
Selama 90 menit Andre mengajar di ruang kelas Jessica dengan profesional. Para Mahasiswa dan Mahasiswi begitu menyukai cara penyampaian pembelajaran yang di berikan Andre. Banyak yang berharap semua dosen menggunakan cara penyampaian pembelajaran yang seperti Andre lakukan, mudah di mengerti dan di pahami dengan bahasa yang lugas dan tegas disetiap kalimatnya.
Setelah mata kuliah Andre usai, Andre pun keluar dari ruangan kelas Jessica. Saat ia berjalan menuju pintu dan melewati meja yang ditempat Jessica. Andre mengetuk meja itu membuat Jessica yang sedang memasukkan modul ke dalam tasnyanya pun menatap kearah Andre.
"Apa?" Tanya Jessica tanpa bersuara.
"Ikut aku sayang," jawab Andre dengan suara pelan dan lembutnya.
Jessica menganggukan kepalanya lalu beranjak dari kursinya kemudian mengekori langkah sang suami. Pergerakan Jessica yang mengekori langkah Andre terus di perhatikan oleh Nadia dan teman-temannya.
"Dia pikir, dia siapa di kampus ini? Jangan mentang-mentang jadi istri Dosen ganteng dia jadi lupa siapa dirinya disini." Nadia berkata dengan dengan suara yang lantang agar semua orang bisa mendengarnya.
"Iya bener, dia kan kuliah di kampus ini karena beasiswa, mana mampu keluarganya biayain kuliah dia disini," sahut Fanya dengan suara tak kalah nyaring.
Endah yang mendengar adiknya di rendahkan merasa tidak terima. Jiwa bar-barnya pun meronta-ronta.
"Apa lu bilang tadi? Keluarga gue gak bisa biayain kuliah adik gue?" Tanya Endah dengan wajah menyeringai sambil berjalan menghampiri kursi Fanya dan Nadia.
"Hahaha jadi si gembel itu adik lu, pantes banget kalau kalian bersaudara yang satu gembel yang satu anak pungut hahahaha." Ejek Fanya yang membuat seisi kelas kecuali Anna ikut menertawakan Endah. Anna hanya diam saja, ia memilih tidak ikut campur karena ia tahu Endah bisa menyelesaikan urusan pribadinya dengan caranya sendiri. Jika sudah kelewatan Anna pasti akan turun tangan seperti biasanya. Semua orang takut kepada Anna karena tahu Anna adalah keponakan pemilik kampus.
Endah terus berjalan menghampiri kedua orang yang sudah merendahkan dirinya dan adiknya itu.
"Mau ngapain lu anak pungut?" Tanya Fanya dengan wajah yang ketakutan melihat tatapan Endah yang berjalan menghampiri mereka.
"Gue mau ngapain? Lu tanya gue mau ngapain? Heh..." tanya Endah kembali kepada mereka berdua sambil menarik lengan kemeja sampai siku.
"Eh, anak pungut lu jangan macem-macem ya kalau masih mau kuliah disini!" Ancam Nadia kepada Endah sebagai upaya menyelamatkan diri dari amukan Endah.
"Hahaha... lu nakutin gue? Gak akan mempan, lu takut ya sama gue? Makanya lu ngancem gue segala hahaha... " ucap Endah sambil menendang meja Nadia dan Fanya bergantian.
"Gak ngapain gue takut sama anak pungut yang gak dianggap kaya lu." Sahut Nadia yang pura-pura berani padahal ia sangat takut bila Endah mengamuk, pasalnya sudah ada korban yang sampai masuk rumah sakit hingga koma karena perbuatan bar-bar Endah yang tak terima di sebut anak pungut kala itu oleh orang tersebut.
__ADS_1
"Oh, ya masa? Kayanya gue gak yakin. Asal lu tau ya, adik gue yang gembel bisa beli perusahaan bokap lu yang ga seberapa itu dan gue yang anak pungut bisa kasih lu berdua tiket gratis ke alam baka," Ucap Endah dengan mengangkat sebelah alisnya dan memberikan senyum devil ke arah Nadia dan Fanya.
"Lu sama Jessica sama-sama sampah di kampus ini asal lu tau itu dan simpen omong kosong lu itu anak pungut!" Nadia berkata dengan penuh kebencian.
"Bukannya Elu yang jadi sampah di kampus ini, udah bloon sok kecakepan lagi, itu muka apa dempul, muka putih leher item kaki budug, idup lagi." Endah berkata dengan Nada mengejek.
Seluruh orang di dalam ruangan kembali tertawa mendengar ucapan Endah kepada Nadia. Membuat Nadia kesal dan marah karena merasa di rendahkan. Ia langsung berdiri dan mulai mengayunkan tangannya hendak menampar Endah.
Belum sempat tangan Nadia menyentuh wajah Endah. Tubuh Nadia langsung jatuh tersungkur ke lantai setelah seorang pria dengan jas serba hitamnya tiba-tiba datang dan berlari kemudian mendorong tubuh Nadia dengan kasarnya ketika melihat wanita yang dicintainya akan di tampar oleh teman kuliahnya.
"Jangan sentuh istriku dengan tangan kotormu!" Ucap Pria berjas hitam yang tak lain adalah Jimmy dengan wajah seperti malaikat pencabut nyawa menatap tajam Nadia yang jatuh tersungkur dilantai.
"Istri??" Semua orang di ruang kelas itu membeo mendengar Jimmy menyebut Endah sebagai istriku.
"Babang ku sayang..." panggil Endah sambil menggoyangkan lengan Jimmy yang jemarinya masih mengepal kuat.
"So sweet banget sih laki gue, ini yang gue suka dari lu bang bukan cuma kata-kata cinta tapi actionnya itu loh bikin Dede klepek-klepek."batin Endah memuji sang suami.
Jimmy menoleh ke arah Endah, menatap dalam manik mata sang istri. Ia khawatir istrinya menangis dengan kata hinaan yang tak sengaja ia dengar saat ia berjalan mendekati pintu ruang kelas istrinya.
Endah yang memang tukang mengadu langsung saja mengadukan apa yang di ucapkan Fanya dan Nadia kepada dirinya dan adiknya.
"Babang sayang, dia tidak menyakiti fisikku tapi dia menyakiti hati ku, dia sebut aku anak pungut, dia bilang aku disini gak boleh macem-macem sama dia, kalau aku masih mau kuliah disini. Dia juga bilang keluarga ku tak mampu membiayai adikku yang mereka sebut gembel untuk kuliah disini, menurut mereka Jessica harus tahu diri bisa kuliah disini karena Beasiswa." Endah berkata dengan suara pura-pura sedih seperti orang yang habis teraniaya.
Anna yang melihat calon adik iparnya sedang berperan dalam drama menyedihkan yang ia buat itu hanya menggelangkan kepalanya.
"Hah, dasar ratu drama. Kalau gak tukang ngadu dan membesar-besarkan masalah bukan Endah namanya." Umpat Anna yang langsung menggendong tasnya kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang kelas setelah sebelumnya Anna mendapat pesan singkat dari Jessica jika Dosen ke dua mereka sedang berhalangan hadir.
Jimmy yang mendengar aduan Endah langsung menghubungi seseorang yang berperan sangat penting di kampus ini.
"Saya tunggu kehadiran Bapak segera di ruang kelas istri saya." Ucap Jimmy di akhir panggilannya pada Rektor di kampus milik keluarga adik iparnya itu.
__ADS_1
Tak sampai lima menit Rektor kampus pun datang menghampiri Jimmy yang masih di posisi yang sama dengan nafas yang terengah-engah karena dia berlari untuk menuju ruang kelas Endah, Nadia yang sudah bangun di bantu oleh teman dekatnya Fanya sangat terkejut melihat kedatangan Rektor kampus mereka yang menunduk hormat kepada Jimmy.
"Selamat pagi Tuan," sapa Pak Gunadi kepada Jimmy saat datang menghampiri Jimmy.
"Pagi." Jimmy menjawab sapaan sang Rektor tanpa menatap wajahnya. Membuat Gunadi merasa ada masalah yang terjadi di sini sehingga membuatnya di panggil oleh assiten pemilik kampus.
"Maaf Tuan, apa ada masalah, hingga saya di panggil kesini?" Tanya Pak Gunadi yang menjabat sebagai rektor di kampus ini.
"Keluarkan mereka berdua dari kampus ini! Kalau kamu masih mau menjadi Rektor di kampus ini." Perintah Jimmy pada Gunadi dengan mata yang masih menatap tajam Nadia dan Fanya.
Nadia dan Fanya terbelalak kaget mendengar perintah Jimmy pada sang Rektor. Tak hanya mereka berdua seisi ruang kelas pun mulai heboh membicarakan permintaan Jimmy kepada Rektor.
"Baik Tuan," jawab Gunadi dengan menundukkan wajahnya.
Fanya dan Nadia begitu nampak sedih mendengar jawaban sang Rektor yang dengan mudahnya menyetujui permintaan pria yang tak di kenalnya itu.
"Pak, bapak mau keluarkan kami atas permintaan orang ini? Bapak gak salah Pak? Tanya Nadia pada Gunadi dengan suara yang meninggi namun di acuhkan oleh Gunadi.
"Bapak jangan coba-coba keluarkan kami dari sini ya, Bapak tahu sendirikan siapa orang tua kami?" Fanya berkata dengan nada mengancam, ia berusaha mengingatkan kepada Gunadi siapa orang tua mereka.
Fanya dan Nadia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini, hingga ia dengan beraninya mengancam Gunadi. mungkin Gunadi akan takut pada ancaman Fanya dan Nadia jika lawan kedua wanita itu bukan Jimmy dan Endah.
"Kalian bisa memilih mengambil surat drop out kalian dari kampus ini sendiri atau pihak kampus yang akan mengantar ke rumah atau perusahaan orang tua kalian. Alasan kalian di Drop Out akan tertera di surat Drop Out kalian." Jawab Gunadi dengan suara tegasnya yang sejak tadi diam mendapatkan ancaman kedua mahasiswinya itu.
Gunadi dengan berani berbicara setegas itu pada Fanya dan Nadia karena ia tahu jika keluarga kedua mahasiswinya itu akan melakukan hal buruk kepadanya pasti akan ada Jimmy yang akan melindunginya.
"Sialan lu Ndah, gara-gara lu gue dikeluarin, siapa sih suami lu itu sebenarnya sampai membuat Pak Gunadi gak takut sama ancaman gue?" Umpat Nadia sembari bertanya siapa sebenarnya suami Endah itu.
Endah ingin sekali menjawab pertanyaan Nadia namun tubuhnya sudah di rangkul Jimmy dan di ajak pergi meninggalkan mereka.
"Ayo sayang jangan perdulikan mereka lagi! Dosen mu selanjutnya berhalangan hadir, jadi kamu ikut aku ke kantor ya?!." Ajak Jimmy pada Endah yang di jawab anggukan kepala dari Endah.
__ADS_1
Angela yang terlambat datang segera menjalankan tugasnya untuk mengambil tas Jessica dan Endah, setelah itu ia pun segera berjalan terlebih dahulu dari sepasang suami istri yang kejam itu menuju mobilnya.
Di sepanjang jalan menuju mobil Jimmy terus mengenggam erat tangan Endah. Endah merasa bahagia dan beruntung mendapatkan suami seperti Jimmy yang selalu ada di waktu yang tepat dan tidak membiarkan dirinya disakiti dan dilukai seseorang.