Cinta Jessika

Cinta Jessika
Menjenguk Fabian


__ADS_3

Jessica dan Andre pergi ke rumah sakit dengan mobil yang di kendarai oleh Bowo dan Angela yang setia melakukan pengawalan dengan duduk di depan bersama Bowo yang mengemudikan kendaraan milik Tuan mudanya itu.


Jessica duduk bersandar di dada bidang sang suami, dengan matanya yang sudah hampir terpejam karena dia belum sempat tidur setelah makan siang tadi.


Andre membiarkan Jessica untuk tertidur sebentar untuk menghilangkan rasa kantuknya.


"Perutku kencang Dad, pengen rebahan. Haruskah pergi sekarang juga Dad?!" Ucap Jessica dengan mata yang sudah berat untuk terjaga.


"Lebih cepat, lebih baik sayang, kita tak bisa terus menundanya. Maafkan aku jika aku terkesan memaksa mu." Ucap Andre dengan tangan yang mengusap perut buncit Jessica tanpa diminta.


"Iya baiklah Dad," sahut Jessica dengan suara yang begitu pelan.


Ia begitu malas untuk menjenguk Fabian di rumah sakit, karena sebenarnya ia tidak ingin mengingat lagi perasaannya pada Fabian dimasa lalunya itu. Selain untuk menjaga perasaan sang suami dia juga ingin menjaga perasaannya sendiri.


"Pak Bowo jalankan mobilnya jangan ngebut-ngebut perutku sedang tidak nyaman!" Pinta Jessica pada Bowo dengan suara yang begitu pelan karena matanya sudah hampir terpejam sempurna. Ia hanya ingin memperlambat waktu untuk menemui Fabian.


"Baik Nyonya," jawab Bowo di balik kemudinya.


Mendengar permintaan Nyonya mudanya Bowo langsung mengurangi kecepatan mobil yang ia kemudikan dan memilih mengambil jalur kiri agar tidak menggangu pengguna jalan lain.


"Aku tahu sayang kamu meminta Bowo melambatkan laju mobil ini karena kamu hanya mengulur waktu untuk menemui mantan Bos mu yang pernah kamu cintai itu. Sebegitu enggannya kamu menemuinya sayang. Maafkan aku yang memaksamu. Aku melakukan semua ini untuk kebaikan kita bersama. Setelah pertemuan ini aku pun tak akan mengizinkan mu menemui dia lagi dengan alasan apapun." Ucap Andre di dalam hatinya.


Butuh waktu yang cukup lama mobil yang di kemudikan Bowo untuk sampai di rumah sakit Central Kusuma. Alan dan kedua putri Fabian yang sudah sampai terlebih dahulu terlihat begitu khawatir Andre dan Jessica membatalkan untuk datang menjenguk Fabian. Saat ini mereka sengaja berdiri di depan Lobby rumah sakit untuk menunggu kedatangan mereka dan disaat menunggu terjadi perdebatan antara kedua putri Fabian.


"Om Alan, apa Tante Jessica dan Om Andre tidak jadi datang menjenguk Papi?" Tanya Hana yang menggoncangkan lengan Alan.


"Om tidak tahu Hana, mungkin saja mobil mereka berjalan lebih lambat karena Tante Jessica tengah hamil. Pak sopir yang mengemudikan mobil harus lebih hati-hati melajukan kendaraannya." Jawab Alan yang masih optimis mereka akan tetap datang.


"Jika Om Tampan dan Tante Jessica tidak datang, kita tak boleh memaksanya Kak Hana. Mungkin Tante Jessica belum bisa memaafkan Papi yang suka marah-marah padanya." Ucap Hani yang mengingat bagaimana perlakuan Fabian kepada Jessica yang lebih sering marah-marah.


"Tapi tadi Om Andre sudah meminta Tante Jessica untuk datang menjenguk Papi kita, Hani." Sahut Hana yang begitu menginginkan kedatangan Jessica.


"Ya aku dengar Om Andre meminta Tante untuk datang, tapikan Tantenyakan gak mau Kak. Kak Hana, kakak harus ingat pesan Mami untuk jangan membiasakan diri memaksakan keinginan kita pada orang lain apalagi kepada orang yang lebih tua dari kita seperti Tante Jessica." Ucap Hani yang mengingatkan Hana tentang pesan sang Mami.


"Iya Hani, aku ingat. Maaf jika aku terkesan seperti memaksakan keinginan ku."jawab Hana yang menundukan kepalanya, ia sedang menyembunyikan wajah sedihnya itu.


"Kak Hana, maafkan aku juga ya jika kata-kata aku menyakitimu tadi. Aku tahu kak Hana masih berharap Tante Jessica menjadi pengganti Mami kita bukan? Aku harap Kak Hana bisa memahami perasaan Mami yang sudah banyak berkorban untuk kita." Ucap Hani yang begitu serius memandangi wajah Hana yang tengah menunduk.


Alan yang mendengar ucapan Hani begitu takjub karena Hani memiliki sifat yang lebih dewasa ketimbang Hana.


"Om Alan, Hani tidak ingin menunggu lagi di sini, kita keruangan Papi saja yuk, siapa tahu Mami sudah ada disana mengganti Oppa. Kasihan Oppa tidak ada yang menggantikan untuk menjaga Papi sejak kemarin." Ucap Hani yang mengajak Alan untuk segera keruang rawat Fabian.


"Ok baiklah Hani, ayo kita ke ruang rawat Papi kalian!" Ajak Alan yang kemudian menggandeng tangan kedua putri Fabian.


"Om nanti kalau Tante Jessica datang, Tante Jessica bisa tersesat karena tidak tahu ruang rawat Papi." Ucap Hana yang terlihat masih ingin menunggu.

__ADS_1


" Tante Jessica kan ada Om Andre, Om Andre pasti akan bertanya kepusat informasi untuk ruang rawat Papi kalian." Sahut Alan yang membuat Hana akhirnya mau beranjak dari posisinya.


Tak lama dari kepergian mereka, mobil yang di kendarai Bowo pun tiba. Bowo menghentikan mobil yang dikendarainya tepat di depan pintu lobby rumah sakit. Petugas keamanan yang bertugas berjaga di depan pintu lobby segera menghampiri mobil yang mereka kenali sebagai mobil pemilik rumah sakit. Tanpa menunggu Bowo turun, petugas keamanan rumah sakit segera membukakan pintu untuk Tuan muda mereka.


Andre turun dengan merangkul tubuh sang istri yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Mau pakai kursi roda sayang?" Tawar Andre pada sang istri yang masih terlihat mengantuk.


"Pakai brankar saja kalau boleh, Dad." Jawab Jessica yang seketika membuat Andre tersenyum menahan tawanya.


"Dasar putri tidur," gumam Andre yang mencubit gemas hidung sang istri.


"Sakit Daddy ahhh ...ahhh." rintih Jessica yang memegangi hidungnya.


"Biar cepat bangun, nanti lanjutkan lagi tidurnya saat kita sudah menyelesaikan urusan kita disini." Ucap Andre yang terus berjalan sambil menoleh kearah sang istri.


Pihak rumah sakit yang sudah di hubungi Angela sudah berada di depan Andre dan Jessica. Ia berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan dimana ruang rawat Fabian berada.


"Sayang, kamu aku tinggal sendiri di dalam ya? Aku memberimu ruang untuk bicara dari hati ke hati dengan Fabian. Selesaikan kisah kalian hari ini. Berusahalah bangunkan dia dengan caramu. Jangan khawatirkan perasaanku. Aku akan baik-baik saja karena aku percaya dirimu hanya mencintaiku." Ucap Andre yang menatap dalam mata sang istri yang terlihat terkejut mendengar ucapannya.


"Apa Daddy serius meninggalkan aku, kalau dia bangun dan ngapa-ngapain aku gimana?" Tanya Jessica dengan rasa khawatirnya.


Andre tersenyum mendengar pertanyaan sang istri yang masih saja terlihat takut.


"Semenakutkan itukah Fabian dimata mu sayang? Tidak ada orang yang baru sadar dari koma langsung berlari dan menerkammu, sayang. Lagi pula kamu jangan khawatir aku akan tetap menunggumu disini. Teriak saja jika dia berbuat macam-macam denganmu. Aku akan segera masuk dan melindungi mu." Jawab Andre dengan tangannya yang merapikan anak rambut sang istri.


"Ya adukan saja jika aku meninggalkan mu sayang, ayo masuklah aku tunggu kamu disini!" Pinta Andre kepada Jessica yang sudah berada di muka pintu ruang rawat Fabian.


"Daddy gak ikut masuk dulu sebentar aja?" Tanya Jessica lagi yang belum mau beranjak masuk ke ruang rawat Fabian.


"Tidak sayang, aku disini saja." Jawab Andre dengan wajah yang meminta Jessica untuk segera masuk.


Dengan berat hati Jessica masuk kedalam ruang rawat Fabian yang sudah ada kedua anak Fabian, Alan dan juga Bagaskara, orang tua Fabian.


"Tante Jessica..." Pekik Hana yang melihat sosok Jessica yang berdiri di ambang pintu.


Pekikan Hana memanggil nama Jessica terdengar hingga ke alam bawah sadar Fabian dan aroma parfum khas yang biasa Jessica gunakan tercium oleh indra penciuman Fabian.


Kedatangan Jessica benar-benar bagaikan obat bagi Fabian, tanpa diketahui dan disadari oleh mereka. Jemari tangan Fabian mulai bergerak kembali.


Ketika Hana ingin berlari menghampiri Jessica untuk memeluk tubuh Jessica, tubuh Hana langsung ditahan oleh Alan.


"Om, aku ingin peluk Tante Jessica kenapa dihalangi?" Protes Hana pada Alan dengan wajah kesalnya.


"Tante Jessica kesini untuk menjenguk Papimu, jangan ganggu Tante Jessica jika ingin Tante Jessica tetap disini." Balas Alan dengan wajah tegasnya kali ini pada Hana.

__ADS_1


Jessica melangkah maju menghampiri Bagas, orang tua dari Fabian. Ia memberi salam hormat padanya. Dan tanpa berbasa-basi Bagas segera mempersilahkan Jessica untuk melihat kondisi Fabian.


Alan membawa kedua putri Fabian keluar dari ruang rawat Fabian, agar tidak menggangu usaha Jessica untuk membangunkan Fabian dari tidur dalamnya. Begitu pula dengan Bagas setelah mengantarkan Jessica mendekati ranjang Fabian, ia pun segera bergegas keluar dari ruang rawat putranya itu.


Kini Jessica tengah duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang Fabian. Dia mengamati wajah Fabian yang terlihat makin tirus, mungkin karena tidak ada asupan makanan yang masuk kedalam tubuhnya selama ia tak sadarkan diri seperti ini.


"Hai Om Duda, apa kabar?" Sapa Jessica pada Fabian yang masih dalam tidur dalamnya.


"Sudah lama kita tidak bertemu ya Om? Bolehkan aku panggil Pak Fabian dengan panggilan Om Duda?" Tanya Jessica yang tak mungkin di jawab oleh Fabian namun dapat di dengar oleh Fabian.


Karena kehadiran Jessica membuat kesadaran Fabian kembali namun ia belum bisa membuka matanya untuk melihat wanita yang selama ini ia rindukan dan dia juga belum bisa menggerakkan mulutnya untuk menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan Jessica.


Fabian merespon semua pertanyaan Jessica dengan air matanya yang kembali menetes dari kelopak mata yang masih terpejam dan hatinya yang terus memanggil namanya. Namun Jessica belum melihat air mata yang menetes dari kelopak mata Fabian yang tertutup karena Jessica berbicara tanpa memandangi wajah Fabian.


"Om Dud, sebenarnya aku tidak ingin ke sini untuk menemui mu, karena aku tidak ingin mengingat luka hatiku atas perbuatan mu selama ini pada ku. Namun suamiku memaksa ku untuk menemui mu dan aku bisa apa, sebagai seorang istri aku hanya bisa menuruti perintah suamiku." Ucap Jessica dengan wajah yang tertunduk sembari memainkan jemarinya.


Fabian yang mendengar ucapan Jessica barusan terkejut, karena mendengar pengakuan Jessica menyebutkan kata suamiku.


"Kamu sudah menikah?." Tanya Fabian dalam hatinya. Rasa sedih mendengar Jessica sudah menikah membuat air mata Fabian makin deras keluar dari kelopak matanya dan lagi-lagi Jessica tak melihatnya. Sekuat tenaga Fabian ingin menggerakkan anggota tubuhnya namun tidak bisa.


"Aku kesini hanya untuk membantu keluarga mu untuk membangunkan mu, tidak lebih dari itu. Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan ku pada mu Om Dud! Perasaan ku pada mu telah terhapus dengan semua perbuatan mu yang sering kali menggores hatiku." Ucap Jessica lagi dengan wajah yang masih tertunduk.


"Maafkan aku yang selalu melukai hatimu, Jessica." Ucap Fabian dalam hatinya.


"Bangunlah Om Dud, kasihanilah kedua putri mu yang merindukan dirimu dan juga putramu yang juga ingin merasakan kasih sayang seorang Ayah." Ucap Jessica lagi yang membuat Fabian mengingat ketiga anaknya.


"Kenzo putra ku. Kamu sudah mengetahuinya Jessica." Batin Fabian yang mengingat putranya.


"Tuhan begitu baik padaku, membiarkan aku pergi dari hidupmu dan memberikan laki-laki yang benar-benar mencintaiku tanpa masa lalu yang akan melukai ku. Andai saja aku masih mempertahankan rasa cinta ku pada mu, tak terbayang olehku bagaimana rasa kecewa ku padamu karena kamu memiliki anak lain dari mantan istrimu Om Dud. Dan pastinya demi putramu, kamu akan pergi meninggalkan ku seperti kamu mencampakkan Mbak Rania demi putramu bukan?" Ucap Jessica dengan suara yang lirih.


"Jika kamu masih mencintaiku, aku hanya akan mengambil putraku tanpa kembali pada mantan istri ku Jessica, karena kamu adalah hidupku." Sahut Fabian dalam hatinya.


"Bangunlah Om Dud! Sampai kapan kamu masih mau tertidur seperti mayat hidup seperti ini!" Ucap Jessica yang meminta Fabian membuka matanya.


Kali ini Jessica berbicara sembari menatap wajah Fabian. Ia melihat ada air mata yang terus menetes dari kelopak mata Fabian yang terpejam.


"Kamu menangis Om Dud?" Tanya Jessica yang berdiri mengusap air mata Fabian.


Sentuhan yang diberikan Jessica mampu memberikan Fabian energi untuk menggerakkan tangan dan kakinya.


"Maafkan aku jika kata-kata yang ku ucapkan menyakiti hatimu Om Dud," ucap Jessica yang memegangi telapak tangan Jessica.


Dengan kesadaran yang hampir pulih, Fabian berusaha menggenggam tangan Jessica, namun genggaman tangan Fabian tak terlalu kuat hingga Jessica tidak menyadarinya.


"Jika Om Duda mau tahu sejak kapan aku mencintaimu, aku akan menceritakannya asal setelah mendengar ceritaku, Om Duda harus bangun dan memulai hari-hari mu bersama keluarga kecilmu tanpa diriku ya?! Karena aku juga punya keluarga kecilku sendiri yang tak ingin rusak karena kehadirmu" ucap Jessica yang masih memegangi telapak tangan Fabian.

__ADS_1


Kali ini Fabian merespon ucapan Jessica dengan bola mata yang sudah ia bisa gerakan kekanan dan ke kiri namun belum bisa membuka kelopak matanya.


"Ceritakanlah Jessica, aku ingin tahu sejak kapan kamu memiliki perasaan denganku." Sahut Fabian di dalam hatinya.


__ADS_2