
Leon yang sedang dalam perjalanan menuju apartemen Andre untuk menyusul Jessica mendapatkan panggilan telepon dari Kakek Abraham. Leon menepikan kendaraannya dan mengangkat panggilan dari Kekeknya itu.
“Malam Kek..” sapa Leon pada Kakek Abraham.
“Malam Leon, apa yang telah terjadi dirumahmu? Kenapa ada api yang begitu besar di pekarangan rumah mu?” tanya Abraham dengan suara yang begitu khawatir.
“Ck. Kakek masih memantau kami rupanya. Api itu berasal dari baju Jessica dan kasur Jessica yang aku bakar Kek.”
“Tentu aku terus memantau keluarga mu. Aku tidak akan membiarkan cucuku jauh dari pantauanku. Katakan apa yang telah terjadi di rumah mu? Kenapa adikmu pergi membawa koper ke apartemen Louis? Dan kenapa kau membakar kasur dan baju-baju adikmu? ”
“Jessica di usir Ayah setelah ribut dengan Cynthia. Ayah memang seperti itu terlalu memanjakan Cynthia dan selalu mengorbankan Jessica. Cynthia ingin memiliki semua milik Jessica yang diberikan Andre padanya. Jessica tidak mau memberikannya tapi Ayah malah mengizinkan Cynthia menggunakan kamar dan juga pakaian Jessica. Sepertinya Jessica marah dan kecewa dengan keputusan yang Ayah ambil. Saat Ayah meminta Jessica mengemasi barang-barangnya untuk pindah ke kamar Cynthia. Jessica menuruti permintaan Ayah untuk mengemasi barang-barangnya, namun saat dia keluar dari kamarnya, ia tidak masuk ke kamar Cynthia tapi malah memilih pergi dari rumah. Menurut penuturan Ibu saat Ayah melihat Jessica hendak pergi. Ayah malah mengusir Jessica bukannya mencegahnya pergi. Ayah berkata pergilah yang jauh dan jangan kembali lagi kerumah ini. Begitulah Kek yang terjadi di rumah kami.” Leon menjelaskan panjang lebar kejadian dirumahnya itu.
Abraham mendengarkan penjelasan Leon dengan seksama sembari menahan emosinya. Tangan tua Abraham sudah mengepal sempurna menahan kesal pada putranya yang sudah salah mengusir cucunya. Untungnya Jessica tidak pergi kemana-mana hanya pergi ke apartemen Andre.
“Baiklah aku akan membuat perkataan Ayah mu menjadi kenyataan. Mulai hari ini adikku mu tak akan lagi kembali kerumah kalian. Aku akan mempercepat pernikahan adikmu dengan Andre. Aku tak akan membiarkan cucuku hidup terlunta-lunta di luar sana. Leon, bantu aku mengurus surat-surat untuk pernikahan adikmu. Besok aku akan datang kerumah mu. Memberitahukan kedua orang tua mu tentang pernikahan adikmu yang akan aku langsungkan minggu depan. Di terima atau tidak adikmu akan ku nikahkan minggu depan dengan Andre.”
“Baik Kek.”
*
*
*
Di Apartemen Bi Lastri segera menyiapkan makan malam untuk calon Nyonya mudanya itu. Setelah Angela mengatakan bahwa Jessica belum makan dari siang hari. Terakhir makanan yang ia makan hanya semangkuk bakso.
Dikamar Andre Jessica masih saja menangis dan mengurung dirinya di dalam selimut. Beberapa kali Angela membujuk Jessica untuk makan tapi ia tetap menolak. Karena takut disalahkan lagi akhirnya Angela menghubungi Andre.
“Tuan maaf saya menganggu waktu Anda.”
“Ada apa kau menghubungi ku. Katakan ada apa dengan Jessica, Angela?!”
“Nona tidak mau makan dan masih saja menangis didalam kamar. Nona belum makan dari tadi siang Tuan dan juga belum meminum obatnya. Terakhir dia hanya makan semangkuk bakso. Saya khawatir Nona akan sakit jika tidak makan. ”
“Baiklah berikan ponselmu padanya!”
“Baik Tuan.”
Angela berjalan menghampiri Jessica yang masih menangis dibalik selimutnya.
“Nona ini Tuan Andre ingin bicara dengan Anda.” ucap Angela sembari menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Jessica.
Jessica keluar dari selimut setelah Angela berhasil menarik seluruh selimut yang menutupi tubuh Jessica. Jessica nampak berantakan dengan wajah yang sembab dan rambutnya yang kusut. Ia menatap kesal pada Angela yang merebut selimutnya, ia menerima ponsel yang di sodorkan Angela.
“Hallo sayang.” Sapa Andre.
“Kak hiks…hiks..”
“Sudah sayang jangan menangis lagi! Aku tahu hari ini kamu sudah melalui hari yang begitu berat. Maafkan aku yang tidak bisa menemani mu disaat kamu membutuhkan aku. Aku janji akan segera pulang secepatnya. Sekarang makanlah Bi Lastri sudah menyiapkan makan malam untuk mu. Dan minumlah obatmu hem…Makan ya sayang, aku tidak mau kamu sakit sayang.”
“Aku tidak mau makan kak, aku mau kamu saja. AKU MAU KAMU.”pekik Jessica di akhir kalimatnya kemudian menangis histeris lagi.
“Baiklah... Baiklah sayang aku akan menuruti apa yang kau mau. Aku akan pulang sekarang, tapi aku mau sekarang kamu makan makanan yang sudah disediakan Bi Lastri untuk mu. Butuh waktu 16 jam untuk ku sampai di negara kita. Tunggulah aku pulang dengan sabar dan jangan lakukan apapun yang akan merugikan dirimu oke?! Sekarang aku akan segera bersiap untuk pulang.”
“Oke Kak.”
“Sekarang makanlah sayang, Angela akan membantu mu untuk makan.”
“Iya kak, aku akan makan. Tapi berjanjilah pulang hari ini?!”
“Iya aku berjanji akan pulang hari ini sayang. I love you Jess ku.”
“I Love you too Kak Andre ku.”
Setelah menutup panggilan telepon dari Andre Jessica turun dari tempat tidur berjalan menuju ruang makan. Ia melihat Leon sudah duduk di kursi meja makan menunggu kehadirannya di meja makan.
“Abang tahu darimana aku disini?”tanya Jessica yang sedang menarik kursi meja makan.
“Andre.”jawab Leon singkat.
“Kenapa Abang kesini?”
“Mencari mu apalagi.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Ya terus Abang mau ngapain nyariin aku? Mau nyuruh aku pulang? Aku nggak mau.”
“Nyariin aja. Gak ada maksud lain dan gak juga pengen nyuruh kamu pulang. Jadi jangan terlalu percaya diri.”
“Ishhh nyebelin banget sih.”
“Siapa??”
“Ya abanglah pakai nanya.”
“Sudah jangan sewot terus, makan sana! Nanti badanmu makin kerempeng kalau tidak makan.Kamu jangan lupa minum obatnya! Supaya cepat sembuh dan bisa makan sendiri tidak seperti bayi tua kaya gini. Hahaha… ”
__ADS_1
“Abang… Jangan tertawakan aku!”
Angela segera membantu Jessica untuk makan. Ia dengan telaten dan sabar menyuapkan makanan yang ada di piring makan hingga habis tak tersisa masuk kedalam mulut Jessica.
“Ibu bagaimana Bang?”
“Ibu baik-baik saja. Abang sudah katakan pada Ibu kalau Abang sudah tahu kamu ada dimana.”
“Terus kata Ibu apa Bang? Tolong Jaga Ibu ya Bang.”
“Ibu hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Pasti abang akan jaga Ibu kamu tenang saja. Habis Abang temani kamu makan. Abang akan langsung pulang. Jaga diri mu baik-baik disini ya. Jangan lupa kuliah besok pagi ya! Selagi kamu masih bisa kuliah.”
“Maksud Abang apa selagi aku masih bisa kuliah? Emangnya aku akan berhenti kuliah? Gak akan aku berhenti kuliah Bang. Aku ini kuliah bukan dibiayai oleh Ayah bang tapi aku kuliah karena dapat beasiswa asal abang tahu itu ya.”
“Iya..ya…Abang tahu kok kamu dapat beasiswa.”
“Terus maksud abang apa ngomong kaya gitu tadi?"
“Abang gak ada maksud apa-apa kok.” Leon berbohong.
“Bohong pasti abang sedang menyembunyikan sesuatu dari aku.” Jessica menaruh curiga pada Leon.
“Abang tidak berbohong Jess, Abang mau nanya gimana rasanya kabur dari rumah?” tanya Leon yang mengalihkan pembicaraan.
“Enak rasanya bahagia bisa berjauhan dari Kak Cynthia yang menyebalkan tapi aku sedih harus jauh dari Ibu.”
“Klo bahagia kok muka sampai bengep kaya gitu habis nangis berapa ember kamu Jes?” ledek Leon pada adiknya.
“Ishhh Abang… Aku nangis gak sampai berember-ember lagi pula aku ngapain nagisin kak Cynthia yang menyebalkan itu.”
“Terus kamu nangisin siapa? Ayah atau Andre?”
“Ya kedua- duanya. Aku juga lagi nangisin Pak Fabian dan ke dua anaknya. Aku ngerasa bersalah Bang sama mereka. Gak seharusnya aku jadikan mereka pelarianku. Sekarang mereka aku tinggalin disaat mereka sedang berharap aku jadi bagian hidup mereka.”
“Kan Abang sudah ingatkan sama kamu jangan terlalu dekat sama kedua anak itu kamu nanti akan menyakiti mereka dengan harapan palsu yang telah kamu berikan tanpa kamu sadari. Benerkan semua yang Abang katakan padamu, kemarin kamu masih ngeyel aja abang kasih tahu, sekarang kamu jadi nangis bombay kan jadinya? Menurut Abang kalau masalah Pak Fabian kamu jangan terlalu jadikan dia beban di hidup kamu, dia itu pria dewasa yang bisa mengatasi perasaannya sendiri. Jangan sampai perasaan bersalahmu padanya membuat kamu tanpa sadar menyakiti perasaan Andre yang sangat mencintai kamu. Abang harap kamu jangan mengecewakan pria sebaik Andre. Abang pulang dulu ya.” Leon bangkit dari duduknya mencium kening adiknya lalu pergi meninggalkan apartemen.
Leon akan langsung pulang kerumah untuk menyiapkan surat-surat yang diperlukan dalam mengurus persiapan pernikahan adiknya itu, tentunya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
*
*
*
Mension Abraham.
“Ada apa Daddy memanggilku? Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Adam yang duduk berhadapan dengan Abraham.
“Ya sesuatu yang penting akan ku sampaikan pada mu, anak ku. Aku ingin kau mempersiapkan pernikahan keponakanmu Jessica pada hari sabtu minggu depan. Cukup adakan saja pernikahan ini di mension kita secara sederhana. Undang seluruh kerabat kita dan juga kerabat Keluarga Besar Kusuma.”
“Bukannya rencana pernikahan mereka dua bulan lagi Dad? Kenapa di percepat? Apa Nico sudah Daddy beritahu akan hal ini?”
“Aku belum memberitahunya akan hal ini Dams. Adikmu itu sudah mengusir keponakanmu karena anak Melani yang berada ditengah-tengah mereka. Nico benar-benar tidak bisa membedakan mana anak kandungnya dan mana yang bukan anak kandungnya. Aku tidak bisa membiarkan bertambah cucu ku satu lagi hidup terlunta-lunta di luar sana. Lebih baik aku percepat saja pernikahan mereka. Supaya Andre bisa menjaga dan memberikan perlindungan pada Jessica. Sambil kita menunggu Melani keluar lagi dari persembunyiannya. Kau jangan sampai lengah untuk terus mengikuti anak Melani kemanapun anak itu pergi. Aku yakin dia pasti sering menemui Melani. Jika saja kita tahu dimana Melani menyembunyikan anak Nico kita tidak akan serepot ini Dams”
Melani adalah wanita yang di tinggalkan Nico di hari pernikahannya. Nico meninggalkan Melani karena dia tidak bisa menikah dengan Melani yang di ketahuinya sudah hamil sebelum hari pernikahan mereka. Dan saat itu Nico juga tidak mencintai Melani karena Nico sudah menjalanin kasih dengan Lestari Ibunda Jessica.
“Tentu Dad aku masih terus melakukan pencarian anak Nico dan terus memantau pergeraakan Cynthia. Baiklah Dad kalau menikahkan Jessica dan Andre lebih awal adalah jalan yang terbaik aku akan segera mempersiapkan semuanya. Tapi kapan Daddy akan memberitahukan Nico akan rencana Daddy ini? Apa tidak sebaiknya kita beritahu Nico jika Cynthia itu bukan anaknya?”
“Besok setelah makan siang bersama Brata aku akan menemui adikmu, siapkan saja pesawat untuk ku. Aku akan datangi dia di rumahnya. Daddy rasa jika Nico mengetahuinya itu hanya akan membuat kita kesulitan menemukan anak kandung Nico. Melani pasti tidak terima dengan sikap Nico yang berubah tidak lagi menyayangi anaknya.”
“Baik Dad, semoga kita segera bisa menemukan anak Nico yang sudah di tukar Melani. Jika saja anak Melani tidak hamil kita pasti tidak akan mengetahui kenyataan ini Dad.”
“Iya kamu betul Nak, seorang Ibu pasti akan mendatangi anaknya jika anaknya itu dalam kesulitan. Sebenarnya Daddy juga sudah menaruh rasa curiga saat Cynthia menghilang dan tiba-tiba muncul bersama Melani.”
“Iya Dad, ini bukan sebuah kebetulan pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh Melani. Tapi kita belum tahu apa yang Melani rencanakan dan inginkan dari tujuannya menukar anak Nico dan anaknya.”
“Mungkin dia melakukan ini semua di dasari dari rasa sakit hati dengan apa yang dilakukan Adikmu padanya.”
“Iya itu bisa jadi satu alasan dia melakukan semua itu dan yang aku dengar anak pertama Melani sudah meninggal Dad karena overdosis narkoba.”
“Lalu bagaimana dengan suaminya?”
“Suaminya juga sudah meninggal di penjara setelah dia dengan sengaja menabrak Lestari yang tengah mengandung Jessica.”
“Sepertinya Melani hanya ingin Cynthia menjadi satu-satunya anak perempuan Nico.”
“Iya sepertinya begitu Dad.”
“Ya sudah segaralah persiapkan pernikahan keponakan mu Dams. Daddy percayakan semuanya pada mu.”
“Baiklah Dad.” ucap Adam kemudian ia pamit undur diri dari hadapan Abraham.
*
*
*
Keluarga Bagas nampak sudah datang di mension Abraham. Para pelayan menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Mereka di persilahkan masuk dan menunggu di ruang tamu yang nampak begitu mewah.
__ADS_1
Dewi yang diberitahukan kedatangan sahabat kecilnya itu dari seorang pelayan segera menghampiri Suci yang berada di ruang tamu.
“Suci apa kabar?” sapa Dewi sembari mencium pipi kanan kiri sahabatnya itu.
“Kurang baik Dew, makanya aku kesini.”
“Oh ya, kurang baik kenapa?” tanya Dewi penasaran.
“Perusahaan suamiku di gulingkan oleh calon cucu menantu mu.”
“Andre maksud mu?”
“Iya Andre.”
“Apa kalian melakukan kesalahan padanya. Aku kenal anak itu sangat baik Ci.”
“Ya baik di depan mu tapi tidak dengan kami.”
“Apa kalian datang kesini untuk meminta bantuan suamiku?”
“Ya Dew, aku kesini ingin meminta bantuan suami mu, kamu bantulah aku agar suami mu mau membantu perusahaan suamiku.”
“Ya Ci, nanti aku usahakan ya. Kalau begitu ayo kita keruang makan dulu. Bukannya kalian datang ingin makan malam bersama kami. Kebetulan aku sudah sangat lapar karena menunggu kalian datang.”
Kini mereka sudah duduk di ruang makan mension Abraham. Mereka tengah menunggu kedatangan Abraham untuk memulai acara makan malam bersama mereka.
Tak berapa lama Abraham datang keruang makan. Dengan wajah dingin dan datarnya Abraham menyapa tamunya dan mempersilahkan tamunya untuk makan makanan yang sudah tersaji di meja makan. Abraham nampak tidak bersera menikmati makan malamnya hari ini.
Sorot matanya begitu tajam menatap Suci yang tengah menikmati makan malamnya. Beberapa kali Dewi memperhatikan sorot mata suaminya yang tidak biasa baginya.
“Kenapa Daddy menatap Suci seperti itu? Aku seperti merasakan aura kemarahanmu pada sahabat ku Dad. Tapi kesalahan apa yang dilakukan sahabatku hingga membuat mu menatapnya seperti ini?” batin Dewi.
Makan malampun telah usai. Kedua anak Fabian diajak pelayan untuk bermain di taman bermain yang berada di dekat kolam renang. Kedua anak Fabian sengaja dibawa pergi karena mereka ingin bicara serius yang tidak boleh di dengar oleh anak seusia mereka.
Setelah Kedua anak Fabian dibawa pergi oleh pelayan. Abraham mengajak tamunya untuk keruang kerjanya.
Kini mereka sudah berada di ruang kerja Abraham. Dewi mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerja Abraham. Ia juga memberikan secangkir teh hangat untuk menemani tamunya berbincang.
“Bagaimana ada keperluan apa kalian ingin menemui ku?” tanya Abraham pada Bagas dan juga Suci.
“Abraham kedatanganku kesini ingin meminta bantuan mu.” jawab Bagas.
“Bantuan apa Bagas?”
“Bantuan untuk memulihkan kondisi perusahaanku yang di gulingkan Andre putra Brata cucu dari Alm. Kusuma.”
“Hahaha… kesalahan apa yang kau perbuat padanya Bagas? Hingga ia berani melakukannya pada mu.”
“Aku tidak melakukan apapun, Istriku yang telah berani-beraninya menentang anak itu.”
“Hahaha istri mu lagi. Aku akan membantu mu Bagas tapi dengan satu syarat?”
“Apa syaratnya Abraham? Aku akan melakukan semua syarat yang akan kau berikan pada ku asal kau mau membantuku memulihkan perusahaanku.”
“Syaratnya sangat mudah Bagas. Buat istrimu buka mulut dimana dia menyembunyikan cucuku?”
“C U C U MU?!!!” Bagas terkejut matanya membola.
“Cucuku?!!! Apa maksud Daddy?” tanya Dewi yang tidak mengerti.
“Ya cucu kita sayang, anak kedua Nico yang ditukar dan disembunyikan sahabatmu dan Melani keponakannya yang ia jodohkan pada anak kita Nico. Sahabat baikmu ini sudah berhasil menjauhkan kita dengan anak kita Nico dan dia juga sudah memisahkan Nico dan anak kandungnya. Entah apa motif yang mendasari ia melakukan semua ini pada keluarga kita, sayang.”
“SUCI KATAKAN SEMUA INI TIDAK BENAR?!” pekik Dewi yang duduk disamping Suci.
“Tega sekali kau pada ku Suci. Dimana kau sembunyikan cucu ku Suci? Kenapa kau lakukan semua ini pada keluargaku?” Dewi terus mengguncangkan tubuh Suci yang diam membisu tanpa kata-kata. Semua rahasia yang ia tutupi dikuliti habis oleh Abraham di depan suami dan sahabatnya.
“Mom, aku tidak menyangka kau bisa melakukan kejahatan seperti ini. Katakan saja dimana kau sembunyikan cucu mereka Mom! Kalau kau tidak mau mengatakannya aku akan menceraikanmu sekarang juga!”ancam Bagas yang juga merasakan kecewa pada Suci.
Ucapan Bagas seketika membuat mata Suci membola dan buliran beningpun jatuh dari kelopak mata yang sudah terlihat tua itu.
“Dad, teganya kau ingin menceraikan ku karena kesalahanku pada mereka.”
“Cepat katakan saja dimana kau sembunyikan cucu mereka! Aku tidak menyangka telah menikahi ular betina seperti mu. Aku hingga merendahkan diriku meminta dan memohon bantuan pada Abraham atas kesalahanmu pada Andre dan sekarang Abraham akan menolong ku namun syarat yang diberikan Abraham sudah membongkar borokmu. Aku sangat kecewa pada mu Suci.” Bagas tak lagi memanggil Suci dengan sebutan Mommy lagi. Ia memanggil Suci dengan namanya.
“Daddy…” panggil Suci yang terkejut Bagas memanggilnya dengan menyebut namanya.
“Katakan saja cepat! Aku sudah tidak mau membuang waktu ku karena kesalahan mu.”
“Baiklah aku akan memberitahu kalian dimana aku dan Melani menyembunyikan anak perempuan Nico. Aku dan Melani menyerahkan anak perempuan Nico di panti asuhan Babusalam. Ciri-ciri anak Nico memiliki tanda lahir di telapak tangannya. Ada tompel berwarna merah di telapak tangan kanan anak itu. Kami belum sempat memberikan nama putri Nico saat kami menyerahkan anak itu pada pengurus panti…” ucapan Suci terhenti karena Abraham memotongnya.
“Setelah anak itu diadopsi seseorang kau dan Melani dengan teganya membakar panti asuhan itu hingga rata dengan tanah. Sehingga tak ada lagi data-data yang tersisa untuk kami menemukan cucu ku itu. Bukan begitu Suci? Dan sampai saat ini Nico belum mengetahui bahwa putri yang ia besarkan adalah anak Melani.” Abraham meneruskan ucapan Suci yang membuat Dewi dan Bagas terkejut.
Dewi menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri. Bagas menatap tajam wajah istrinya itu. Ia beranjak pergi meninggalkan Suci. Namun ketika langkah kakinya sudah berada di muka pintu Abraham memanggilnya. Membuat langkah kaki tuanya itu berhenti.
“Bagas, jika kau bisa menemukan cucu ku dan membawa melani kehadapanku, aku akan pastikan perusahaan mu akan kembali normal, tapi dalam dua minggu jika kau tidak bisa menemukan cucuku. Aku pastikan seluruh perusahaanmu dan juga perusahaan ketiga anak laki-lakimu akan rata dengan tanah.” ancam Abraham yang tengah memeluk tubuh istrinya yang tengah tak sadarkan diri. Suci bergidik ngeri mendengar ancaman Abraham kepada suaminya. Ia akhirnya memilih mengekori langkah suaminya yang beranjak pergi dari ruang kerja Abraham.
“Aku akan usahakan secepatnya menemukan cucu mu dan membawa Melani kehadapanmu.” ucap Bagas sebelum meninggalkan ruang kerja Abraham.
*Bersambung dulu ya teman-teman. Jangan lupa dukung aku terus ya like komentar dan Vote. *
__ADS_1