Cinta Jessika

Cinta Jessika
Kegalauan Fabian


__ADS_3

Fabian melangkahkan kakinya keluar kantor. Alan yang ia hubungi segera menyiapkan mobil  Fabian di depan lobby. Fabian berjalan begitu terburu-buru memasuki mobil miliknya itu.


“Kita mau kemana Pak?” tanya Alan pada Fabian.


“Café Kharisma.” jawab Fabian yang duduk di kursi belakang.


Fabian menyederkan tubuhnya di sandaran kursi. Memejamkan matanya yang terus mengalirkan buliran bening. Laki-laki yang terkenal keras, kuat, tangguh dan garang bahkan di juluki Banteng oleh karyawannya ini. Hari ini menunjukkan titik kelemahannya. Ia meluapkan emosi naluriah yang paling dalam dari dirinya dengan menangis tanpa suara. Perasaan sedih yang tidak bisa lagi di bendungnya karena kehilangan orang yang ia cintai tapi belum sempat ia miliki.


Alan memperhatikan Fabian dari rear-vision mirror. Ia melihat Fabian yang tengah menangis sambil memejamkan matanya. Alan sudah mengerti pasti kondisi Fabian yang tengah terluka hatinya. Alan membiar Fabian meluapkan rasa kecewa dan sedihnya dengan menangis dalam diam seperti kejadian 6 tahun yang lalu ketika istri Fabian Margaret meninggalkan Fabian.


Mobil yang dikemudikan Alan sudah sampai di Café Kharisma.


“Pak kita sudah sampai di Café Kharisma.”ucap Alan dibalik kemudinya.


“Alan hubungi Clara katakan padanya untuk meminta staff AE datang kesini untuk meeting bersama ku.” Ucap Fabian sebelum turun dari mobilnya.


Fabian masuk kedalam Café Kharisma tempat di mana ia sering meeting dan hangout bersama karyawannya. Ia berjalan mendekati seorang penyanyi Café. Ia me-request lagu Pesan Terakhir yang merupakan ciptaan seorang penyanyi Mario G. Klau yang di populerkan oleh Lyodra Ginting. Lagu ini berkisah tentang perasaan seseorang yang mencintai namun cintanya tak terbalas hingga akhirnya ia harus mengorbankan rasa cintanya tersebut. Lagu ini sangat mewakili perasaan Fabian saat ini.


“Sis, nyanyikan lagu Pesan Terakhir ini terus menerus sampai aku pergi dari Café.” pinta Fabian pada Siska penyanyi café yang Fabian kenal sembari memberikan uang tips yang begitu tebal. Siska menerima tips yang di berikan Fabian dengan wajah yang sumringah.


“Dengan senang hati Pak Fabian sampai besok juga Siska mau Pak nyanyi buat Pak Fabian kalau tipsnya setebal ini.” ucap Siska menyanggupi permintaan Fabian sembari senyum menggoda Fabian. Fabian yang di goda hanya memberikan wajah datarnya.


Fabian duduk di tempat biasa ia duduk di Café itu. Seorang pelayan datang menghampiri Fabian untuk menawarkan menu.


“Katakan pada atasanmu sediakan aku sebotol Brandy dari brand Armagnac seperti biasa.”ucap Fabian pada seorang pelayan yang menghampirinya itu. Belum sempat pelayan itu memberikan buku menu pada Fabian, Fabian sudah memesan minuman yang tak ada di dalam buku daftar menu yang dibawa pelayan itu.


“Ba..baik Pak.” jawab pelayan itu gugup.


Pelayan itu segera pergi menghampiri atasannya dan mengatakan pesanan Fabian yang tak ada di buku daftar menu. Atasan pelayan itupun mengintip siapa tamu café  yang memesan minuman mahal itu. Setelah mengetahui Fabian-lah yang memesannya. Atasan pelayan itu segera mengambilkan sebotol Brandy sesuai pesanan Fabian di ruang penyimpanan rahasia kemudian memberikannya kepada anak buahnya itu.


“Hati-hati membawanya Bayu, harga minuman ini setara dengan gaji mu satu bulan.” ucap Alif mengingatkan anak buahnya.


“Baik Pak Alif.” Bayu segera pergi membawa sebotol Brandy diatas nampan dan sebuah gelas kecil untuk Fabian menengguk minuman alkohol itu.


Bayu menyajikan minuman alkohol itu di atas meja Fabian. Fabian mengangguk ketika Bayu mempersilahkan Fabian untuk meminum minuman yang ia pesan.  Fabian mengambil sebungkus rokok dari saku celananya. Ia mengambil sebatang rokok di dalam bungkus rokok miliknya itu kemudian menghisap rokok yang telah ia nyalakan.


Fabian menikmati alunan lagu yang di nyanyikan Siska sembari menenggak segelas Brandy dan menghisap sebatang rokok yang di apit oleh jemarinya. Fabian benar-benar nampak patah hati.



Disela-sela Fabian menikmati lagu yang di nyanyikan Siska. Ponsel Fabian yang berada di atas meja berdering. Fabian melirik layar ponsel miliknya yang tertera nama Andre sedang memanggilnya. Dengan rasa enggan dia mengangkat paanggilan dari Andre.


“Hallo.” Sapa Fabian


“Fabian apa yang kau lakukan pada anak buah ku hah?” sahut Andre dengan nada penuh emosi di seberang sana. Andre begitu emosi mendengar Bowo mengalami diare hingga dehidrasi karena perbuatan Fabian.


“Aku hanya berusaha menyingkirkan dia sementara waktu dari Jessica. Aku hanya ingin bicara empat mata dengan Jessica. Itu pun hanya sebetar. ” Fabian menanggapi kemarahan Andre dengan tenang.


“Kau jangan berusaha merebutnya dari ku saat aku tak ada disampingnya Fabian!” ucap Andre dengan intonasinya yang menekan disetiap kata-katanya.


“Kau tidak perlu khawatir lagi Andre. Aku tak akan mengganggu hubungan kalian lagi mulai hari ini. Aku relakan dia menjadi milik mu. Bahagiakanlah dia dan jangan kau sakiti dia. Jika aku tahu kau menyakitinya ataupun menyia-nyiakannya. Aku akan merebut dia kembali dari mu.” sahut Fabian dengan nada yang menekan di kalimat terakhirnya.


Ucapan Fabian yang di dengar Andre membuat Andre diam sejenak. Ia berfikir apa yang terjadi disana, diantara Fabian dan Jessica hingga Fabian bisa merelakan Jessica begitu saja.


“Apa kau sedang mengecohkan ku dan merencanakan sesuatu dibelakangku dengan ucapan mu barusan? Apa yang kau lakukan ini hanya seolah-olah membuat ku tenang kemudian setelah itu kau merebutnya kembali dariku.” ucap Andre penuh curiga.


“Ck. Kau berfikir terlalu jauh dan buruk pada ku Andre. Aku merelakannya karena aku sadar aku hanya sebuah luka baginya. Aku tak bisa membahagiakannya karena dia tak memberikan kesempatan untukku membahagiakan dirinya. Dia lebih memilih diri mu dan tetap dirimu yang ia pilih meskipun aku sudah memohon berkali-kali padanya. Aku menyerah dan aku mengaku kalah. Meskipun aku menyerah untuk memilikinya tapi aku tak akan berhenti mencintainya. Dan aku mohon pada mu untuk mengerti kondisi ku dan kedua anakku yang terlanjur mencintainya dan berharap dia menjadi bagian dari hidup kami.” Terang Fabian dengan suara yang begitu lirih.


“Aku dapat mengerti perasan kedua anakmu tapi tidak dengan dirimu Fabian. Akan ku pegang kata-kata mu ini. Tapi jika suatu saat kau menginkari kata-kata mu ini. Jangan salahkan aku jika aku berbuat hal yang buruk pada hidupmu!” sahut Andre.


“Terserah kau mau melakukan apapun pada ku. Bahkan jika kau mau membunuhku sekarang aku pun siap. Karena hidup ku sudah hampa dan hancur karena aku merasakan sakit sendiri diatas kebahagian kalian berdua.” sahut Fabian.

__ADS_1


“Apa aku tidak salah mendengar kata-kata pasrah yang baru saja kau ucapkan, Fabian?” tanya Andre yang masih ke heranan dengan ucapan Fabian.


“Tidak. Kau tidak salah mendengarnya. Sudahlah Andre aku butuh waktu untuk menenangkan diriku.” ucap Fabian sebelum mengakhiri panggilan teleponnya bersama Andre.


Fabian menutup panggilan teleponnya begitu saja kemudian menuangkan minuman alkoholnya hingga meluap karena Fabian menuangnya hingga penuh dan membiarkannya tumpah begitu saja. Ia menengguk dengan kasar minuman alkohol itu kemudian menghisap dalam rokok di tangannya hingga asap rokok begitu mengepul ke udara setelah keluar dari rongga mulutnya.


Disisi lain Andre merasa penasaran apa yang di lakukan Jessica hingga membuat Fabian bicara sepasarah itu padanya. Ia memahami betul perasaan patah hati yang sedang dirasakan Fabian. Disatu sisi dia merasa lega karena Fabian tak akan lagi mengganggu hubungannya dan di sisi lain ada rasa iba pada Fabian yang bicara seperti itu padanya.










Seluruh karyawan bagian AE sudah terlihat berdatangan di Café Kharisma. Jessica datang terakhir bersama Angela yang mendampinginya karena Bowo dilarikan kerumah sakit oleh para Bodyguard yang berjaga di luar gedung perusahaan Fabian karena mengalami dehidrasi.


Ketika Jessica dan Angela masuk kedalam Café. Kedatangan mereka di sambut alunan lagu yang di request Fabian. Netra Jessica terus menatap Fabian yang tengah menghisap rokok meskipun di ruangan berAC Fabian seakan tak perduli dan tak ada satupun pegawai café yang berani menegur apa yang dilakukan Fabian.


Jessica duduk seperti biasa diantara Lina dan juga Sisil sedang Angela duduk di meja lain yang jaraknya masih berdekatan dengan Jessica. Meeting pun di mulai. Fabian tak sedikit pun melirik Jessica yang duduk hampir berhadapan dengannya. Jessica terus memperhatikan Fabian yang sedang mendengarkan laporan kerja karyawannya secara berganti dan sembari menghisap terus rokok yang ada ditangannya, jika rokok yang di tangannya habis ia akan menyalakan lagi rokok baru yang ia ambil dari bungkus rokok yang ada di atas meja begitu seterusnya hingga meeting berakhir. Fabian terus menghisap rokok itu hingga habis dari bungkusnya. Kemudian ia menghubungi Alan untuk membelikan beberapa bungkus rokok lagi untuknya.



Fabian meminta Clara memesan makanan untuk makan bersama sebelum jam pulang kantor berakhir. Sembari menunggu makanan siap tersaji Fabian terus menengguk minuman beralkohol dihadapannya hingga minuman itu terlihat habis. Kemudian ia memanggil kembali pelayan yang bernama Bayu. Ia meminta sebotol lagi minuman lak.nat itu.


Semua yang di lakukan Fabian terus di perhatikan Jessica. Ada rasa perih melihat Fabian yang seperti itu dihati Jessica. Bagaimana pun ia pernah mengagumi dan mencintai sosok Fabian yang tengah duduk di hadapannya dengan penampilan yang mulai berantakan.


Semua karyawan Fabian menyadari kondisi Bosnya itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mereka juga merasa aneh dengan penyanyi café yang terus menyanyikan lagu itu-itu saja tidak berganti sedikitpun. Meskipun pengunjung lain sudah complaint dan me-requeat lagu lain namun penyanyi cafe menolak.


“Jes, lu gak lagi berantem sama si banteng jantan di hadapan kita ini kan?” tanya Lina yang berbisik.


“Nggak Mbak, memang kenapa?” sahut Jessica.


“Serius lu lagi gak nutup-nutupin dari gue?” tanya Lina lagi yang tak yakin dengan jawaban yang diberikan Jessica.


“Serius Mbak. Kenapa sih Mbak?” sahut Jessica yang malah menjadi penasaran kenapa Lina terus bertanya padanya.


“Dia kayanya lagi terpukul banget kaya kejadian 6 tahun lalu. Kaya gini dia kalau lagi galau tingkat dewa. Kerja sambil mabok ngerokok gak berenti. Berenti-berenti kalau udah masuk rumah sakit karena gak sadarkan diri.” Jelas Lina sembari menatap Fabian yang sedang memainkan gelas yang kosong.


Jessica mengikuti arah pandangan mata Lina yang menatap wajah Fabian yang sendu. Jessica tidak menanggapi ucapan Lina. Apa yang dikatakan Lina membuat Jessica menyadari apa yang di lakukan Fabian saat ini karena ucapan dan kata-kata Jessica yang menyakitkan hati Fabian tadi di kantor.


“Lu denger gak ini lagu terus dinyanyiin sama penyanyi café berulang-ulang, pasti ini atas permintaan dia Jess. Gue yakin banget.” ucap Lina lagi. Jessica mulai mendengarkan baik-baik bait-bait lagu yang dinyanyikan penyanyi café. Berusaha mencerna makna lagu itu. Agar memahami maksud Fabian meminta lagu itu terus di putar berulang-ulang. Jika memang benar Fabian yang me-request lagu itu.


Setelah mendengarkan dua kali lagu itu di putar. Jessica merasakan sesak di dadanya. Ia menahan sedih dan rasa bersalahnya pada Fabian. Ia menatap wajah Fabian yang sendu dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. Ia membiarkan air mata itu jatuh begitu saja.


Ketika makanan sudah siap tersaji di meja makan Angela datang menghampiri kursi Jessica.


“Nona apa Anda ingin saya bantu untuk memakan makanan Nona?” Angela menawarkan dirinya membantu Jessica. Menggantikan tugas Bowo.


“Tidak Angela aku tidak ingin makan.” jawab Jessica dengan suara yang parau karena menahan jerit tangisnya meskipun air matanya sudah jatuh berderai.


Jawaban Jessica dengan suara yang parau membuat Fabian menoleh kearah Jessica. Pandangan mereka saling bertemu, mereka saling memandang dalam tatapan yang sama-sama sendu. Fabian juga menahan kesedihannya dengan diam tanpa kata. Ia memilih kembali menenggak minuman alkohol dihadapannya sembari menatap wajah Jessica.

__ADS_1


Jessica bangkit dari kursinya. Ia berjalan melangkah menghampiri kursi Fabian. Fabian berusaha acuh dengan kehadiraan Jessica yang tengah berdiri di sampingnya. Ia kembali menenggak minuman alkoholnya itu setelah sebelumnya ia menuangkan minuman alkohol itu kedalam gelasnya hingga terisi penuh.


Melihat Fabian yang terus saja minum alkohol membuat Jessica mengambil botol minuman alkohol itu dengan tangan kirinya dan membantingnya kelantai. Botol itu pecah berserakan di lantai. Seketika suasana menjadi hening karena semua orang menghentikan aktifitasnya begitu juga dengan pemain musik yang ikut berhenti.


Fabian mentap Jessica yang berdiri di sampingnya. Hanya mentapnya dan tak mengatakan apapun.Semua orang yang tengah menikmati makanannya pun menatap Jessica dengan tatapan yang bertanya-tanya mengapa ia sangat berani melakukan hal itu pada Fabian yang terlihat sedang kacau itu.


Fabian yang melihat minuman yang membuatnya tenang itu habis karena di banting oleh Jeesica segera mengangkat tangannya memanggil kembali pelayan dan meminta sebotol Brandy lagi untuknya. Ia juga meminta penyanyi cafe untuk kembali bernyanyi.


Setelah itu Fabian kembali mengacuhkan Jessica yang masih setia berdiri disamping kursinya dengan kembali menatap makanan yang ada dihadapannya yang tidak sama sekali ia sentuh.


“Duduklah apa kau tidak lelah berdiri terus!” pinta Fabian pada Jessica. Jessica tidak menjawab hingga membuat Fabian kembali meliriknya.


“Duduklah dan makan makanan mu. Jika kau tidak bisa memakannya kau bisa minta bantuan asisten mu ataupun teman kerja mu.” ucap Fabian yang masih duduk di kursinya sembari menatap wajah Jessica yang sudah basah akan air mata.


Fabian ingin sekali menghapus air mata yang jatuh dari pipi Jessica namun ia sadar Jessica bukanlah miliknya dan ditambah lagi Jessica yang terus di jaga oleh orang suruhan Andre yang pasti akan menjauhkan dirinya dari Jessica.


Alan yang datang membawa rokok pesanan Fabian melihat Jessica yang tengah berdiri sambil menangis membuatnya paham akan kondisi ke galauan yang di alami Fabian tadi di mobil. Alan meletakkan beberapa bungkus rokok di atas meja dalam jumlah yang cukup banyak kemudian pergi  keluar meninggalkan café.


Fabian kembali menyalakan sebatang rokok dan menghisap dalam rokok itu hingga asap rokok keluar begitu tebal dari rongga mulutnya. Saat Fabian menghisap rokoknya kembali tangan Jessica menarik paksa rokok itu dari bibir Fabian. Apa yang dilakukan Jessica membuat Fabian terkejut. Fabian tersenyum getir dengan apa yang dilakukan Jessica. Fabian berusaha meraih botol alkohol ketiganya itu namun tangan kiri Jessica dengan sigap merebut botol itu kemudian kembali menjatuhkan botol itu ke lantai. Kembali suasana cafe menjadi senyap dan sepi. Baru saja pelayan menyelesailan memberihkan lantai dari pecahan botol yang pertama. Ia harus kembali membersihkan pecahan botol yang ke dua.


“Apa mau mu?” tanya Fabian dengan sesungging senyum getirnya.


“Berhentilah menyiksa diri mu Pak! Jangan begini! Maafkan aku.” ucap Jessica dengan suara tangisan yang tak lagi bisa ia bendung.


“Kata maaf mu tak bisa membawa mu kembali pada ku jadi biarkan aku begini.” ucap Fabian. Ia tak perduli lagi bicara seperti ini dihadapan karyawannya.


“Aku mohon jangan seperti ini Pak! Tolong fikirkan bagaimana anak-anak jika bapak sakit karena terlalu banyak minum alkohol dan merokok tidak ada hentinya seperti ini.” sahut Jessica.


“Apa peduli mu? Mau aku seperti apapun kamu sudah pasti meninggalkan ku dan tidak akan merubah keadaan.” sahut Fabian.


Sisil yang menyadari suasana sudah mulai memanas. Meminta anak buahnya segera menyelesaikan makannya dengan cepat agar bisa segera pergi dari café. Sedang Clara sudah di pastikan menatap Jessica dengan tatapan tidak sukanya.


Sisil juga meminta Clara untuk keluar meninggalkan café bersamanya.  Lina menghampiri Angela dan meminta Angela untuk ikut keluar bersamanya. Membiarkan Jessica dan Fabian menyelesaikan masalah pribadinya. Meskipun sulit mengajak Angela untuk pergi namun Lina berhasil meminta Angela keluar bersamanya.


Lina berkata pada Angela “Bukankah kita sama-sama perempuan pahamilah perasaan Nona mu, Aku mengerti kamu sedang menjalani tugas mu. Tapi Nona mu juga punya privasi yang harus kamu mengerti.” Kata-kata Lina menyentuh hati Angela karena Angela juga melihat Jessica yang menangis begitu sedih melihat Fabian yang seperti itu.


“Aku perduli makanya aku menghampiri mu seperti ini.” Sahut Jessica.


“Hanya menghampiri tapi tidak menggerak hati mu untuk kembali pada ku. Tak memberi ku kesempatan sedikit pun untuk ku merajut mimpi hidup bersama mu dan kedua anak ku. Apa karna aku ini seorang Duda yang tidak begitu kaya seperti Andre. Apa karna itu kau meninggalkan ku hah?” pekik Fabian di akhir kalimatnya. Membuat penyanyi cafe menghentikan kembali nyanyiannya.


“Tidak Pak, bukan seperti itu.” sahut Jessica.


“Lalu seperti apa? Hati ku sakit kau abaikan dan kau tinggalkan seperti ini. Aku terluka di atas kebahagiaanmu. Ada tiga hati yang kau sakiti apa kau tak pahami itu Jess?”


“Maafkan aku. Maafkan aku yang egois.” Jessica kembali meminta maaf dan menangis hingga terisak-isak menyadari kesalahannya.


Fabian berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh Jessica yang sama-sama merasakan hatinya yang rapuh.


“Sebaiknya aku berhenti kerja saja. Supaya kehadiran ku dihadapan mu seperti ini tidak menambah luka di hati mu Pak.” ucap Jessica dalam pelukkan Fabian.


“Jangan pergi dulu dari diriku, aku masih belum sanggup jauh dari mu. Pergilah pelan-pelan dari hidup ku. Ajari aku melupakanmu seperti kamu mengajari aku mencintai diri mu. Aku relakan kamu bersamanya asal kamu bahagia. Maafkan perkataan ku barusan. Hatiku sedang tidak baik-baik saja maafkan aku. Pulanglah sekarang! Biarkan aku menenangkan diri ku dengan caraku sendiri.”Fabian melepaskan pelukkannya dan mencium kening Jessica. Saat Jessica keluar dari pelukkan Fabian ia melihat 10 orang pria berbadan kekar tengah berdiri menatap tajam dirinya dan Fabian.


“Pulanglah! Andre sudah meminta mu untuk pulang.” ucap Fabian.


“Maaf Nona mari kita pulang, Tuan meminta saya membawa Anda pulang.” ucap Angela.


Angela menuntun Jessica menjauhi Fabian. Jessica berjalan pergi meninggalkan Fabian sembari menatap Fabian dengan tatapan yang begitu sendu.


“Andre kau tidak mengizinkan sedikitpun aku menyentuh wanita mu yang juga aku cintai. Begitu ketat kamu menjaganya dari ku seakan aku ini seorang penjahat yang akan membahayakan nyawa wanita yang sama-sama kita cintai.”


bersambung

__ADS_1


__ADS_2