Cinta Jessika

Cinta Jessika
Berbahagialah


__ADS_3

Brakkk! [Suara pintu terbuka]


Muncul Andre dan Jimmy di muka pintu. Kedatangan mereka disambut dengan pemandangan yang begitu mengejut, pemandangan dimana merela melihat Endah sedang menodong senjata di belakang kepala Fabian, dengan posisi Fabian yang tengah memeluk Jessica dari belakang.


Sadar, kondisi sedang menegangkan diri ruang ini, Jimmy buru-buru menutup kembali pintu yang di buka oleh Andre. Jimmy melangkah dengan hati-hati mendekati sang istri.


"Slow down baby," ucap Jimmy berkali-kali, agar Endah menurunkan pistol yang ia todongkan pada Fabian.


"Tolong lepaskan istriku Fabian!" Pinta Andre yang menahan emosinya, ia sangat tahu jika dia bicara dengan penuh emosi, Endah tak akan segan-segan menekan pelatuk pistolnya.


"Izinkan aku memeluknya untuk terakhir kalinya Tuan," Fabian berkata dengan suara lirihnya, memohon izin untuk memeluk sang pujaan hati untuk terakhir kalinya.


Andre terdiam sesaat, mendengar permintaan Fabian. jujur ia tak ingin mengizinkan Fabian menyentuh istrinya apalagi memeluknya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, jika sekali saja ia jawab tidak, pasti Kakak Iparnya yang bar-bar ini, akan mendoorkan kepala Fabian tanpa kata ampun. Namun belum sempat Andre menjawab iya ataupun tidak, Endah sudah lebih dahulu menjawabnya.


"Jika suaminya mengizinkan mu memeluk istrinya, belum tentu dengan diri ku Om Dud, aku hanya mengizinkan mu bertemu dengan adikku bukan untuk menyentuhnya. Lepaskan adikku! Aku tak main-main dengan ancamanku." Endah berkata sembari menekan pistolnya ke kepala Fabian, hingga kepala Fabian terlihat bergerak maju sedikit, dan___


Door! [Suara tembakan Endah lepaskan ke langit-langit restauran].


"Endah sayang, cukup ya sayang! Tolong jangan lagi ada korban! Kita bicara baik-baik ya," ucap Jimmy yang memeluk tubuh istrinya dari samping. Ia mencoba menurunkan tangan Endah yang menodongkan pisto di kepala Fabian. Berhasil, Jimmy berhasil menurunkan pistol yang di todong sang istri pada Fabian, bahkan ia berhasil merebut pistol kesayangan milik sang istri.


Andre yang semula hanya berdiam diri di muka pintu, segara melangkahkan kakinya mendekati sang istri, yang sejak kedatangannya terus saja menatap sendu dirinya.


Sadar, jika apa yang diinginkannya tak diizinkan oleh Endah dan mungkin juga dengan Andre. Fabian akhirnya menguraikan pelukannya.

__ADS_1


"Pergilah kepelukan suami mu! Terimakasih atas cinta yang pernah kau curahkan padaku, Jessica, semoga kamu akan terus bahagia bersama suamimu, aku pergi, aku mengikhlaskan dirimu dengannya," ucap Fabian yang berbisik di telinga Jessica. Jessica tak merespon, dia diam tak bergeming mendengar apa yang Fabian bisikan padanya.


Saat Fabian sudah mengakhiri ucapannya,ia ingin sekali mengecup pipi mulus dan putih Jessica untuk terakhir kalinya, namun keinginannya hanya sekedar keinginan, karena Andre lebih dahulu menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya. Sehingga Fabian tak berhasil mencium wanita pujaan hatinya itu.


Andre mendapati tubuh Jessica bergetar, tangannya dingin, saat istrinya sudah dalam dekapannya. Sejak Endah menodongkan pistol di kepala Fabian, Jessica sangat merasa takut. Ia takut kembali melihat kebengisan sang Kakak, saat melenyapkan nyawa seseorang.


Namun Andre menyangka sang istri sedang merasa ketakutan berada sedekat ini dengan Fabian. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk segera meminta Fabian pergi dari sini.


"Pergilah! Mulailah hidup mu yang baru tanpa bayang-bayang istriku, tentang perusahaan mu, kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantu perusahaan mu, walaupun hanya sedikit, agar perusahaan mu itu tetap berdiri dan bertahan disaat kau pergi, nanti." Ucap Andre yang berusaha berbaik hati pada Fabian.


"Terimakasih atas kebaikan hati mu,Tuan Andre, maafkan atas semua kelancangan ku dan sikapku yang selalu membuat mu dan istrimu tidak nyaman." Balas Fabian yang kemudian pergi meninggalkan mereka dengan suasana hati yang tak dapat di gambarkan lagi dengan kata-kata.


Kedua pria di ruangan itu, menatap punggung Fabian yang lama-lama menjauh dari pandangan mereka dan akhirnya menghilang dari balik pintu. Sedangkan para wanita mereka tak sedikitpun memandang kepergian Fabian, karena mereka sudah nyaman berada dalam pelukan para suami mereka.


Betapa konyolnya Endah, saat sang suami memeluk dirinya, niat hati Jimmy yang hanya menenangkan sang istri malah mendapati sang istri tertidur pulas dalam pelukannya tanpa memandang tempat.


Jimmy sangat tidak berharap istri bar-barnya tidur saat ini, karena apa? Karena dia jadi harus menggendong satu paket yang berbobot cukup berat, yang pasti akan menyiksa pinggangnya detik ini juga.


Satu paket yang di maksud Jimmy itu diantaranya adalah Endah, kedua calon anaknya yang berada di dalam kandungan Endah dan juga gaun malam Endah yang cukup berat karena terdapat banyak batu Swarovski yang menghiasi baju super mewah itu.


Andre yang melihat raut wajah frustasi Jimmy hanya bisa tertawa terbahak-bahak, hingga membuat Jessica merasa penasaran dengan apa yang sedang di tertawa sang suami. Ia pun mengurai sedikit pelukan sang suami, ia sedikit mendongakkan kepalanya melihat sang suai yang sedang tertawa begitu lepasnya.


"Ketawain apa si Dad?" Tanya Jessica.

__ADS_1


"Lihatlah sayang, ada yang frustasi karena ulah Kakakmu." Jawab Andre yang mengarahkan pandangan sang istri ke arah Jimmy dan Endah.


"Owhh astaga, Endah hahahaha..." Jessica terlihat terkejut tapi kemudian malah ikut tertawa bersama sang suami.


"Aisss, kalian ini memang benar-benar menyebalkan, satu keluarga yang menyebalkan, Endah siapkan dirimu untuk menerima hukuman dariku, sudah cukup selama ini aku terus bersabar dengan sikapmu, aku pastikan aku akan menang kali ini dari mu." Gerutu Jimmy di dalam hatinya, ia menampilkan senyum liciknya di hadapan Andre dan juga Jessica.


Tanpa bak-bik-buk, Jimmy segera menggendong Endah, ia akan membawa sang istri ke kamar hotel yang memang di siapkan untuk mereka. Sedang Jessica dan Andre memutuskan untuk kembali ke ballroom, untuk mengikuti kembali rangkaian acara perayaan ulang tahun perusahaan Batara Group.


Di kamar hotel, Jimmy meletakkan tubuh sang istri di atas ranjang dengan hati-hati, meskipun sebenarnya hatinya ingin sekali melempar sang istri diatas ranjang, yang akan membuatnya terbangun dan mulai memberikan hukuman pada sang istri. Tapi hal itu ia urungkan karena Endah tengah mengandung buah cinta mereka.


Namun rencana memberi hukuman pada Endah tetap akan dia lakukan dengan cara yang berbeda.


Jimmy melucuti gaun malam yang di kenakan Endah dengan kasar, tidak seperti biasanya penuh dengan kelembutan. Endah yang merasa pakaiannya terkoyak akhirnya terbangun dari tidurnya.


"Ishh,,, Babang, kamu tuh kenapa sih? Kenapa kamu kasar banget bukain baju aku?" Tanya Endah kesal, dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap. Ia sedikit menaikan pinggulnya, membantu Jimmy melepaskan gaun yang ia kenakan.


"Malam ini, aku akan menghukum mu," seru Jimmy dengan pandangan wajah yang sudah berkabut gairah.


"Apa kamu mau menghukum ku, memangnya aku salah apa Babang?" Tanya Endah yang tak mengerti kesalahan apa yang ia perbuat, sehingga tiba-tiba saja sang suami ingin menghukumnya.


"Salahmu banyak padaku, apa kamu lupa hum? Aku akan menjabarkan semua kesalahanmu setelah aku selesai menghukum mu nanti," jawab Jimmy yang sudah mengunci posisi Endah.


"Ya sudah, hukum saja aku sampai kau puas, aku akan selalu bersedia mendapatkan hukuman enak-enak macam ini babang Jimmy ku sayang," balas Endah yang malah mengalungkan tangannya di leher kekar Jimmy. Jimmy membalas ucapan Endah dengan senyuman tipis yang begitu menggoda Endah, Endah seketika itu juga langsung meraup bibir sang suami.

__ADS_1


Malam itu menjadi malam pertempuran Jimmy dan Endah. Berdalih ingin memberikan hukuman enak-enak pada sang istri, kini dia malah melayani kegilaan Endah yang terus ingin bermain meski Jimmy sudah berkata,"Aku lelah sayang, junior ku sudah tak mampu melayani mu."


Endah mendengus kasar, ia kecewa pada sang suami, karena ia masih ingin bermain satu babak lagi malam ini, namun Jimmy sudah menyerah dan memilih untuk tidur sambil memeluk tubuh sang istri yang terus saja memukulinya.


__ADS_2