
Jessica melangkahkan kakinya dengan berat ke kamar Fabian. Dia sungguh terpaksa harus mengikuti perintah Suci hari ini.
"Begini nih nasib orang kecil kaya gue... harus nurutin maunya mereka dan harus mengesampingkan perasaan gue sendiri...huftt." Jessica berdecak sebal dan membuang nafasnya dengan kasar.
Bi Inah mengantarkan Jessica sampai depan pintu kamar Fabian sesuai permintaan Nyonya besarnya.
"Silahkan masuk Nona!" ucap Bi Inah sambil membukakan pintu kamar Fabian. Jessika pun melangkahkan kakinya memasuki kamar Fabian. Ketika Bi Inah ingin menutup pintu kamar Fabian, Jessica menahan pintu itu dengan tangannya.
"Biarkan sedikit terbuka saja Bi, jangan ditutup rapat pintunya! Bukannya tidak baik seorang perempuan dan laki-laki yang belum menikah berada dalam satu kamar yang tertutup?" ujar Jessica ketika menghalangi Bi Inah yang ingin menutup pintu kamar Fabian.
"Baik Nona." Bi Inah memandang Jessica dengan tersenyum penuh arti karena menolak pintu kamar yang akan dia tutup.
Kini Jessica berada di dalam kamar Fabian, dilihatnya Fabian tengah tertidur sambil memeluk guling.Kondisi kamar Fabian cukup gelap karena tirai jendela masih dalam keadaan tertutup, sehingga pancaran sang surya tidak dapat masuk kedalam kamar itu.
Jessica memilih untuk duduk di sofa yang berada didekat Jendela kamar Fabian. Jessica akan menunggu sampai Fabian bangun dari tidurnya. Untuk mengusir rasa jenuhnya Jessica memainkan ponselnya. Ia berselancar beberapa saat disosial medianya, hingga akhirnya ia merasa bosan memainkan ponselnya karena terlalu lama. Ia pun berhenti memainkan ponselnya dan berniat untuk menyimpan kembali ponselnya kedalam tas miliknya. Ketika dia ingin memasukkan ponselnya kedalam tas. Dering notifikasi pesan masuk terdengar. Jessica segera membuka pesan yang ternyata dari sahabatnya Anna.
"Jes, nanti malam gue jemput lu dirumah jam 07.00 ya, gue mau ajak lu beli gaun pesta ok." isi pesan Anna pada Jessica.
"Ok siap Bu Boss." jawab Jessica pada pesanya untuk Anna.
Setelah membalas pesan dari Anna, Jessica meletakkan ponselnya di dalam tas, pandangan mata Jessica mengarah pada jam dinding yang berada di kamar Fabian. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30. Sudah cukup kesiangan untuk orang yang tidak kunjung bangun dari tidurnya bagi Jessica. Ia hendak membangunkan Fabian. Sejenak ia berfikir bagaimana cara agar ia bisa membangunkan Fabian. Jika ia membangunkan Fabian dengan mengguncang tubuhnya ia takut Fabian akan menerkamnya. Jessica akhirnya memilih berjalan kearah Jendela. Jessica membuka tirai Jendela di kamar itu. Jessica membiarkan cahaya matahari masuk kedalam kamar. Sontak saja apa yang dilakukan Jessica membuat Fabian terbangun, Karena sinar matahari menyilaukan matanya yang terpejam, Fabian menutup matanya dari pancaran sinar matahari yang menyilaukan dengan lengan kokohnya.
"Arghh... Silau sekali. Siapa yang berani-beraninya melakukan ini? Tutup jendelanya sekarang juga! Aku masih mau tidur!" ucap Fabian kesal dengan suara berat khas orang yang baru bangun tidur.
"Aku yang melakukannya, kenapa? Bangun Pak ini sudah sangat siang! Bagaimana perusahaan mau maju kalau punya bos yang pemalas seperti ini, bisanya ngatain orang malas padahal dirinya sendiri seperti itu." Omel Jessica sambil melipat kedua tangan didadanya.
"Hah Jessica...Kau-kah itu? Kau ada disini?" Fabian terkejut mendengar suara omelan Jessica yang berada dikamarnya. Bagi Fabian ini seperti mimpi saja ada Jessica didalam kamarnya. Ada rona bahagia di wajah Fabian saat ini. Fabian segera bangun dari tidurnya. Dia duduk di tepi tempat tidur memandangi wajah wanita yang ada di hadapannya. Ia sungguh tak percaya melihat Jessica saat baru bangun dari tidurnya, Jessica sungguh mengemaskan baginya saat ini. Hati Fabian begitu senang karena ada wanita yang sangat dicintainya dihadapannya ketika ia baru saja membuka matanya.
"Jess, katakan ini bukan mimpi kan? Kamu berada disini, ini bener kamu kan? " tanya Fabian seakan tak percaya akan keberadaan Jessica di kamarnya.
"Ini bukan mimpi dan ini bukan Jessica tapi setan..." jawab Jessica asal.
"Ah kamu itu aku mencoba romantis sama kamu tapi kamu seperti ini. Lagi pula mana ada setan di siang hari seperti ini." ucap Fabian dan dia masih asyik memandangi wajah Jessica dengan penuh kasih.
"Ya kalau bapak udah tau kenapa harus nanya sama aku? Berhentilah memandangi aku seperti itu pak, aku jadi risih." ucap Jessica kesal karena Fabian terus memandangi wajahnya seperti itu.
"Jelas aku bertanya, aku ini punya mulut. Lagi pula aku harus mengetahui dengan jelas siapa yang sudah berani masuk kekamarku dan dengan beraninya mengganggu tidurku, dan satu hal lagi kamu tahukan fungsi mata itu untuk apa bukan? jadi kamu...." ucap Fabian sedikit kesal pada Jessica namun ucapannya terhenti karena Jessica membungkam mulut Fabian dengan jari tulunjuknya.
" Ya...ya...ya...Ok..ok..ok.. Baiklah jangan marah-marah lagi! Sudah bangunlah dan segeralah mandi! Ayam sudah berkokok dari dua belas jam yang lalu tapi Bapak baru bangun sekarang sungguh benar-benar pemalas." ucap Jessica sambil menarik tangan Fabian agar segera mandi.
"Hah kau ini, apa kau bilang tadi dua belas jam yang lalu kau bilang, ini baru jam 10.30 Jess, aku tidak menyangka matematika mu begitu buruk. aishhh...." ucap Fabian ketika melihat jam dinding yang tidak sesuai dengan ucapan Jessica.
"Hahahaha..." suara tawa Jessica menggema dikamar Fabian memecah kesunyian.
"Cepat bersihkan dirimu Pak! Kau sungguh bau seperti banteng yang belum mandi satu bulan, aku sampai tak kuat menyium aroma tubuh mu uekk...uekk." ledek Jessica.
"Hai kau ini... bisa-bisanya kau menghinaku Jess, aku tidak mungkin sebau itu." ucap Fabian, Kemudian mengendus aroma tubuhnya sendiri.
"Aku tidak bau Jess, kamu membohongiku." ucap Fabian ketika dia tidak menyium bau apapun dari tubuhnya.
"Hahahahaha..." tawa Jessica lagi karena melihat tingkah bodoh Fabian yang mengikuti perkataannya.
"Sana cepatlah pergi mandi! Aku akan menyiapkan makanan untukmu dan anak-anak di dapur, setelah makan siang kita kekantor bersama ya?" ucap Jessica pada Fabian.
"Hari ini aku tidak kekantor, apa kamu tidak melihat kondisiku, lagi pula kepalaku sedikit pusing sekarang." ucap Fabian.
"Lemah sekali dirimu Pak, hanya luka lebam seperti ini saja Bapak gak mau ke kantor dan beralasan pusing, coba kalau posisinya dibalik aku yang ga masuk cuma karena alasan luka lebam dan pusing pasti kamu sudah ngamuk-ngamuk seperti Banteng." ucap Jessica sembari menunjuk-nunjuk luka pada wajah Fabian.
"Aku tak selemah yang kau bayangkan Jessica, aku memang membutuhkan istirahat saat ini. Mencintai wanita sepertimu membuat ku lelah dan kepalaku menjadi sangat pusing karena ulah mu." ucap Fabian sambil memegang pergelelangan Jessica di hadapan wajahnya.
"Aku tak memintamu untuk membalas mencintaiku Pak, jika bapak menderita dengan perasaan cinta ini berhentilah jangan diteruskan!" ucap Jessica sambil menatap bola mata Fabian.
"Aku tak akan berhenti mencintaimu Jessica." ucap Fabian yang juga menatap bola mata Jessica.
"Berhentilah mencintaiku jika bapak merasa menderita, aku tidak ingin melihat orang lain menderita karena aku." ucap Jessica lagi.
__ADS_1
"Aku seperti ini karena kamu mencintaiku tapi kamu tak menghargai balasan cintaku padamu, tetapkan hatimu untukku Jessica hanya untuk ku dan jangan bersikap dingin terus menerus kepadaku itu sangat menyiksaku." ucap Fabian penuh penekanan. Membuat Jessica diam beberapa saat.
"Sebaiknya aku pergi kekantor saja, dikantor banyak sekali pekerjaan yang harus ku kerjakan jika Bapak tak berminat untuk ke kantor bersama ku." ucap Jessica seperti menghindari pembahasan tentang perasaannya, Jessica beranjak meninggalkan Fabian, Fabian segera menghentikan langkah Jessica dengan memeluk Jessica dari belakang.
"Jangan pergi!! Ku mohon jangan pergi. Jangan menghindariku lagi! Bisakah untuk hari ini saja kau temani aku disini?" pinta Fabian yang berbisik di telinga Jessica hingga membuat tubuh Jessicaa meremang.
" Aku minta kau jangan kecewakan aku lagi, jangan biarkan mereka menyentuh tubuhmu, Jaga dirimu hanya untukku!" kalimat Andre semalam tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga Jessica.
Jessica berusaha melepaskan pelukan Fabian, karena tiba-tiba saja kata-kata Andre yang menari-nari telinganya membuat Jessica menjadi merasa bersalah pada Andre.
"Lepaskan aku Pak, aku gak nyaman diperlakukan seperti ini." Jessica meminta Fabian melepaskan pelukannya.
Fabian menuruti permintaan Jessica. Fabian melepaskan pelukannya, namun setelah itu Fabian membalikkan tubuh Jessica agar menghadap pada dirinya. Fabian menatap wajah Jessica yang tertunduk, Fabian menarik dagu Jessica, membuat Jessica menatap wajah Fabian. Fabian menatap dalam bola mata Jessica, Ia mendekatkan wajahnya pada bibir ranum Jessica, wajah Fabian hampir tak berjarak, Fabian pun memejamkan matanya saat itu namun tiba-tiba Jessica memalingkan wajahnya. Membuat Fabian terkejut dan Fabian pun membuka matanya. Jessica menolak kecupan yang akan diberikan Fabian padanya.Selaalu menolak sentuhan yang diberikan Fabian padanya.
"Jangan seperti ini! Aku tidak suka dan aku tidak mau bapak samakan aku dengan wanita diluar sana, kalau bapak seperti ini aku merasa bapak tidak menghargaiku sebagai seorang wanita." ucap Jessica kesal, karena ketika Jessica menolak ciuman yang akan diberikan Fabian, Fabian malah menarik tubuhnya dan memeluk erat tubuh Jessica sebentar.
"Baiklah... maafkan aku." ucap Fabian saat memeluk tubuh Jessica yang berdiri mematung dihadapannya. akhirnya Fabian melepaskan pelukannya karena Jessica tidak membalas pelukkan yang ia berikan.
"Duduklah disini! Ada yang ingin aku bicarakan padamu." pinta Fabian sambil menepuk tepi tempat tidurnya. Meminta Jessica untuk duduk disampingnya.
"Bisakah kita bicara diluar saja?" pinta Jessica.
"Apa kau takut denganku? Aku tak akan memakanmu apalagi menerkammu."
"Iya aku takut pada mu pak, aku takut kau memperkosaku. Aku ini masi perawan dan aku harus berjaga-jaga jika berdekatan dengan pria sepertimu." ucap Jessica meninggi.
"Ck... Aku tak akan pernah memaksa seseorang untuk berhubungan denganku, aku tak pernah memaksa wanita yang ingin ku sentuh, aku hanya akan menyentuh wanita ya mau ku sentuh dan menyerahkan dirinya padaku, kau bisa percaya padaku akan hal ini hemm..." ucap Fabian meyakinkan Jessica.
"Duduklah disini!" pinta Fabian lagi.
Akhirnya dengan ragu Jessica duduk di tepi tempat tidur disamping Fabian. Fabian meraih tangan kanan Jessica dan mengelus punggung tangan Jessica dan memberikan tatapan yang meneduhkan.
" Apa kamu tahu saat ini aku sangat menyadari apa yang aku rasakan padamu, rasa cinta yang begitu dalam padamu Jessica, aku tak bisa melihatmu bersama pria lain. Aku tak rela jika kau disentuh oleh pria lain. kehadiranmu dalam hidupku merubah duniaku juga dunia kedua anakku. Aku tidak mau kedekatan kita hanya sebagai atasan dan bawahan saja. Mulai hari ini aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku berharap kamu bisa menerima kehadiran kami di dalam perjalanan hidupmu. Maka dari itu menikahlah denganku jadilah Ibu bagi kedua anakku dan anak-anak kita nanti." Fabian melamar Jessica dengan duduk bersimpuh dihadapan Jessica sambil memegang kedua tangan Jessica.
" Jika kehadiranku merubah duniamu, Kenapa kehadiranku tak bisa merubah kebiasaan burukmu Pak?" tanya Jessica pada Fabian.
" Bisakah kamu bersikap seperti dulu lagi padaku, tidak sedingin ini, aku merasa kamu sering menghindariku, jika aku berbuat salah padamu. Katakanlah dimana letak kesalahanku! agar aku dapat memperbaikinya dan aku akan meminta maaf padamu. Dan jika ada hal yang tidak kamu sukai dariku. Katakanlah! aku siap berubah menjadi yang kamu mau, semua itu akan aku lakukan sebab aku mencintaimu." pinta Fabian saat mengutarakan isi hatinya.
Mendengar perkataan Fabian Jessica segera menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Fabian.
" Kehadiranku memang merubah hidupmu Pak, tapi kehadiran ku tidak bisa merubah kebiasaan burukmu yang tidak bisa aku terima." Jessica mengulang lagi perkataannya.
" Apa maksudmu? Aku tidak mengerti kebiasaan buruk ku apa yang kau maksud." tanya Fabian penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Jessica
" Maksudku kebiasaan burukmu yang tidak bisa ku terima adalah kebiasaan yang biasa Bapak lakukan bersama Mbak Clara di pagi hari dan cara Bapak meredam amarah Bapak dengan menyalurkan birahi Bapak kepada Mbak Clara." ucap Jessica lantang.
" Apakah pantas Bapak berbicara cinta padaku, memintaku menjadi istri Bapak tapi Bapak melakukannya dengan Mbak Clara dibelakangku, Di mana letak keseriusan Bapak? Apa semua ucapan Bapak ini hanya main-main? Bapak anggap aku ini mainan? Bapak tahu kenapa aku bisa ada di sini? Itu karena Nyonya Suci memanggilku. Beliau baru saja memintaku untuk menjadi menantu di keluarga ini, tapi aku menolaknya. karena apa? Karena aku merasa tidak pantas menjadi menantu di keluarga ini, kita tidak sederajat Pak, dan aku tidak bisa menerima jika suatu saat kita menikah dan kamu punya kebiasaan buruk seperti itu, Aku tidak suka dikhianati, kita belum memulai hubungan tapi Bapak sudah melukai hatiku, Bapak sendiri yang mematahkan harapanku akan kata-kata cinta yang Bapak berikan padaku dengan apa yang Bapak perbuat dengan mbak Clara." Jessica mengungkapkan segalanya dengan menahan sesak di dada.
Fabian dibuat terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jessica.
" Kenapa diam? Bapak terkejut aku mengetahuinya? Mulut ini begitu manis mengatakan kata-kata cinta padaku." ucap Jessica menyentuh bibir Fabian dengan jemarinya. Dia begitu berani bersikap seperti itu pada atasanya. Mungkin karna rasa sakit hatinya membuat Jessica berani bersikap seperti itu.
" Wajah ini kau buat luka-luka seperti ini seakan menunjukkan bahwa kau mencintaiku, Membuat ku seakan bersalah dalam hal ini, kau berkelahi dengan pria manapun yang mencoba mendekatiku seakan kau tak rela aku dimiliki orang lain tapi di balik itu semua itu Bapak dengan teganya melakukan perbuatan menjijikan itu dengan Mbak Clara. Aku tidak bisa menerimanya." ucap Jessica dengan emosi. Fabian masih terdiam tidak berbicara sepatah kata pun
" Di mana letak cinta itu berada hemm...? Di sini?" Jessica menunjuk dada Fabian dengan jari telunjuknya dan menekannya.
" Atau hanya di sini." Jessica kembali menunjuk bibir Fabian dengan jari telunjuknya.
" Aku sudah tidak lagi mau tertipu dengan cinta yang palsu, cinta yang hanya dimulut saja tapi di belakangku ada penghianatan yang tersimpan begitu rapat." ucap Jessica lagi.
" Cukup Jessica!! Jangan lanjutkan kata-katamu yang menyakitkan aku dan menyudutkan diri ku, Kau tahu dari mana semua itu? Siapa yang memberitahumu? Katakan Siapa yang memberitahumu? Apakah Sisil memberitahumu atau Lina yang memberitahumu?" Fabian akhirnya bersuara dan memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Jessica dengan nada yang meninggi.
" Jangan Bapak tuduh mereka, Aku tidak suka sifat bapak yang suka menuduh orang lain, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bukan kata orang lain." jawab Jessica dengan nada yang tak jauh berbeda dengan Fabian.
" Tidak mungkin kamu pasti sedang menutupi kesalahan mereka yang sudah memberitahumu, akan ku beri pelajaran mereka." ucap Fabian tak percaya dan mengancam.
__ADS_1
" Mengapa tidak mungkin? Semua itu mungkin terjadi, karena Tuhan begitu baik padaku menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Sebelum aku sakit hati lebih dalam." ucap Jessica dengan tatapan mata yang sinis.
" Kau pasti sedang membohongiku." ucap Fabian masih tak percaya.
" Untuk apa aku berbohong? Aku sedang tidak berbohong, Bapak bisa bertanya pada Hana dan Hani apakah kami pernah datang bersama ke kantor, dan mengumpat di balik lemari pakaianmu, kami hendak memberi kejutan padamu tapi bukannya kami yang memberi kejutan padamu tapi kamu yang memberi kejutan kepadaku." ungkap Jessica.
"A P A!!!??" Fabian terkejut dengan apa yang diungkapkan Jessica. Dia mengingat kedatangan Jessica dengan kedua anaknya hari itu, hari di mana Jessica berubah kembali menghindarinya dan lebih banyak diam.
" Terkejut?!! Apa Bapak terkejut? Adakah yang ingin Bapak sangkal lagi??" tanya Jessica.
" Iya aku akui aku sangat terkejut, tapi aku tidak menyangkalnya, sejak awal tidak ada kata-kata penyangkalan keluar dari mulutku, Maafkan Aku Jessica. Bisakah kamu memaafkan kekhilafanku. Setelah ini aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kalau perlu aku akan memecat Clara agar kamu puas. Dan lagi pula aku tidak pernah berbuat lebih jauh, aku melakukanya dengan Clara hanya sebatas yang kamu lihat saja." ucap Fabian.
" Jika semudah itu aku memaafkan mu. Mengapa aku tidak memaafkan Diego saja kemarin lalu kembali kepadanya tidak harus susah-susah mengalihkan perasaan cintaku padamu, jika akhirnya tetap sama disakiti karena di khianati seperti ini." ucap Jessica.
" Apa maksudmu?" tanya Fabian tak mengerti.
" Bapak tak mengerti maksudku. Baiklah aku akan menjelaskannya, aku tidak bisa memaafkan apa yang telah Bapak lakukan di belakangku, walaupun kita belum berkomitmen seharusnya Bapak tidak melakukan hal itu dengan Mbak Clara. Apapun alasannya itu sudah membuat hatiku sakit dan hancur seharusnya Bapak tidak usah mengungkapkan perasaan cinta bapak pada ku waktu itu dan aku tidak bisa menikah dengan pria seperti Bapak. Jadi jangan berharap aku mau menjadi istri mu Pak." ungkap Jessica.
" Aku akan membuatmu memaafkanku dan menerima cintaku Jessica." ucap Fabian.
" Jangan memaksa ku. Aku bukan wanita yang suka dipaksa." Jessica bangkit dari duduknya ia mengambil tasnya kemudian pergi dari kamar Fabian.
Suci yang sedari tadi berdiri di balik pintu segera bersembunyi ketika mengetahui Jessica ingin keluar dari kamar Fabian.
Fabian berdiri mematung, membiarkan Jessica pergi begitu saja, Fabian merasa dunianya seakan runtuh mendapat penolakan dari Jessica, wanita yang ia cintai.
Setelah Jessica pergi Suci kembali melihat Fabian di balik pintu, Suci melihat Fabian begitu terpukul. Hatinya ikut bersedih melihat putranya seperti itu.
" Kau melakukan kesalahan besar nak. Mommy sudah berusaha membantumu. Seandainya kamu tidak melakukan kesalahan Mommy masih bisa memaksanya untuk menikah dengan mu." batin Suci.
Jessica keluar dari rumah Fabian tanpa berpamitan dengan Suci dan juga kedua anak Fabian. Dilihatnya Toto masih setia menunggunya. Jessica menghampiri Toto
"Pak, Mari kita kembali ke kantor!" ajak Jessica.
Toto pun mengikuti permintaan Jessica, kini Jessica berada di dalam mobil, Jessica Kehilangan mood-nya untuk kembali bekerja. Jessica bergegas mengambil ponselnya di dalam tas lalu menghubungi Anna.
"Tut...tut.." suara memanggil.
" Hai Ann, lu dimana?" tanya Jessica.
" *M*asih di apartemen sama si Endah, kenapa?" jawab Anna.
" Jemput gue di kantor dong? Sekalian lu suruh orang buat bawa motor gue pulang." pinta Jessica.
" Oke siap Tuan Putri, gue langsung on the way nih." jawab Anna.
" Oke nanti gua tunggu lo di halte dekat kantor ya." ucap Jessica.
" Oke sip." ucap Anna.
Jessica menutup telepon setelah menyelesaikan percakapannya dengan Anna. Mobil yang dikendarai oleh Toto telah sampai di kantor Fabian. Jessica turun dari mobil, Jessica melangkahkan kakinya menuju halte, Jessica duduk di sana menunggu kedatangan Anna.
Tak berapa lama mobil Anna sudah terlihat, Jessica Melambaikan tangan yang memberitahu keberadaannya. Jessica melihat seorang pria keluar dari mobil Anna, pria itu menghampiri Jessica.
" Maaf Nona Jessica, saya diperintahkan Nona Anna untuk meminta kunci sepeda motor Nona, saya-lah yang akan mengantarkan sepeda motor Nona Ke rumah Nona." ucap Pria tersebut.
Jessica memberikan kunci sepeda motornya kepada orang suruhan Anna itu. Kini Jessica sudah berada di dalam mobil. Jessica duduk di kursi belakang mobil yang dikendarai oleh Anna.
bersambung
kira-kira kalian ada yang tahu gak mereka mau kemana?
yang penasaran simak episode selanjutnya yah!
jangan lupa yah ... tinggalkan jejak kalian yah!!
__ADS_1
supaya author makin semangat lagi buat ceritanya😂🤣😃😄😅