
Di sebuah restoran mewah didekat pelabuhan di kota J, Andre tengah duduk bersama dengan Jimmy di ruangan VVIP. Mereka sedang menunggu kedatangan Anton dan Rania.
Beberapa kali Jimmy melihat pergelangan tangannya.
"Mereka sudah telat lima belas menit Tuan" ucap Jimmy memberitahukan Andre.
"Kita akan menunggunya lima menit lagi Jim" ucap Andre yang tengah asyik memainkan ponselnya. Ia sedang menatap foto dirinya dan Jessica sambil tersenyum begitu bahagia.
"Jika aku melihat foto ini, aku jadi tidak sabar untuk mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu bulan depan" batin Andre dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.
Jimmy yang melihat Andre terus tersenyum-senyum sendiri hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Tuannya itu.
"Dia mulai seperti orang yang tidak waras semenjak jatuh cinta dengan Nona Jessica" gerutu Jimmy di hatinya.
" Kau sedang mengumpati ku kan Jim?" tanya Andre, ia melirik Jimmy dengan tatapannya yang tajam.
"Kenapa kau selalu tahu ketika aku sedang mengumpati mu Tuan?" tanya Jimmy dengan kesal.
"Karena itu sudah kebiasaanmu sejak kecil." jawab Andre.
"Ahh... Kenapa kau selalu mengingat kebiasaan ku yang satu ini Tuan?" tanya Jimmy.
"Karena aku memiliki daya ingat yang sangat tinggi Jim." jawab Andre dengan sombongnya.
"Ya aku paham akan hal itu Tuan." ucap Jimmy dengan wajah sebalnya.
"Jim, Bagaimana dengan kondisi Jessica? Kau belum mengatakan apapun tentang dirinya padaku" Andre menatap Jimmy meminta penjelasan.
"Nona Jessica ternyata memiliki phobia dengan paramedis tuan. Dokter Nathan harus mengobservasinya dengan cara menyuntikan obat penenang terlebih dahulu padanya Tuan. Dan untuk hasil observasi Dokter Nathan pada Nona Jessica. Nona Jessica hanya mengalami derajat luka bakar tingkat 1yaitu jenis luka bakar yang hanya memengaruhi epidermis atau lapisan kulit luar Nona Jessica saja Tuan. Tanda-tanda yang Nona Jessica alami hanya kulit kemerahan, kering, dan terasa nyeri pada area lukanya saja. Dokter Nathan juga sudah memberikan resep obat untuk Nona Jessica untuk mengobati luka bakarnya. Mungkin saat ini Nona Jessica masih tertidur Tuan karena pengaruh obat penenang itu." terang Jimmy pada Andre.
"Baiklah Jim, terima kasih atas informasi dan kerja keras mu Jim." ucap Andre tersenyum.
"Sama-sama Tuan." Jimmy mengangguk hormat pada Andre.
Setelah mereka menyelesaikan obrolannya. Ponsel Andre berdering. Ia mengambil ponselnya di saku celana. Dilihatnya layar ponsel miliknya itu.
"Leon menghubungi ku, ada apa ya?" ucap Andre dengan suara yang begitu pelan namun masih terdengar oleh Jimmy.
Andre pun mengangkat panggilan telepon dari Leon.
"Hallo kakak ipar ada apa kau menghubungi ku, hari ini kita sudah dua kali bertemu apa kau masih merindukan adik ipar mu ini?" sapa Andre di ujung teleponnya.
__ADS_1
"Cih... Percaya diri sekali kau Andre, untuk apa aku merindukan calon adik ipar yang kelakuannya sama seperti adikku yang menyebalkan itu. Kalian berdua sama-sama memiliki sifat hiperbola." ucap Leon kesal di seberang sana.
"Hahahahaha... Berarti kami memang benar-benar cocok bukan?" tanya Andre pada Leon.
Pintu ruangan VVIP dimana Andre dan Jimmy tengah berada terlihat di buka oleh seorang pelayan. Nampak kehadiaran Anton, Rania dan juga Fabian, mereka memasuki ruangan dan segera duduk di kursi meja makan yang menghadap Andre.
Nampak Anton ingin menyapa dan berjabat tangan pada Andre namun Andre menyetop keinginan Anton karena Andre sedang menerima panggilan telepon dari Leon. Andre sengaja me-loudspeaker panggilan teleponnya dihadapan mereka.
"Ya kalian memang sangat cocok." jawab Leon yang di dengar oleh mereka.
" Ada apa kau menghubungiku calon kakak ipar?" tanya Andre dengan sengaja menekankan kalimat calon kakak ipar sambil menatap wajah Fabian di hadapannya.
"Jessica menangis ingin bicara padamu, dia tidak bisa menghubungi mu sendiri karena tangannya yang sakit karena luka bakar yang di alaminya dan ditambah lagi rasa sakit karena di suntik tadi" jawab Leon. Jawaban Leon membuat ribuan pisau menancam di relung hati Fabian. Dikala dia sangat sulit menghubungi Jessica karena tidak memiliki kesempatan. Jessica malah menangis ingin menghubungi Andre.
"Kau benar-benar sudah berpaling dariku." batin Fabian.
"Begitukah? kalau begitu berikan ponselmu padanya!" pinta Andre pada Leon.
Leon yang berada di kamar pribadinya segera keluar menghampiri Jessica di kamar Jessica. Nampak Jessica masih terisak-isak sisa tangisannya yang belum hilang.
"Sudahlah jangan menangis terus, ini telepon yang kau inginkan, bicaralah" ucap Leon yang masih terdengar oleh seluruh orang di ruangan VVIP itu.
"Hallo" sapa Jessica dengan suara sedihnya.
"Kau begitu lembut memperlakukannya. Pantas saja dia berpaling dari ku, aku sungguh menyesal selalu berlaku kasar padanya." batin Fabian.
"Kenapa kau jahat sekali pada ku Kak? Memanggil dokter yang juga jahat, dia membuat tanganku bertambah sakit, aku di suntik olehnya hiks hiks hiks... Sekarang aku juga diminta ibu untuk meminum obat, aku tidak mau karena aku tidak bisa minum obat." ucap Jessica dengan nada yang manja diselingi suara tangisnya.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud menjahati mu. Aku hanya ingin luka mu cepat di tangani dan cepat sembuh kembali sayang. Kalau kau tidak bisa meminum obat tunggulah aku dirumah! Aku akan datang membantumu meminum obat ya. Sekarang aku ingin makan malam bersama client ku terlebih dahulu sebelum aku datang kerumah mu. Tunggulah aku dirumah dengan sabar ok!" ucap Andre pada Jessica diujung telepon.
"Makan malam?? Clientnya laki-laki atau perempuan?" tanya Jessica penasaran. Ia takut kelakuan Andre sama saja dengan Fabian.
"Kenapa kau bertanya itu pada ku sayang? Kau seperti sedang mencurigai ku. Sudah ku katakan tidak ada wanita lain yang ku cintai selain dirimu. Apa kau masih kurang percaya pada ku hemm?" tanya Andre pada Jessica. Didalam hati Andre sedang berbunga-bunga mendapat pertanyaan itu dari Jessica. Dia menganggap pertanyaan itu adalah tanda-tanda hati Jessica sudah berjalan mengarah padanya.
" Jawab saja pertanyaan ku tanpa harus kamu memberikan pertanyaan lagi pada ku." pinta Jessica dengan suaranya yang manja. Fabian merasa ngilu dihatinya karena dia tidak pernah mendengar Jessica berbicara semanja itu padanya.
"Ya baiklah sayang aku akan menjawabnya sesuai permintaan mu dengan senang hati. Aku makan malam bersama tiga orang pria dan satu orang wanita. Dan jangan kau cemburu dengan wanita ini. Karena wanita ini bukan siapa-siapa ku dan tidak ada apa-apanya di bandingkan dirimu hemm." ucap Andre meyakinkan Jessica.
"Ya sudah jangan lama-lama datangnya. Aku tidak mau menunggu mu terlalu lama." ucap Jessica masih dengan suara manjanya.
"Ya baiklah sayang, aku akan segera kesana setelah menyelesaikan urusan ku ini. Aku tutup dulu ya teleponnya, bye sayang." ucap Andre yang ingin mengakhiri panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Bye kak, hati-hati ya dan jaga hati mu itu!" ucap Jessica membuat senyum Andre kembali mengembang di wajah tampannya.
"Baik Nona Jessica ku sayang aku akan menjaga hatiku untuk mu." ucap Andre di akhir panggilannya.
"Sialan, wanita itu benar-benar wanita terpenting di hidup Tuan Andre. Tuan Andre benar-benar menyayanginya. Sekarang ini aku dan keluarga ku dalam masalah besar." batin Rania.
"Bersenang-senanglah terlebih dahulu Andre sebelum rasa sedih dan kehancuran mu datang. Ketika aku berhasil merebut apa yang telah kau rebut dari ku." batin Fabian.
"Kalian telat 15 menit 45 detik." ucap Jimmy dengan wajah datar dan arogan kepada mereka yang berada di hadapannya stelah ia melihat Andre menyelesaian panggilan teleponnya.
"Maaf tuan tadi kami terjebak macet." jawab Anton sambil membungkukan badan.
Setelah Andre menyudahi panggilan teleponnya dengan Jessica. Ruang makan VVIP ini terasa mencekam. Andre dan Jimmy terlihat menatap tajam wajah orang-orang dihadapannya.
"Ada perlu apa kalian mengajakku bertemu malam ini? Utarakan secepat mungkin maksud kalian itu. Karena aku tidak memiliki banyak waktu." ucap Andre dengan seringai menakutkan.
"Begini Tuan saya dan putri saya ingin meminta maaf pada Anda Tuan atas ke khilafan yang di lakukan putri saya." ucap Anton sambil menunduk. Ia tidak berani menatap wajah Andre ataupun Jimmy di hadapannya.
"Aku tidak bisa memaafkan kesalahan putri mu jika dia belum meminta maaf pada calon istriku." ucap Andre dengan suara yang meninggi.
"Baik Tuan, Putri saya akan meminta maaf pada calon istri Tuan Andre secepatnya." ucap Anton.
"Papi!!! Aku tidak mau pih meminta maaf dengan wanita murahan itu." Rania menarik sedikit kemeja ayahnya dan bicara dengan berbisik namun suaranya masih terdengar di telinga Andre.
"Cih... Kau bilang putri mu akan segera meminta maaf. Lihatlah! Dia berani menolak kata-kata mu dihadapanku bahkan dengan lancangnya dia menyebut calon istriku wanita murahan!!" ucap Andre sinis dan menggebrak meja makan dihadapannya. Ia tidak terima Jessica di sebut wanita murahan oleh Rania.
"Saya akan memaksanya Tuan. Tuan tenang saja." ucap Anton meyakinkan Andre.
"Aku rasa dia juga tidak butuh permintaan maaf dari putri mu.Lagi pula putri mu harus berusaha keras untuk mendapatkan maaf dari wanita ku. Kau tanya saja pada calon menantumu itu Fabian! Dia sudah mengalami betapa sulitnya mendapat maaf dari seorang Jessica, bukan begitu Fabian?" ucap Andre dengan senyum sinis di wajahnya.
"Bie kau..." Rania terkejut mendengar penuturan Andre.
"Maksud Tuan apa saya tidak mengerti?" tanya Anton pada Andre.
"Hah... Kau menanyakan maksud ucapanku? Sayangnya aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya pada mu Tuan Anton. Sebaiknya Anda tanyakan saja langsung pada orangnya. Jika kau hanya ingin meminta maaf pada ku. Aku anggap pertemuan kita cukup sampai disini." ucap Andre kemudian bangkit dari kursi duduknya.
"Tunggu Tuan, saya ingin menanyakan nasib perusahaan saya yang Tuan Andre gulingkan siang tadi." ucap Anton menghentikan niat Andre yang akan pergi.
"Nasib perusahaanmu tergantung bagaimana putri mu." ucap Andre lalu pergi meninggalkan ruangan makan tanpa makan malam terlebih dahulu. Padahal pelayan baru saja tiba mengatar santapan makan malam mereka. Kepergian Andre di ikuti oleh Jimmy dari belakang.
"Kau lihat Rania! Apa yang kau lakukan membuatku susah dan hancur." ucap Anton pada anak perempuannya itu.
__ADS_1
bersambung