedua adik iparmu ini." Ucap Andre memohon.
"Apa imbalannya untuk ku, jika aku membukakan pintu untuk kalian?"
"Apapun yang kau pinta akan kami turuti."
__ADS_1
" Bagus kalau begitu aku minta kalian pastikan istri-istri kalian tidak ikut dalam Konferensi pers besok, bukannya aku tak mau kedua adikku datang, karena kalian tahu sendiri sifat istri-istri kalian itu seperti apa. Bisa hancur berantakan rencana Kakek jika mereka ada disana." Pinta Leon dengan menjelaskan maksudnya.
"Itu bisa di atur kakak ipar." Balas Andre dengan entengnya.
"Awas saja jika kalian tidak bisa menahan istri-istri kalian, kalian akan terima sendiri akibatnya." Ancam Leon.
"Itu tak akan terjadi. Kau tenang saja Kak ipar." Sahut Andre yang meyakinkan Leon.
"Ok, aku akan bukakan pintu untuk kalian berdua, aku hitung sampai 10 jika kalian tidak sampai ke unitku dalam hitungan ke 10, kesempatan kalian untuk membawa istri kalian pulang akan hilang dan kalian harus suka rela menjalankan permintaanku tadi."
"Hah tak bisa begitu kak ipar?" Perotes Andre.
"Aku tidak menerima protes mu, semua itu bisa saja bagi ku, kau jadi ke unit ku untuk membawa istri-istri kalian tidak? Jika tidak aku akan tidur."
"Jadi...jadi... tunggu kami akan segera kesana."
"Ok aku mulai hitung dari sekarang 1...2.."
"Jim, cepat kita harus berlari ke unit Leon!" Ucap Andre yang langsung lari ngibrit ke unit Leon. Jimmy langsung berlari mengekori Andre.
"Kenapa harus lari Tuan?" Tanya Jimmy sambil berlari menyusul Andre dan membiarkan pintu unit apartemennya terbuka begitu saja.
"Sudah jangan banyak tanya, yang pasti sebelum Leon menyelesaikan hitungan ke 10-nya,kita harus sudah ada di depan pintu unitnya, kalau kita tidak ada disana dalam hitungan ke 10 kita tidak bisa membawa istri-istri kita Jim, kamu akan gagal unboxing istri mu itu." Jawab Andre sambil berlarian.
Di sambungan telepon Leon tertawa cekikikan sudah mengerjai kedua adik iparnya itu. Terdengar begitu jelas keduanya lari grabak-grubuk demi dibukakan pintu oleh Kakak ipar laknat macam Leon.
Dengan nafas kembang kempis Jimmy sampai terlebih dahulu di depan pintu unit aparteman Leon.
"Hosttt... hosssttt..."
Leon yang melihat nafas Jimmy tersengal-sengal karena habis berlari langsung tertawa geli melihatnya.
"Buahahahha...Hahahaha..."
"Sialan dia sudah mengerjaiku dan Tuan Andre, kalau kau bukan kakak ipar ku sudah ku buang kau kelaut." Umpat Jimmy dalam hatinya.
Leon bertambah geli tertawa saat melihat mimik wajah Jimmy yang sedang kesal karena di tertawakan oleh dirinya. Apalagi tak lama kemudian Andre datang dengan nafas yang terengah-engah pula sama dengan Jimmy barusan. Menambah tawa Leon semakin menjadi-jadi.
Andre datang langsung menepuk bahu Jimmy yanh nafasnya sudah mulai teratur.
"Lari mu cepat sekali Jim, seperti maling yanh di kejar warga." Ledek Andre yang membuat wajah Jimmy makin di tekuk.
"Fuuhh heh...heh... jantung ku rasanya mau copot saja heh...heh... ini semua karena kakak ipar macam diri mu Leon." Andre mengumpat sembari mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Itu tandanya kau sudah tua dan bau tanah," ucap Leon di sela tawanya membalas umpatan Andre.
"Hai Kakak ipar sembarangan sekali kau bicara hah," ucap Andre kesal.
"Benar kata Leon Tuan, kau bilang tadi pada ku, jika yang tua itu lebih cepat matinya bukan." Tambah Jimmy yang seakan membals kata-kata Andre sebelumnya.
"Sialan kau Jim, kau bosan hidup ya? Sebelum aku mati kalian berdua dulu yang mati hah, karena kalian lebih tua dari pada istriku."
"Hahaha hai Tuan Muda cara berfikirmu benar-benar tidak nyambung ya urusan mati dan hidup seseorang itu sudah di atur sama sang pencipta dan lagi kau ini mudah sekali marah rupanya, sekarang cepatlah masuk dan ambil istri-istri kalian sekarang juga, mata ku sudah mengantuk tapi harus di repotkan untuk meladeni permintaan kalian."
"Setelah puas mengerjai kami, kau pintar sekali menceramahi ku Kakak Ipar." Gumam Andre saat melewati Leon ketika ia masuk ke dalam unit apartemen Leon.
Leon menanggapi ocehan Andre hanya dengan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Dimana kamarnya Leon?" Tanya Jimmy yang berjalan lebih dahulu.
"Kamar yang tadi di gunakan Endah berganti pakaian." Jawab Leon yang menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Masuklah perlahan bro, jangan terburu-buru, ingat jangan sampai Ibuku terbangun karena ulah kalian!" Pekik Leon yang berusaha mengingatkan kedua adik iparnya yang sangat bucin itu.
"Brisik sekali dia yang akan membangunkan ibunya dengan teriakannya yang seperti di hutan saja." Umpat Andre lagi.
"Jika di izinkan aku ingin membuangnya ke hutan Amazon Tuan," Jimmy berkata dengan wajah seriusnya.
"Hahaha ide mu sangat bagus Jim, tapi jika istri-istri kita tau kita membuang Abang kesayangannya itu, dapat dipastikan Junior kita akan di siksa entah dengan cara apa?" Ucap Andre berusaha mengingatkan Jimmy.
"Sudah Tuan, sebaiknya kita masuk daripada bicarakan Leon yang tak ada untungnya." Ucap Jimmy yang kemudian membuka pintu kamar di hadapannya.
Jimmy mempersilahkan Andre masuk terlebih dahulu. Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam kamar, di lihatnya istri-istri mereka tidur dengan memeluk tubuh mungil Lestari yang berada di antara mereka berdua.
"Ibu mertua bisa Innalillahi kalau mereka menjadikan ibu mereka seperti guling seperti itu." Ucap Andre dengan suara yang begitu pelan.
"Sepertinya Ibu mertua tak leluasa bernafas Tuan," sahut Jimmy.
"Ya bagaimana bisa leluasa kau lihat saja, ibu mertua di tiban kaki kedua istri kita. Jim kau angkat endah terlebih dahulu, kaki istriku di tiban dia," Balas Andre dengan memberi perintah pada Jimmy untuk terlebih dahulu mengambil Endah.
Jimmy berhasil mengangkat tubuh Endah tanpa perlawanan, dan kini saatnya Andre mengambil istri tercintanya yang masih tertidur memeluk tubuh sang Ibu.
Ia mengambil kaki Jessica yang menimpa perut Lestari kemudian mengangkat tubuh sang istri dan menggendongnya. Saat Jessica sudah dalam gendongannya. Lestari bangun dari tidurnya karena merasa terlepas dari pelukan kedua putrinya.
"Andre mau dibawa kemana anak ibu?" Tanya Lestari dengan suara seraknya.
"Ibu sudah bangun? Ibu tidur sama Leon saja ya, kedua putri ibu sudah membuat suami-suaminya tidak bisa melewatkan malam tanpa mereka, jika mereka berdua terus melanjutkan tidur bersama ibu. Lihatlah bu Leon jadi tidak bisa istirahat karena rengekan mereka yang minta di bukakan pintu untuk menjemput kedua putri ibu yang sudah mencuri hati mereka, haddeh tolong ya bu, demi aku biarkan kedua putri nakal ibu di jemput para suaminya yang bucin itu yah?," ucap Leon yang tiba-tiba datang dan langsung naik ke atas tempat tidur, kemudian membaringkan tubuhnya dan mendekap sang ibu dalam pelukkannya, Leon melambaikan tangan kepada Andre untuk segera pergi saat sang ibu mulai memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
"Ya, nak."jawab Lestari dengan mata yang terpejam.