Cinta Jessika

Cinta Jessika
Pulang


__ADS_3

"Daddy...?" Panggil Jessica yang tengah berbagi ranjang dengan suaminya.


"Hemmm apa sayang." Jawab Andre yang tengah memejamkan matanya namun sulit karena tangan nakal Jessica yang terus mengerayai bagian tubuh sensitifnya.


"Mau ini boleh?" Jawab Jessica sambil menusuk-nusuk Andre Junior dengan jari telunjuknya.


"Besok ya Mommy. Bolehkan besok saja saat kita sudah berada di Mansion kita?" Jawab Andre yang langsung di tolak sang istri yang terus-menerus menggelengkan kepalanya.


"Kenapa gak mau sayang? Bisakan bersabar sebentar aku kan sedang sakit sayang. Lagi pula kita sedang di rumah sakit, aku khawatir ada Dokter datang untuk memeriksakan diri ku dan akhirnya akan melihat kita sedang bermain." Tanya Andre yang terus merasakan istrinya yang sedang tiduran di lengannya menggelengkan kepalanya.


"Terlalu lama Daddy. Aku sudah sangat merindukan mu lebih dari satu minggu ini Daddy meninggalkan ku. Apa Daddy sama sekali tak merindukan ku? Kata Dokter saja, Daddy tidak sakit hanya mengalami sedikit luka dan akan baik-baik saja setelah melakukan transfusi darah. Daddy saja sebenarnya sudah di perbolehkan pulang kok oleh Dokter tapi karena Papi saja yang lebay menyuruh Daddy untuk semalam saja istirahat disini dulu." Jawab Jessica dengan manjanya yang membuat Andre gemas mendengarnya.


"Mommy tidak tahu betapa Daddy sangat tersiksa setiap malam karena merindukan Mommy hum? Daddy menolak keinginan Mommy karena Daddy malu Mommy, ruangan ini tak kedap suara sedangkan di depan pintu banyak sekali para Bodyguard yang menjaga kita. Daddy khawatir mereka akan mendengarnya dan mencuri-curi kesempatan untuk melihat permainan kita. Lihatlah sayang sekarang sudah jam Empat dini hari, kita bisa pulang jam tuhuh pagi nanti. Daddy janji setelah sampai di Mansion Daddy akan melayani keinginan Mommy. Bagaimana sayang? humm...?" Balas Andre yang membuat Jessica terdiam sejenak untuk berfikir dan tak berselang lama seorang Dokter jaga datang untuk memeriksakan keadaan Andre.


"Selamat Pagi Tuan Muda, maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Tuan Muda dan Nyonya Muda. Menurut hasil pemeriksaan kami satu jam yang lalu Tuan Muda sudah dalam keadaan sehat ya. Jika Tuan Muda ingin pulang sudah di perbolehkan oleh Tim Dokter dan juga Tuan Besar. Karena baru saja Tuan Besar menelepon kami untuk memberitahukan kepada Tuan Muda dan Nyonya Muda kalau beliau sudah mengizinkan Tuan muda dan Nyonya Muda untuk pulang dan Tuan Besar juga sudah menyiapkan mobil di Lobby rumah sakit sekarang untuk Tuan Muda dan Nyonya Muda pulang." Ucap Dokter itu panjang lebar membuat Jessica dan Andre saling bertukar pandangan dan tersenyum.


"Mommy let's go kita pulang!" Ucap Andre yang langsung bangun dari tempat tidurnya begitu pula dengan Jessica.


"Dok, bisa tolong cabut jarum infus yang masih menancap di tangan saya ini." Pinta Andre pada sang Dokter yang langsung membantu Andre melepaskan jarum infus yang ada di tangannya.


"Terimakasih Dok." Ucap Andre yang kemudian berjalan mendekati CCTV di ujung ruangan yang menghadap ke ranjang tidur ekslusifnya.

__ADS_1


"Thanks you Papi, aku tahu Papi masih mengawasi kami. Terimakasih sudah mengizinkan aku pulang untuk berbuka setelah seminggu ini berpuasa hemm... " Ucap Andre yang kemudian tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya kearah CCTV.


Sementara di Mansion utama Brata Kusuma, tepatnya di kamar pribadi Brata dan istrinya. Brata tengah tersenyum melihat dan mendengarkan ucapan sang putra bungsunya.


"Berbahagialah sekarang Nak, karena tak ada lagi yang menganggu rumah tangga kalian. Fabian tak mungkin mengganggu pernikahan kalian karena pria itu sudah mengalami gangguan mental." Ucap Brata seorang diri sambil memeluk tubuh sang istri yang sedang tidur dalam pelukannya.


Andre dan Jessica berjalan bergandengan tangan dengan senyum yang menghiasi wajah mereka. Sebuah mobil sedan mewah sudah menunggu mereka di depan Lobby dengan pengawalan yang super ketat.


Mereka sampai di Mansion pukul lima pagi. Andre harus gigit jari, keinginannya untuk enak-enakan bersama istrinya harus ia tunda karena Jessica tertidur sewaktu dalam perjalanan pulang.


Dengan lengannya yang masih sakit ia memaksakan untuk menggendong tubuh istrinya yang sudah bertambah bobot berat badannya karena semakin bertumbuhnya kedua calon anak kembarnya di dalam kandungan sang istri.


Ia memaksakan diri untuk menggendong sang istri karena tak mau membangunkan sang istri yang terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya dan ia tak rela ada lelaki lain menggendong tubuh istrinya itu. Jangankan menggendong, menyentuh pun ia tak rela. Begitu cintanya Andre pada sang istri ia hingga mengorbankan dirinya untuk merasakan sakit kembali pada tangan kanannya yang baru saja mendapatkan luka jahitan karena tertusuk oleh orang suruhan Cynthia.


"Andre!!!" Pekik Lestari yang memangil menantunya.


Ia berjalan menghampiri sang menantu dan menariknya keluar dari kamar.


"Kenapa pulang tidak ajak-ajak Ibu?" Tanya Lestari yang mengomel sambil mencubit perut sang menantu.


"Lupa Bu maaf." Jawab Andre yang meringis kesakitan.

__ADS_1


"Kamu lihat ini tetesan apa?" Tanya Lestari yang kesal namun khawatir pada menantunya itu. Andre menunduk pandangannya kebawah lantai.


"Darah Bu,"jawab Andre seakan tanpa rasa bersalah ataupun berdosa.


"Kenapa kamu memaksakan menggendong Jessica Ndre? Lihat lukanya jadi berdarah lagi. Cepat kebawah ibu akan membersihkan dan mengobati lukamu!" Perintah Lestari pada menantunya.


"Memangnya Ibu bisa?" Tanya Andre yang meragukan kemampuan sang Ibu mertua yang tengah mendelik melihatnya.


"Eh, kamu ya meremehkan Ibu. Biar begini dulu Ibu ini sekolah keperawatan, Ndre." Jawab Lestari yang kembali mencubit perut sang menantu.


"Aauu...auuu Bu sakit jangan di cubitin terus bu!" Rintih Andre pada ibu mertuanya itu yang suka sekai mencubit perut semua orang jika sedang marah.


"Ya sudah cepat turun kebawah! Duduklah dengan manis di ruang makan bersama Ayah mertua mu disana. Ibu juga akan membuatkan mu susu hangat setelah ibu mengambil kotak p3k." Perintah Lestari yang kemudian langsung dijalankan oleh Andre karena takut kembali dicubit oleh sang Ibu mertuanya itu.


Andre pergi ke ruang makan yang disana sudah ada sang Ayah mertuanya dengan gayanya yang khas di pagi hari. Dengan secangkir kopi dan sebuah koran yang tengah ia baca.


"Bagaimana kondisi mu Nak?" Tanya Nico tanpa melihat Andre. Ia tengah asyik dengan bacaannya di koran tersebut.


"Sedikit buruk, luka ku kembali mengeluarkan sedikit darah dan Ibu memarahiku. Ibu mencubiti perutku berkali-kali sakit sekali." Jawab Andre yang membuat Nico tersenyum dibalik koran yang tenga ia baca.


Nico kemudian memilih menghentikan membaca korannya dan melipat koran bacaannya itu.

__ADS_1


"Cubitan ibu mertua mu di perut mu tak lebih sakit daripada pukulannya di lengan Ayah. Nih!!! Lihatlah!!! Pagi-pagi Ibu mertuamu itu sudah mengukir mahakaryanya di tubuh kita karena kamu pulang tanpa pamit terlebih dahulu pada kami. Ayah terus diumpatiibu mertua mu itu tiada henti dan tangannya terus memukuli lengan Ayah. Untung saja itu tak berlangsung lama karena pengawal yang baru saja kebelakang segera kembali, ia datang menenangkan Ibu mertuamu yang menganggap kalian diculik kembali. Kalian berdua itu membuat Ayah menderita pagi ini." Ucap Ayah dengan wajah datarnya.


"Maaf Ayah," ucap Andre yang hanya di jawab satu deheman oleh Nico, "Hemmm...".


__ADS_2