Cinta Jessika

Cinta Jessika
Memberikan kepercayaan


__ADS_3

Diruang kerja Andre, Jessica dan kedua anak Fabian saling mencurahkan kerinduan mereka.


"Tante Jessica terlihat gemuk sekarang, apa tante banyak makan seperti Hani?" Tanya Hana yang bengitu memperhatikan Jessica.


"Hahaha benarkah tante terlihat gemuk Hana?" Jessica menanggapi pertanyaan Hana dengan rasa tak percayanya.


"Benar Tante, pipi tante sudah hampir menyerupai Hani, apalagi perut Tante terlihat begitu besar sekarang, tidak serata dulu." Jawab Hana yang terus menatap Jessica dengan penilaiannya.


"Tante Jessica, sedang hamil dede bayi ya? Perutnya besar dan keras seperti Mami waktu hamil dede Kenzo." Tanya Hani dengan polosnya sembari mengusap perut Jessica yang membuncit.


"Hani tahu waktu Mami hamil dede Kenzo?" Tanya Jessica yang begitu terkejut dengan pernyataan Hani setelah menanyakan perihal kehamilannya.


"Tau dong Tante, waktu Mami nyamar jadi pengasuh kita, Mami hamil dede Kenzo. Dulu Hani suka usap-usap perut Mami sebelum tidur. Kasihan Mami harus pura-pura jadi pengasuh kami karena Omma jahat sama Mami. Untung kit punya Oppa yang baik yang mengizinkan Mami menyamar jadi Tante pengasuh kita waktu itu." Jawab Hani dengan mata yang berkaca-kaca.


Karena pertanyaan Jessica barusan mengingatkan dia tentang kenangan manis namun menyedihkan baginya. Wanita penyayang yang selama ini mengasuhnya ternyata adalah Maminya sendiri yang menyamar menjadi pengasuhnya demi berdekatan dengan dirinya dan saudara kembarnya. Tak ingin melihat Hani bersedih Jessica mengalihkan pembicaraannya.


"Oh iya, ngomong-ngomong Mami kalian sudah tahu belum kalau kalian pergi kesini sama Om Alan?" Tanya Jessica yang di jawab gelengan kepala dari keduanya.


"Wah...kalian pasti sudah membuat Mami kalian khawatir saat ini sayang. Pasti sekarang Mami kalian sedang nyariin kalian dan bersedih karena kedua putri cantiknya belum pulang ke rumah." Ucap Jessica lagi sambil menatap wajah Hana dan Hani yang malah makin terlihat sedih.


"Kita sudah gak tinggal di rumah Omma Tante, kita tinggal sama Mami di apartemen Mami dan Mami gak akan cari kita saat ini, karena dari kemarin sore Mami pulang langsung mengunci diri dikamar sambil menangis dan berteriak-teriak sampai kita pergi kesekolah tadi pagi dan mungkin masih sampai sekarang Mami masih dengan kondisi yang sama." Jawab Hana dengan lirihnya.


"Itu semua karena Mami sedih sebab Papi sakit gak bangun-bangun sampai sekarang tante, dan Omma terus saja menyalahkan Mami karena buat Papi sakit seperti ini, padahal Tante Rania yang jahat sudah nyakitin purut Papi sampai dijahit dan tidak bangun-bangun seperti ini, Tante. Apa Papiku akan segera pergi ke surga seperti cerita di film-film yang pernah Hani tonton,tante?" Tambah Hani selanjutnya yang membuat hati Jessica tersentuh.


Apalagi anak perempuan berbadan bulat itu hingga meneteskan air matanya begitu saja saat mengatakan semua itu pada Jessica.


Jessica mengusap air mata yang jatuh ke pipi Hani dengan jemarinya. Ada rasa turut sedih melihat tangis Hani dalam diamnya. Sedang Han hanya terduduk lesu sambil menunduk.


"Jangan menangis sayang, tante jadi ikut ingin menangis jika Hani menangis seperti ini! Papi Hani akan segera bangun dan bermain kembali bersama kalian berdua dan juga Dede Kenzo hum."Ucap Jessica ketika mengusap air mata Hani yang terus berjatuhan.


Hani seperti sangat terluka karena melihat dan merasakan penderita sang Mami selama ini.


"Aku tidak menangis hanya mataku suka berair jika menceritakan Mami dan Papi, Tante." Ucap Hani yang berusaha menyembunyikan perasaannya dengan senyum yang dipaksakan


"Hani..." Panggil Jessica yang langsung menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya.


Saat Jessica memeluk Hani memberikan kekuatan ditubuh mungil Hani yang terlihat begitu rapuh hatinya, tiba-tiba saja Andre dan Alan masuk kedalam ruangan.


Mata keduanya terfokus pada Hani yang dipeluk oleh Jessica. Sedang Hana yang menyadari kedatangan Alan langsung berlari kepelukan Alan.


Andre dan Alan terlihat bingung melihat Hana yang berlari dan langsung menangis dipelukan Alan. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi Andre berjalan menghampiri istrinya yang sedang memeluk tubuh mungil putri kedua Fabian.


"Sayang, ada apa?" Tanya Andre yang menyentuh pundak sang istri.


"Dad, Hani menangis aku berusaha menenangkannya. Sedang Hana terlihat murung setelah menceritakan kondisi Maminya." Jessica menjawab pertanyaan suaminya dengan suaranya yang lirih.


Mendengar jawab sang istri, Andre berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tinggi Hani.

__ADS_1


"Apa Tante Jessica sudah nakal dan membuatmu menangis, cantik?" Tanya Andre pada Hani yang menatap wajah tampan Andre.


"Om tampan, tante tidak nakal, aku juga tidak menagis, hanya mataku ini yang nakal selalu berair jika ada yang menanyakan tentang Mami dan Papiku. Tante Jessica lah dan Hana yang menangis karena melihat mataku yang berair seperti ini." Jawab Hani yang kembali tidak mengakui dirinya sudah menangis.


Setelah mendengar jawaban Hani, Andre pun menatap wajah sang istri yang terlihat larut dalam kesedihan kedua putri Fabian itu.


"Oh benarkah begitu, Cantiknya Om?" Tanya Andre yang dijawab anggukkan kepala dari Hani.


Andre kemudian memeluk tubuh Hani dan mencium kening anak itu.


"Walau bagaimanapun kalian berdua adalah keponakan Asisten ku sekaligus sahabatku dan kini sudah jadi kakak iparku, aku tak akan berdiam diri dengan kesedihan kalian. Kalian hanya menjadi korban dari keegoisan seseorang yang tak bertanggungjawab." Batin Andre.


Andre berdiri menatap wajah sang istri.


"Sayang, maafkan aku jika aku memaksa mu untuk mempertemukan mu dengan Fabian, sekali saja permudahkan usaha mereka dalam menyembuhkan Papi mereka itu. Kamu jangan takut aku akan menemani mu kesana. Nyonya Suci yang kamu takuti tidak ada disana. Jadi kamu tak perlu takut lagi." Ucap Andre dengan suara pelan sembari merapikan anak rambut Jessica.


Jessica terdiam sesaat, ia menatap dalam wajah sang suami.


"Daddy, aku tak mau mengecewakan mu apalagi menyakitimu. Makanya aku tidak ..." Ucap Jessica yang menatap dalam mata sang suami yang terhenti karena jemari Andre menghentikan ucapannya.


"Aku percaya padamu, kamu tak akan mengecewakan ku apalagi menyakiti hati ku, sayang. Selesaikan kisah kalian sebelum kita meninggalkan kota ini. Bagaimanapun aku telah merebut mu dari dirinya. Kamu menghilang tanpa kabar begitu saja dari dirinya sejak event perusahaan ku di kota D lalu menikah dengan ku tanpa diketahui olehnya. Kehilangan dirimu saat itu dengan cara yang tak baik-baik membuat dia merasa bersalah padamu, dia berusaha mencari dirimu namun keluargamu membuatnya tak bisa menemukanmu ditambah lagi saat dia terperuk karena dirimu dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki anak lagi dari Margareth,mantan istrinya. Mungkin itu semua menjadi beban di dalam jiwanya hingga ia terperangkap dalam tidur dalamnya. Segera bangunkan dia dari tidur dalamnya demi aku dan calon anak kita dan juga untuk mereka. Aku mohon padamu untuk turunkan lagi egomu yang membencinya karena perbuatan pada mu, aku yakin dia terpaksa melakukannya karena dia juga mencintaimu." Ucap Andre sembari melirik kearah Hana dan Hani.


"Dad, aku mencintaimu..." Ucap Jessica yang masuk kedalam dekapan sang suami.


"Aku juga mencintaimu sayang, tolong jangan menangis sayang nanti bayi kita ikut menangis! Setelah kamu menemui Fabian aku akan membawamu ke Dokter Obgyn untuk memeriksakan calon anak kita sebelum kita berangkat meninggalkan kota ini." Tutur Andre yang mengusap air mata Jessica yang jatuh ke pipinya.


............


"Kak buka pintunya, jangan seperti ini! Kasihanilah putramu yang tak mengerti apa-apa!" Pekik Jimmy yang terus menggedor pintu tanpa henti.


Endah yang tak terbisa menghadapi anak kecil tak bisa mendiami tangis Kenzo yang makin menjadi karena suara pekikan Jimmy yang memanggil Margareth dan suara gedoran pintu yang tak kunjung berhenti.


Jimmy dan Endah datang ke unit apartemen Margareth karena pengasuhnya yang tak bisa lagi menangani tangis Kenzo yang mencari keberadaan sang Mami dan juga Margareth yang tak kunjung keluar dari kamarnya itu menghubungi Jimmy dengan suara isak tangis Kenzo yang begitu terdengar di telinga Jimmy.


Jimmy dan Endah datang bukan karena mengkhawatirkan Margareth tapi lebih mengkhawatirkan Kenzo yang menangis terus menerus sejak pagi.


Karena kesal ia tak bisa mendiami tangis Kenzo, Endah kembali memberikan Kenzo pada sang pengasuh. Setelah memberikan Kenzo, ia menghampiri keberadaan sang suami yang berada di muka pintu kamar Margareth.


"Minggirlah Babang! Biar aku yang menanganinya." Ucap Endah yang menggeser tubuh sang Suami.


Setelah suaminya dibuat minggir, Endah mengambil ancang-ancang dengan kakinya.


Brugh


Sekali tendangan kaki Endah, pintu kamar Margareth pun terbuka.


"Sayang...?!!!" Panggil Jimmy dengan wajah terbelalak melihat aksi sang istri bar-barnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu lama ambil tindakan Babang, tangis keponakan mu yang tidak kunjung berhenti itu bisa membuatnya sakit nanti." Ucapnya yang sambil berjalan kearah sang pengasuh untuk mengambil kembali Kenzo.


"Sini Sus, berikan padaku! Tolong buatkan susu hangat untuk si Dede dan teh manis hangat untuk Nyonya mu ya!" Pinta Endah yang langsung mengambil Kenzo dari gendongan suster pengasuh Kenzo.


Setelah mengambil Kenzo, Endah kembali berjalan menghampiri sang suami yang masih memperhatikannya di lorong kamar tanpa masuk terlebih dahulu untuk melihat Margareth.


"Kenapa tidak masuk sayang?" Tanya Endah dengan tataoan herannya.


"Aku menunggu mu untuk masuk bersama." Jawab Jimmy yang di balas senyuman dari Endah. Jimmy membiarkan sang istri membantunya menyelesaikan masalah keluarganya.


Endah yang menggendong Kenzo pun masuk kedalam kamar Margareth yang dalam kondisi bagaikan kapal pecah. Dilihatnya Margareth tengah duduk di lantai dengan kaki yang dia peluk.


"Kau habis mengamuk?" Tanya Endah dengan nada yang sinis namun tak di jawab Margareth.


Kenzo yang sudah melihat sosok sang Mami pun berhenti menangis.


"Nih, anakmu!!" Ucap Endah sambil menyodorkan Kenzo pada Margareth yang menatapnya dengan pandangan kosong.


Margareth tidak mengambil Kenzo yang Endah sodorkan pada dirinya.


"Kamu tidak mau anakmu ini, ok baiklah. Mungkin nasib Kenzo akan hampir sama seperti ku, hidup jauh dari keluarga kandungnya karena aku akan membawanya jauh darimu, dan jika aku sudah membawanya jangan harap kau bisa menemukannya sampai azal menjemputmu nanti." Ucap Endah yang membuat Margareth langsung mengambil Kenzo dalam gendongannya.


Rupanya ancaman yang diucapkan Endah sangat mampu membuat Margareth ketakutan, terbukti dengan sigapnya ia langsung mengambil sang putra dalam gendongan Endah.


"Susui dia! Dia tidak mau menyusu sejak tadi pagi karena mencari keberadaan mu. Kau berharap putra mu mati lemas ya?!" Perintah Endah yang dijawab dengan gelengan kepala dari Margareth.


Sedang Jimmy yang mendengar Endah memerintah Margareth untuk menyusui segera keluar dari kamar Margareth. Tanpa perduli Jimmy yang sudah pergi meninggalkan mereka, mulut Endah tak berhenti mengomel keoada Margareth.


"Kalau kau tidak mau harusnya kau jangan bersikap seperti ini, seperti anak kecil saja. Semua permasalahan hidupmu harusnya kau jalani bukan kau jadikan beban. Kalau kau bersikap seperti ini kau hanya menambah masalah baru bukan menyelesaikan masalah yang ada." Omel Endah yang seakan sok dewasa dan mengerti pahit getirnya kehidupan.


"Susui dia! Kenapa kau diam saja? Suamiku sudah pergi, dia tak akan melihat milik mu yang tak sebagus milikku." Lagi-lagi Endah memerintah Margareth dengan nada bicara yang ketus dan membandingkan Jelly kenyal miliknya dengan kepunyaan Margareth.


"Perutku belum masuk apapun dari kemarin sore, bagaimana aku bisa menyusuinya?" Sahut Margareth dengan suara lemahnya.


"Hah, siapa suruh?! Tunggulah aku sudah menyuruh pengasuh anakmu membuatkan teh manis hangat untuk mu." Ucap Endah lagi dengan ketus.


"Ah merepotkan sekali punya ipar yang lemah seperti mu," gumam Endah yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Margareth dan Kenzo.


"Babang Jimmy sayang ..!!" Pekik Endah dengan suara Tarzannya.


Jimmy yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya langsung menyimpan ponselnya dan berjalan cepat menghampiri sang istri.


"Tidakkah ada makanan untuk ku dan mereka makan siang bersama disini?" Tanya Endah dengan mengalungkan kedua tanganny di leher Jimmy.


"Tunggulah dengan sabar, lima menit lagi makanan yang ku pesan untuk makan siang akan datang." Jawab Jimmy yang kemudian melu.mat bibir sang istri yang sejak tadi sudah menggodanya.


"Aku sangat suka kalau kamu sedang marah-marah seperti tadi, bibir ini makin seksi dan menggoda ku saja." Ucap Jimmy setelah melepaskan lu.matannya.

__ADS_1


"Kalau aku marah-marah terus aku akan punya penyakit darah tinggi dan setelah itu aku akan cepat mati dan kamu akan kawin lagi, ya kan?!" Tuduh Endah dengan bibirnya yang cemberut.


"Aiss pola pikir macam apa ini?! Itu tak akan terjadi sayang, kamu akan panjang umur dan hidup menua bersamaku." Sahut Jimmy yang kembali mendaratkan bibirnya di bibir Endah yang berwarna merah jambu.


__ADS_2