Cinta Jessika

Cinta Jessika
Kehancuran Rania 2


__ADS_3

Di sebuah ruang tunggu Rumah Sakit Swasta terkenal di kota J. Rania sedang duduk ditemani oleh Fabian. Mereka sedang menunggu informasi dari dokter yang sedang mengobservasi keadaan Anton di unit gawat darurat. Rania duduk di samping Fabian, mereka berdua sama- sama tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Rania yang sedang sibuk dengan ponselnya, ia sedang berusaha menghubungi Kakak tirinya. Sedangkan Fabian ia sedang sibuk membalas pesan dari kedua putrinya. Yang mencari keberadaanya.


Beberapa kali Rania mencoba menghubungi Kakak tirinya yang bernama Tommy namun belum berhasil. Padahal Rania hanya ingin mengabari Tommy akan keadaan Papinya yang masuk ke rumah sakit. Karena curiga Tommy tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya akhirnya Rania memutuskan untuk meminjam ponsel Fabian.


"Bie, boleh aku meminjam ponsel mu? Aku ingin menghubungi kakakku. Aku ingin memberitahunya kalau Papi masuk rumah sakit." ucap Rania yang meminjam posel pada Fabian.


Fabian pun memberikan ponselnya kepada Rania. Rania segera menghubungi Tommy dengan memasukkan nomor telepon Tommy ke ponsel Fabian.


"Tut...tut..." suara nada memanggil.


"Hallo" suara Barito Tommy terdengar di ujung telepon.


" Kak Tommy, Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan telepon dariku? Aku mencoba menghubungi mu dengan nomorku kau tak mengangkatnya, tapi sekarang aku menghubungi mu dengan nomor orang lain kau mengangkat panggilan telepon ku dengan mudahnya. Ada apa denganmu Kak Tommy? Apa aku punya salah pada mu hingga kau tak mau mengangkat telepon dari ku?" tanya Rania dengan nada yang kesal kepada Tommy.


" Untuk apa lagi kau menghubungiku? Aku tidak mau lagi berurusan denganmu, karena tindakanmu hari ini hampir saja perusahaanku bangkrut" ucap Tommy di ujung telepon dengan nada emosinya.


" Kenapa kau bicara seperti itu padaku Kak Tommy? Memangnya apa salahku hingga membuat perusahaanmu hampir bangkrut?" tanya Rania lagi, ia begitu heran dengan sikap Kakak tirinya yang berubah 180 derajat itu.


" Kau tanya pada ku apa salahmu? Seharusnya aku yang bertanya padamu kesalahan apa yang kau perbuat pada Tuan Andre hingga dia begitu marah? Dia hampir saja menarik semua sahamnya di perusahaanku dan mempengaruhi investor lain untuk menarik saham mereka juga di perusahaanku" ucap Tommy dengan nada yang meninggi.


" A P A!!!" Rania terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya.


"Aku hanya menyiram tangan wanita murahan itu dengan air panas, tapi balasan yang aku terima lebih menyakitkan dari perbuatan ku" batin Rania.

__ADS_1


" Kenapa??? Apa kau terkejut dengan penuturanku? Seharusnya kau berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu Rania, kau selalu berbuat sesuka hatimu tanpa memandang siapa lawanmu, sekarang kau kena batunya. Aku tidak mau ikut campur dengan urusanmu dengan Tuan Andre, ketahuilah aku ini sekarang sudah berkeluarga, Aku memiliki tanggung jawab besar di pundakku untuk menafkahi istri dan kedua anakku. Tak akan aku biarkan kelakuanmu membuat keluarga kecilku menderita. Mulai hari ini kau bukan lagi adikku! Aku tidak peduli apapun yang terjadi padamu ataupun pada papimu itu. Bukankah niat mu menghubungiku ingin memberitahu kalau Papi mu masuk rumah sakit bukan?" ucapan Tommy membuat Rania sakit hati dan kecewa. Air mata Rania jatuh begitu derasnya mendengar Tommy memutuskan tali persaudaraan diantara mereka. Mereka saudara satu ibu namun beda ayah. Rania tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam membisu dan menangis. Fabian yang duduk disamping Ran terus memperhatikan mimik wajah Rania yang berubah setelah menelepon Tommy.


" Kau dengar baik-baik Rania. Setelah Papi mu keluar dari rumah sakit hidup ataupun mati. Aku akan mengurus perceraian papimu dengan mamiku secepatnya. Jangan kau coba-coba untuk menemui Mamiku! Kau hanya bisa membahayakan dirinya dengan kelakuanmu." ucap Tommy lagi.


" Kau tak bisa menjauhi Mami dariku Kak. Dia adalah ibu yang melahirkanku ke dunia ini, Kau tidak berhak menjauhiku dari mami." ucap Rania dengan isakan tangisnya.


" Kau hanya anak pembawa malapetaka bagi keluarga ini, sekarang saja kau membuat Papimu masuk rumah sakit karena ulahmu. Aku tidak mau Mamiku akan mengalami hal yang sama karena ulahmu dan dengar baik-baik Rania. Aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk pembiayaan papimu di rumah sakit." ucap Tommy dengan nada yang meninggi, kemudian Tommy memutuskan telepon begitu saja karena Tommy sudah tidak ingin membuang waktunya untuk berdebat dengan Rania.


Setelah Tommy memutuskan teleponnya, Rania langsung memeluk Fabian yang berada di sampingnya. Rania menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Fabian.


" Kenapa Tuan Andre begitu jahat padaku, Bie? Hiks...hiks..." ucap Rania didalam pelukan Fabian.


" Siapa yang akan membayar tagihan rumah sakit ini? Kak Tommy sudah tidak perduli lagi denganku dan juga Papi? Hiks..hiks..hiks..." ucapannya lagi.


Tiba-tiba seorang suster keluar dari ruang UGD memanggil Rania dan juga Fabian.


" Dengan keluarga Tuan Anton. Ada keluarga pasien Tuan Anton di sini?" ucap salah satu suster berteriak mencari sanak saudara Anton.


"Iya saya Suster" ucap Rania berlari menghampiri suster tersebut.


" Nona siapanya pasien kami?" tanya Suster itu pada Rania.


" Saya putrinya suster" jawab Rania.

__ADS_1


" Oh baik, Nona diminta menemui dokter Burhan untuk membicarakan hasil observasi kami tadi, Mari Ikuti saya Nona" ucap suster tersebut. Rania mengikuti langkah suster tersebut masuk ke dalam ruangan dokter. Fabian mengikuti langkah Rania dari belakang.


Kini mereka sudah masuk ke dalam ruangan dokter.


" Selamat malam dokter, ini salah satu keluarga pasien kita yang bernama Tuan Anton" ucap Suster yang bernama Mirna kepasa Dokter Burhan.


"Selamat malam Nona dan Tuan, perkenalkan saya dokter Burhan, dokter spesialis jantung di rumah sakit ini." ucap dokter Burhan memperkenalkan dirinya.


" Saya Rania dokter Putri dari Tuan Anton dan dan ini Fabian calon suami saya." ucapannya memperkenalkan diri.


" Oh baik Nona Rania, begini maksud dari tujuan Saya memanggil Nona Rania dan Tuan Fabian Hanya Untuk menginformasikan hasil observasi kami kepada Tuan Anton barusan. Tuan Anton baru saja mengalami serangan jantung hebat, bersyukurnya kami masih bisa menolongnya karena tuan dan Nona segera membawanya ke rumah sakit. Tapi kami menyarankan Tuan Anton untuk melakukan operasi Bypass Jantung secepatnya kalau bisa malam ini juga, karena kami sudah mengetahui bahwa ada penyumbatan di pembulu darahnya. Dikhawatirkan jika tidak melakukan operasi secepat mungkin kami tidak bisa menolong jika serangan jantung itu datang kembali" dokter Burhan memberi penjelasan kepada Rania dan juga Fabian.


"Operasi yang akan kami lakukan adalah dengan cara mencangkok pembuluh darah dari bagian tubuh lain Tuan Anton, untuk kemudian ditempelkan dan dijahit ke otot jantung yang mengalami kerusakan akibat penyumbatan pembuluh darah yang di alami Tuan Anton. Pada beberapa kasus,khususnya pada serangan jantung berat seperti yang dialami Tuan Anton, operasi bypass ini beresiko bisa menyebabkan kematian. Sama hal jika tidak dilakukan operasi kemungkinan resiko kematian lebih besar, Bedanya hanya jika operasi bypass ini berhasil bisa menambah usia harapan hidup Tuan Anton hingga 10 tahun kedepan, ini hanya prediksi saya. Umur seseorang adalah misteri Illahi bukan? Tapi sebagai manusia kita patut berusaha bukan begitu?" terang Dokter Burhan.


" Jika Tuan dan Nona setuju akan saran yang kami berikan. Silakan Tuan dan Nona melakukan registrasi dan administrasi di bagian admission rumah sakit kami. Setelah itu pihak kami akan menyiapkan kamar operasi dan saya akan melakukan operasi pada tuan Anton malam ini juga" ucap dokter Burhan lagi.


" Bagaimana Bie?" tanya Rania pada Fabian.


" Lakukan yang terbaik untuk Tuan Anton dokter. Saya akan segera mengurus administrasinya di admission rumah sakit ini." jawab Fabian pada dokter Burhan.


Malam ini Fabian dan Rania disibukan untuk mengurus keperluan operasi Bypass jantung Anton.


Hingga dini hari Fabian dan Rania masih berada di rumah sakit, bersyukurnya Rania dan Fabian karena operasi Bypass jantung yang dijalani Anton berhasil, Namun konsisi Anton yang masi lemah mengharuskan dia untuk di rawat di ruang I C U.

__ADS_1


dan bersambung


__ADS_2