
Fabian sudah berada di dalam mobil yang dikendari oleh Alan.
"Kita hari ini mau kemana Pak? Kekantor atau mau ketempat lain?" tanya Alan dibalik kemudinya.
"Saya mau cari Jessica Lan." jawab Fabian dengan wajah datar, pandangannya menatap kosong kearah jendela.
"Mau cari kemana Pak?" tanya Alan lagi.
"Kemana saja Lan. Apa kamu tau tempat dimana biasanya dia pergi?" jawab Fabian yang malah balik bertanya pada Alan.
"Maaf Pak saya tidak tahu, bagaimana kalau kita cari disekitar kampusnya." Alan memberi saran pada Fabian.
"Coba saja La. Siapa tau dia ada disana." ucap Fabian dengan wajah lesunya.
Alan pun akhirnya melajukan mobil yang ia kendarai menuju Universitas Adhikari. Di perjalanan Fabian hanya menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan tatapan kosong. Fikirannya hanya memikirkan Jessica dan permintaan Hana yang menginginkan Jessica menjadi Ibu sambungnya.
"Langkah apa yang harus aku ambil, agar kau mau menerima ku, Jess? Mungkin pertama yang aku harus lakukan adalah mengakhiri hubunganku dengan Rania sesegera mungkin. Menjadikan kamu satu-satunya wanita dalam hatiku. Saat ini kamu belum mengetahui hubunganku dengan Rania, aku khawatir jika kamu mengetahuinya hanya akan menambah rasa kecewa mu pada ku."
****
Saat ini mobil Anna terparkir di sebuah pertokoan elit di pusat kota J. Setelah Mereka menyelesaikan makan siangnya tadi mereka langsung menuju butik yang mereka tuju.
"Claudia Boutique." tertulis nama di salah satu gedung toko itu.
"Eh kalian turun duluan ya, gue mau telepon nyokap gue dulu oke." pinta Ana pada kedua sahabatnya agar turun terlebih dahulu.
Jessica dan Endah turun dari mobil Ana. Mereka jalan terlebih dahulu ke dalam Butik. Kehadiran mereka disambut ramah oleh karyawan butik.
"Ada yang bisa kami bantu Nona - Nona?" seorang staff butik menghampiri Jessica dan juga Endah.
"Iya mbak kita mau beli gaun pesta tapi kita tunggu temen kita dulu ya mbak." ucap Endah pada karyawan butik itu.
"Oh baiklah kalau begitu silahkan tunggu diruang tunggu Nona-Nona, mari saya antar." ucap Karyawan itu dengan ramah kemudian mengantar Jessica dan Endah keruang tunggu.
Disisi lain Ana tengah sibuk dengan ponselnya di dalam mobil. Ana sedang mencari nomor telepon kakak perempuannya Claudia yang sangat jarang dia hubungi. Setelah menemukan nomornya Ana langsung menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
"Tut...tut..." suara nada memanggil.
"Hallo kak" sapa Anna.
"Ya hallo.., ada apa Ann tumben sekali kamu menghubungiku"
"Kak apa kakak sudah ke butik hari ini?" tanya Anna pada kakaknya.
__ADS_1
"Belum, aku masih dirumah, ada apa?" jawab claudia kemudian balik bertanya pada Anna.
"Kak, aku sedang berada di depan butik milik mu, aku bersama calon kakak ipar kita Kak," jawab Anna.
"Calon istri Kak Andre maksudmu?" tanya Claudia.
"Ehmm.. betul sekali kak, aku membawanya ke butik mu, aku sudah membantumu mendapatkan ukuran tubuhnya Jessica agar kakak lebih mudah membuat gaun pengantin untuknya nanti." ucap Anna.
"Kamu memang adikku yang baik Anna" puji Claudia pada adiknya.
"Tapi kak, katakan pada karyawanmu untuk pura-pura tak mengenalku ya." pinta Anna
"Ok hanya itu yang ingin kamu pinta dariku Ann?" tanya Claudia pada adiknya.
"Tidak hanya itu sih kak, mungkin aku akan mengobrak-abrik butikmu." ucap Anna
"HAH!! Apa maksudmu dengan mengobrak-abrik butik ku? Apa yang ingin kau lakukan disana? Dasar anak nakal." ucap Claudia terkejut dengan rencana adiknya itu.
"Hahahaha... Kau tenang saja kak, jika terjadi sesuatu yang buruk dibutik mu, aku sarankan mintalah ganti rugi pada Kak Andre." ucap Anna pada Claudia. Anna sangat senang sekali bisa membuat Claudia terkejut dan khawatir akan nasib butiknya nanti.
"Iya baiklah kalau begitu boss kecil, saran mu bisa ku terima. Tapi jika Kak Andre tak mau membayar ganti rugi. Siap-siap saja uang bulanan mu menjadi milik ku!" ucap Claudia.
"Ok Kak sudah dulu ya, tolong segera hubungi staff mu ok, saat aku masuk aku tidak mau tahu mereka harus sudah ber-akting tidak mengenalku." pinta Anna kemudian menyudahi panggilan teleponnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Claudia.
Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Claudia, Anna kemudian menghubungi nomor Andre.
"Tut...tut..." suara nada memanggil.
"Hallo Kak." sapa Anna ketika Andre mengangkat panggilannya.
"Hallo ada apa Ann, aku sedang sibuk jadi tolong to the poin saja ada apa kau menghubungiku?" pinta Andre pada Anna.
" Oke baiklah jika kau sibuk, aku akan menghubungi duda gila itu saja atau bocah ingusan untuk menjadi pengantin pria dalam sesi foto prewedding bersama Jessica." ucap Anna sedikit mengancam Andre.
"Hai Anastasia, Jangan melakukan hal yang di luar batasan mu!" ucap Andre kesal.
" Makanya datanglah ke butik Kak Claudia ya Kak?! Aku dan calon istrimu ada di sini dan jangan lupa bawakan kami groomsmen, salah satunya harus Abang Leon." ucap Anna pada Andre.
"Ck. masih saja kau berharap dengan calon kakak iparku itu, dia itu sudah punya calon Ann, berhentilah berharap padanya! Salah mu sendiri tidak pernah mau mengungkapkan apa yang kau rasakan. Kau malah memilih menjadi pemuja rahasianya saja." ucap Andre pada Anna.
"Ah sudahlah kak jangan ceramahi aku, aku tak akan berhenti mencintai dia dan aku juga tak akan berhenti berharap padanya. Selagi janur kuning belum melengkung di gang rumahnya berarti dia masih milik bersama. Bukan begitu Kak?" ucap Ana kesal diceramahi Andre
"Hahahaha... bisa saja kau." Andre tertawa mendengar ucapan Anna.
__ADS_1
" Oke baiklah 2 jam lagi aku baru bisa ke sana aku akan membawa Arjunamu itu kau tenang saja." ucap Andre lagi.
"Ok Kak, kami menunggu mu." ucap Anna.
Anna pun menutup panggilan teleponnya dengan Andre. Anna keluar dari mobilnya. Dia memasuki butik milik kakaknya itu. Kedatangannya disambut ramah oleh karyawan butik.
"Selamat datang Nona ada yang bisa saya bantu?" sapa karyawan butik seolah tak mengenali Anna.
"Dimana kedua temanku?" tanya Anna berbisik.
"Diruang tunggu Nona." jawab karyawan butik yang bernama Ema itu.
"Antarkan aku kesana, teruslah bersikap kau tidak mengenalku seperti ini." pinta Anna pada Ema.
"Baik Nona." jawab Ema.
Ema mengantarkan Anna ke ruang tunggu dimana Jessica dan Endah berada.
" Lama banget lu kayak putri Solo bikin gua lumutan aja di sini" omel Endah karena kesal dibuat menunggu oleh Anna.
" Lu nggak salah ngomong Ndah Si Ana Putri Solo?" tanya Jessica.
" Oh iya ya... dia nggak pantes jadi putri Solo. Kalau Putri Solo biar kata dia jalannya super pelan tapi dia itu terlihat anggun dan mempesona. Nah kalau si Anna apanya yang anggun dan mempesona cewek suka sradak-sruduk gitu makanya nggak laku sampai sekarang." umpat Endah pada Anna.
" Mulut lu tuh Ndah, hobi banget menghina teman sendiri untung gue sayang sama lo coba kalau gue nggak sayang sama lu, Lu udah gue gantung di pohon pisang." ucap Anna kesal karena terus dihina oleh Endah.
"Hahahaha..." tawa Endah dan Jessica bersamaan.
"kasian juga ya pohon pisangnya kalau si Anna digantung disitu" ucap Jessica masih menertawain Anna.
"Kasian kenapa Jes?" tanya Endah.
"Kasian pohon pisangnya bisa rubuh." jawab Jessica.
"Ah garing lu gue kira jawabannya apaan." ucap Anna.
"Ya lu maklumin aja lah Ann, orang kalau lagi patah hati apa aja yang diomongin juga kesannya garing. Kaya suasana hatinya dia sekarang yang lagi garing kaya kerupuk. Tinggal lu remek juga hancur tuh hati berkeping-keping ntar jadinya kaya eres-eresan gorengan abang-abang." timpal Endah.
"Hahahaha iya ya Ndah, emang lu paling bisa Ndah, bisa banget ngeledekin si Jessica." Anna dibuat tertawa dengan ucapan Endah.
"Ishhh dasar stresss." umpat Jessica kesal.
bersambung
__ADS_1
follow ig Author ya @dhepoyesaputri90